Sebenarnya apa salahku sehingga mereka sangat membenciku, bahkan dia tega memperkosa ku dan terus membuatku menderita.
Aku ingin ingin bertanya pada mereka, tapi aku sama sekali tidak punya keberanian. Apakah hidupku akan terus begini. Lalu, bagaimana dengan janin yang ada di kandunganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'm Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Nuga Ferdinan.
Hari ini, entah ada angin apa Xavier mengizinkan ku pergi bersama Nilam. Nilam menjemputmu ke rumah pagi-pagi sekali, dan dengan mudahnya Xavier mengizinkanku pergi bersama Nilam.
Aku dan Nilam sekarang sedang berada di mobil Nilam. Hari ini dia ingin membawaku ke peresmian cafe sepupunya.
"Tumben kakak mu mengizinkan kamu keluar Aya," Kata Nilam dengan heran.
"Mungkin suasana hatinya sedang baik."
"Kakakmu tampan ya? Aya kakakmu udah punya pacar belum."
"Udah, namanya Arinda."
"Cantik tidak?" Tanya Nilam dengan penasaran. Wajah Nilam terlihat sedih, saat aku mengatakan jika Xavier sudah mempunyai pacar. Dulu aku pernah bertanya pada Nilam, apakah dia menyukai kakakku? Nilam Hanyar jawab, jika dia hanya sekedar kagum saja, tapi semakin ku perhatikan sepertinya Nilam memang jatuh hati pada kakak ku.
"Cantik dan terlihat dewasa, lagi pula pacar kak Xavier mana ada yang jelek."
"Benar juga kakak mu selalu memiliki pacar yang cantik, bahkan dulu pernah pacaran dengan super model." Nilam terlihat sangat kecewa.
Aku menepuk bahunya pelan, menghibur sahabatku yang sepertinya sedang patah hati. Bagi ku lebih baik Nilam patah hati sekarang dari pada nanti, lagi pula Xavier itu seorang playboy sejati, tapi aku tetap berdoa semua Arinda mampu mengubahnya.
Setelah empat puluh lima menit, akhirnya kami sampai ke kafe sepupu Nilam. Banyak sekali yang sudah hadir, Nilam mengajak ku untuk bertemu sepupunya.
"Kenalin Aya, ini sepupu aku," Katanya saat kami berada di depan laki-laki berkaca mata.
"Andika," Katanya sambil mengulurkan tangan. Aku menerimanya dengan senang hati.
"Ayara."
"Wah, lo gak pernah bilang punya temen secantik ini," Kata Andika pada Nilam.
"kalau aku kenalin sama buaya kayak kamu, bisa bahaya."
"Hadeh dasar, gw gak seburuk itu," Katanya pada Nilam.
"Nikmati pestanya cantik" Kata Andika lagi, lalu mengedipkan sebelah matanya padaku.
"Jangan goda temen aku!" Peringat Nilam.
Aku memilih duduk di paling pojok cafe. Nilam meminta izin untuk menyambut tamu. Interior cafe ini sangat menarik, terkesan hangat dan nyaman, tapi bagi orang yang tidak suka keramaian sepertiku, walaupun ruangan ini nyaman, aku tetap tidak betah.
Aku memperhatikan orang-orang di sekeliling ku, mereka bercerita satu sama lain dan dengan mudahnya berinteraksi. Aku hanya bisa diam, menikmati minuman yanbg sebelumya sudah ku ambil.
Di kejauhan, aku melihat sesosok yang familiar, orang itu berjalan kearahku. Saat dia sudah semakin mendekat padaku, ternyata sesosok itu adalah Nuga, teman kakak ku.
Dia menghampiri ku dengan senang, wajahnya berseri. Nuga langsung duduk di kursi sebelahku tanpa meminta izin.
"Aya, kamu juga ada di sini."
"Nilam mengajak ku ke sini kak."
"Wah senangnya, ternyata bisa bertemu lagi di sini. Xavier pelit sekali tidak mengizinkan ku untuk ke rumah kalian."
"Lagian kaka, kan! bertemu dengan kak Xavier tiap hari."
"Tapi aku tidak bertemu setiap hari, denganmu."
Aku tersenyum mendengar ucapan Nuga. Apakah benar, seperti yang di katakan Arinda, jika Nuga mencintaiku. Aku rasa tidak mungkin, Nuga Ferdinan adalah salah satu pewaris tunggal dari perusahan besar di negara ini. Nuga pasti sudah banyak bertemu dengan gadis cantik, dan diantara mereka, pasti ada yang menarik perhatiannya. Tidak mungkin seorang Nuga, tertarik padaku. Aku hanya orang biasa saja.
