NovelToon NovelToon
The Trash Prince 10th Re : Life

The Trash Prince 10th Re : Life

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Menikah dengan Musuhku / Barat / Tamat
Popularitas:41.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mobs Jinsei

Kisah seorang pangeran sampah yang di usir dari istana pada usia 15 tahun dan meninggal di usia 31 tahun, dia mengulang hidupnya tepat ketika di usir dan kembali terbunuh di usia 31 tahun. Akhirnya total pengulangan hidup nya mencapai sembilan kali, dia sudah mencoba berbagai macam hal, mulai dari pedagang, petualang rank S sampai membantu mereformasi kerajaannya. Ironisnya dia selalu terbunuh oleh seorang ratu kekaisaran yang sama selama sembilan kali di usia 31 tahun.

Di kehidupan ke sepuluhnya, dia berniat langsung menemui ratu yang saat itu masih bersekolah di akademi berstatus masih putri kekaisaran. Tapi ketika dia masuk ke akademi, dia malah menemukan hal hal baru yang dia tidak pernah tahu selama sembilan kali kehidupannya dan membuat rencananya berantakan, bagaimanakah kisah hidup sang pangeran sampah di kehidupan ke sepuluhnya ?

Genre : Fantasy,Comedy,Drama,Tragedy,Harem

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Julia, Alisia, Sarah dan Doria langsung mengerubungi Art, mereka memeriksa apa yang terjadi dengan Art,

“Kamu tidak apa apa kan Art-kun ?” Tanya Julia dengan wajah cemas.

“Tidak apa apa.” Jawab Art.

“Siapa dia sebenarnya, dia membawa mu kemana ?” Tanya Doria.

“Dia hanya mengajak ku bicara, aku kenal dia soalnya hahaha.” Jawab Art.

“Oh kamu kenal rupanya Art-sama, baguslah, ku pikir kamu di ancam oleh nya.” Balas Sarah.

“Syukurlah, kita lagi lega, benar tidak Julia-sama, Sarah.” Ujar Alisia.

“Tunggu, kenapa kalian bisa di sini, aku hanya jalan jalan melihat barang pedagang bersama Doria-neesan.” Ujar Art bingung.

“Ah....hehehe....” Ujar Julia, Alisia dan Sarah.

“Ka..kami pergi dulu ya.....” Ujar Julia yang menarik tangan Alisia dan Sarah untuk ikut bersamanya.

“Eeeh...tunggu dulu, jelaskan padaku kenapa kalian di sini...” Teriak Art sambil menggandeng Doria.

“Eeeh...kenapa aku juga di bawa...” Teriak Doria.

Art berlari bersama Doria mengejar Julia, Alisia dan Sarah yang berlari lebih dulu di luar gang. Sementara itu, dari atas bangunan, Reese melihat mereka sambil tersenyum, tiba tiba pundak Reese di pegang seseorang,

“Apa kabar Mirai-chan....” Tegur Reese tanpa menoleh.

“Baik Renji-kun, sudah lama ya kita tidak bertemu.” Balas Mirea.

“Sekitar 50 tahun, aku menetap di kerajaan Ateras soalnya dan hanya keluar untuk berdagang. Lihat mereka....” Ujar Reese sambil menunjuk Art yang sedang menangkap Julia.

“Hahaha mereka mirip sekali ya....aku jadi ingat waktu kita pulang sekolah bersama sama.” Ujar Mirea.

“Ya, benar benar bernostalgia, seperti melihat Fumiko dan Kazuya yang sedang bercanda ketika kita pulang sekolah.” Ujar Reese sambil melihat Art dan Julia dengan senyum sedih.

“Benar, sejak kejadian 500 tahun yang lalu, kita jadi tahu siapa Kazu-kun dan siapa Fumi-chan, itu sebabnya kita bertiga yang tidak bisa pulang memutuskan untuk tidak ikut campur lagi urusan dunia ini.” Ujar Mirea sambil memegang pundak Reese yang masih duduk.

“Yah semenjak Kazu pergi 200 tahun lalu, kita sudah tahu kalau mereka akan kembali....betul tidak ?” Tanya Reese.

“Iya, makanya aku beritahu Art kalau dunia mungkin dalam bahaya. Sepertinya kamu sudah tahu siapa Art sebenarnya.” Jawab Mirea.

“Aku sudah ada gambaran siapa dia, tapi selama dia belum menyadarinya, percuma aku mengatakan padanya, dia masih belum tahu kenapa dia mengulang kehidupannya berkali kali.” Ujar Reese.

