*Harta Tahta dan Wanita*
Prekuel dari novel 'Kutumbalkan Tubuhku'
Laras tidak pernah menduga, kalau semua kekayaan yang dia nikmati selama ini, didapat dengan cara paling laknat.
Sang suami tidak pernah mau bercerita banyak tentang pekerjaanya, walau dipaksa.
Hingga suatu malam...
Dengan mata dan kepalanya sendiri, Laras melihat sang suami tercinta masuk ke dalam satu-satunya kamar, yang sangat terlarang bagi semua penghuni rumah. Termasuk dirinya, tentu. Tubuh Laras langsung bergetar hebat, ketika dia berhasil mencuri lihat isi didalamnya, melalui lubang kunci.
Dan sejak malam itu, Laras bisa menebak apa yang telah dilakukan oleh suaminya untuk mendapatkan semua kemewahan.
Keadaan semakin rumit, saat Laras mengetahui kalau di dalam rahimnya telah tumbuh benih cinta. Dia tidak mau kejadian lalu terulang, lagi. Cukup satu kali saja.
Laras tidak akan rela, kalau sang calon jabang bayi yang masih sucinya, ikut menanggung dosa. Lalu, langkah seperti apa yang akhirnya akan diambil oleh Laras?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HTW 14
Sayup-sayup, Arya mendengar suara obrolan Laras dan neneknya dari arah dapur. Sambil terus menyalakan kran air, Arya menempelkan telinganya ke daun pintu kamar mandi. Berusaha agar misi mengupingnya tidak diketahui oleh orang-orang yang ada di balik pintu.
Selesai mandi dan bersih-bersih, Arya masih tetap berdiam diri di dalam kamar mandi. Bukan tanpa sebab, tapi dia ingin mengetahui semua isi pembicaraan sang Kakak dan Neneknya, secara keseluruhan.
Perlahan Arya membuka pintu kamar mandi, dan bertanya.
“Membantu apa, Nek?” Tanya Arya dari ambang pintu kamar mandi.
“Ya ampun Arya! Kau mengagetkan Nenek.”
Nenek Aisyah memegangi dadanya, dan mendengus kesal. Umurnya yang semakin tua, mulai tidak bisa meladeni kebiasan kedua cucunya yang senang mengagetkan orang lain.
“Kamu menguping ya?” Tuding Laras pada Arya. Jari telunjuknya pun mengacung lurus ke arah hidung Arya yang masih basah, setelah selesai mandi.
“Arya ngga nguping kok!” sanggah Arya, cepat.
“Kalo kamu ngga nguping obrolan kakak sama nenek, terus kenapa kamu nanya kayak gitu?” Tanya Laras.
“Arya beneran ngga nguping kak! Cuma…”
“Cuma apa?” Tanya Nenek Aisyah dan Laras bersamaan.
“Cuma kedengeran. Hehee….”
Laras dan Nenek Aisyah sama-sama menatap tidak percaya pada Arya. Pemuda itu berdiri kikuk dan menggaruk kepala.
“Ya jangan salahin Arya dong. Suara Kakak dan Nenek itu menggema, sampai terdengar ke dalam kamar mandi. Kalau tidak percaya, coba saja sendiri. Masuk ke kamar mandi, dan Arya yang akan berbicara dari luar. Arya bisa membuktikan kalau suara dari dapur itu bisa terdengar sampai dalam kamar mandi.”
“Ah, sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi. Nenek akan menyiapkan makanan. Dan kau Laras, bawakan minuman ini untuk suamimu.”
-
Hari yang cerah, seolah ikut memberi restu untuk acara tujuh bulanan calon anak Laras dan Tyo. Nenek memang telah meminta beberapa tetangga untuk mempersiapkan segala keperluan, yang dibutuhkan selama acara. Dan untuk semua biaya, jelas ditanggung sepenuhnya oleh Tyo.
Mungkin orang yang paling lelah selama acara tujuh bulanan adalah Arya. Karena pemuda itu harus terus bolak balik, mengambil atau menyediakan ini dan itu, sesuai perintah Nenek Aisyah. Namun tidak pernah sekalipun dia mengeluh. Terbukti, dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya, sejak pagi.
Laras dan Tyo mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh suka cita. Keduanya nampak begitu bahagia, meski ada banyak ritual yang harus mereka jalankan.