"Ingin makan?" Tanya Nuga padaku. Aku menggeleng, minuman ini saja sudah cukup untukku.
"Tapi, aku ingin makan sesuatu." Nuga menarik tanganku dan membawaku ke meja yang di penuhi berbagai makanan.
"Red Velvet nya sangat enak. Cobalah!" Nuga menyuapi ku. Aku mau tidak mau, harus menerimanya.
"Nah, enak kan!"
"Iya kak, kuenya sangat enak."
Nuga terus menyuapiku berbagai makanan, hingga membuatku sangat kejang. Dia bahagia sekali saat berhasil menyuapiku, membuatku tidak tega untuk menolak suapannya.
"Sudah kak aku sudah kenyang."
"Kalau begitu, ayo kita ke bawah pohon di samping cafe ini. Aku bosan disini."
"Baiklah, Ayo." Karena aku juga sangat bosan dalam cafe ini, aku mengikuti Nuga.
Di bawah pohon di samping cafe Andika, terasa sangat sejuk dan nyaman, bahkan aku jauh lebih nyaman di sini dari pada didalam sana.
Awan tampak menghiasi langit yang terlihat sangat biru. Semilir angin menerpa wajahku, anak rambut terbang kesana-kemari dengan nakalnya. Nuga memandang, lalu merapikan anak rambut yang berantakan.
"Rambut mu sangat indah." Puji Nuga malu-malu. Wajahnya memerah sampai ke telinga. Apa Nuga memang sepemalu ini? Aku baru kali ini melihat sisi Nuga yang ini. Biasaya Nuga selalu terlihat hangat dan ceria.
"Terima kasih kak." Nuga memalingkan wajahnya dariku, tapi matanya masih mencuri pandang padaku.
"Aku selalu berharap terus bertemu denganmu, setidaknya mendengar suaramu."
"Untuk apa?" Tanyaku benar-benar tidak mengerti.
Nuga tertawa malu, dan tidak melanjutkan lagi perkataanya. Kami sama-sama memandang langit uang dihiasi oleh awan, yang perlahan bergerak. Sama-sama diam, dan hanya menikmati suasana yang terasa nyaman.
Setelah berdiam diri cukup lama, kami memutuskan untuk kembali ke dalam cafe. Telingaku langsung menangkap Susana yang ramai dengan suara-suara berbagai orang. Aku mencari Nilam, sementara Nuga sudah kembali bergabung dengan teman-temannya.
"Maaf ya lama. Banyak sekali tamu yang harus di sapa," Kata Nilam lelah, tapi terlihat senang.
"Tidak apa-apa. Lagipula tadi aku bersama Nuga."
"Berati kamu tidak terlalu bosan kan?"
"Tidak. Kak Nuga, orang yang menyenangkan."
"Kalau begitu ayo ku antar pulang, acaranya juga mau selesai."
"Baiklah ayo."
************
Sesampainya ke rumah, ku lihat Ribi nampak kelelahan, tidak seperti biasanya. Ribi gadis yang ceria dan tidak kenal lelah, kenapa dua bisa selelah ini?
"Ribi, kamu kenapa? Kenapa terlihat lelah sekali."
"Tidak apa-apa kak." Aku tau Ribi berbohong padaku.
"Jujurlah pada kakak, Ribi. Kakak akan sedih jika kamu berbohong."
Akhirnya Ribi bercerita padaku. Xavier melimpahkan semua tugas pada Ribi, bahkan dia menyuruh Ribi untuk menguras kolam renang. Aku sangat sedih melihat Ribi kelelahan seperti ini. Apalagi di harus memasak.
Aku menyuruh Ribi untuk istirahat, dia awalnya tidak mau, tapi aku terus memaksanya. Aku memasak, makanan kesukaan Xavier. Semoga saja, setelah ini dia tidak menyulitkan Ribi lagi.
Setelah selesai memasak, Bu Lela menghampiriku. Dia ingin menghidangkan makanan di meja tapi aku melarang dan menyuruhnya untuk istirahat. Bukan hanya Ribi saja yang di buat lelah tapi Bu Lela juga.
Bu Lela di perintahkan oleh Xavier membeli barang yang sulit di cari, sehingga Bu Lela harus mencari kesana-kemari.
Xavier pasti kesal aku pergi, sehingga dia membuat orang yang ku sayangi dalam kesulitan, ini pasti peringatan darinya.
ngapain juga masih disitu...😡😡
hahahah