Kisah Revalina Hamid atau Adiva Briana Elang , selama terpisah dari keluarga kandungnya. Saudara kembar Adila Dyah Elang yang hilang saat usia 8 tahun tumbuh dengan identitas baru.
Keadaan merubah sifat dan watak mereka. Adiva yang lupa akan Siapa dirinya hidup dengan jati diri baru, sebagai Revalina Hamid Putri dari keluarga Hamid dari istri pertama. Putri yang selalu bikin masalah dengan ayahnya, saudara tirinya dan ibu sambungnya.
Adila anak perempuan yang ceria dan ceplas-ceplos dalam bicara , berubah menjadi pribadi yang pendiam dan introvert, mandiri pendiam, tenang dan selalu berhati-hati dalam bertindak setelah kembaran nya menghilang.
Bagaimana cara takdir bekerja untuk menyatukan anak-anak Raihan dan Raihana. Ikuti juga kisah cinta si kembar menemukan cintanya.
Juga kisah si kembar setelah terpisah dan berkumpul lagi. Juga kisah cinta mereka bersama sahabat-sahabatnya dan tidak ketinggalan kakak si kembar Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Memanfaatkan
Membutuhkan waktu hampir seminggu buatku untuk membuka kardus yang di bawa Satria, mengenai kenangan Diva waktu kecil. Tapi setelah melihat semuanya tida ada yang ku ingat satupun, meskipun begitu aku bisa merasakan kedekatan dengan foto-foto itu.
*Mau kemana kamu, kaya gembel duduk di sini?" Tanya Satria menghampiri ku yang duduk berjongkok di depan kosan sendirian.
"Ora ene gembel ayune koyo aku Yo,seng kinyis-kinyis garai Om Om kepincut." Ucapku dengan wajah sinis pada Satria, yang di sambut tawa renyah olehnya yang baru pulang dari mushola. Hubungan dengan Satria berjalan baik, membuat beberapa orang iri. Apalagi Vira, yang menargetkan Satria jadi pacar cadangannya.
"Kamu lagi nuguin siapa dan mau kemana ?"
"Nungguin teman yang pada ngajak mudik kan Senin tanggal merah."
"Naik apa ?"
"Naik bus lah mau naik apa emang, odong-odong ?"
"Ternyata mulut me pedas kaya bon cabai ya, aku jadi curiga kalau jiwa mu tertukar dengan kembaran mu."
Aku yang tidak paham langsung menarik kedua alisku keatas.
"Waktu kecil mulutmu itu tidak berkata pedas, mulut pedas itu punya kembaran mu kamu adalah pribadi cengeng. Tapi setelah kamu menghilang Dila berubah jadi pendiam dan selalu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi."
"Memang apa yang terjadi ?" Tanyaku, tapi sayang Waloyo dan Qila keburu datang.
"Ayo kita kedepan cari bus ke buru siang nanti panas," ucap Qila.
"Tak tinggal bangsat." Ucapku sambil nyengir yang mendapatkan pelototan dari yang bersangkutan. Entah mengapa aku suka sekali membuat wajah kesal Satria.
Pukul 9 pagi aku udah sampai depan rumahku, rumah yang aku tahu adalah orang tuaku.
"Aku minta mas ceraikan mbak ku sekarang saja, mas bisa fokus ke istri muda mas yang lagi hamil muda."
"Aku mencintai Wiwit, bukan Wulan. Aku juga tidak tahu kenapa saat aku berencana mau menceraikannya dia malah hamil ?"
"Kamu dokter mas, pasti kamu tahu tidak mungkin istri mudamu bisa hamil sendiri. Kalau tidak kamu naiki." Ucap Om Niko yang sangat vulgar membuatku tidak sengaja menyenggol pot bunga yang ada di samping pintu.
"Hehe assalamu'alaikum,"ucapku sambil tersenyum kaku. Persis seperti pencuri yang kepergok.
"Walaikumsalam, kamu mendengar obrolan kami ?"
"Sedikit yah, mana bunda yah?"
"Bundamu ada di kamar, temuilah bundamu. Pasti bundamu senang melihat kedatanganmu!" Tanpa menunggu respon Om Niko yang juga ada di situ aku langsung masuk menemui bunda.
"Bunda sakit ?"
"Tidak sudah seminggu ini asam lambung bunda naik karena nafsu makan bunda yang menurun." Ucap bunda sambil menggenggam tanganku.
"Maafkan Reva yang tidak bisa menjaga dan merawat bunda. Maafkan Reva yang menjadi penghambat kebahagiaan bunda."
"Apa maksud kamu sayang. Kamu adalah kebahagiaan bunda."
"Reva sudah tahu semuanya, juga tentang ingatan Reva yang hilang. Reva mohon bunda harus bahagia untuk diri bunda sendiri, apapun yang terjadi bunda tetap Bundanya Reva." Ucapku membuat Bunda langsung menegang, meski sesaat aku tahu bunda terkejut.
