Seorang ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik dan membesarkan anak-anaknya adalah wanita yang hebat.
tapi tahukah kalian bahwa ada wanita yang jauh lebih hebat, yaitu wanita yang terus berjuang untuk menjadi seorang ibu, dia yng melakukan segala hal demi memperjuangkan garis dua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Bersalah...
Happy Reading...⚘⚘⚘
Afifa menghentikan gerakan suaminya yang hendak memeluknya, saat menyadari ada hal yang aneh pada bayinya, "Tunggu Kak!" kepala Afifa menyembul dibalik punggung suaminya, matanya memperhatikan gerak-gerik bidan yang panik sedang berusaha memberikan rangsangan kepada bayi mungilnya, "Ada apa dengan bayi saya Bu? kenapa tidak terdengar suara tangisnya?" Afifa kembali panik dan berusaha bangkit, namun rasa sakit menghentikan gerakannya, bagaimana tidak, bahkan plasentanyapun masih belum dikeluarkan dari rahimnya.
Fauzi mengangkat tubuhnya, lalu berbalik ke arah Bidan dan Suster, "Kenapa anak saya bu?" berjalan menghampiri Bidan.
Bidan Indah tidak menjawab, dia terus berusaha melakukan tindakan, menggerak-gerak bayi mungil yang hanya seukuran dengan lengan bawahnya itu.
Bukan hanya Afifa dan Fauzi, Bidan indah beserta perawatpun ikut tegang, keringatnya sampai bercucuran dari wajah bidan itu, tapi dia tidak menyerah sampai akhirnya suara tangisan kecil keluar dari mulut bayi mungil itu.
Bidan indah menarik nafas lega, Begitupun Fauzi dan Afifa, dengan berlinang air mata Fauzi segera mengumandangkan Adzan dan Iqomah di depan telinga bayinya.
Bidan Indah segera membersihkan sisa darah yang masih menempel ditubuh bayi itu, lalu membungkusnya dengan kain hangat dan lembut, dan meletakannya ditempat penyimpanan bayi yang disorot lampu pijar hangat. "Kita harus segera membawa bayinya ke rumah sakit Pa!" ucapnya kemudian.
"Tapi kenapa?" tanya Fauzi.
"Berat badannya kurang dari satu kg, tubuhnya belum bisa beradaptasi dengan suhu udara luar, jadi harus di incubator, jangan khawatir kami sudah menghubungi pihak rumah sakit dan bayinya akan diantar pegawai saya, tapi harus ada seorang wanita yang membawanya sambil menempelkan badan bayi ke dadanya untuk merasakan suhu tubuh yang hangat", Bidan keluar kamar sebentar, tak lama kembali bersama Umi, sesuai intruksi Bidan, Umi melakukan semuanya dengan cekatan, setelah menyapa putri dan menantunya, Umi pun keluar bersama perawat yang mengantarnya, masuk mobil dan segera menuju rumah sakit terdekat, Mama dan Papa ikut serta bersamanya.
Bidan Indah menoleh ke arah Afifa yang hendak bangkit karena ingin melihat bayinya yang sudah dibawa Umi, "Jangan bangun dulu Bu!, Saya akan keluarkan plasentanya", kembali membungkus tangannya.
Afifa mengikuti intruksi Bidan untuk kembali berbaring, dia berusaha mengejan, Bidan indah membantunya dengan mendorong perut Afifa dari atas, plasenta pun keluar, Bidan indah segera memeriksanya, "Ya Alloh...!" Ucapnya, diikuti dengan helaan nafas berat.
"Kenapa Bu?" tanya Fauzi heran.
"Plasentanya tidak utuh, masih banyak yang tertinggal didalam, saya akan coba keluarkan lagi ya Bu", ucap Bidan.
Afifa mengangguk, tapi tak juga ada kontraksi.
"Kejankan lagi Bu!" pinta bidan.
Afifa melakukannya beberapakali, namun sisa plasentanya tidak juga keluar.
Bidan menggeleng, "Baiklah saya lakukan dengan manual, bersiap ya Bu, Kakinya dibuka lebar".
Afifa mengikuti intruksi bidan "Aaaaaawwwww", jeritnya kesakitan, saat tangan bidan itu masuk ke dalam rahimnya.
"Apa yang anda lakukan Bu...? istri saya kesakitan", Fauzi terus menggenggam tangan Afifa.
"Maaf Pak, ini harus bersih, kalau tidak akan menyebabkan kanker rahim", jelas bidan.
"Saaaakit Kaaaak...", air mata Afifa kembali berderai menatap suaminya seolah memohon pertolongan dan meminta bidan itu menghentikannya, keringatnya kembali bercucuran.