“Haha benar, aku pun tidak mengatakan apa apa kepadanya, biarkan saja dia berpikir sendiri, aku hanya berpesan supaya dia tidak meninggalkan Julia.” Ujar Mirea.

“Aku juga berpesan begitu padanya." Balas Reese.

"Satu hal lagi, kamu sudah lihat pedangnya ?" Tanya Mirea.

"Ya, aku sudah lihat, aku terjemahkan sedikit bagian bawahnya, tanpa menyinggung bagian penting di atasnya. Karena kalau tidak begitu, dia pasti akan terus bertanya dan itu merepotkan." Ujar Reese.

"Syukurlah, aku takut kamu keceplosan, di bagian atas tertulis cara mengaktifkan pedang menggunakan dua elemen langka yang sudah punah sekarang." Balas Mirea.

"Dan kamu merasakan dua elemen itu ada di dalam tubuh Art, karena samar samar aku juga merasakannya." Ujar Reese.

"Ya, makanya akan sangat berbahaya kalau dia tahu sekarang, diamkan saja dulu." Balas Mirea.

"Aku mengerti, sekarang kita serahkan semuanya kepada Art dan Julia, kita cukup menonton dan membantu mereka dari belakang.” Ujar Reese sambil memegang tangan Mirea di pundaknya dan menepuk nepuknya.

“Kamu benar Ren-kun....kita nonton saja, biar mereka yang membawa masa depan bagi dunia ini.” Ujar Mirea.

Keduanya melihat Art dan lainnya masih berdiri di bawah dan saling bercanda satu sama lain dengan tersenyum sedih.

*****

Keesokan harinya, kelas Art masuk ke pelajaran sihir, mereka kembali berbaris di halaman, di depan mereka ada sebuah target berbentuk golem yang bisa menahan serangan sihir yang di buat oleh seorang sensei bernama Arnold.

“Sekarang kita masuk ke pelajaran sihir. Karena hari ini kita baru mulai masuk ke ranah sihir, aku ingin melihat kekuatan sihir kalian dan elemen apa yang kalian kuasai, silahkan maju satu persatu menembak target di depan dengan sihir yang kalian kuasai, aku akan mencatat hasil yang tampil di dada golem itu. Mulai dari Julia-sama.” Ujar Arnold.

Julia maju ke depan, dia menaikkan telapaknya ke arah golem, “Lightning strike.” Sebuah petir besar berwarna kuning keluar dari telapaknya mengarah ke arah golem. “Blaar.” Dada golem langsung berlubang ketika terkena sihir Julia, seluruh teman sekelas bertepuk tangan, kemudian Arnold memutar mutar tongkat sihirnya dan golem kembali menjadii seperti semula. Dia mencatat sesuatu di buku yang dia bawa. Berikutnya adalah Alisia yang maju ke depan, sama seperti Julia, Alisia juga langsung menaikkan telapaknya, “Wind cutter.” Beberapa bilah pisau dari angin berwarna hijau keluar dari telapak Alisia dan menghantam tubuh golem. Golem yang terkena pisau pisau itu bergoyang dan tergores dalam tapi tidak sampai hancur.

Arnold kembali memutar tongkatnya, setelah itu beberapa murid melakukan hal yang sama dengan elemen masing masing. Setelah itu, Sarah maju ke depan dan langsung mengangkat tangannya, “Water arrow.” Beberapa butir air keluar dari telapak Sarah membentuk anak panah kemudian melesat langsung menuju ke golem. Tubuh Golem yang terkena tembakan anak panah air Sarah langsung berlubang tapi tidak tertembus. Setelah salah, seorang siswa pria bernama William maju ke depan, dia melirik ke arah Art dengan tersenyum sinis.

Dengan gayanya yang pongah, dia mengangkat tangannya ke atas. “Fireball.” “Stone bullet.” “Wind cutter.” Sebuah bola api keluar dari tangan William, disusul oleh batu batu kerikil yang terangkat, di tambah beberapa bilah pisau angin, semuanya menembak ke arah golem. “Blar...blar...blar.” Kondisi golem langsung berantakan ketika seluruhnya mendarat ke tubuh golem. Wiliiam melirik melihat Art, kemudian melirik melihat Julia, Alisia dan Sarah yang berdiri di dekat Art. Melihat pertunjukan yang di lakukan oleh William, seluruh teman sekelas bertepuk tangan, termasuk juga Arnold yang kemudian kembali memutar tongkatnya.

