Shelin yang masih belia harus menghadapi pahitnya hidup secara bertubi-tubi. Tak cukup dengan kehilangan ayah tercinta, ibunya terlilit hutang pada rentenir, lalu dia juga mesti menjadi korban perdagangan manusia saat mengadu nasib ke kota.
Saat dilanda keputusasaan dan berniat untuk mengakhiri hidup, Shelin diselamatkan oleh Erick, seorang lelaki dewasa dengan segudang permasalahan hati dan cerita masa lalu yang belum usai. Saat kedua hati mereka perlahan menyatu, akankah berakhir dengan Bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiwie Sizo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Perlawanan
Beberapa hari Shelin menyaksikan putusan dari masing-masing terdakwa dari kasus yang menimpanya. Sebenarnya, dia bisa saja tak hadir, tapi dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana orang-orang yang menyakitinya duduk di hadapan hakim menunggu vonis dibacakan.
Ada kelegaan dalam hati Shelin saat mereka semua telah mendapatkan hukuman. Meski semua itu tak mampu mengembalikan kesuciannya, tapi setidaknya cukup menjadi penghiburan. Dan yang paling utama, tak akan ada lagi yang menjadi korban orang-orabg jahat itu ke depannya.
Mereka semua tampak kuyu saat mendengar putusan hskim. Santi yang merupakan teman satu kampungnya bahkan datang dan bersujud di hadapan Shelin untuk meminta maaf. Bibir Shelin menerima maaf tersebut, tapi tentu hatinya tak semudah itu menerima. Biarlah waktu nanti yang menyembuhkan luka serta kemarahan di dalam dirinya. Shelin tak mau terlalu memaksakan diri menjadi malaikat.
Shelin kembali setelah menghadiri sidang putusan Santi, terdakwa terakhir yang menerima putusan. Dia sudah sempat mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah mendampinginya selama proses peradilan. Kini, dia kembali ke tempat tinggal sementara untuk membereskan barang-barangnya. Sebelumnya, dia juga sudah memberi kabar pada Erick jika hari ini semua urusannya telah selesai.
"Ibu sudah memesan tiket kereta, kan?" tanya Shelin pada Anis. Dia masih belum memberi tahu pada ibunya itu tentang rencananya untuk tetap tinggal di kota ini dengan bantuan Erick. Semua karena dia tak ingin sang ibu malah mengacaukan rencananya.
"Tidak perlu memesan tiket kereta. Nanti akan ada mobil yang menjemput kita." Anis menyahut.
Dada Shelin sedikit bergemuruh mendengarnya. Sudah pasti mobil yang akan menjemput itu adalah mobil milik Danu. Bahkan setelah perang dingin selama beberapa hari dengannya, Anis masih bersikukuh hendak menikahkan dirinya dengan lelaki tua itu.
Shelin hanya bisa menghela pelan. Bukankah justru Anis sendiri yang lebih pantas menjadi pasangan Danu?
"Kamu kenapa? Keberatan?" tanya Anis melihat ekspresi wajah Shelin saat ini.
"Tidak," sahut Shelin singkat. Dia hanya berdoa dalam hati, semoga Erick lebih dulu datang menjemputnya ketimbang Danu. Dia tak ingin bertemu dengan lelaki tua itu. Tapi masalahnya, tadi Erick mengatakan jika saat ini dia sedang ada urusan. Shelin hanya diminta menunggu tanpa ada kejelasan kapan pastinya Erick akan datang menjemput.
"Ayo, cepetan siap-siapnya. Kita langsung menunggu di halte saja, biar gampang kelihatan," ajak Anis.
Shelin mengangguk. Biarlah ibunya itu beranggapan sekarang dia sudah patuh. Itu lebih baik daripada mesti bersitegang dan terjadi keributan.
Tak menunggu lama, Shelin selesai memasukkan semua pakaiannya ke dalam sebuah tas ransel. Pakaian tersebut sebenarnya adalah pemberian orang-orang yang membantunya belakangan ini karena dirinya tak memiliki apa-apa untuk dikenakan. Dia juga punya satu stel piama pemberian dari Erick. Lelaki itu membelikan pakaian tersebut saat dirinya tak sadarkan diri di rumah sakit.
Tanpa sadar Shelin tersenyum mengingat itu. Perasaannya yang kacau karena sang ibu, perlahan menjadi menghangat hanya karena terkenang kebaikan Erick, lelaki yang tak begitu mengenalnya, tapi jauh lebih peduli padanya ketimbang keluarganya sendiri.
"Sudah selesai kok malah bengong." Suara Anis membuyarkan lamunan Shelin. Gadis itu pun mau tak mau beranjak dan bersiap pergi.
