NovelToon NovelToon
Lelaki Rumah Sebelah

Lelaki Rumah Sebelah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Diam-Diam Cinta / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cerai / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:45k
Nilai: 5
Nama Author: NurAzizah504

Berprofesi sebagai seorang penulis, Dinara berharap kisah cintanya akan semanis novel yang ditulisnya. Akan tetapi, menemukan seseorang yang tepat tidaklah semudah saat kita menulis cerita. Kisah cinta yang penuh lika-liku membuat Dinara belum juga menikah meski usianya hampir menginjak kepala tiga.

Kehidupan Dinara semakin bertambah kacau saat Mama mulai mencampuri urusan asmaranya. Jika dalam waktu tiga bulan Dinara belum juga mendapatkan lelaki yang tepat, terpaksa dirinya harus menerima pria yang mamanya jodohkan.

© 2023 | Nur Azizah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurAzizah504, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau Dipeluk Tidak?

Dinara mengempaskan tubuhnya ke atas kasur. Selesai Arhan mengantarnya, laki-laki itu langsung berpamitan. Dinara tidak berbasa-basi mencegah atau memintanya untuk menginap saja. Bisa lain ceritanya kalau Arhan benar-benar menganggukkan kepala. Walau sebenarnya dia tidak begitu yakin, sih. Karena setahunya, Arhan bukan seperti itu orangnya.

Dinara mengambil ponsel dari dalam tas dan membuka layar untuk mengecek notifikasi yang masuk. Maklum saja, berjalan bersama Arhan selalu membuatnya lupa segalanya. Terakhir kali memegang ponsel, hanya saat menelepon Rangga.

Helena

Nar, besok gue sama Ali ke tempat lo. Kita harus meet up pokoknya

^^^Di mana? Rumah gue atau tempat lain?^^^

Charlotte Sky aja gimana?

^^^Lo ngajak gue clubbing?^^^

Kayak gak pernah aja, sih, lo

^^^Di tempat lain ajalah, Hel. Males banget kalau harus ke sana^^^

Ya, udah, iya. Palazzo Kafe aja gimana? Gue liat di medsos, kafenya cakep gitu. Boleh?

^^^Boleh, deh^^^

Bawa gandengan juga, ya. Kasian ntar lo sendirian pas gue bermesraan sama Ali, wkwk

Dinara berdecak. Memiliki teman seperti Helena memang banyak resahnya. Helana adalah orang pertama yang membawa Dinara ke club dan mengajarinya cara menenggak minuman tersebut. Helena menjelaskan bagaimana kejamnya dunia yang dipilih olehnya. Namun, tetap saja Helena berbahagia dengan dunia gelapnya.

Lima menit berselang saat Dinara memejamkan mata tanpa membersihkan badan terlebih dahulu, jantungnya dibuat berdetak karena suasana di sekeliling terasa menakutkan. Dinara membuka mata dan terkejut saat kamarnya mendadak gelap gulita.

Dinara yang fobia berada dalam ruang gelap sejak kecil seketika terperanjat dan berlari ke luar kamar. Napasnya memburu tidak beraturan, sedangkan matanya mencelang ketakutan. Tubuh Dinara gemetar hebat, lantaran bayang-bayang menakutkan yang pernah terjadi dalam ruangan gelap terputar begitu saja di depannya.

Dirinya seolah berada dalam ruangan pemutaran film masa lalu. Di mana dirinya bisa melihat dengan jelas saat tubuhnya dibanting ke kasur dan seseorang merangkak naik ke atasnya.

Dinara berteriak, memejamkan mata kuat-kuat, dan menutupi telinga agar suara Dominik tidak terdengar olehnya.

"Pergi! Pergi!"

Entah bagaimana ceritanya, Dominik mendadak muncul dalam gelap sambil menatap tajam dan tersenyum menyeringai. Dinara ketakutan sekaligus gemetar, berusaha melempari Dominik yang berdiri di ambang pintu kamar dengan benda apa saja yang berada di sekitarnya.

Sialnya, Dinara tidak mempunyai satu barang pun yang bisa digunakan untuk menyelamatkannya dari tatapan buas Dominik.

Laki-laki itu semakin dekat, berjongkok di depan Dinara yang tampak meringkuk pada birai dan tak berani menatap ke arahnya.

"Malam ini kamu cantik banget, Nara. Kamu manis, aku suka."

Dinara menggeleng kuat-kuat, berusaha mengenyahkan jari-jari tangan Dominik yang berusaha menyentuh sisi wajahnya.

"Pergi!" bentaknya sekali lagi, tetapi Dominik tertawa girang seolah seruan tadi hanyalah sebatas bercandaan.

Tidak patah arang, Dinara meronta seraya menendang Dominik dan berharap agar lelaki itu terjungkal dengan kepala membentur tembok di belakangnya. Dia berharap Dominik mati. Dia berharap Dominik menghilang dari dunia ini.