Nenek Aisyah pun sempat menjelaskan, kalau seluruh sesi acara tujuh bulanan itu memiliki tujuan baik. Semuanya berisi do’a untuk kebaikan dan keselamatan, untuk calon jabang bayi yang ada dalam kandungan Laras.
“Istirahatlah Laras! Kau sudah terlalu lama berdiri,” perintah Nenek pada Laras.
“Iya, Nek.”
Tyo membimbing sang istri untuk duduk di salah satu kursi, di ruang tengah. Acara baru saja selesai. Hanya perlu merapikan dan membereskan rumah kembali, dan itu bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah dimintai tolong oleh Nenek Aisyah, sebelumnya.
“Mas Tyo?” panggil Laras, pada Tyo yang tadi berpamitan untuk sekedar ikut membantu melipat terpal dan tikar yang ada di teras.
“Kakak perlu sesuatu?” Tanya Arya. Saat mendengar suara Laras, dia langsung mendekat. Karena kebetulan, posisi pemuda itu memang tidak jauh dengan ruang tengah.
“Arya, tolong panggilkan Mas Tyo. Sshhht…,” pinta Laras sambil meringis. Dia mulai memejamkan mata.
“Iya Kak, sebentar.”
Arya segera keluar rumah, tapi tidak menemukan keberadaan sang Kakak Ipar. Dia hanya mendapati Nenek Aisyah yang masih menata pot bunga ke tempatnya semula.
“Apa Nenek lihat Mas Tyo?” Tanya Arya.
Nenek Aisyah berhenti sesaat dari kesibukannya, dan mengedarkan pandangan.
“Sepertinya tadi… itu dia!” Tunjuk Nenek pada Tyo yang berjalan dari samping rumah.
“Ada apa?” Tanya Tyo, begitu berdiri di depan Arya.
“Mas Tyo dicariin sama Kak Laras. Sepertinya dia pengen ke toilet,” jelas Arya.
“Cepat masuk dan temani istrimu, Tyo. Kau tidak perlu membantu apa-apa lagi, biar semuanya diurus sama Arya.”
Kepala Arya mengangguk penuh semangat, merespon ucapan Nenek Aisyah. Dia pun menggerakkan tangan untuk menepuk dadanya sendiri, seolah sedang memberikan isyarat kalau dia bisa diandalkan.
“Baiklah. Tyo masuk ke dalam dulu,” pamit Tyo.
-
Tyo berjongkok tepat di depan kaki Laras. Wanita itu sedang mengelus perutnya dengan mata yang terus terpejam.
“Apa kau butuh bantuan Mas, Ajeng?” Tanyan Tyo, lembut.
“Iya, Mas.”
Tyo menarik tisu, untuk mengelap kening Laras yang telah dibajiri keringat. “Kau kenapa? Kenapa mengeluarkan banyak berkeringat, seperti ini?”
“Bantu aku ke kamar mandi ya, Mas. Tiba-tiba perutku terasa mulas,” desis Laras.
Tanpa banyak kata lagi, Tyo bergegas menyelipkan kedua tangannya ke ketiak sang istri. Dia membantu Laras berdiri, lalu memapahnya menuju kamar mandi.
“Apa Mas perlu ikut ke dalam, sayang?”
“Ngga usah, Mas. Laras bisa sendiri. Mas tunggu saja di luar,” tolak Laras.
“Tapi beneran kamu kamu ngga apa-apa?”
“Iya, Mas. Buruan ah! Pintunya mau Laras tutup,” usir Laras.
“Jangan dikunci ya, sayang! Cukup ditutup saja,” pinta Tyo. Dia mulai mengkhawatirkan keadaan Laras yang wajahnya mulai terlihat pucat.
“Iya!”
Menunggu. Tyo berjalan mondar mandir di depan kamar mandi. Entah kenapa, perasaanya mulai tidak enak. Dia mulai mengingat-ingat, apa saja yang telah dimakan oleh Laras hari ini.
“Kak Laras dimana, Mas?” Tanya Arya.
Sibuk memikirkan Laras, Tyo sampai tidak sadar kalau Nenek Aisyah dan Adik Iparnya sudah masuk ke dalam rumah. Mereka juga memberi tatapan penuh tanya, karena hanya melihat Tyo sendirian. Dan juga, nampak cemas.
“Di dalam kamar mandi.”
“Laras kenapa?”
