assalamualaikum,
hai jumpa lagi dengan saya vera
novel ini menceritakan perjalanan seorang wanita yang menantikan pendamping hidupnya.
lailatul zahwa seorang wanita karir yang berencana menikah setelah wisuda S2 nya. ia pun pergi ke acara wisuda dengan membawa setumpuk undangan dan dibagikan kepada teman temannya juga beberapa orang dosen.
namun takdir berkata lain, laila harus kehilangan calon suaminya beberapa hari sebelum janur kuning melemgkung. laila terpuruk dan mengurung diri hingga ia mendapat teguran dari perusahaan tempat ia bekerja.
ahirnya dengan berat hati laila melepaskan pekerjaan yang ia dapat sebagai bonus dari predikat comlude sarjana nya. ia dipanggil bekerja dengan posisi yang cukup bergengsi, bukan sebagai karyawan biasa.
ahirnya laila memutuskan menjalankan usaha mama dan menjemput jodoh disana. sudah banyak pernikahan orang yang ia rancang dan laksanakan sehingga menjadi meriah dan meninggalkan kesan bahagia yang bisa di kenang seumur hidup.
dan laila pun berharap ia juga bisa menata pernikahannya sedemikian rupa dengan lelaki yang mencintainya. dan mampu mendampinginya sampai ajal memisahkan mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vera irmayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DATANG KE PESANTREN
saat menjelang bulan piasa biasanya pondok pesantren tempat saeful mengajar akan mengadakan acara haul orang tua kiyai mahfudz. banyak orang dari berbagai kalangan pun hadir di acara itu.
mama dan papa yang sejatinya menjadi donatur tetap pun akan hadir di acara yang di gadang - gadang sebagai wadah bertemunya para donatur dari berbagai penjuru.
"laila mama mau bicara sebentar ya nak, bisa kan" ucap mama saat melihat laila menurini tangga.
"iya ma, ada apa" sahut laila dengan penuh semangat pagi hari
"hari sabtu laila ada job nggak" sambung mama sembari menata meja makan
"nggak ada ma kebetulan kosong, mau jalan - jalan ya ma?" jawab laila
"iya,,,,"
"papa mau ngajak kita ke acara teman papa, laila ikut ya,," ucap mama dengan nada semangat
"hmm..."
"ma,,, papa nggak lagi coba jodohin laila sama anak teman papa lagi kan?" ucap laila sedikit terbata - bata
"enggak kok, papa cuma mau ajak kita ke acara haul orang tua teman papa,"
"kamu tenang saja, mama sama papa nggak mau memaksa laila untuk menerima orang yang laila nggak kenal" ucap mama lagi
"papa berencana membantu tenda dan makanan di acara itu, nanti laila tolong bantu survei lokasinya ya" ucap mama lagi
"sedekat apa sih teman yang satu ini dengan papa. sampai - sampai papa mau menyumbang tenda dan makanan untuk acaranya. tapi kalau memang teman dekat kan seharusnya aku tau". batin laila
"insyaallah besok atau lusa laial cek lokasinya ma, nanti kamis kita pasang tendanya dan belanja segala keperluan makanannya ma" ucap laila setelah menegus segelas jus pepaya kesukaannya.
"tapi bukan kita yang masak nak" jelaa mama sedikit membuat laila terheran heran
"nanti kita kirim saja semua pegawai catring, biarkan mereka yang masak di rumah kiyai mahfudz, daftar menu dan belanjaan sudah mama kirim ke bu tini" jelas mama
"oke ma, jadi laila tinggal survei, kirim tenda dan dekorasi aja yaa" jawab laila sedikit manja
laila memang cenderung manja jika berada di lingkungan keluarga. namun jika berada di lingkungan kerja laila dikenal sebagai pribadi yang tegas dan mandiri.
--------------
ke esokan harinya, laila melajukan mobil nya ke alamat yang di kirim asistant papa melalui share location nya. tak butuh waktu lama jika ia mengambil start dari ruko. tidak sampai lima brlas menit laila sudah sampai di area pesantren.
laila tutun dari mobilnya. beberapa orang yang sedang berkumpul setelah gotong royong membersihkan halaman pun memperhatikannya. salah satu dari mereka mengenali laila.
"mbak laila, astaghfirullah apa dia kesini mencariku dan akan menagih hutang ku" batin saeful sedikit tegang karena kedatangan laila secara tiba tiba
saeful berjalan mendekati laila dan menegurnya. bermaksud menanyakan kedatangannya ke pesantren ini. ia khawatir jika laila memang mencarinya untuk menagih hutang yang belum dibayar.
"assalamualaikum mbak laila, ada yang bisa saya bantu" sapa saeful saat melihat laila yang sedang merapikan pakaian dan tas yang dibawanya.
"waalaikumsalam ustadz saeful, mashaallah kita bisa ketemu disini ya" jawab laila yang tak menyangka akan bertemu dengan saeful
"saya memang tinggal disini mbak" ucap saeful sedikit kebingungan. ternyata dugaannya salah, laila kesini bukan untuk mencarinya. ia telah berprasangka buruk terhadap laila
"maaf ustadz, saya mencari rumah teman papa saya, ustadz bisa bantu saya" ucap laila sembari mencari asistant papa yang katanya sudah ada di lokasi.