Namun, bukankah harapan itu terlalu mustahil? Tendangan Dinara tidak berefek sama sekali. Sikap defensifnya tidak diterima dengan baik, Dominik semakin gencar mengganggunya.

"Mbak Dinara, buka matanya, Mbak. Ini saya, Mbak."

"Pergi, bajingan! Pergi!"

Kini kedua tangan Dinara bergerak cepat. Tanpa membuka mata, dia memukul apa saja yang mengenai tubuhnya.

"Saya Adam, Mbak."

Entah kejutan apa yang terjadi, Dinara merasa kedua tangannya dicengkam erat. Gerakannya otomatis terhenti. Bukan karena perlakuan tersebut, tetapi kalimat seseorang menariknya dari lembah ketakutan.

"Saya Adam."

Lirihan itu kembali terdengar, membuat Dinara membuka mata dan menemukan lelaki dari rumah sebelah berjongkok di depannya.

Wajah Adam terlihat khawatir sekaligus cemas. Deru napasnya terdengar jelas dan butir-butir keringat turut menghiasi wajah tegasnya.

"Ma--Mas Adam? To--tolongin saya, Mas. Dia ... dia mau sakitin saya. Saya takut, Mas. Sa--saya takut banget," pinta Dinara di sela isak tangisnya.

Adam tercengang dan mulutnya terbuka lebar. Sewaktu dirinya hendak bangkit untuk memeriksa sebuah ruangan yang ditunjuk Dinara dan diyakini sebagai kamarnya, gadis ini seketika menarik lengan kekarnya.

Gadis ini menggeleng, memberikan tatapan memohon untuknya. "Jangan pergi. Jangan tinggalin saya. Nanti dia bakalan ke sini lagi."

"Saya cuma mau masuk sebentar. Gak bakalan lama," jelas Adam penuh kelembutan.

Namun, gadis ini tetap menggeleng. Yang pada akhirnya membuat Adam mengajak Dinara agar ikut serta bersamanya.

Beruntung gadis ini mengikuti perintahnya. Usai memastikan Dinara akan baik-baik saja di belakang tubuh sambil memegang lengannya, Adam melangkah pelan-pelan ke dalam kamar.

Suasana di dalam sepi dan hening. Karena gelap dan tidak tahu di mana posisi sakelar, Adam memutuskan untuk menyalakan flash dari ponsel dan mengarahkan cahaya tersebut ke seisi ruangan.

"Gak ada apa-apa, Mbak. Semua aman," beritahu Adam sambil sesekali menoleh ke arah Dinara yang bersembunyi di belakang tubuhnya.

"Tapi, tadi ...."

Dinara terdiam juga tercengang. Ingatannya seketika tertarik ke menit sebelumnya saat semua masih baik-baik saja.

Saat itu, Dinara tengah rebahan, menikmati rasa lelah karena seharian menghabiskan waktu bersama Arhan. Dalam istirahatnya, lampu kamar tiba-tiba mati dan dirinya refleks berlari keluar.

"Mbak." Adam kembali memanggil setelah merasa tak ada pergerakan lagi dari Dinara. "Kita keluar sekarang?"

"I--iya. Tapi, boleh bawa saya ke rumah Mas Adam aja gak? Saya gak mau di sini soalnya, masih takut."

Adam tersenyum hangat lalu menganggukkan kepala tanpa ragu.

Lima detik setelah Dinara berlalu bersama Adam, ponsel yang masih tergeletak di atas kasur tampak menyala terang. Sebuah pop-up muncul di layar, menampilkan nama Arhan dan pesan-pesan yang dikirimkan.

Mas Arhan

Din, aku lupa mau ngasih lampu hiasan buat kamu tadi. Praktis, tetap bisa digunain meski gak ada listrik. Soalnya kamu, kan, takut gelap. Jadi, lampu ini aku beliin buat jaga-jaga kalau seandainya di rumah kamu mati lampu. Biar kamu gak takut gelap lagi, Din.

Nanti kalau aku ke sana lagi, lampunya aku bawain, ya. Dan, selamat malam. Tidur nyenyak, ya ;)

Sayangnya, pesan-pesan Arhan dibiarkan begitu saja. Tak seorang pun datang untuk menjenguk bentuk perhatian Arhan kepada Dinara. Entah sampai nanti atau berlanjut keesokan hari.

Detak jarum jam terdengar nyaring. Agam yang tengah bermain mobil-mobilan pada ruang tamu terdiam bingung saat melihat Adam pulang bersama seorang tetangga sebelah rumahnya.

Agam mengenali wanita tersebut. Selain ramah, dirinya juga sering diberikan permen cokelat di saat Adam mati-matian melarangnya.

