Bertemu dengan cinta pertama di ajang reuni sekolah, menumbuhkan kembali cinta lama yang memang belum terkubur sepenuhnya.
Wirra yang masih berstatus sebagai seorang suami, nyatanya tidak bisa melupakan pesona seorang Meyta setelah bertemu kembali dengan wanita itu.
Bagaimana akhir kisah Wirra dan Meyta? Sudikah Meyta menjadi yang kedua dari seorang Wirra? Atau, wanita itu akan meminta Wirra untuk meninggalkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14 - Pencetak anak
“Aku tidak sempurna sebagai wanita, Mey. Aku tidak bisa memberikan keturunan pada Mas Wirra. Tapi, aku yakin, kamu pasti bisa memberikan Mas Wirra seorang penerus.”
“Penerus? Maksud kamu, anak?”
Sembari tersenyum lembut Anna mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sementara Meyta, wajah wanita itu seketika berubah menjadi merah. Dia marah. Ternyata pria itu berbohong. Wirra tak benar-benar mencintai dirinya. Wirra hanya menginginkan seorang anak dari rahimnya.
Pantas saja pria itu masih mencari pendamping lain sementara istrinya sendiri layaknya seorang bidadari.
“Aku bukan mesin pencetak anak!”
Wirra terperanjat saat mendengar ungkapan kekesalan Meyta. Sebenarnya pria itu tak ingin memberitahukan pada Meyta mengenai alasan mengapa Anna mengizinkan dirinya untuk berpoligami. Dia takut jika Meyta merasa tersinggung.
Dan benar saja, Meyta memang merasa tersinggung. Wanita itu bahkan mengayun langkah dan meninggalkan Wirra dan Anna seketika.
Tak hanya Wirra, Anna pun juga terperanjat sewaktu mendengar Meyta mengumpat. Anna pikir, Meyta sudah mengetahui tentang hal itu. Tentang alasan mengapa Wirra menikahinya.
“Mas belum memberitahukan pada Meyta?” tanya Anna penasaran.
Wirra yang merasa gundah, hanya bisa menatap sekilas pada sang istri dan tak menjawab pertanyaan Anna.
“Harusnya Mas memberitahukan kepada Meyta lebih awal. Kalau Mas menginginkan dia untuk mengandung anak Mas Wirra,” ucap Anna. “Biar aku yang berbicara padanya lagi,” lanjutnya.
Tapi, Wirra menahan sang istri. “Biar aku saja. Meyta itu keras kepala. Meyakinkan dia akan sesuatu sangatlah susah. Jadi, kamu tunggu di sini saja.”
Belum sempat Anna menjawab perintah sang suami, Wirra sudah berlari sekencang-kencangnya. Menjauh dari Anna. Menghampiri Meyta. Anna bahkan bisa melihat raut cemas di wajah Wirra, kali ini.
Tak pernah dia melihat raut sang suami yang seperti itu. Bahkan, saat dirinya divonis mengidap penyakit endometriosis, sang suami tak terlihat cemas.
Siapa Meyta sebenarnya? Mengapa amarah kecil dari wanita itu bisa membuat sang suami begitu cemas?
Dengan gontai, Anna melangkahkan kakinya. Dia ingin mencuri dengar pembicaraan sang suami dengan calon madunya. Dia juga ingin tau, bagaimana cara suaminya meluluhkan Meyta yang katanya sangat keras kepala itu?
Dan mata Anna seketika terbelalak saat menyaksikan sang suami mendekap Meyta dari belakang. Anna juga menyaksikan bagaimana Meyta berontak dari pelukan Wirra.
“Sudahlah Wir! Aku tidak sudi jika hanya menjadi mesin pencetak anak buatmu!” pekik Meyta yang masih meronta dalam pelukan Wirra.
“Tidak ada yang ingin menjadikan kamu sebagai mesin pencetak anak, Mey. Aku ingin menikahi kamu karena aku sangat mencintaimu,” gumam Wirra.
“Dasar pembohong!” balas Meyta.
“Mey ... Bahkan, jika kamu tidak ingin memiliki anak denganku, itu tidak masalah. Bukankah kita sudah mempunyai Mutiara? Aku mencintai kamu dan aku menyayangi Rara.”
Anna masih menajamkan telinganya. Jarak yang cukup jauh membuatnya tak bisa mendengar pembicaraan itu dengan jelas. Dia hanya bisa menyaksikan sang suami terus mendekap Meyta.
Mungkin, Wirra ingin menenangkan wanita itu. Tak ingin wanita itu pergi meninggalkan rumah ini dengan penuh emosi.
Mungkin, sang suami takut terjadi sesuatu pada Meyta, jika wanita itu pergi dari sini dengan diliputi rasa amarah. Sehingga sang suami harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan Meyta. Begitulah pikir Anna.
Anna masih terus berdiri di sana. Di balik pilar yang berada di teras rumahnya. Menyaksikan Meyta yang kini sudah lebih tenang di pelukan sang suami.