"mbak laila cari rumah siapa" tanya saeful
"saya cari rumah kiyai mahfudz ustadz, dimana ya" tanya laila sembari mencoba melakukan panggilan telfon ke asistand papa
"ooo kiyai mahfudz, mbak terus saja ke arah mushola itu, rumahnya ada di sebelah mushola mbak, cat tumah warna hijau seperti mushola" jelas saeful sembari menunjukkan jalan yang akan dilalui laila menuju rumah kiyai mahfud
di kejauhan ada dua pasang mata yang mulai jahil sengaja mengambil foto laila dan saeful yang sedang berdiri di dekat mobil laila. mereka sengaja memilih posisi agar saeful dan laila tampak berbicara berdua saja, padahal disitu banyak santriwan dan santriwati yang berlalu lalang.
sesangkan di sisi lain ustadz ayubi yang berada di aiai lain mencoba mengamati laila dan saeful yang sedang berbincang. ia tak berfikir mendekati keduanya. tak lama terlihat laila berpamitan dan berjalan menuju mushola. barulah ustadz ayubi menghampiri saeful yang masih berdiri di posisinya.
"cari siapa ustadz, kok mbak lailanya pergi" ucap ustadz ayubi mengagetkan saeful yang sedang memperhatikan laila menuju kediaman kiyai mahfudz
" mbak laila mau ketemu kiyai mahfudz ustadz, makanya tadi tanya rumah kiyai mahfudz dimana " jawab saeful sedikit tak enak hati. khawatir ustadz ayubi berfikir yang berlebihan. karena sejak tadi ustadz ayubi melihatnya dengan ekspresi senyum mencurigakan seolah menyelidik.
"wah ternyata dia kenal dengan kiyai mahfudz ya, mungkin mbak laila yang mau bantu buat acara haul besok ustadz" jelas ustadz ayubi
"ya mungkin, tadi kiyai sempat bilang kalau ada temannya yang akan menyumbangkan tenda dan makanan buat acara besok" jawab saeful
"laila bertrman dwngan kiyai mahfudz, ahh rasanya kurang mungkin terjadi. mungkin dia orang yang dikirim untuk memasang tenda dan dekorasi acara. karena memang usaha mbak laila berkecimpung di bidang itu. mungkin yang memberi bantuan dari kalangan pejabat atau pengusaha sukses jadi bisa pakai jasa EO terkenal seperti mbak laila" batin saeful berkata semaunya bahkan sampai sampai ia mengacuhkan ustadz ayubi yang sedari tadi mengajaknya berbincang
setelah satujam kemudian, terlihat kiyai mahfudz, laila, dan seorang laki laki menuju ke halaman pesantren. mereka terlihat memperhatikan kiyai mahfudz yang sedari tadi menunjuk setiap sudut halaman pesantren.
"siapa laki laki itu?, temannya, saudaranya atau ,,,, " bantin saiful terus menduga duga
"ustadz saeful, ustadz ayubi, ustadz dzaki, idris ibnu, ini bu laila dan ini pak ardi asistant nya, mereka yang akan membantu acara besar kita besok" laila dan saiful sedikit mengangguk saat kiyai mahfudz mengenalkannya pada kami, seolah kami baru saja mengenalnya.
"bantu ibu laila dan pak ardi mengukur halaman pesantren ya, karena beaok sudah mulai dipasang tenda untuk acara dan masak - masak" jelas kiyai mahfudz lagi
"nggih kiyai," jawab semua ustadz yang sedang berkumpul hampir bersamaan sembari menganggukkan kepalanya.
mereka pun berbincang panjang lebar tentang konsep acara yang akan diadakan hari sabtu nanti. tak banyak yang menyadari bahwa sedari tadi sorot mata saeful tertuju pada sosok laila. sepertinya hanya ustadz ayubi yang menyadarinya, karena memang sedari awal ustadz ayubi memang terlihat mengawasi pergerakan laila dan ustadz saeful.
setelah dirasa cukup laila dan ardi berpamitan untuk kembali ke tempat kerja masing - masing dan merencanakan apa yang akan mereka lakukan besok di pesantren ini.
tanpa di sengaja saat berpamitan pandangan laila dan saeful pun bertemu. keduanya terlihat salah tingkah. idris dan ibnu yang menyadarinya pun tak henti melemparkan sindirannya.
"eehhemmm eehheemm" ibnu memulai dengan nada seolah olah seperti seseorang yang tenggorokannya terganjal oleh dahak yang tak bisa ia keluargan
"uhuk uhuk uhuk" idris menyambung sindiran saudara kembarnya seolah ia seperti seseorang yang tersedak.
ustadz ayubi yang sedari tadi memperhatikan pun menyimpan banyak pertanyaan yang akan ia ajukan ketika berbincang berdua saja dengan ustadz saeful.