Kini yang bertanya adalah Nenek.
“Perutnya mulas, Nek.”
“Mulas? Kenapa bisa? Setahu Nenek, tidak ada makanan pedas yang dimakan oleh Laras hari ini.”
“Itu juga yang sedang Tyo pikirkan, Nek.”
Klek
Wajah pucat pasi Laras muncul perlahan dari balik pintu. Tyo bergerak cepat menyambut tubuh istrinya yang mulai limbung.
“Sayang!” Teriak Tyo, disusul oleh suara dari Nenek Aisyah juga Arya. Ketiganya mengerubuti tubuh Laras yang melemah, tepat diambang pintu kamar mandi.
“Laras, ada denganmu cucuku?” suara Nenek bergetar.
“Arya, bantu Mas membawa Ajeng ke dalam mobil. Kita ke Rumah Sakit, sekarang!” pinta Tyo, setengah berteriak. Meski dilanda oleh ketakutan yang begitu hebat, tapi dia berusaha untuk tetap tenang, dan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan istri tercintanya.
Buru-buru, Tyo membopong tubuh Laras. Sementara Arya, dia sudah lebih dulu berlari untuk membukakan pintu mobil. Nenek yang tidak mau ketinggalan, apalagi menjadi manusia yang tidak berguna, segera membuka pintu satunya lagi. Dia menyediakan pahanya untuk memangku kepala Laras yang akan dibaringkan di kursi belakang.
Arya duduk gelisah di kursi depan, bersama Tyo yang menyetir. Mulutnya tidak berhenti membaca do’a untuk keselamatan Laras dan bayinya.
“Kak Laras kenapa, Nek?” Tanyanya pada Nenek Aisyah.
“Entahlah, Nenek juga tidak tahu. Ini baru bulan ke tujuh. Seharusnya, belum saatnya untuk melahirkan.”
Sesekali Tyo melirik melalui kaca spion tengah, guna mengecek keadaan Laras. Dia sengaja tidak mau mendengarkan obrolan Arya dan Nenek. Karena harus fokus pada jalanan, dan dia ingin secepatnya sampai ke Rumah Sakit terdekat.
-
Sekilas tanpa sengaja, Nenek Aisyah melihat sosok Ni Maryam berdiri di samping pohon beringin, di pinggir jalan yang mereka lalui.
“Apa yang telah kau lakukan pada cucuku, Maryam!” Bentak Nenek Aisyah.
“Itu adalah bentuk kepedulianku untuk cucu tersayangmu,Aisyah. Aku hanya ingin sedikit membantu,” kilah Ni Maryam.
“Kalau sampai terjadi apa-apa pada kedua cucu dan calon cicitku, maka aku sendiri yang akan mencabut semua ilmu dari dalam tubuhmu, Maryam. Ingatlah janjiku ini!”
Dua saudara itu punya cara sendiri, agar perbincangan mereka tidak di dengar oleh siapapun.
By Si_Ro
**
Ayo dukung dan berikan POIN sebanyak-banyaknya untuk novel ‘Ha Tan Wa’, supaya novel baru ini bisa masuk rank.
Untuk orang pemberi POIN terbanyak akan mendapatkan :
Give Away menarik yang khusus bertuliskan ‘Ha Tan Wa’
Author akan follow akun mangatoon pemenang, untuk chat pribadi menanyakan alamat pengiriman Give Away.
Waktu pengumpulan POIN selama 3 bulan, yaitu sampai tanggal 30 November 2020. Masih lama kan?
Dan untuk berapa jumlah orang yang akan menjadi pemenang, masih dalam pertimbangan. Bisa 3 orang, 5 orang, atau malah 10 orang.
Jadi ayo kumpulkan POIN yang banyak, lalu sumbangkan untuk novel terbaru Si_Ro. OK?
Terima kasih.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.
Dimanapun kita berada, jaga kesehatan dan ikuti anjuran pemerintah.
RAJIN CUCI TANGAN, JAGA JARAK DAN JUGA PAKAI MASKER
apa anaknya laras bakal jadi jodohnya sekar ya🤔🤔
trus tyo terbebas dari iblis itu saat pembangunan jembatan itu ya thor 😲😲
pdahal mampir kesini krna abis baca Serena, ,penasaran sm kisah tentang sekar
terpaksa menunggu deh
udah up nya dikit dikit malah bersambung lagi 🤦