Bahkan, kini Anna dapat menyaksikan bagaimana Wirra menenggelamkan wajahnya pada lekuk leher calon madunya itu.
Tubuh Anna bergetar tanpa bisa dia tahan. Dan tubuh wanita itu semakin bergetar hebat kala melihat sang suami membalik tubuh Meyta dan memakan bibir merah delima wanita itu. Wirra bahkan mendorong tubuh wanita itu hingga menempel pada tembok.
Anna dapat melihat bagaimana Wirra melahap Meyta dengan begitu rakusnya. Padahal, Wirra tak pernah memperlakukan dirinya seperti itu. Bahkan, walau dia sudah melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya, Wirra tak pernah terlihat serakus itu.
Air mata Anna mengalir deras tanpa bisa ditahannya. Dirinya ingin beranjak dari sana karena tak kuat menyaksikan adegan demi adegan sang suami dengan calon madunya itu. Terlebih sang suami kini tengah memegangi salah satu kaki Meyta dan melingkarkan kaki wanita itu pada pinggangnya. Bokong pria itu bahkan kini terlihat menghentak-hentak dengan keras, seolah ingin memasuki wanita itu.
Rasanya, Anna ingin berlari dari sana. Tapi, kakinya terasa begitu lemas. Bahkan, Anna tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya hingga wanita itu akhirnya terduduk di lantai.
Meyta yang dari jauh dapat melihat Anna, tiba-tiba tersenyum tipis. Dia yang tadinya berontak karena perlakuan Wirra, kini mulai membalas luma*tan itu. Meyta bahkan mengalungkan tangannya pada leher Wirra. Bokongnya bahkan ikut menyambut hentakan-hentakan Wirra pada bagian bawah tubuhnya.
Meyta bahkan mulai meliuk-liuk. Wanita itu mulai menikmati permainannya bersama Wirra.
Meyta ingin menunjukkan pada Anna, bahwa apa yang diucapkan oleh istri sah dari Wirra Pramudya itu tidaklah benar. Bagi Wirra, dirinya bukanlah wanita pencetak anak.
Meyta ingin menunjukkan bahwa Wirra benar-benar menggilainya. Dia ingin Anna menyaksikan betapa Wirra telah bertekuk lutut padanya. Dia ingin Anna segera meninggalkan Wirra agar pria itu hanya menjadi miliknya seorang.
Dan apa yang diinginkan oleh Meyta terkabul. Anna dapat mengerti bahwa suaminya terlihat begitu tergila-gila pada Meyta. Tapi, tidak untuk keinginan Meyta lainnya. Anna tidak akan pernah mau meninggalkan Wirra.
Seperti Wirra yang menerima dirinya apa adanya. Dia pun akan menerima Wirra apa adanya. Dia tak peduli walau tak ada namanya di hati pria itu. Dia hanya akan terus mendampingi Wirra. Menjadi istri yang baik bagi pria itu.
Mungkin bagi sebagian orang, apa yang diucapkan oleh Anna adalah hal bodoh. Bertahan dengan pria yang sudah bermain api. Bahkan, bermain api di kediaman mereka sendiri.
Tapi bagi Anna, terus mendampingi Wirra adalah bukti nyata jika dia mencintai pria itu. Mungkin memang dirinya yang tak bisa memuaskan fantasi pria itu. Maka, wajar jika sang suami mencari hal itu dari wanita di luar sana. Walau wanita itu tak lebih cantik ataupun lebih muda dibandingkan dirinya. Usia Meyta bahkan terpaut lima tahun di atasnya.
Sementara itu, tanpa sadar dia tengah berada di kediamannya, Wirra yang sudah tak tahan dengan aksinya bersama Meyta, menarik tangan wanita itu secepatnya. Pria itu mengajak Meyta menuju ke sebuah pintu yang tak jauh dari sana. Hingga kini mereka tiba di salah satu sisi rumah. Terdapat kolam renang minimalis di sana.
Ada sebuah sofa bed di sana. Wirra langsung menghempaskan Meyta, dan memasuki tubuh wanita itu dengan begitu menggebu-gebu. Wirra bahkan terus melenguh kencang melampiaskan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya. Pria itu tak peduli, jika suara lenguhannya bisa terdengar oleh Anna. Yang dia tau, dia sangat merindukan Meyta. Dia merindukan jepitan tubuh wanita itu.
Begitupun dengan Meyta, dia tak lagi peduli jika Anna menganggap dirinya sebagai wanita murahan. Permainan Wirra yang sangat luar biasa membuatnya lupa akan segalanya. Dia hanya ingin Wirra terus memuaskannya.
Di bawah rintik hujan yang turun mengguyur bumi, Wirra dan Meyta terus melanjutkan aksi mereka hingga puas.
siapa tau meya bisa didepak
ngapain inget dia terus