NovelToon NovelToon
Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:514k
Nilai: 4.9
Nama Author: Oot Nasrudin

Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]

Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?


Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Tahu

...☕🍜Selamat menikmati jamuan di atas meja kehidupan. Secangkir perpisahan sudah berkali-kali diteguk. Namun, setiap kali hendak meneguknya lagi, pahitnya masih sama🍜☕...

Seperti malam kemarin, Juan tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia duduk di kursi teras mini market yang biasa. Menanti seseorang yang kemarin lagi.

Duoble Kill ....

Sembari menanti, Juan menyibukkan diri dengan benda berbentuk pipih yang ada di tangannya. Wajah serius saat memainkan game itu tanpa disadari telah menambah 2 inchi ketampanannya.

Pria berusia 28 tahun itu tampak menawan dengan kemeja kantor yang melekat pada tubuhnya. Beberapa pasang mata wanita tak luput dari melihat wajahnya yang rupawan.

Namun, pria tampan, narsis dan minim kepekaan itu, tak acuh pada tatapan-tatapan yang ditujukan padanya. Ia menyadari wajahnya yang tampan dan merasa wajar jika banyak yang menyukainya.

Justru menjadi pertanyaan tersendiri jika ada wanita yang tidak menunjukkan ketertarikan padanya. Seperti Maira contohnya. Hanya Maira, gadis yang melihat Juan dengan pandangan biasa saja.

Bujang yang selalu narsis dengan ketampanannya itu tak mampu mengetuk pintu hati Maira? Jangan-jangan kekasihnya dulu, jauh lebih tampan daripada Juan. Wah! Bisa jadi pertanyaan besar kalau saja Si Bujang Lapuk itu menyadarinya.

Juan mulai merasa jengah dengan aktivitasnya yang hanya diam duduk dan tangannya yang disibukkan untuk ngegame. Sementara, hati dan pikirannya tidak benar-benar tertuju pada benda pipih itu.

Ia mengembuskan napas kesal. Benda pipih itu benar-benar tidak menarik lagi baginya. Ia menyisir rambutnya yang gondrong. Tatapannya memperhatikan jalan raya yang selalu ramai oleh kendaraan berlalu-lalang. Kosong. Tidak ada yang menarik juga di sana.

Rasa jengah membuat Si Bujang Lapuk itu mendapatkan ide. Daripada hanya diam menunggu sampai jamuran, ia memutuskan untuk meluncur ke TKP. Tempat di mana seseorang itu bekerja.

Meski sebenarnya seseorang yang ditunggu sebentar lagi akan datang, tapi Si Bujang itu sudah terlanjur tak sabaran.

Ia malas harus memarkirkan mobilnya berkali-kali, sehingga ia memilih berjalan kaki menuju Book Store yang letaknya memang tak jauh dari Ilfi Midi.

Pria tampan tapi tua itu menyusuri tepi jalan, langkahnya tegap. Wajahnya sudah terpahat dari sananya seolah selalu terlihat setengah senyum padahal sebenarnya dia tidak bermaksud tersenyum. Memang sudah settingan dari sananya yang seperti itu.

Juan sendiri sempat dibuat kesal oleh wajahnya. Dengan settingan yang seperti itu membuat banyak wanita salah paham disangka ia tebar senyum pada mereka. Dih! pede sekali! Begitu gerutunya dahulu saat baru menyadari dengan settingan wajahnya yang terbilang langka.

Semenjak ia menyadari takdir yang entah harus disyukuri atau tidak ini, akhirnya ia menggunakan sorot matanya yang tajam untuk membantah senyuman yang sudah tersetting dari lahir.

Ternyata sebelum menjadi Bujang yang super narsis, Juan pernah kesal pada wajahnya yang sudah tersetting tampan.

***

Juan telah sampai di depan Book Store. Namun, dia tidak masuk. Ia melihat pria yang dia cari tengah bersiap-siap untuk pulang. Book Store hendak ditutup.

Ia memilih menunggu di halaman ruko. Mencari motor matic milik pria yang sedang ditunggunya. Ia hafal betul dengan kendaraan itu. Setelah ketemu, Juan duduk di atas joknya.

Diam, melipat tangan. Sesekali mengawasi para karyawan yang sedang sibuk menutup toko.

Dua orang wanita dari empat orang karyawan, telah keluar dari toko. Wajahnya kusut, lelah seharian bekerja. Dua wanita itu melewati Juan, melayangkan senyum. Juan hanya mengangguk, namun, tatapannya datar.

Mereka berlalu, cekikikan. Juan tak acuh. Itu sudah sangat biasa.

Satu orang pria tampak berjalan keluar. Ia berteriak pada temannya,

"Duluan, Bor!"

