NovelToon NovelToon
The Absolute Sovereign

The Absolute Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: arceusssxara

Karya asli!!!

on-Going

Salah satu Sovereign tertinggi di Alam Semesta yang Tak Terbatas ini, ia segera menjalani Jalan menuju Dao tertinggi di alamnya, mereka mengetahui dari catatan kuno, jika seseorang bisa melewati batas Penguasa Tertinggi, ia bisa menjadi God King.

Namun siapa sangka, Wanita yang ia anggap mencintainya, dikhianati olehnya. Saat itu ia hendak menerobos melewati batas itu, namun saat menerobos ia sempat terdampak oleh Tribulasi Hukum. Saat itulah kesempatan wanita itu menusuknya dengan Kabut beracun yang asalnya tidak diketahui, bahkan melukai Primordialnya.

Jadi, sisa jiwanya ia bereinkarnasi menjadi pangeran muda dengan nama yang sama "Huang Di", namun jalan takdir yang ia jalankan sangat bertengtangan dengan sifat Ke Angkuhannya sebagai Absolute. Bagaimana perjalanannya menjalankan takdir ini?

Di kebaradaan Dimensional yang lebih tinggi bahkan God King itu hanya seperti Dewa biasa!

"Jika Takdir mempermainkanku! aku akan memandang rendah Semuanya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arceusssxara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 Reruntuhan

Langkah demi langkah, Huang Di melintasi lembah dan hutan, melewati sungai dan tebing curam. Aura keagungan dari Core Formation tingkat tinggi mengalir lembut namun dalam, membungkus tubuhnya seperti samudra tak terlihat. Langit mendung bergemuruh, seakan menandai awal dari perjalanan panjang menuju wilayah selatan yang misterius—Dataran Selatan.

Dataran itu dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi karena di sanalah berkumpul faksi-faksi kuno, sekte tua, dan para ahli yang telah lama menyendiri dari hiruk-pikuk politik kekaisaran. Kabarnya, di sana juga tersegel reruntuhan Istana Langit Selatan, tempat legenda dan kutukan bertemu.

Di tengah hutan lebat yang menandai perbatasan selatan, Huang Di duduk bersila di atas dahan pohon raksasa. Ia membuka telapak tangan kirinya—bayangan naga, phoenix, kura-kura hitam, dan harimau putih mulai memendar, mengelilingi api kekacauan mutlak di tengah-tengah. Meski belum memahami sepenuhnya simbol-simbol itu, ia merasa setiap makhluk spiritual itu adalah representasi hukum alam semesta yang kini tunduk padanya.

Suara notifikasi sistem tiba-tiba muncul dalam pikirannya.

> [Sistem: Jejak Takdir Baru Dibuka - "Misi Utama: Penguasaan Dataran Selatan"]

> Tujuan: Ungkap kebenaran Istana Langit Selatan dan bangkitkan satu dari Lima Harta Surga

> Hadiah: Kunci Dimensi - Surga Kekosongan (Void Heaven Key)

> Batas Waktu: Tidak Terbatas

"Akhirnya, babak selanjutnya dimulai…" gumam Huang Di. Matanya memandang jauh ke arah selatan, tempat cahaya aurora tampak menari di cakrawala.

Beberapa hari kemudian…

Huang Di sampai di kaki Gunung Batu Suci, tempat perbatasan resmi antara Kekaisaran Tengah dan Dataran Selatan. Di sana, ia menemukan desa kecil bernama Wu Shan. Warga di sana ketakutan, mata mereka lesu dan tertunduk saat ia bertanya tentang Dataran Selatan.

"Ada... makhluk pembantai berkepala tiga yang bermukim di Gerbang Kabut Selatan... hanya para pengembara gila yang melintasi sana," ujar seorang tetua dengan suara gemetar.

Huang Di hanya tersenyum tipis. "Kalau begitu, biarkan aku menjadi pengembara gila itu."

**Malam Hari, Gerbang Kabut Selatan**

Kabut tebal bergulung seperti makhluk hidup, menelan semua cahaya dan suara. Di depan Huang Di, seekor makhluk raksasa perlahan muncul—berkepala tiga, masing-masing mengeluarkan aura api, es, dan petir.

Tapi sebelum makhluk itu sempat menerkam, jubah ungu keperakan Huang Di berkibar, dan telapak tangannya terangkat.

Buruhh—

Satu tekanan muncul. Langit dan bumi bergetar.

Satu langkah maju. Tanah retak membentuk simbol bintang delapan.

Fiuhhh—

Tiga kepala makhluk itu langsung tertunduk. Tiba-tiba, mereka mengecil menjadi bentuk anak serigala dan berlari ketakutan ke dalam kabut. Jalan menuju Dataran Selatan pun terbuka.

