Budi adalah salah satu siswa biasa berasal dari Indonesia, tiba - tiba saja saat melewati gerbang sekolahnya ia malah berpindah ke dunia dimana sihir dan monster berada....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 : Lima Lawan Satu, Terlalu Mudah Bagiku
Aku melangkah maju melewati Fredica hingga sekarang pandangan kelima orang itu terfokus padaku, mereka adalah alumni dari ke tiga akademi lainnya yang berpura-pura menjadi siswa akademi Nervilia.
Tiga pria dan dua perempuan kah?
"Gara-gara kalian akademi mengalami kesulitan berat, karena itu aku ingin membuat perhitungan dengan kalian, terutama masalah tentang yang di belakangku ini."
"Heh, siswa akademi amatiran sepertimu mau melawan kami." ucap salah satu pria.
"Itu benar, aku ingin berduel dengan kalian."
"Baiklah, biar aku yang menghadapinya."
Aku segera menepis perkataan itu dengan gelengan kepala.
"Maksudku kalian adalah kalian semua sekaligus."
"Apa?"
Semua orang menunjukan ekpresi yang sama, ekpresi terkejut dengan wajah menegang.
"Kau sombong sekali, baiklah mari bertarung, silahkan pilih senjata yang kau sukai."
"Aku akan bertarung dengan tangan kosong, jika aku mengunakan senjata kalian semua pasti akan mati."
"Kau akan menyesalinya telah menolak kebaikan kami."
Di tanah lapang yang luas aku berdiri di depan kelimanya sementara para guru maupun murid di belakangku memperhatikan.
"Ayo Budi, jangan sampai kalah, jika kau berhasil kau boleh menyusui di pelukanku," yang mengatakan itu dengan bersemangat adalah Finna
"Jangan mengatakan hal aneh, bodoh," aku berteriak padanya namun ia hanya tersenyum jahil.
Semua orang lalu menatap kepadaku.
"Budi walau dia ibu tirimu, kau tidak boleh melakukannya."
"Hentikan Fredica, kau hanya menambahkan minyak kedalam api."
Sebuah buku terbang ke kepalaku.
"Panggil sensei."
Dia masih mempermasalahkan masalah itu, mari kesampingkan hal itu dan mulai menerjang kedepan.
Aku membuat api biru di tanganku lalu menembakannya seperti meriam.
kelima orang itu melompat menghindar dengan ekpresi terkejut.
"Apa-apaan api biru itu."
Salah satu pria membalasku dengan sihir es, jadi dia yang membekukan akademi, kalau begitu, kau duluan.
Aku berlari kearahnya dengan kecepatan tinggi hingga langsung muncul di depan wajahnya, Ia mengirim tinju dan tendangan yang mudah ku hindari.
Lalu.
Aku memukul wajahnya hingga terbang ke atas, sebelum jatuh kebawah aku langsung membekukannya dengan sihir es.
"Dia bisa menggunakan api dan es sekaligus, sihir macam apa itu, bukannya kedua hal itu bertentangan satu sama lain."
Sekarang dua wanita menyerangku dengan pedang, aku hanya menangkapnya dan kedua pedang itu hancur begitu saja.
"Apa?"
Sebelum mereka bisa menghindar dari seranganku, aku memberikan pukulan pada wajah keduanya sebelum mereka membeku dengan es setinggi 100 meter.
"Kau pasti bercanda kan."
Tak berhenti disana aku kembali menyerang dua orang lagi, mereka semua bisa menggunakan semua sihir, namun serangannya hanya larut dalam api biruku yang seluruhnya telah mengelilingi tubuhku.
Api ini sangat panas hingga mampu melayukan tanaman di sekitarku saat aku berjalan ke arah keduanya.
"Freezer."
Aku membekukan keduanya dengan es setinggi 200 meter.
Aria berjalan ke arahku selagi memandang jauh ke atas es yang ku buat.
"Kau terlalu berlebihan Budi, tapi ini bagus, bisakah kau membuat es sebesar ini dengan model tubuhku."
"Aku tidak ingin melakukannya."
Aku segera mencairkan kelima orang tersebut sebelum mereka benar-benar mati lalu kelima orang itu segera melarikan diri.
"Monster," menyedihkan sekali melihat mereka seperti itu.
"Aku sedikit kasihan pada mereka... tapi itulah ganjaran bagi mereka," kata Finna dengan bahagia.
Kasihan apanya? Wajahmu terlihat puas begitu.
"Aku akan mencairkan akademinya."
"Tolong yah."
Aku menggunakan api dari kedua tanganku dan es mulai mencair sepenuhnya.
"Kerja bagus Budi, sekarang ikutlah denganku ke ruanganku."
"Aku tidak ingin menyusui padamu," jawabku dengan lemas.
"Tenang saja, hal itu bisa menunggu nanti.. aku ada sedikit urusan denganmu dan Aria, biar Fredica saja yang mengurus sisanya."
Aku hanya menganguk dan mengikutinya dari arah belakang.
sungguh benar benar cerita fantasi.
panjang mana toh.
pedang yang dipegang tangan
atu tangan kosong?
atau dia memakai jurus tinju, namun hanya anginnya saja yang mengenai musuh
yahh seperti biasa Kang Nyimak di sini