"Yokyoy!" sahut temannya.

Pria itu mendorong pintu kaca yang gagangnya terbuat dari alumunium.

Menghampiri kendaraannya yang terparkir bersisian dengan kendaraan yang sedang Juan duduki.

"Misi, Bang." kata pria itu.

Juan hanya mengangguk. Dia tetap bergeming. Membiarkan pria itu mengambil kendaraannya.

Pria itu berlalu, wajahnya tampak sedikit takut dan curiga. Tapi, kemudian tak peduli.

Juan mengangkat sudut bibirnya. Kemudian kembali tak acuh.

Sekarang tinggal satu pria yang belum keluar. Yang sedari tadi Juan nanti.

Tinggal menunggu beberapa menit saja, pria itu akan keluar. Dia bertugas untuk mengunci toko.

Juan memperhatikan ke dalam. Pintu kaca itu cukup bebas membuat siapa saja yang hendak melihat ke dalam dari arah luar. Begitu pula sebaliknya.

Pria yang dinanti tampak sedang berjalan keluar, ia memperbaiki letak ransel yang menggantung di punggungnya.

Ia mendorong pintu kaca, dan sedikit terkejut melihat ada seseorang yang tengah duduk di atas motornya. Ia berusaha sesantai mungkin. Meski sebenarnya sedikit was-was. Mencoba tak peduli, fokus menutup toko.

Sedikit gemetar ia menarik folding gate, buru-buru menggemboknya. Bagaimanapun kondisinya memang cukup membuat ia cemas dan takut. Apalagi mengingat ia sendiri, temannya sudah lebih dulu pulang.

Toko sudah ditutup. Pria berseragam Book Store warna hitam itu, ragu-ragu menghampiri kendaraannya.

Juan tetap bergeming. Tangannya masih dilipat di depan dada. Tampaknya ia memang sengaja membuat takut pria itu.

"Pe-permisi, Bang."

Tak ada jawaban. Lengang sesaat.

Puk!

Sukses membuat pria itu terkejut bukan main. Pria melankolis itu bergetar. Bahunya ditepuk oleh pria yang tak dikenalnya.

"Ma-mau apa, Bang."

Tangan Juan masih di bahunya. Ia mengulas senyum.

"Beritahu aku apa alasan Maira pulang ... selain bapaknya sakit."

Tanpa basa-basi-busuk, dan memang Si Gondrong ini tidak tahu caranya berbasa-basi-busuk, ia langsung bertanya pada inti.

Pria 24 tahun itu mematung, terhenyak mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Ia membatin,

'Dia siapanya Kak Maira?'

"Kiddo!"

"Ah! Iky, Bang. Panggil saja Iky." Rizky refleks memperkenalkan diri.

"Aku maunya Kiddo."

"Ta-ta-tapi, aku bukan anak kecil, Bang." Iky membantah.

"Tapi kamu lebih muda dariku." Juan tak menerima bantahannya.

"Ya tapi, 'kan ...."

Rizky urung membantah begitu melihat tatapan maut Juan.

"Oh, oke." Rizky mengalah.

"Kasih tahu, kenapa Maira pulang?"

"Aku juga nggak tahu, Bang." Rizky menunduk. Ia benar-benar tidak tahu, dan cukup mengkhawatirkan juga soal ini.

Juan terdiam, memandang pria yang empat tahun lebih muda darinya.

"Aku dan Kak Salwa juga sedikit curiga."

"Oh, gadis yang kamu sukai itu namanya Salwa."

Rizky mendongak. Tak percaya atas tuduhan yang baru saja ditujukan padanya.

"Benar, 'kan?"

Ya, tuduhan itu memang benar adanya. Siapa pun yang melihat cara Rizky memandang Salwa, tentu akan tahu bahwa ia menyukainya. Namun, Rizky masih malu-malu mengakui.

"Lalu, apa yang kalian lakukan?"

Rizky menelan ludah, kemudian menggeleng. Ia dan Salwa memang kesulitan mencari cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Maira.

Sebagai sahabatnya, ia cukup mengenal Maira adalah orang yang cukup tersembunyi jika memiliki masalah.

Juan kembali diam. Melipat tangan di depan dada. Kemudian ia berdecak.

"Jangan menjadi sahabat yang tidak berguna dengan tidak berbuat apa-apa. Cari tahu!"

Rizky tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut pria yang bahkan dia belum tahu siapa namanya.

"Apakah barusan dia menyuruh binti memaksa? Mengapa orang ini seolah tahu banyak tentang kami? Dan lagi barusan dia mengatai aku dan Kak Salwa sahabat yang tidak berguna?"