Di balik kabut, Dataran Selatan menyambutnya dengan lautan rumput berwarna zamrud, pegunungan ungu menjulang di kejauhan, dan langit keemasan yang memantulkan aura spiritual.

Namun jauh di sana, dalam reruntuhan Istana Langit Selatan yang terkubur ribuan tahun, dua pasang mata telah terbuka—mata dari eksistensi purba yang mendengar kehadiran Dia, sosok yang memikul api kekacauan mutlak.

Langkah Huang Di pun tak terhentikan.

Kabut memudar perlahan. Huang Di melangkah ke padang spiritual luas di depan reruntuhan Istana Langit Selatan. Aura kuno merayap di udara—seperti nyanyian tak terdengar yang berasal dari zaman sebelum langit dibelah oleh hukum. Tanah ini, bahkan waktu, tampak berbeda. Jauh di cakrawala, siluet istana raksasa menjulang, sebagian terkubur, sebagian hancur. Tapi yang lebih menarik adalah kerumunan ratusan kultivator yang telah berkumpul di sana.

Mereka berdiri dalam formasi. Setiap kelompok menandai diri dengan bendera, lambang, dan tekanan spiritual yang unik.

"Klan Bai dari Utara Salju"—tampak puluhan kultivator berambut perak dengan jubah salju yang memancarkan dingin es abadi.

"Sekolah Langit Tertutup"—rombongan berjubah biru tua dengan mata tertutup, semua membawa lonceng kecil di pinggang mereka, memancarkan suara misterius dari dimensi lain.

"Sekten Api Hitam Kuno"—jubah merah kehitaman dengan sulur api hitam mengelilingi tubuh mereka, membakar udara sekitarnya.

**

"Pilar Petir Sembilan Surga"—tiga orang tua dan dua pemuda muda yang setiap napasnya menggetarkan langit.

Semua memandang reruntuhan dengan penuh kewaspadaan, namun dalam hati, jelas terlihat satu hal: keserakahan.

Namun, ketika Huang Di muncul dari kabut, semua kepala menoleh.

Langkahnya tenang, jubah agung berlapis keperakan-ungu berkibar tanpa hembusan angin. Matanya tenang, namun memancarkan pemahaman tak terbatas. Aura miliknya bukan ledakan kekuatan, melainkan ketenangan supremasi—seolah-olah semesta mengatur ulang hukum-hukumnya hanya agar tak bertentangan dengannya.

"Siapa itu...?" bisik seorang murid muda dari Sekolah Langit Tertutup, tubuhnya gemetar.

Tetua Klan Bai memicingkan mata. "Tak ada jejak Qi sebelumnya... dia muncul begitu saja."

Pemimpin Sekten Api Hitam—seorang lelaki separuh baya dengan rambut seperti kobaran api—mendekat perlahan. "Saudaraku, nama dan asalmu?"

Huang Di hanya menatapnya. Satu kalimat pun tak keluar dari mulutnya, namun detik berikutnya, dunia seolah membeku. Bayangan api kekacauan muncul di udara, meliuk seperti naga, menyapu aura sombong dari semua kultivator yang hendak menekan kehadirannya.

Suara lembut, seakan berasal dari langit itu sendiri, akhirnya terdengar.

"Aku bukan dari sekte mana pun. Aku datang untuk mengambil bagian dari keberuntungan masing-masing."

Beberapa tetua mengerutkan kening. "Sombong!" teriak salah satu kultivator dari Pilar Petir Sembilan Surga.

Namun sebelum dia maju, suara gemuruh besar mengguncang tanah. Gerbang Istana Langit Selatan mulai terbuka—perlahan, seperti merespons satu hal:

Kehadiran Huang Di.

Aura segel kuno terpatahkan dalam suara dentuman. Ratusan kultivator terpental mundur oleh tekanan spiritual yang keluar.

"Apa yang terjadi?! Mengapa saat dia datang, barulah gerbang ini terbuka?" teriak salah satu dari Klan Bai.

"Jangan bilang... dia adalah—"

"—kunci hidup yang ditunggu oleh istana ini!"

Semua mata kini memusat pada Huang Di. Ketegangan, ketakutan, dan kekaguman bercampur. Tapi Huang Di hanya melangkah ke depan. Di belakangnya, bekas jejak langkahnya bersinar dengan cahaya keemasan yang perlahan menghilang seakan tanah itu sendiri tak berani membiarkan jejaknya terhapus begitu saja.

Tanpa ragu, Huang Di melangkah menuju gerbang utama yang baru saja terbuka. Di antara pusaran cahaya, formasi kuno, dan tekanan waktu yang bergulung dari lorong realita, langkahnya tetap stabil. Tidak ada satu pun gelombang Qi yang bangkit dari tubuhnya, namun tanah di bawahnya bergetar pelan seakan memberi hormat.

