Mungkin bagi kalangan banyak orang Bangku Sekolah Dasar merupakan tempat pertama yang akan menjadi sebuah kenangan berharga dalam lingkungan pertemanan. Tetapi tidak untuk gadis kecil ini, karena ia menganggap sekolah dasar adalah awal mentalnya di uji dan nyawanya dipertaruhkan. mengapa nyawanya di pertaruhkan? seorang anak kecil yang mendapat jajahan dari teman temannya sendiri di asingkan. di acuhkan. dan dinilai tidak mempunyai bakat apa-apa.
credit by isikerang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isikerang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh lima juni
"Ar bangun cepet," ucap seorang wanita paruh baya itu, mematikan lampu kamar putrinya lalu menarik tirai supaya sinar matahari bisa masuk kedalam kamar itu.
"Sekarang jam berapa Bun?" ucap gadis kecil itu kepada Bu Misa.
"Jam setengah enam," balas Bu Misa sembari mencari seragam smp putrinya.
"Masih pagi tunggu lima menitan lagi Bund," ucap gadis kecil itu lalu kembali menarik selimutnya dan tertidur.
"Astaghfirullahaladzim heh bangun, sekarang kamu tes diterima enggak nya kan di SMA," tindas Bu Misa lalu pergi membawa seragam gadis kecil itu untuk di setrika.
"Oh iya aku lupa," ucap gadis kecil itu menarik handuk lalu pergi ke kamar mandi dengan terburu buru
"Jangan buru buru nanti kesandung nangis," ucap Bu Misa. dan bear saja gadis kecil itu tersandung saat hendak ke kamar mandi.
"Ih bunda, ucapan adalah doa kan," cetus gadis kecil itu kepada Bu Misa.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarrakatu," ucap pak Guru sekaligus panitia pendaftaran siswa baru disekolah itu.
"Waalaikumussalam," ucap serentak calon siswa berserta orang tuanya.
"Baik, disini kita akan memulai dengan 2 tes, dimana tes pertama adalah tes fisik dan tes terakhir adalah tes sesuai bidang di sertifikat yang kalian ajukan, sebeum itu sudah membawa baju olahraga kan?," ucap pak Guru sekaligus panitia pendaftaran siswa baru disekolah itu.
"Bund, emang pas itu disuruh baw abaju olahraga? asa enggak ya?" ucap gadis kecil itu kepada Bu Misa dengan gemetar karena takut tidak diterima di sekolah impiannya perihal baju olahraga.
"Gappaa tunggu disini, bunda mau bawa baju olahraga dulu," ucap Bu Misa menenangkan putrinya.
Tapi butuh 1 jam lebih untuk mengambil baju olahraga ke rumahnya, dan itu memakan waktu banyak, gadis kecil itu tak henti terus berdoa agar Bu Misa selamat sampai tujuan. waktu menunjukan pukul setengah delapan yang dimana beberapa menit lagi akan dimulai tes fisik lari mengelilingi lapangan basket.
"Nih ayo pake disini aja," ucap Bu Misa dengan napas tak beraturan tergesa-gesa.
gadis kecil itu segera memakai baju celana olahraga namun tidak memakai baju olahraga jadi ia memakai jaket yang ia kenakan pada saat datang ke sekolah itu. sudah lima belas menit semua calon siswa jalur prestasi itu mengelilingi lapangan basket, gadis kecil itu mendapat sembilan keliling dalam lima belas menit, tes fisik ke dua yaitu push up selama lima menit, lalu scoat jump selama lima belas menit, ditambah dengan sit Up selama lima belas menit, dan mengukur tangan bisa tidaknya menyentuh bale sampe bawah tanah, karena posisi mereka diatas Bale sekolah baru itu.
Sempat terlintas dipikiran gadis kecil itu kenapa ia melakukan tes fisik sementara ini bukan bidangnya, bidangnya di Literasi, dan seharusnya juga ia sudah di wawancara tentang banyak novel yang sudah ia baca dan review.
"Alhamdulillah, tes fisik sudah kita lakukan, setelah ini tes sesuai bidang di sertifikat yang kalian ajukan," ucap pak guru selaku panitia pendaftaran siswa baru disekolah itu.
"Yang pake jalur prestasi paskibra, Pramuka ayo berbaris ikut ibu," ucap seorang ibu guru memakai baju mengajarnya.
