Arcelio Lazzaro tiba-tiba kehilangan kepercayaan terhadap tunangannya, Samantha Bellucci. Rasa curiga yang dipendam, ternyata membuat dia terjebak dalam pikiran tak menentu. Akhirnya, Arcelio menjalin kedekatan dengan Delanna Verratti, wedding planner yang seharusnya membantu persiapan pernikahan Arcelio dan Samantha.
Serapi-rapinya Arcelio menyembunyikan hubungan gelap dengan Delanna, tetap saja semua terungkap ke permukaan. Bagaikan petir di siang bolong, ketika Delanna mengaku bahwa dirinya hamil akibat hubungan gelap tersebut. Pernyataan Delanna tadi, tentu saja memengaruhi hubungan Arcelio dengan Samantha yang akan menikah dalam beberapa hari lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangat Memanas
Setelah memarkirkan motornya di tempat khusus, Arcelio bergegas naik ke ruang apartemen Samantha. Selama di dalam lift, dia berpikir tentang banyak hal. Salah satunya adalah ciuman tadi dengan Delanna. “Astaga. Seharusnya aku menolak ….” Belum sempat Arcelio menyelesaikan kata-katanya, pintu lift sudah lebih dulu terbuka.
Tampaklah sosok cantik bertubuh sintal yang menyambut Arcelio di depan lift. Dia tersenyum manis, dalam balutan kimono tidur berbahan satin warna merah. Rambut panjangnya yang berwarna pirang, tergerai di pundak sebelah kiri.
Arcelio melangkah keluar dari dalam lift. Dia berusaha tetap terlihat gagah dan penuh percaya diri, meskipun ada perasaan berkecamuk dalam hati. Arcelio menepiskan segala hal yang membuatnya tak nyaman, demi menunjukkan pada Samantha bahwa dirinya baik-baik saja. Begitu juga dengan hubungan yang tadi sempat memanas.
“Kuharap, kau tidak merasa terganggu,” ucap Arcelio menyembunyikan rasa kikuk dalam senyuman kalemnya.
“Tak ada satu pun yang berkaitan denganmu, akan membuatku merasa terganggu. Kau … kau selalu menjadi yang paling istimewa, Arcelio.” Samantha tersenyum lembut. Dia melangkah maju, lalu menghambur ke dalam pelukan sang pria pujaan hati.
Arcelio membalas pelukan Samantha. Rasanya memang sangat berbeda, ketika berdekatan dengan wanita yang telah menemani selama kurang lebih lima tahun tersebut. Ada keistimewaan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Dari sana, Arcelio mulai berpikir. Dia akan segera menyelesaikan lukisan dengan objek Delanna, lalu menghapus foto serta nomor ponsel wanita yang kerap menciumnya tanpa permisi.
“Aku mencintaimu, Sayang. Betapa bodohnya diriku karena telah meragukan kesetiaanmu. Tolong maafkan aku.” Arcelio merenggangkan pelukannya. Dia meraih kedua tangan Samantha, lalu menggenggam jemari lentik di mana terdapat cincin pertunangan mereka. Pria itu juga mengecup punggung tangan Samantha berkali-kali, sebagai tanda penyesalan yang teramat besar.
“Arcelio,” ucap Samantha mesra. “kau tahu bahwa dirimu adalah pria yang paling istimewa bagiku. Jangan pernah melupakan hal itu.” Senyuman manis diiringi rasa lega, terpancar jelas dari wajah dan sorot mata Samantha.
“Hukumlah aku yang sudah membuatmu marah, Sayang,” pinta Arcelio tanpa melepaskan genggaman tangannya.
“Sudahlah. Kau terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja,” ujar Samantha enteng. “Ah, tidak. Maksudku, aku tadi menangis hingga mataku bengkak,” ralatnya.
“Sungguh?”
“Ya.”
“Kasihan sekali kekasihku ini,” gurau Arcelio. Dia mengangkat tubuh indah Samantha. Arcelio membopongnya sambil melangkah menuju kamar. “Kalau begitu, kau harus segera beristirahat. Aku janji akan membuatkanmu sarapan besok pagi.”
“Apa kau akan menginap di sini?” tanya Samantha tak percaya.
“Itu juga jika kau tak mengusirku,” sahut Arcelio diiringi tawa, lalu berbalas cubitan mesra dari Samantha. Percakapan manis tadi tak terdengar lagi, saat keduanya sudah masuk ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
Malam berlalu dengan begitu cepat. Cahaya mentari pagi akhirnya datang, menyibakkan kabut gelap dan menggantinya dengan sinar terang yang hangat. Arcelio sudah terbangun sejak beberapa saat yang lalu. Dia duduk sebentar sambil bersandar pada kepala tempat tidur.