Ketika kakinya menjejak ambang batas gerbang kuno, tubuhnya perlahan berpendar dalam semburat cahaya keperakan. Dalam sekejap mata tubuhnya lenyap, seolah tercabut dari dimensi ini. Tidak ada riak energi. Tidak ada tanda sihir ruang. Hanya... hilang.

Seketika, kerumunan kultivator yang menyaksikan terdiam dalam keterkejutan.

"Apa yang terjadi?"

"Dia... tak mengenai formasi penjaga?!"

"Formasi yang bahkan bisa mematahkan roh leluhur kita?!"

Tetua dari Sekte Api Hitam bergetar. “Dia tak menembus formasi... dia bisa masuk karena ada kehendak terhadapnya terlebih dahulu.”

Seketika itu juga, gemuruh langit terdengar. Gerbang Istana Langit bergetar, dan simbol-simbol kuno menyala di udara, membentuk formasi ujian raksasa. Jalur masuk yang tadinya terbuka kini berubah menjadi lorong berdarah penuh teka-teki.

Satu demi satu para kultivator mulai bergerak maju, namun langkah mereka terhenti. Di depan mereka muncul formasi pertama, terdiri dari tiga lingkaran cahaya yang berputar cepat, di dalamnya terdapat:

**Ujian Pemurnian Jiwa** – hanya yang hatinya tak digerakkan oleh keserakahan bisa melewati.

**Ujian Kehendak Tubuh** – kekuatan fisik akan diuji dalam ilusi ribuan tahun pertempuran.

**Ujian Pemahaman Tao** – siapa pun yang tak selaras dengan Hukum Langit akan dilenyapkan.

Beberapa mencoba maju...

Seorang pemuda dari Klan Bai melangkah ke lingkaran pertama teriakan melengking terdengar , tubuhnya mengerut seketika, lalu meledak menjadi cahaya putih, jiwanya terurai.

"Dia... dia gagal di ujian jiwa!" seru seseorang ngeri.

Lalu beberapa lainnya mencoba. Teriakan. Ledakan. Tangisan. Bahkan yang berhasil melewati lingkaran pertama pun terjerat di lingkaran kedua, menghadapi bayangan diri mereka sendiri dalam perang abadi yang membuat tubuh mereka tercabik di alam ilusi.

Hanya segelintir yang mampu bertahan sampai ke ujian ketiga.

Namun, tak satu pun dari mereka yang memasuki gerbang seperti Huang Di.

Sementara itu, jauh di dimensi lain yang terhubung dengan inti Istana Langit Selatan— Huang Di berdiri di lorong tak berujung, dikelilingi pilar cahaya yang memancarkan hukum murni.

Suara kuno bergema di langit-langit yang tak berbentuk:

"Penerus Asal mula dari asal… Kau akhirnya datang."

Huang Di hanya menatap ke depan, langkahnya melanjut tanpa ragu. Tatapan matanya penuh ketenangan, namun dalam dirinya, kekuatan absolut perlahan terbangun.

 

1
Mbah Haryo
wah...terlalu cevat over oowernya...ach.
Mbah Haryo
pangeran ke 18 si poni di ini skarang jd agak laen.. 🤭
Mbah Haryo
oaalaaahh...jebulnya novel sistem...????????🤔
Mbah Haryo
naaiiissss...
Mbah Haryo
coment" readersnya mengeriken skalee...coba ach ikut nongkrong dsini...syapa tau critanya wagu tp seru...

gaassss....
Ip 14 PRO MAX
nh ini krkter yg aku ska mntaap
Ip 14 PRO MAX
mntaap bntaii
Ip 14 PRO MAX
tingkat kn kekuatan
Kaisar Abadi
mampir bang.
Vee aja
gk jelas ceritanya Thor 😁
Vee aja
wow otakku mumet Thor 🤣🤣
Vee aja
kereeen👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Vee aja
kereen 👍👍👍
Vee aja
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Ardi Provision
mc tidak percaya sama orang lain tapi membantu orang asing ini ngelantur 😂😂
Ardi Provision
mc pertama masuk yang lain harus melewati tes tapi ada yang mendahului didepan mc, apa tidak ngelantur ni thor
Ardi Provision
tidak kawin bagaimana ada penerus?? kawin dulu 😂😂😂
Arceusssxara: haha maksudnya pewaris yang beruntung mendapatkannya😄
total 1 replies
Ardi Provision
haiis,, harta rampasan dibuang begitu saja
Ardi Provision
ambil dulu harta rampasan perang
🍒⃞⃟🦅 Ling Yuxiu
Mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!