"Reva sudah tahu,"ucap bunda lirih.
"Iya, apapun yang terjadi Reva tetap sayang bunda."
"Meskipun keluarga Reva juga sedang berusaha keras untuk mencari Reva ?" Tanya bunda yang aku jawab dengan anggukan, bunda hanya tersenyum dan mengaguk.
"Reva tidak ingin berkumpul dengan keluarga Reva ?"
"Reva ingin,tapi jika bunda tidak mengijinkan Reva akan menjauh dari mereka. Cukup Reva tahu keluarga Reva, itu lebih dari cukup."
"Kenapa begitu sayang mereka menyayangimu, buktinya mereka masih mencari mu sampai sekarang."
"Paling tidak mereka ada kembaran aku, sedangkan bunda tidak ada siapa-siapa !"
"Kamu kembar ?"
"Iya , dia juga cantik muka kami juga sama persis. Jadi aku rasa tidak ada masalah dengan mereka jika memberikan anaknya pada bunda satu." Ucapku sambil tertawa kecil, mengingat aku punya kembaran.
"Tidak ada orang tua yang ikhlas kalau anaknya di ambil orang." Ucap bunda sambil mencubit hidungku.
"Jika Bunda berpisah dengan ayah apa kamu mau ikut bunda ?"
"Tentu aku akan ikut bunda. Menemani bunda sampai bunda dapat suami baru." Ucapku yang langsung mendapatkan hadiah pelototan darinya.
"Move on bunda, semakin bunda cepat move on ayah akan cemburu."
"Kamu sok tahu," cibir bunda. "Bunda mau tidur dulu pusing kepala bunda mendengar ucapan yang nyeleneh itu."
"Kalau begitu aku keluar dulu, bunda bisa beristirahat."
Saat aku keluar dari kamar ruang tamu tampak kosong, tapi tercium bau asap rokok dari luar. Aku melihat di luar om Niko sedang menghisap rokoknya.
"Apa yang terjadi om?"
"Istri muda ayahmu hamil muda,dia sengaja datang kesini untuk memanasi bundamu tentang kehamilannya. Dia bilang mau minta mangga muda buat anaknya."
"Apa dia gak tahu bunda sengaja memasang alat pencegah kehamilan."
"Maksudmu?"
"Setelah ayah resmi menikah,bunda sengaja memasang alat kontrasepsi. Dan baru di lepas dengan barter kebebasanku memilih jurusan kuliah. Aku mendengarkan sendiri obrolan mereka dulu." Ku lihat om Niko mengusap mukanya kasar. Lelaki berusia 28 tahun itu terlihat sedang berpikir keras.
"Jika bundamu bercerai pasti kamu akan di gunakan untuk menjerat bundamu lagi."
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang ?"
"Kembalilah kepada keluarga kandungmu, maksudnya secara hukum mas Iksan tidak akan bisa menggunakan kamu lagi."
"Bagaimana dengan Bunda ? Aku sudah berjanji untuk selalu ada di sisi bunda."
"Kalian masih bisa komunikasi melalui telepon dan bisa berkumpul lagi setelah bunda mu resmi berpisah dengan ayahmu."
"Apa ini tidak terlalu kejam buat ayah ?"
"Apa ayahmu tidak kejam menjerat bundamu melalui dirimu." Sinis Om Niko, ahh kenapa cinta orang dewasa begitu membingungkan.
"Apa kamu sudah tahu keluargamu, kalau om sendiri baru tahu papa dan mamamu!"
"Yang aku tahu papaku tentara sepertinya punya jabatan, karena rumahnya di jaga prajurit. Rumah dinasnya juga bagus, tidak seperti rumah asrama yang sering kita lihat."
"Yang bener," ucap Om Niko sambil melotot.
"Gimana sih katanya sudah pernah ketemu, masak gitu gak tahu."
"Meraka kesini pakai baju biasa bocil, mana Kutahu kalau mereka punya jabatan." Om Niko terdiam sambil tersenyum sendiri.
"Om Kowe ora edan kan?"
"Diluk engkas Romo Iksan seng edan." Aku tau om punya tujuan dengan jabatan yang di miliki oleh papa Satria, yang memungkinan juga papaku. Tapi apapun tujuannya itu semoga tidak buruk.
"Sekarang kamu ambil barang-barang mu yang penting, kita ketemu orang tua kandung mu!"
"Tapi aku tidak tahu alamat lengkapnya om , aku baru kesana sekali."
"Aku tahu no telepon papamu,ayo buruan."
"Terus bunda bagaimana ?"
"Bundamu akan om jaga kamu tidak perlu kuatir.. Sudah sebulan ini sejak ibu tirimu hamil, ayahmu sibuk bekerja dan mengurus ibu tirimu. Apa jadinya jika anak itu lahir bisa-bisa status istri pada bundamu hanya di KTP."
.