karya ini terdapat alur maju mundur ya, baca beberapa bab baru baru bisa mengerti jalan ceritanya.😁
Garina Jelita, gadis malang yang telah disia siakan selama 10 tahun, ia berada dititik terendahnya saat suami yang ia percaya mampu melindunginya justru mengusirnya dari kehidupannya.
percayalah penyesalan akan selalu ada bagi mereka yang berbuat kesalahan, namun waktu belum tentu memberi kesempatan bagi mereka untuk menebusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deodoran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Masih di tahun 2013 ya 🥰
"Sial sial sial!!!" Seorang pria paru baya memukul meja kerjanya ia tak terima kasus korupsi yang ia lakukan di pabrik Surabaya dibawa ke ranah hukum oleh Sagara Ganendra anak ingusan yang baru kemarin sore menempati posisi sebagai pimpinan dewan komisaris sekaligus Chairman Ganendra grup.
Pria itu lalu melakukan panggilan melalui ponselnya "Jalankan sesuai rencana, anak ingusan itu harus diberi pelajaran".
Sagara , Byan dan Garina masing masing tak bisa memejamkan matanya didalam kamar.
Dengan Penuh penyesalan Sagara terus menghela nafas kasar, seharusnya ia tidak nekat seperti tadi namun Sagara seakan enggan kehilangan momen itu.
Sementara Byan terus menggores bukunya hingga robek dan ujung pulpen mengenai permukaan meja belajarnya. sorot matanya tajam dengan gigi yang saling beradu. Ia terus mengumpat Sagara didalam benaknya dengan kata kata yang paling kotor. semua kekagumannya pada Sang kakak hilang entah kemana. Ia juga merasakan sakit didada setiap mengingat bagaimana Garina bahkan dengan bodohnya menerima ciuman kakaknya.
Apa mereka memang saling mengenal dan berpacaran?
Brak!!! Mengingat kemungkinan itu Byan hanya bisa menghantam meja dengan tangannya yang mengepal sempurna.
Dan di paviliun pelayan Garina terus menatap langit langit, ia berbaring dengan memutupi tubuh serta wajahnya dengan selimut hingga sebatas hidung.
"Tuan Jhon" Gumam Garina.
Ia tengah memikirkan apakah wajar seorang pria dewasa mencium bibir gadis remaja seperti dirinya?
Apa itu bisa dikatakan salam ?
Apa pria itu mencintainya?
Ataukah ia sedang dilecehkan?
Fikiran polos Garina yang tak pernah mengenal cinta benar benar berkecamuķ namun memikirkan kemungkinan terakhir tatapan Garina tiba tiba berubah sendu.
Jika ia dilecehkan lantas mengapa jantungnya berdebar debar bahagia, apalagi membayangkan wajah pria yang ia kira Asisten Sagara itu memang sangatlah tampan.
"Arghhhhh" Garina mengerang frustasi, menyembunyikan wajahnya dibalik selimut sambil menghentak hentakkan kakinya kuat.
"Kenapa pulang larut? Apa kau selalu seperti ini tiap harinya?" Tiba tiba sebuah suara muncul didepan pintu kamar Garina yang memang setengah terbuka.
Pria itu sudah sejak sore pulang kepaviliun karena Sagara ada agenda rapat diluar dan kemungkinan sampai malam katanya. Pak Ahmad sempat bertanya tanya mengapa Sagara rapat diluar tanpa Jhon namun itu tak bisa ia ungkapkan mengingat posisinya tidak memberinya rasa pantas untuk betanya mengenai bosnya.
"Ah...Ayah sudah pulang?" Garina melirik weker di atas nakas yang baru menunjukkan pukul 9 malam.
Saat masuk tadi Garina tak melihat Ayahnya karena pak Ahmad sejak pukul setengah 8 malam pergi ke pos Jaga gerbang depan. Garina fikir ayahnya akan pulang pada jam 10 malam seperti biasa.
"Ayah pulang sejak jam 3 sore" ucap pak Ahmad Datar.
"Ohhh....tadi Aku jalan jalan dulu sama Tuan Jhon ayah" jujur Garina, ia memang sepolos itu. Garina berharap ayahnya memujinya karena bisa memgenal Asisten Sagara secara pribadi.
"Tuan Jhon?" Alis Pak Ahmad bertaut bingung.
"Iya Jhon Asisten Tuan Sagara"
"Jangan bohong kamu Garina! Siapa yang mengajarkanmu bohong seperti ini?" intonasi Suara Pak Ahmad sedikit meninggi.
Asisten Sagara Ganendra jalan jalan bersama putrinya disaat pria itu harus lembur karena pekerjaan yang ditinggalkan Sagara. Ia tahu bagaimana sibuknya Jhon.
Dan Lagi Jhon sudah menikah mengapa ia jalan bersama putrinya.
Tidak!