Seperti yang diminta oleh Anis sebelumnya, dia dan Shelin kemudian menunggu mobil jemputan di halte tak jauh dari tempat tinggal Shelin belakangan ini. Bedanya, jika Anis menunggu jemputan Danu, Shelin sendiri menunggu jemputan Erick.
'Saya menunggu di halte, Pak.'
Shelin mengirim pesan pada Erick. Tapi pesan tersebut hanya centang satu meski telah beberapa saat berlalu.
Perasaan gelisah mulai mrnghampiri Shelin. Dia sungguh tak ingin bertemu dengan Danu dan berharap Erick datang lebih dulu.
"Aduh, kok bisa bannya pecah di tengah jalan, sih?" Anis menggerutu sembari melihat ke arah layar ponselnya. Sepertinya barusan Danu memberi kabar kalau mobilnya mengalami kendala.
Tanpa sadar bibir Shelin tersenyum tipis. Dia harap Danu benar-benar datang terlambat. Gadis itu merasa tenang untuk sementara. Tapi melihat pesan yang dikirimkannya pada Erick masih centang satu, perasaan gamang kembali merayap di hati Shelin. Akankah hari ini Erick benar-benar datang untuk menjemputnya?
Tanpa sadar Shelin menggoyang-goyangkan kakinya karena sedikit tegang. Dia kembali mengirim pesan pada Erick, berharap kali ini langsung dibaca dan direspon oleh lelaki itu.
'Pak, maaf. Saya tidak punya banyak waktu. Pak Danu sedang dalam perjalanan mau menjemput Ibu dan saya.'
Lagi-lagi hanya centang satu, membuat rasa cemas mulai merayap di hati Shelin.
"Nah, itu dia mobilnya datang." Anis berseru saat sebuah mobil berhenti di dekat halte.
Shelin langsung mengangkat wajahnya dengan ekspresi yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Danu ternyata tiba lebih dulu dibanding Erick.
"Ayo, Shelin." Anis bangkit dan meraih ras ransel Shelin.
Buru-buru Shelin menahan tangan Anis dan menggelengkan kepalanya. Dia mengambil kembali tas ranselnya dan meletakkan kembali benda tersebut ke tempat semula.
"Ibu saja yang pulang ke kampung. Aku tidak ikut," ujar Shelin.
"Apa?" Anis terlihat mengerutkan keningnya. "Ayolah, Shelin. Tidak usah pake drama. Kamu tidak suka karena Pak Danu yang jemput?"
"Aku memang tidak suka karena Pak Danu yang jemput, Bu. Tapi dari awal aku juga tidak berniat pulang," sahut Shelin.
"Apa kamu bilang? Tidak berniat pulang?" Anis meradang.
"Iya. Aku akan tetap di sini." Shelin kembali menyahut.
Mata Anis tampak membeliak.
"Mau tinggal sama siapa kamu kalau tetap di sini? Mau makan apa?!" Tanpa bisa ditahan, Anis membentak.
"Aku akan kerja, Bu. Apapun itu, aku tidak akan ikut Ibu pulang ke kampung."
"Mau kerja apa, hah? Mau jual diri lagi?"
Kini Shelin yang membeliak. Dia langsung melihat ke sekitar dan mendapati orang-orang sedang menoleh ke arah mereka.
"Ibu ... bagaimana bisa Ibu mengatakan itu dengan lantang di depan banyak orang?" tanya Shelin dengan nada ironi. Sungguh, saat ini tindakan Anis sudah tak bisa jadi dipahami olehnya, apalagi dimaklumi.
"Ayo, pulang. Tidak usah banyak drama!" Anis menarik lengan Shelin, tapi Shelin langsung menyentak tangan ibunya itu.
"Tidak! Aku bilang tidak, ya tidak!" Shelin akhirnya berteriak tak kalah lantang. Membuat mata Anis membeliak semakin nyalang.
"Tidak peduli aku akan kelaparan di sini nanti, aku tetap tidak mau ikut Ibu pulang ke kampung! Terserah Ibu mau terima atau tidak, itu keputusanku!"
"Shelin!" Anis mengangkat tangannya, hendak menampar Shelin lagi, tapi kali ini tangan Anis dengan cepat dicekal oleh Shelin.
"Jangan paksa aku untuk melewati batas, Bu. Aku masih sangat tidak ingin menjadi anak durhaka. Tapi kalau Ibu terus-terusan memaksaku seperti ini, aku tidak punya pilihan selain melawan Ibu," ujar Shelin sambil menghempaskan tangan Anis.
Anis terhuyung ke belakang dan hampir terjungkal jika saja tak ditahan oleh Danu yang beberapa saat lalu turun dari mobil.
Kedua orang itu tampak menatap Shelin dengan raut tak percaya.
Bersambung ....
🙏
makanya maksa shelin nikah sm bandot tua itu spy hutangnya lunas.