"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amanah
Kaget. Itulah satu kata yang menggambarkan wajah Bapak dan Ibu Koesuma. Tapi dengan apik mereka berdua dapat menyembunyikannya.
"Kami memberikan waktu seminggu. Karena Mas Akbar, akan kembali ke Kalimantan untuk bekerja, mengajar." Tambah Pak Wira, diakhiri dengan senyum.
"Terima kasih banyak sebelumnya, Pak. Kami akan menyampaikan kepada Sekar. Kebetulan, Sekar sedang keluar, mengantar Dira, baru saja. Nanti kami sampaikan amanah Bapak kepada putri kami dan jawabannya segera kami sampaikan kepada Bapak." Jawab Pak Koesuma dengan baik.
Malam hari, ketika sedang makan malam. Pak Koesuma meminta Sekar untuk menemuinya selesai mengerjakan tugasnya di ruang shalat.
Mengapa ruang shalat? Bagi beliau, ruang shalat tempat yang baik. Selain adem, ruanganya juga penuh doa dan shalat yang diucapkan oleh pendoa setiap shalat. Amanah yang akan disampaikanpun bukan senbarangan, menyangkut dengan hati dan kehidupan.
Selesai berdiskusi dengan istrinya, Pak Koesuma menelpon anak pertamanya, Andra. Beliau sangat terbuka. Apapun masalah keluarga, beliau akan bercerita dan mendudukan kami, duduk melingkar, mendiskusikan dan mencari solusi yang tepat dan benar.
Dengan sekali tarikan napas, kemudian dikeluarkan pelan-pelan. Pak Koesuma memulai.
"Mas Andra, Mba Sekar, Istriku sayang. Jadi begini, alasan Bapak, mengumpulkan kalian disini, tentunya ada sesuatu yang akan Bapak sampaikan. Sebelumnya jangan terkejut dan berbesar hati." Tutur Pak Koesuma dengan bijak.
"Mas Andra, adikmu ini, tadi sore dilamar oleh Mas Akbar, putra Bu Suryo. Pak Wira yang menyampaikan amanah tadi. Beliau memberi waktu sampai satu minggu. Karena katanya, Mas Akbar akan berangkat ke Kalimantan untuk kembali mengajar." Jelas Pak Koesuma, sambil melihat ke arah anak perempuannya, yang sekarang tengah menunduk, kaget. Kedua.tangannya sesekali meremas kain daster berwarna hijau muda yang dikenakan.
Andra, yang melihat adiknya bertingkah seperti itu, gemas. Lalu dihampiri dan dipeluknya, Sekar, dengan penuh kasih sayang. Sambil tertawa, Andra mengatakan, "Wah, kamu ternyata udah besar ya De, selamat ya, Mas nggak bisa ikut campur keputusanmu. Karena ini berkaitan dengan kehidupan hatimu. Setahu Mas, Akbar orangnya baik dan bertanggung jawab." Jawab Akbar, sesekali mengelus puncak kepala adiknya itu, yang mengenakan jilban berwarna pink.
Kedua orangtua mereka, yang melihat pemandangan di depannya, tersenyum.bahagia. Hatinya mereka menghangat senang. Ada kebahagian yang tidak bisa mereka ungkapkan saat ini.
"Bagaimana, Mba?" Kali ini, Ibunya bersuara. Seseorang yang telah melahirkan dan mengasuh Sekar hingga dewasa seperti sekarang. Hati Ibu yang tengah senyum itu, seakan mengetahui kedalam dasar hati anak perempuannya. Walaupun Sekar tidak mengeluarkan suara emasnya, Ibunya tahu, Sekar sedang bahagia.
"Nanti Sekar tanya 'hati' dulu, ya. Apa Bapak, Ibu dan Mas Andra, ridho dan merestui kalau Mas Andra jadi imam Sekar?" Tanya Sekar pelan, masih menundukan kepala malu.
"Insya Allah, kami ridho, Nak." Jawab Pak.Koesuma dengan lembut.
"Baik, Pak, Bu, Mas. Nanti Sekar shalat dulu, insya Allah jawabannya akan segera Sekar berikan. Kalau begitu, Sekar pamit dulu ke kamar. Tugas yang tadi belum selesai. Salam untuk Dira, ya Mas." Ucapku sambil bangkit untuk berdiri menuju kamar.
Setelah Mas Andra pulang, Sekar ke kamar. Bapak dan Ibu Koesuma berjalan menuju kamar mereka. Sambil menggenggam tangan istrinya, beliau mengatakan, "Ternyata begini, ya Bu, jadi orangtua." Bisiknya kepada istri solehanya itu.