Tatapan pria bermata abu-abu yang tadinya tertuju ke layar ponsel, kemudian beralih pada sosok cantik yang masih terlelap di sampingnya. Samantha tertidur sangat nyenyak. Dia bahkan tak merasa terganggu, ketika Arcelio mengecup kening lalu menyelimuti dengan benar.
Setelah membuka tirai, Arcelio yang hanya mengenakan celana tidur berjalan keluar kamar. Saking seringnya menginap di sana, dia bahkan sudah menyimpan beberapa perlengkapan pribadi di apartemen milik tunangannya tersebut.
Sesuai janji yang sudah dikatakan kepada Samantha semalam, sang pelukis tampan berambut gondrong itu mulai berkreasi di dapur. Selain menjadi seorang pelukis andal, Arcelio juga merupakan koki yang bisa diperhitungkan dalam kondisi darurat.
Arcelio begitu asyik dengan aktivitasnya bersama wajan dan kompor, hingga dia tak menyadari bahwa Samantha sudah berada di belakangnya. Dia baru mengetahui kehadiran sang tunangan, saat wanita cantik itu melingkarkan tangan, lalu memeluknya dari belakang.
“Selamat pagi, Tampan,” sapa Samantha manja. Dia membenamkan wajahnya di dekat pundak Arcelio.
“Selamat pagi, Sayang,” balas Arcelio. “Kenapa kau sudah bangun? Padahal, sarapan belum siap.”
“Aku terbangun saat menyadari bahwa kau tak ada di kamar. Aku takut kau melarikan diri, lalu mencari wanita lain,” ujar Samantha tanpa menyingkirkan wajahnya dari bahu kokoh sang tunangan.
“Sudahlah. Jangan mulai lagi,” tegur Arcelio, yang sempat terusik dengan ucapan Samantha. “Sebaiknya, kau pergi ke kamar mandi lalu gosok gigi. Setelah itu, basuhlah wajahmu agar merasa lebih segar. Sebentar lagi sarapan akan siap.” Arcelio membenturkan pelan kepalanya ke kepala Samantha, yang masih dalam posisi seperti tadi.
“Baiklah. Aku akan menuruti apapun yang dikatakan Tuan Arcelio Lazzaro,” sahut Samantha seraya melepaskan tangannya dari perut Arcelio, yang lagi-lagi merasa terusik. Pria itu bahkan tertegun beberapa saat, mendengar jawaban yang diberikan Samantha. Kata-kata itu sama persis seperti yang pernah diucapkan Delanna kepadanya.
Arcelio menggeleng pelan. Dia menolak untuk memikirkan wanita berkulit eksotis, yang telah membuatnya menjadi seorang pengkhianat. Arcelio akan kembali fokus pada dirinya dan Samantha, yang telah kembali ke kamar.
Samantha langsung masuk ke kamar mandi. Dia melakukan beberapa aktivitas di dalam sana. Hingga beberapa menit berlalu, barulah sang aktris kenamaan Italia tersebut keluar dengan wajah yang terlihat jauh lebih segar. Selagi mengeringkan rambut, dia menjawab panggilan telepon dari Sara.
“Arcelio menginap di tempatku semalam. Kami sudah berbaikan. Dia bahkan sedang menyiapkan sarapan. Syukurlah, karena semua pikiran burukku tidak terjadi ….” Samantha menjeda kalimatnya, melihat ponsel milik Arcelio yang menyala. “Sebentar, Sara. Sepertinya, ada telepon masuk ke ponsel Arcelio,” ucap Samantha. Dia meletakkan handuk yang sedang digunakan untuk mengeringkan rambut.
Samantha berjalan ke dekat meja sebelah kiri tempat tidur. Dia meraih ponsel milik Arcelio, lalu memeriksanya. Seketika, wanita cantik berambut pirang itu menautkan alis. Dia melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari nomor kontak bernama Nona Verratti. Selain itu, ada pula satu pesan masuk dari nomor yang sama.
Apa kau sibuk? Terima kasih karena telah berkunjung semalam. Senang bisa membantumu, Arcelio.
Tanpa berpikir dua kali, Samantha bergegas menuju dapur. Arcelio yang telah selesai menata makanan di meja, tersenyum kalem menyambut Samantha.
"Sarapan sudah siap. Sebaiknya kita makan sekarang, selagi masih hangat," ucapnya. Dia bermaksud hendak mencium wanita yang sedari tadi menatap tajam padanya. "Ada apa lagi, Sayang? Jangan katakan jika kau akan kembali mengusirku, setelah aku menyiapkan sarapan untuk kita berdua," ujar Arcelio dengan nada candaan.
"Tenang saja, Arcelio. Aku tak akan mengusirmu dari sini, karena aku ingin kau memberikan penjelasan. Katakan, untuk apa kau mendatangi tempat Delanna Verratti?" tanya Samantha.
yang di selingkuhi jadi salah
hidup lakilaki