"Yang futsal, basket, dan bentuk olahraga lainnya baris disini setelah itu ikuti bapak," ucap pak Guru sekaligus panitia pendaftaran siswa baru disekolah itu.
Gadis kecil itu celingak-celinguk melihat disekitarnya hanya ada ia, dan dua calon siswa disitu.
"Kamu pake jalur prestasi apa?" ucap Bu guru berkacamata kepada gadis kecil itu.
"Literasi Bu," ucap gadis kecil itu kepada Bu Guru berkacamata.
"Kamu?" menunjuk seorang gadis bernama Mayra.
"Saya juga di bidang literasi Bu, juara membaca puisi se kecamatan," ucap Mayra kepada Bu Guru berkacamata itu.
"Kalo kamu?" ucap Bu guru berkacamata menunjuk Aep.
"Saya mah di bidang palang merah remaja Bu, juara membuat tandu darurat tercepat se kabupaten Bandung Barat," ucap Aep membetulkan rambutnya.
"Oh bagus, yaudah ikut ibu saja," ucap Bu guru berkacamata itu kepada mereka.
"Kamu pake jalur prestasi apa Artiuma?" tanya Bu guru berkacamata kepada gadis kecil itu.
"Saya pake sertifikat jalur Literasi Bu," ucap gadis kecil memperlihatkan macam macam review miliknya.
"Menarik, juara keberapa dari tingkat apa?" tanya Bu guru berkacamata kepada gadis kecil itu.
"Juara 1 dari tingkat provinsi Bu Alhamdulillah," ucap gadis kecil itu kemudian menundukkan kepalanya sesekali.
"Sudah berapa banyak buku yang telah kamu baca?" ucap Bu guru berkacamata kepada gadis kecil itu.
"Alhamdulillah lebih dari tiga puluh buku Bu," ucap gadis kecil itu lalu memberi lembaran kertas yang isinya berupa data judul buku apa saja yang sudah dia baca dan review.
"Ini keren banget Ar, kamu baca hampir mau serastus judul buku dalam dua bulan?" ucap Bu Misa sembari melihat judul buku apa saja yang ditulis oleh gadis kecil itu.
"Lebih tepatnya dalam dua bulan empat puluh buku Bu, sisanya saya inisiatif baca dan review lagi setelah dibagi sertifikat oleh pihak sekolah," ucap gadis kecil itu kepada Bu Guru berkacamata.
"Keren beda dari siswa lain, oiya coba ceritakan judul buku laskar pelangi?" ucap Bu guru berkacamata kepada gadis kecil itu.
"Cerita ini terjadi di desa Gantung, atau di Belitung Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumatera Selatan jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. dan Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu. Dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah," ucap gadis kecil itu menceritakan kembali isi buku laskar pelangi dengan tangan bergerak tak bisa diam.
"Bagus saya apresiasi kecerdasan kamu, kalo totochan ini saya belum pernah membacanya, ini menceritakan tentang apa?" Bu guru berkacamata itu kembali menanyakan isi buku berbeda dari sebelumnya kepada gadis kecil itu.
"Totto Chan, seorang gadis Jepang yang aktif dan periang itu kini telah bertumbuh dewasa. Kepiawaiannya dalam dunia seni menuntun si gadis kecil tersebut menjadi aktris yang diperhitungkan pada zamannya. Totto Chan menjadi aktris yang berbeda, karena ia tidak pernah melupakan masa kecilnya. Kenangan indah pada masa kanak-kanaknya begitu terpatri indah, sehingga Totto-chan langsung setuju saat didapuk menjadi duta kemanusiaan UNICEF. Perjalanan kemanusiaan pun dimulai, dan buku ini melukiskan kisah-kisah inspiratif yang tidak terbayangkan, yang membuat hidup penulisnya tidak akan pernah sama lagi. Dalam kunjungannya ke Tanzania, Tototo-chan melihat bahwa kelaparan adalah malaikat pencabut nyawa yang siap menunaikan tugasnya, dan tanpa ampun mereka mengakhiri kehidupan banyak anak yang sedang bertumbuh. Anak-anak tidak dapat lagi berpikir atau berbicara. Otak mereka rusak karena kekurangan gizi. Ibu menyusui pun tidak bisa memproduksi ASI karena kemiskinan yang luar biasa, sehingga banyak bayi yang terpaksa mengkonsumsi teh ataupun air putih yang sama sekali tidak bergizi- sejak hari kelahiran mereka. Bahkan banyak ibu-ibu muda yang tidak lagi bisa mengingat kapan terakhir kalinya mereka memakan makanan yang sehat dan bergizi. Kemiskinan di Haiti membuat banyak wanita menjadi pelacur, dan survey kesehatan memberikan data bahwa 72% pelacur di Haiti terjangkit HIV. Salah satu pelacur tersebut baru berumur 12 tahun, dan terjadi tanya jawab mencengangkan antara Totto-chan dengan sang pelacur kecil tersebut, seperti itu Bu kalo dijelaskan secara rinci takut kebablasan sampe sore hehe" ucap gadis kecil itu sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Ibu suka sama anak yang bisa mendeskripsikan buku setelah ia membacanya, Kalo ini kisah Sampek Engtay ini bagaimana ceritanya? yang ini juga ibu belum pernah mendengar nya," ucap Bu guru berkacamata kepada gadis kecil itu.