Puk!

Bahu Rizky ditepuk, lagi. Dan kaget untuk kedua kalinya.

Juan menyodorkan benda pipih super canggih itu pada Rizky.

"Tulis nomormu."

Rizky tak bisa menolak. Sorot mata Juan mengandung arti "Kalau menolak, akan ku telan kau bulat-bulat!"

Setelah menulis nomornya, ia menyodorkan kembali pada pemiliknya.

Juan memasukkan benda itu ke dalam saku celana.

"Jangan bilang siapa pun tentang pertemuan kita. Atau aku akan bilang pada polisi itu kalau kamu menyukainya."

"Jangan, Bang!" Rizky buru-buru menyergah.

Juan menyunggingkan bibirnya. Tersenyum penuh kemenangan.

"Yuk, pulang!"

Hah? Rizky ternganga. Juan sudah memposisikan diri di jok. Siap untuk dibonceng.

Rizky mendengus. Datang tak dijemput, pulang minta diantar. Lebih sembrono dari jelangkung.

"Kendaraanku di Ilfi Midi, mampir ke sana oke, Kiddo?"

Si Gondrong ini entah belajar SKSD dari mana. Sedari tadi menodong, menuduh, dan menyuruh Rizky seenaknya.

Tak ingin urusan menjadi lebih ribet, Rizky memilih menuruti apa yang diinginkan oleh pria yang menyebalkan itu.

Motor matic itu menepi di halaman Ilfi Midi. Juan turun, tangannya meraih kunci motor yang masih menggantung di tempatnya.

"Tunggu sebentar ya, Kiddo!" Ia menunjukkan kunci yang baru saja dirampas, seraya melangkah masuk ke dalam mini market.

Rizky berdecak.

"Ah! Sial! Mimpi apa aku semalam!"

Tak lama Juan muncul membawa kantong plastik.

"Maira suka kopi. Jangan bilang ini dariku. Ada tiga, untuk kalian. Ngobrollah malam ini sampai subuh! Besok Maira akan pulang, 'kan?" Juan menyeringai.

Ia menyodorkan kantong plastik itu, kemudian diambil alih oleh Rizky.

"Kuncinya?"

"O iya! He-he-he."

Juan mengeluarkan kunci motor Rizky dari saku celananya.

Puk!

Yak! Tiga kali sudah Si Gondrong itu menepuk bahu Rizky.

"Apakah kamu tahu? Di dalam kubur sana, sebagian orang menyesal karena dulu tidak mengungkapkan perasaannya ... semoga, nasibmu tidak sama seperti mereka."

Rizky terdiam sejenak. Kemudian ia melirik tangan yang masih mendarat di bahunya. Juan mengerti maksud Rizky. Ia segera mengangkat tangannya.

Pria 24 tahun itu mengeluarkan puh. Bibirnya mengerucut. Ia siap melaju. Juan membiarkannya. Toh, dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski hasilnya tidak begitu memuaskan. Jadi tak ada gunanya lagi menahan-nahan pria itu.

Sebelum Rizky menyeberang masuk ke gang, ia menjulurkan lidahnya pada Juan.

Wleeekkk!!!

Juan tergelak, menyaksikan pria berusia 24 tahun itu meninggalkannya dengan raut wajah kemenangan.

"Dasar, Kiddo!"

***

1
T.N
eemm... morus 🤭
matcha
duuh mbk Maira ini kalem2.. sindirannya kyk sabetan pisau.. wkwkwk
Santi Herman
bagus
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Cancer
😄 aku suka gaya maira
hoomano1D
bukan meminang cucu kali thor,
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
hoomano1D
maaf ya thor, gw adalah golongan pembaca yg selalu bahagia. kalo gak bahagia, gw udh uninstall apk nt ini
hoomano1D
yg janji gw ada bukunya. emang keren
hoomano1D
umbel sing kuning keijoan kayane
hoomano1D
hmmm.,
malah curcol
hoomano1D
eh, bukannya punten yak?
hoomano1D
gw anggota klub tinggal baca aja nggak usah protes
hoomano1D
ganti namanya:
calon author famous
ASA
Part ini sungguh 🥺🥺🥺
ASA
masih betah di sini
Hamano Michiyo
wahh thor,,gimana caranya nyusun kata2 sebagus itu??bisa baginya ilmunya gak thor?
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
ApriL
sukaa 🥰🥰 auto pencet favorit..
gulaJawa🐏
hiyayyay baca lagi di tahun 2022,
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺

kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.

ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗
Ani Dyah
masih kurang "kue satu" oleh2nya 👍
Ani Dyah
kota beriman....kebumen kah? 😀😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!