NovelToon NovelToon
Imam Yang Seperti Bapak

Imam Yang Seperti Bapak

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:267.7k
Nilai: 5
Nama Author: lilinur m

"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."

"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."

Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.

"Bismillah, semoga aku bisa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amanah

Kaget. Itulah satu kata yang menggambarkan wajah Bapak dan Ibu Koesuma. Tapi dengan apik mereka berdua dapat menyembunyikannya.

"Kami memberikan waktu seminggu. Karena Mas Akbar, akan kembali ke Kalimantan untuk bekerja, mengajar." Tambah Pak Wira, diakhiri dengan senyum.

"Terima kasih banyak sebelumnya, Pak. Kami akan menyampaikan kepada Sekar. Kebetulan, Sekar sedang keluar, mengantar Dira, baru saja. Nanti kami sampaikan amanah Bapak kepada putri kami dan jawabannya segera kami sampaikan kepada Bapak." Jawab Pak Koesuma dengan baik.

Malam hari, ketika sedang makan malam. Pak Koesuma meminta Sekar untuk menemuinya selesai mengerjakan tugasnya di ruang shalat.

Mengapa ruang shalat? Bagi beliau, ruang shalat tempat yang baik. Selain adem, ruanganya juga penuh doa dan shalat yang diucapkan oleh pendoa setiap shalat. Amanah yang akan disampaikanpun bukan senbarangan, menyangkut dengan hati dan kehidupan.

Selesai berdiskusi dengan istrinya, Pak Koesuma menelpon anak pertamanya, Andra. Beliau sangat terbuka. Apapun masalah keluarga, beliau akan bercerita dan mendudukan kami, duduk melingkar, mendiskusikan dan mencari solusi yang tepat dan benar.

Dengan sekali tarikan napas, kemudian dikeluarkan pelan-pelan. Pak Koesuma memulai.

"Mas Andra, Mba Sekar, Istriku sayang. Jadi begini, alasan Bapak, mengumpulkan kalian disini, tentunya ada sesuatu yang akan Bapak sampaikan. Sebelumnya jangan terkejut dan berbesar hati." Tutur Pak Koesuma dengan bijak.

"Mas Andra, adikmu ini, tadi sore dilamar oleh Mas Akbar, putra Bu Suryo. Pak Wira yang menyampaikan amanah tadi. Beliau memberi waktu sampai satu minggu. Karena katanya, Mas Akbar akan berangkat ke Kalimantan untuk kembali mengajar." Jelas Pak Koesuma, sambil melihat ke arah anak perempuannya, yang sekarang tengah menunduk, kaget. Kedua.tangannya sesekali meremas kain daster berwarna hijau muda yang dikenakan.

Andra, yang melihat adiknya bertingkah seperti itu, gemas. Lalu dihampiri dan dipeluknya, Sekar, dengan penuh kasih sayang. Sambil tertawa, Andra mengatakan, "Wah, kamu ternyata udah besar ya De, selamat ya, Mas nggak bisa ikut campur keputusanmu. Karena ini berkaitan dengan kehidupan hatimu. Setahu Mas, Akbar orangnya baik dan bertanggung jawab." Jawab Akbar, sesekali mengelus puncak kepala adiknya itu, yang mengenakan jilban berwarna pink.

Kedua orangtua mereka, yang melihat pemandangan di depannya, tersenyum.bahagia. Hatinya mereka menghangat senang. Ada kebahagian yang tidak bisa mereka ungkapkan saat ini.

"Bagaimana, Mba?" Kali ini, Ibunya bersuara. Seseorang yang telah melahirkan dan mengasuh Sekar hingga dewasa seperti sekarang. Hati Ibu yang tengah senyum itu, seakan mengetahui kedalam dasar hati anak perempuannya. Walaupun Sekar tidak mengeluarkan suara emasnya, Ibunya tahu, Sekar sedang bahagia.

"Nanti Sekar tanya 'hati' dulu, ya. Apa Bapak, Ibu dan Mas Andra, ridho dan merestui kalau Mas Andra jadi imam Sekar?" Tanya Sekar pelan, masih menundukan kepala malu.

"Insya Allah, kami ridho, Nak." Jawab Pak.Koesuma dengan lembut.

"Baik, Pak, Bu, Mas. Nanti Sekar shalat dulu, insya Allah jawabannya akan segera Sekar berikan. Kalau begitu, Sekar pamit dulu ke kamar. Tugas yang tadi belum selesai. Salam untuk Dira, ya Mas." Ucapku sambil bangkit untuk berdiri menuju kamar.

Setelah Mas Andra pulang, Sekar ke kamar. Bapak dan Ibu Koesuma berjalan menuju kamar mereka. Sambil menggenggam tangan istrinya, beliau mengatakan, "Ternyata begini, ya Bu, jadi orangtua." Bisiknya kepada istri solehanya itu.

1
Suyatno Galih
disn othor sll menyebut desa asal dan domisili, ku kenal Ambal Mirit Kebumen Jateng---Makmur p rimau Banyuasin Sumsel benar or salh thor
Eny Hidayati
kata hati yang sama...
Eny Hidayati
ujian hidup selalu ada ...
Eny Hidayati
sahabat selalu ikut gembira untuk sahabatnya...
Eny Hidayati
mode on going ...
Eny Hidayati
Bapak ibu Suryo sepertinya baik, orangnya tidak sok ...
Eny Hidayati
seneng banget lamaran diterima...
Eny Hidayati
masih menyimak...
Eny Hidayati
nembung itu namanya...
Eny Hidayati
berlanjut berarti...
Eny Hidayati
sama2 berdebar ...
Eny Hidayati
mohon maaf sebelumnya... masih bingung pov-nya ... tapi aq nikmati saja karena adanya begitu ... tetap semangat Thor.
Eny Hidayati
memasak itu yg paling ditakuti kalo keasinan ...se buyar-buyarnya pokoknya...
Eny Hidayati
Akbar pasti terkejut dan tentu ingat itu adik tingkat .
Eny Hidayati
Bapaknya Sekar itu disebut orang yang nyungkani ...
Surya Langit
bagus
Eny Hidayati
pesawat melangit... seperti melangitnya sebuah harapan ...
Eny Hidayati
menyimak ceritamu Thor... AQ semangat membaca... Author semangat menulis... sehat selalu Thor...
Aminah Mimin
maaf perasaan waktu USG anak nya kembar kok waktu lahiran cm 1
Kimie Meonk
colon imam pilihan jga so sweet loh.. aq rekomend... bgt dh...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!