“Sekarang terakhir kamu...” Ujar Arnold menunjuk Art.

“Duh aku hanya bisa sihir api.....tapi ya sudahlah, biar cepat selesai.” Ujar Art.

Art maju ke tengah berhadapan dengan golem, dia membuka telapaknya dan sebuah bola api kecil mengambang di tangannya. Seluruh teman sekelas, termasuk Arnold dan juga Julia, Alisia, Sarah, terkejut melihat api yang keluar dari telapak Art. Alasannya api itu tidak berwarna seperti api pada umumnya yaitu kuning atau merah, melainkan api itu berwarna biru. Art mengangkat lengannya dan mengarahkan tapaknya ke golem, “Fireball.” Bola api yang kecil itu melayang perlahan menuju golem. Arnold yang melihatnya mendadak menjadi pucat,

“Semuanya berlindung....cepat...” Teriak Arnold.

Tentu saja mendengar Arnold berteriak seperti itu, semua menjadi taku dan bertiarap di tanah, termasuk Julia, Alisia dan Sarah.

“Loh kena saja belum...apa apaan sih...” Pikir Art.

“Sleb.” Bola api itu terserap masuk ke dalam tubuh golem, tapi tubuh golem langsung membengkak menjadi besar dan “Blaaar.” Tubuh golem meledak dan pecahahanya berhamburan menembak kemana mana seperti meteor melewati para murid yang sudah bertiarap. Art yang kaget juga langsung bergerak ikut bertiarap tapi dia terlambat, bahunya terkena pecahan golem dan terluka mengeluarkan darah. Sebelah lengannya langsung tidak bisa di angkat,

“Aaaah....aduh sakit......Healing light.”

Art menempelkan telapak nya ke bahu dan dari telapaknya keluar sinar putih yang sangat terang, luka di bahunya perlahan lahan mulai menutup dan akhirnya sembuh total. Art mencoba menggerakkan lengannya kembali dan memutarnya dengan tersenyum puas.

“A..apa yang kamu lakukan ?” Tanya Arnold.

“Huh ? aaaaaaah maaf sensei, aku menghancurkan golem nya.” Jawab Art menunduk.

“Bukan itu maksudku, apa yang kamu lakukan barusan ?” Tanya Arnold.

“Huh ? aku terkena pecahan golem, tapi aku layak kok terluka sensei, maaf sekali lagi.” Jawab Art.

“Bukaaaaaaan, aku tanya barusan kamu menyembuhkan dirimu sendiri pakai elemen apa ?” Tanya Arnold.

“Oh elemen holy sensei, aku juga bisa melepas kutukan dan mengusir arwah jahat. Kenapa ? memang aneh ?” Tanya Art bingung.

Tiba tiba Julia merangkul lengan Art dan memandang wajah Art dengan pandangan yang kagum kepada Art.

“Huh ?” Art semakin bingung melihatnya.

“Art-kun, mungkin yang bisa pakai sihir elemen holy hanya kamu dan yang bisa sihir elemen darkness juga hanya kamu. Aku bangga sama kamu....” Ujar Julia senang, sedangkan seluruh teman sekelas termasuk William tidak bisa berkata apa apa.

“Hah ? darkness ? yang ku tembakkan tadi kan elemen api.” Protes Art.

“Biar aku yang jelaskan Julia-sama, Art-kun, yang barusan kamu keluarkan ketika menembak golem itu adalah elemen darkness, elemen api tidak membuat ledakan seperti itu, lagipula api elemen darkness berwarna biru, tidak panas tapi menghancurkan, setelah itu kamu menyembuhkan dirimu menggunakan elemen holy. Jadi di dalam dirimu ada dua elemen yang super langka, dalam sejarah hanya demon lord yang menggunakan elemen darkness dan hanya saint atau pahlawan yang menggunakan elemen holy. Yang selama ini kamu kira adalah elemen api itu adalah elemen darkkness dan yang barusan kamu tembakkan itu salah satu jurus sihir darkness bernama blue flame. Mengerti ?” Tanya Arnold.

“Huh....” Mendengar penjelasan dari Arnold, kepala Art bertambah pusing, bertambah lagi satu misteri besar tentang dirinya sendiri.

1
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Doubt/
Mamat Stone
a/Panic/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Doubt/
Mamat Stone
/Panic/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
good job Thor 👍
Mamat Stone
thanks Thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!