"Aku tidak bohong Yah memang Tuan Jh__"
"DIAM KAMU GARINA!! KATAKAN KEMANA KAU SETENGAH HARI INI? ATAU JANGAN JANGAN KAU TAK SAMPAI SEKOLAH DAN MEMILIH JALAN BERSAMA PRIA!"
"A-ayah" lirih Garina dengan air mata yang meluruh ia kini duduk di tepi tempat tidur sambil terisak, baru kali ini pak Ahmad membentaknya, meski ayahnya itu terkesan dingin dan tak acuh padanya namun pak Ahmad sama sekali tak pernah memarahinya.
Ditambah lagi tuduhan Ayahnya begitu menyakitinya padahal ia memang pergi dengan seorang pria yang merupakan Asisten Sagara Ganendra.
Kini Garina menyesal telah berkata jujur harusnya ia berbohong dengan mengatakan dirinya pergi mengerjakan tugas dirumah temannya.
"Apa kau tau Garina, ibumu mengorbankan nyawanya untuk melahirkanmu, ia berharap putrinya tumbuh menjadi gadis baik baik bukan gadis yang doyan pacaran dan keluyuran ditambah lagi menjadi seorang pendusta" Pak Ahmad masih murka namun kali ini intonasi suaranya sudah merendah mesti masih terdengar begitu tegas.
"Garina tidak pacaran ayah! Garina bukan pendusta"
Brak!!!! Pak Ahmad menutup pintu dengan keras, ia tak bisa mendengar kebohongan yang Garina ciptakan, pikirnya.
Diluar pak Ahmad memijat pelipisnya, ia memejamkan mata dalam sembari membayangkan wajah teduh istrinya.
Pria itu sadar sudah menjadi ayah yang buruk bagi putrinya, ia tak pernah punya waktu bahkan hanya untuk sekedar bertanya apa yang dilakukan Garina setiap harinya.
Pak Ahmad membiarkan Garina tumbuh tanpa kasih sayang yang sempurna dari seorang ayah, ia berfikir Garina yang mulai berbohong karena kesalahan cara didiknya.
Pria 45 tahun itu menatap pintu kamar Garina sembari menghela nafas. Yah ini kesalahannya seharusnya ia tidak memarahi gadis belia itu.
Sementara didalam kamar Garina hanya bisa menangis tergugu, ia merasa kehadirannya memang tak pernah diinginkan ayahnya, padahal andai bisa mengulang waktu ia sangat ingin Ibunya membuat pilihan sebaliknya. Yakni selamatkan ibunya dan biarkan anaknya yang pergi. Garina ikhlas jika memang tak diberi kesempatan untuk hidup dimuka bumi.
Lelah menanangis akhirnya Garina tertidur dengan wajah sembap dan mata yang esok pasti akan sulit terbuka.
"Maafkan Ayah Garina" Pak Ahmad mengusap pucuk kepala putrinya lembut dan cukup lama.
hal itu membuat Garina sadar dari tidurnya namun enggan untuk menoleh, ia meremat kuat ujung selimut yang membungkus tubuh mungilnya.
'Ayah' Panggil Garina didalam benaknya, ia juga sebenarnya ingin meminta maaf. Bukan karena berbohong namun karena membiarkan seorang pria mencium bibirnya, setelah menangis Garina sadar jika ia juga salah tidak seharusnya ia menerima ajakan jalan jalan dari seorang pria bahkan sampai memberikan ciuman pertamanya.
Namun Garina tak ingin menghadap ayahnya malam ini ia akan melakukannya besok. Garina tak ingin moment sang Ayah mengusap pucuk kepalanya berakhir.
Esok paginya Garina terbangun cukup siang, namun ia tak peduli karena semalam sudah mengirim pesan singkat kepada teman sebangkunya jika ia ijin sakit. Terserah sang guru mau percaya atau tidak karena Garina tidak mungkin kesekolah dengan mata bengkak seperti ini.
Diatas meja makan Garina sudah menemukan nasi goreng buatan ayahnya dengan secarik kertas bertuliskan 'Ayah nanti akan pulang sore, kamu siap siap kita akan makan bakso'.
Mata Garina yang bengkak benar benar berbinar.
Demi apa ayahnya mengajaknya makan bakso? Ayahnya yang dingin dan tak acuh itu?
Garina melompat lompat kegirangan.
Gadis itu menghabiskan 2 jam hanya untuk memilih baju mana yang akan ia kenakan hari ini.
Sebenarnya ada yang sedikit mengganjal dihati Garina hari ini, karena beberapa pesan yang ia kirimkan untuk Byan sama sekali tidak mendapat balasan, teleponnya juga tak diangkat padahal ia dengan antusias ingin berbagi kabar bahagia dengan sahabatnya itu.
Namun Garina berusaha tak acuh, ia tak ingin memikirkan Byan dan merusak suasana hatinya.
Terimakasih thor tuk karya hebatnya
Padahal novel ini udah ku baca berulang kali 😭