kehilangan seorang istri membuat Erlangga kembali lagi menjadi gunung es . Kekejamannya kembali semula
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhayati 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Part 14
Rian keluar dari ruang Rawat Arga , Pria muda itu menoleh melihat sang kakak masih saja terdiam .
" Ayo kak ." Rian berseru setelah berada di ambang pintu .
Nerin mendengar seruan Rian pun menoleh , sang adik sudah berada di ambang pintu .
" Ah iya ." Nerin menjawab sembari berjalan meraih tubuh kecil Arga yang sedang berceloteh .
Keduanya berjalan menuju Lift keduanya masuk dengan beberapa orang yang berada di dalamnya .
Setelah kelur dari pintu lift Rian langsung menghubungi Hasan pak supir .
" Paman aku sudah berada di lobby , " kata Rian setelah sambungan telfonya sudah terhubung .
" Baik ." Jawab Hasan .
Nerin mengikuti langkah sang adik yang menenteng tas berisi pakaian Arga dan dirinya .
" Yan siapa yang kamu hubungi ? tanya Nerin penasaran , Bahkan dirinya mengira jika pelayan Mansion suaminya .
" Nanti kakak akan tau ." Jawab Rian tidak mengatakan langsung siapa orang itu .
Nerin hanya mengangguk , dan ia juga membenarkan apa yang ia pikirkan sekarang . "Benar pasti itu kepala pelayan mas Ar . " Nerin membatin
" Bagaimana kabar anda Nona ? " Tanya Hasan , membuyarkan lamunan wanita satu anak itu . Yand berdiri di samping Rian
" Eh ." Nerin jelas saja terkejut melihat pria itu yang tak jauh dari dirinya yang sekarang berada di hadapan Rian sang Adik .
Tentu saja ia sangat mengenali pria itu adalah supir pribadinya waktu itu .
" Alhamdulilah Baik Hasan . " Nerin menjawab sembari tersenyum .
...****************...
Di ujung pagar seseorang melihat itu melebarkan kedua matanya . Lalu mengembangkan senyum sinis .
" saatnya beraksi ."
...****************...
Mobil yang di kendari Hasan kelur dari rumah sakit menuju Apertemen Rian . Memang tujuan utama kesana , Bukan ke ingan Nerin wanita itu . Tetapi keinginan Rian .
Rian duduk di depan samping kemudi , sedangkan Nerin dia duduk di belakang bersama sang putra yang berada di dekapnya .
Bocah kecil itu sedang menyusu .
Tatapan Rian menyipit saat banyangan mobil terlihat dari kaca sepion .
Mobil itu terus saja mengikuti , bahkan terlalu dekat . Jika di biarkan akan mencelakai mobil yang sedang dirinya tumpangi . Itu akan membahayakan nyawa meraka .
" Paman mobil yang di belakang sangat mencurigakan ." Kata Rian
Hasan mengalihkan pandangnya sekilas . " Benar . Jika kita terap melanjutkan ke Apertemen aku tidak tau apa yang akan terjadi . " ucapan Hasan membuat Rian terkejut
" Lalu apa yang harus kita lakukan ? "Tanya Rian khawatir .
" ke kantor Tuan lebih dekat . Tidak ada pilihan ." jawab Hasan cepat . Lalu berkata kembali ." Nona tolong pegangan yang kuat . " Seru Hasan sedikit menaikan suaranya .
Nerin terkejut lalu menuruti apa yang Hasan ucapkan .
Setelah melihat sang Nona sedang berpegangan kuat , Hasan mulai menambahkan kecepatan .
Sampai terdengar bunyi cit . entah itu goresan atau benturan . Tetap saja Hasan melaju cepat , setelah menikung dia masuk ke dalam pelataran kantor .
" Nona cepat masuk lah , saya akan memalkirkan mobil terlebih dahulu ." Kata Hasan mengintuksi Rian .
Semua orang di gedung itu terkejut , sekaligus heran sangat berani masuk kedalam gedung kantor . Apakah dia tidak tau siapa pemilik gedung kantor ini . Pikir semua orang .
Jika pemilik kantor tau , entah apa yang akan terjadi dengan orang itu .
Satu wanita Resepsionis berjalan cepat menghampiri Nerin dan Rian .