"Kalo yang saya inget kaya gini Bu isinya, seorang gadis bernama Engtay menyamar menjadi laki-laki untuk bisa bersekolah, karena dulu di dinasti Chin ini teh perempuan ga bisa bersekolah, kegiatannya cuman belajar di dapur. Nah Engtay kabur dari Ayahnya, dia pergi sama asistennya, Di perjalanan menuju sekolah, ia berkenalan dengan Sampek. Mereka langsung merasa cocok dan bersumpah menjadi saudara. Selama tiga tahun itu mereka mengenyam pendidikan bersama-sama, Sampek sama sekali tak menyadari bahwa Engtay seorang gadis. Sementara Engtay lama-lam jatuh cinta pada Sampek. dan di Suatu hari, Engtay harus pulang ke rumah. si Sampek ini ikut mengantarkan Engtay. Atas petunjuk keluarga Sampek, Sampek yang sudah mengetahui Engtay adalah perempuan, pun melamar Engtay. Namun lamaran itu ditolak oleh keluarga Engtay. Karena patah hati, Akhirnya Sampek sakit-sakitan dan meninggal. Sementara itu, Engtay dilamar oleh laki-laki lain. Di hari pernikahannya, Engtay hanya bisa menangis terus di dalam tandu. Saat melewati makam Sampek, ia minta turun dan menghampiri makam Sampek. Di makam, Engtay hanya terus menangis dan akhirnya meninggal juga. Namun, konon tersiar kabar saat Engtay dipaksa menikah dengan lelaki lain, Nah terus kan Engtay inj pergi ke makam Sampek dan berdoa. dan seketika Langit nya berubah gelap dan angin menjadi ribut, ada Petir yang menyambar makam Sampek hingga terbelah. Nah ga nunggu waktu lama Engtay kemudian meloncat masuk ke dalam makam, bergabung dengan kekasihnya. Setelah itu, langit kembali cerah dan pelangi muncul menghiasi langit, intinya mereka mati bersama Bu karena Engtay ngga rela nikah sama orang lain," ucap gadis kecil itu menceritakan dengan lantang tak ada hambatan kepada Bu guru berkacamata.
"Kalo ini kampret Moment tentang apa ya Ar?" ucap Bu guru berkacamata kembali menanyakan isi buku berbeda dengan yang sebelumnya kepada gadis kecil itu.
"Kalo kampret Moment mah Cerita atau curhatan para santri, nah ada tokoh utama yang bernama Dimas, Dimas ini dipindahkan ke pesantren oleh Orang tuanya, disana lah dia memulai hidup nya yang baru, bersama teman teman sengklek nya, yang satu orang Jakarta, satunya orang Sunda, satunya orang Jawa, dan satunya orang Bandung tetapi ngga ngomong pake bahasa Sunda Bu, mereka sering kena apes dimarahin Ki yai, dan sering mendapatkan hasil yang tidak memuaskan, pernah jadi maskot Aladin, banyak kejadian lucu yang tidak bisa saya ceritakan secara langsung karena jika diceritakan hal itu tidak akan lucu lagi Bu," ucap gadis kecil itu kepada Bu Guru berkacamata sembari memberi senyuman.
"Ibu tau, bisa merasakan itu, kamu hapal semua isi judul buku ini ternyata, padahal ibu hanya mengacak judul buku saja," ucap Bu guru berkacamata kepada gadis kecil itu.
"Makasih Bu," balas gadis kecil itu sembari tersenyum sumringah berharap ia bisa diterima di sekolah impiannya itu.