"Tahan ya sayang, sebentar lagi", Fauzi coba menguatkan istrinya, meskipun airmatanya ikut keluar karena tak tega melihat istrinya terus menjerit kesakitan sampai beberapa kali mencengkram tangan dan punggungnya, karena ternyata rasanya lebih sakit daripada saat mengeluarkan bayinya.
Cukup lama hal itu berlangsung, akhirnya Bu bidan menghentikan gerakan tangannya, "Alhamdulillah sudah keluar semua", Bidan Indah tersenyum, diapun segera membersihkan Afifa dan darah yang berceceran setelah proses melahirkan.
Fauzi mengambil saputangan disaku celananya, lalu membersihkan keringat dari wajah Afifa, "Sudah selesai sayang, Cup...", satu kecupan mendarat di kening Afifa.
Afifa hanya berbaring terkulai lemah, mengatur nafasnya yang naik turun tak beraturan.
Bidan Indah menatap Afifa, "Apa ibu pernah terjatuh?" tanyanya.
Afifa terperanjat mendengar pertanyaan Bidan, dia tidak langsung menjawab, dia mengalihkan pandangannya pada suaminya, ada rasa takut dan rasa bersalah tergambar diwajahnya.
Fauzi memandangi Istrinya dan Bidan Indah bergantian.
Ragu-ragu Afifa membuka mulutnya. "Saya...jatuh 5 hari yang lalu bu"
"Apa? jatuh?" tanya Fauzi.
"Hmmmm, kemungkinan ibu Afifa terjatuh dengan posisi duduk, sehingga plasentanya terbentur keras dan retak".
"Bagaimana kamu bisa jatuh? kenapa tidak bilang padaku?" Nada suara Fauzi meninggi.
"Maafkan Fifa Kak..., Fifa tidak bermaksud menutupinya, hanya saja situasinya tidak memungkinkan", Afifa kembali terisak.
"Memangnya ada yang lebih penting dari keselamatanmu dan bayi dalam kandunganmu?" Fauzi menatap tajam pada istrinya.
"Aku...aku...", ucapan Afifa terhenti, seketika tangisnya pecah membuatnya tak sanggup mengucapkan kata-kata, rasa bersalah yang teramat dalam karena keteledorannya sendiri, membuatnya sangat menyesali semua yang telah terjadi.
"Sudah Pak, semua sudah terjadi, sekarang kita berdo'a saja, semoga putra kalian bisa terus bertahan". Bidan indah keluar dari ruangan.
Air mata Afifa terus saja mengalir dikedua pipinya, Fauzi tertunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tepapak tangannya, lalu menatap istrinya yang menangis tersedu-sedu, "Kenapa Kamu..." Ucapannya terhenti karena suara pintu yang dibuka seseorang.
"Ceklek" Abi muncul dibalik pintu diikuti Wulan, Farid juga Nadia, masuk ke dalam ruangan, menyapa Afifa dan menguatkannya.
Setelah semuanya tenang, Wulan menjelaskan semuanya kepada Fauzi agar tidak terjadi kesalah fahaman, kehadiran Farid disini hanya kebetulan saja, Farid adalah orang yang akan mendesain rumah yang akan dibangun Wulan, setelah pertemuannya di restoran itu dan juga tau asal usul Talita, Farid datang menemui Wulan untuk meminta maaf, silaturahmi terus berlanjut, sampai Wulan punya rencana untuk membangun rumah baru dan meminta Farid untuk mengatur desain pembangunan rumah barunya, Hari ini mereka ada janji untuk bertemu, namun karena Talita sedang ulang tahun dan Wulan tidak mungkin keluar, akhirnya Farid diminta datang kerumah Wulan untuk membicarakan semuanya, namun tiba-tiba saja Afifa pingsan ditengah acara dan saat itupula Farid sudah ada didepan rumahnya.
Terjadi perbincangan panjang diantara mereka sampai akhirnya Wulan dan Farid berpamitan untuk pulang.
Wulan dan Farid menyalami semua orang, saat Farid tepat berada dihadapan Nadia, dia terdiam mengingat kembali masa itu, namu dia segera menepisnya dan berbalik melangkahkan kakinya mengikuti Wulan.
"Terimakasih Mas Ari" Ucap Nadia sambil tertunduk.
Seketika Farid menghentikan langkahnya, dia terdiam sesaat mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya, tanpa sadar dia memutar kepalanya kembali menoleh ke arah gadis berhijab coklat yang sedang tertunduk dihadapannya.
**********
Bersambung...❤❤❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terimakasih atas dukungannya Readers...
Jangan lupa Like, Vote dan komentarnya.
LOVE YOU ALL...❤❤❤ ⚘⚘⚘
By : @Rahma Husnul#
Secara dia sudah berbuat salah ...ngasih obat perangsang
Sampai di sini kok dramanya datar2 aja ?
sukses
semangat
mksh
Laki macam apa sich, bejek² aja kak Owner 🤧🤧🤧
🤔🤔🤔
#ngarep