" Nona , kenapa anda masuk kesini . Apa anda tidak tau ini kantor . Bukan mall . Tempat untuk bekerja , bukan tempat bermain anak anak . " Tegur Wanita resepsionis itu
Setelah berdiri di depan Nerin dan Rian .
" Tenangkan Anak Nona , tangisnya sangat menganggu ." Omel wanita Resepsionis itu terlihat sangat marah sekali
Rian menaikan alisnya rasanya begitu jengkel , lalu mengelurkan ponselnya menghubungi Nomor Abangnya .
Percuma saja jika ia mengatakan ingin bertemu langsung dengan pemilik perusah ini . Yang tak Lain Presdir , itu tidak akan bisa di percaya
Nerin tidak menjawab ucapan wanita resepsionis itu , Dia menunduk menahan malu .
" Nona kenapa masih ada di sini ? Tanya Hasan tiba tiba datang membawa tas ransel berisi pakean .
Pria itu sampai mengatur nafasnya yang tak beraturan .
" Eh pak supir Anda ." Wanita Resepsionis terkejut mendengar wanita yang sedang mengendong bocah kecil sedang menangis itu sebutan Nona .
" Ada apa , Apa Kau menghalangi Nona masuk ." Bentak Hasan menebak
Wanita Resepsionis itu menggeleng , ia takut dirinya akan terancam jadi berbohong saja pikirnya .
Mereka semua menganggap jika dua orang itu adalah pasangan .
" Kak biar aku yang menenangkan Arga Rian menghampiri sang kakak mengambil alih Arga , untuk menenangkannya .
Nerin hanya bisa menuruti sang adik yang mengambil Arga dari gendonganya .
Bocah kecil itu masih saja menangis keras , hingga seseguan .
" Cepat kalian kelur . kalian sangat mengganggu ! "
Seorang Pria Tua datang berkata sangat keras , Rian menoleh menatap sengit Pria tua plontos itu .
Erlangga berlari setelah kelur dari pintu lift di sangat panik setelah Rian menghubunginya berkata jika di perjalan ada sebuah insiden .
grep
Tanpa pikir panjang Erlangga mendekap tubuh ringkih wanita yang terlihat bergetar dari arah belakang .
Semua orang terbelalak , sedangkan Rian pria muda itu menghembuskan nafas lega Akhinya .
" Kya ...." Reflek Nerin menghindar dengan cara menginjak kaki pria itu yang telah berani memeluk dirinya .
Jelas saja pria itu meringis , menahan sakit .
Setelah terlepas Nerin melihat siapa pria itu dan , melotot sembari menganga untung saja ia langsung menutup mulutnya .
" Ah maafkan aku mas . Sakit banget ya ," Nerin menunduk bersiap membuka sepatu Pria itu tetapi di cegah oleh tangan besar pria itu .
" Tidak apa . Ayo masuk , Kasian putra kita menangis . " Ujar Erlangga menegakan tubuh Nerin menghadapnya .
Mengusap pipi sang istri dengan lembut , Wanita itu sampai di buat tegang .
Dan Perlakuan Erlangga sang Presdir dingin sangat lembut membuat iri kaum hawa .
Terlebih perkataannya yang mengatakan putra kita . Itu berati istri Presdir yang di rumorkan hilang . Apa kini mereka bersama kembali .
Sekujur tubuh semua orang menegang sekaligus terkejut . Mereka benar benar mati kutu melihat itu semua .
Dua orang yang berkata kasar tadi ketakutan .
Sekuriti sebenarnya ingin menegur wanita yang tiba tiba datang bersama dengan pria muda itu .
Namun melihat supir pribadi Presdir ia mengurung niatnya . Karena bisa di tebak itu pasti keluarga presdir .
Walau pun Pakaian yang di kenakannya tergolong sangat murah .
" San Kau hubungi Aldi , kasih pelajaran dua orang yang telah menghalangi jalan istriku . " Kata Erlangga tegas .
" Baik Tuan muda ." Hasan menjawab dengan mantap , pria itu langsung merogoh saku celana ."
Bagaimana Erlangga tidak tau , jika jangkauan Cctv berada di ponselnya . Dan dia memantau setiap saat
Bersambung