"Bi Iga mana, Gam?" tanya Adam kepada sang putra yang sedang menatap bingung ke arahnya.

Mungkin saja bocah ini tengah bertanya-tanya, mengapa ayahnya membawa wanita ini bersamanya? Mengapa pula dia terlihat lemas, merah wajahnya, mata dan bibir membengkak seperti orang menangis kejer?

"Gam?" Adam kembali memanggil usai memastikan Dinara duduk di sofa, tetapi tak ada satu jawaban pun terdengar olehnya.

"Eh, gak ada di sini lagi. Bukannya tadi sebelum ke warung, Papa udah nyuruh Bi Iga pulang, ya?"

Adam menepuk dahi, bisa-bisanya dia melupakan hal tersebut. "Kamu di sini dulu, ya. Jangan ke mana-mana. Temani Aunty Dinara sebentar," lanjut Adam sambil berjalan ke arah dapur.

Agam hanya mengangguk, lanjut memainkan mobil buldoser kuningnya dengan nyaman.

Sementara itu, Dinara terdiam menekuri lantai, di mana jari-jarinya menekuk kuat hingga membuatnya kesakitan. Dinara tak peduli. Jika itu bisa mengalihkan ketakutan yang memenuhi rongga dadanya, Dinara siap untuk terus-terusan melukai dirinya.

Satu per satu air matanya menetes deras. Ia kembali menangis, meratapi kesedihan seorang diri. Tak tahu saja dia, di tempat ini, Dinara tak akan dibiarkan untuk hidup sendirian. Seseorang ada bersamanya. Yang sejak tadi terlihat sibuk, padahal terus-terusan memperhatikan Dinara, tetapi tak berani mengajaknya bicara.

"Kenapa gue payah banget, sih? Itu udah lama, Dinara! Kenapa lo masih ketakutan kayak orang bodoh? Dasar lemah!" Dinara merutuki dirinya sendiri. Berkali-kali ia memukul kepala, berharap bayang-bayang Dominik dalam kegelapan segera enyah dari pikirannya.

"Kepalanya jangan dipukul, nanti tambah sakit."

Dinara mendongak, menemukan si kecil Agam yang menatapnya dengan datar.

Melihat Dinara membalas tatapannya, Agam memberanikan diri untuk berkata, "Kalau Agam lagi nangis, Papa selalu dateng dan peluk Agam. Aunty mau Agam peluk gak?"

* * *

1
Muanisah Jariyah
kasian mas arhan jadi sad boy
Bening
arhan km memang cwok sejati...
sequel cerita arhan, dong
NurAzizah504: Kapan2, yaa. Nunggu idenya dulu /Sob/
total 1 replies
Bening
arhan sm q ajah, ok
NurAzizah504: Doain Arhan move on dulu /Joyful/
total 1 replies
Bening
kinara ada2 ajah
NurAzizah504: /Joyful/
total 1 replies
Bening
kata2 ini bkin q tersentuh
NurAzizah504: Iya, nih, Kak. Wisnu emg the best
total 1 replies
Bening
kok ada bau2 gk sedap ini, dengan keadaan adam selanjutnya
NurAzizah504: Wahh, apa ituuu
total 1 replies
Bening
adam mknya jgn sakiti dinara, noh anak nya gk mau sm km lgi
NurAzizah504: Adam kapok, tuh /Joyful/
total 1 replies
Bening
arhan selalu jd penyelamat
NurAzizah504: Beruntungnya Dinaraaa
total 1 replies
Bening
adam lo lupain sherly, dong
NurAzizah504: Siap2, hahaha
total 1 replies
Bening
sherly loe gila
NurAzizah504: Sangat
total 1 replies
Bening
ayo adam km bisa kok milikin dinara seutuh nya
NurAzizah504: Pastinya, dong
total 1 replies
Bening
thp bicara serius antara adam dan arhan
Bening
adam yang tegas dong, jadi cwok
NurAzizah504: Iya, nih. Jangan lembek, Dam /Joyful/
total 1 replies
Bening
arhan come back
Bening
adam, si sherly itu rubah licik
NurAzizah504: Sangat sangat licik /Proud/
total 1 replies
Bening
sherly km mau gunain akal licik apalagu
NurAzizah504: Gatau, nih. Ada aja ide jahatnya /Sob/
total 1 replies
Bening
dinara mau aku bantu jawab pertanyaan nya
NurAzizah504: Wah, boleh bgt, dong, ya /Joyful/
total 1 replies
Bening
ciuman kok nanggung
falea sezi
cerita nya aneh ada yg tulus malah milih yg munafik gk menarik
NurAzizah504: Waduh, maaf bgt kalo ceritanya jauh dari ekspetasi Kakak /Frown/
total 1 replies
falea sezi
dinara gatel bgt
NurAzizah504: Waww /Blush/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!