Madu itu manis namun berbeda dengan madu yang aku rasakan, rasanya sungguh pahit, membuat hati yang baik-baik saja menjadi terluka, membuat hati dilema antara bertahan atau menyerah hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri semuanya.
Dari sinilah aku menjadi wanita kuat karena harus berjuang untuk sang buah hati dan akhirnya aku bertemu dengan pria yang tulus mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Viona Hamil
POV Melati
Seusai makan dengan Dokter David aku langsung pulang, saat turun dari mobil benar saja aku melihat Viona sudah ada di depan rumah bersama Reza dan juga Ega.
Mereka berdua menatapku tajam, apa ada yang salah dengan aku? aku yang merasa boa (bodoh amat) langsung masuk hingga suara Reza menghentikan langkahku.
"Melati!" Dari suaranya sangat jelas dia marah padaku namun aku lagi-lagi memasang wajah cuek.
Aku membalikan badan dan menatap Viona serta Reza yang melangkahkan kaki mendekat.
"Darimana kamu!" teriak Reza.
"Kamu nanya?" Aku mengikuti gaya di tok tok yang semakin membuat Reza kesal.
"Siapa yang mengantar kamu tadi?" tanya Viona.
Kini tatapanku berganti ke Viona, saat itulah aku melihat bocah kecilku ketakutan di ambang pintu.
Aku mengabaikan Reza maupun Viona, ku dekati Ega dan mengajaknya ke kamar. Aku tidak akan membiarkan mental Ega dirusak, anak sekecil ini nggak perlu tau pertengkaran orang tuanya.
"Ega sudah makan?" tanyaku.
"Sudah ma," jawabnya.
Syukurlah setidaknya Reza tidak lupa jam makan Ega.
Aku mengelus rambutnya, berharap bocil kecil ini tidur karena sungguh kasian jika harus mendengar pertengkaran kami.
Lagu Nina Bobo aku nyanyikan untuknya, dan benar saja matanya mulai menutup.
"Sebentar lagi kita akan hidup berdua sayang tanpa ada toxic lagi," batinku kemudian mengecup kening anakku.
Dengan menghela nafas aku keluar kamar Ega, pasti Reza dan Viona sudah menunggu aku di depan.
"Obrolan kita belum selesai." Ucapan Reza membuat aku tersenyum.
"Kenapa sih, dia teman aku," ucapku santai.
Reza nampak kesal, dia mencengkeram lenganku dan ini membuat aku kesakitan.
"Lepas mas." Sekuat tenaga aku berusaha melepas tangannya.
Dia marah padaku karena pergi dengan Dokter David, darimana dia tau kalau bukan dari mulut ember Viona.
"Ingat Melati kamu itu seorang istri tak seharusnya seorang istri keluar dengan pria yang bukan muhrimnya." Sungguh aku ingin meremas mulutnya, lantas bagaimana dengan dirinya?
"Mas mas, lalu apa kabar kamu yang menikah lagi padahal kamu masih dalam ikatan pernikahan dengan aku?"
Ucapanku membuat dia langsung diam begitu pula dengan Viona, tak ingin debat yang nantinya bikin aku sakit aku memutuskan pergi ke kamar, aku hanya berharap surat perceraianku secepatnya selesai sehingga aku tidak ada urusan lagi dengannya.
Beberapa hari telah berlalu, Dokter David sering mengirimi pesan yang terus mengingatkan aku untuk bahagia dia juga mengajak aku makan namun aku menolaknya karena masih sungkan akan status aku yang masih terikat pernikahan dengan Reza.
"Kalau sudah resmi pisah mau kan?" Sebuah pesan singkatnya aku baca jujur aku langsung tersenyum sendiri.
Hingga larut malah kamu saling membalas pesan, entah ini menyalahi aturan apa tidak namun yang jelas aku nyaman chatting dengan David.
"Ya Tuhan maafkan aku yang malah asik chating dengan pria lain."
(POV David)
Di sisi lain David senyum-senyum sendiri di mejaq kerjanya, dia yang mendapatkan giliran jaga malam nampak tidak fokus dengan pekerjannya, pikirannya selalu tertuju ke Melati.
"Aku tak tau apa yang kurasakan dalam hatiku saat pertama kali lihat dirimu, melihatku. Seluruh tubuhku terpaku dan membisu, detak jantungku berdebar tak menentu sepertinya aku tak ingin berlalu." Aku malah menyanyi untuk menggambarkan perasaanku saat ini.
Aku malah tertawa sendiri, virus cinta telah mengobrak abrik hatiku, membuat aku ingin selalu di dekatnya.
"Melati, berikan cintamu juga sayangmu, percaya padaku aku akan menjagamu hingga akhir waktu menjemputku," Aku melanjutkan laguku.
Saat aku tau kalau dirinya akan berpisah, nyaliku semakin besar untuk mendapatkannya. oh begini kah rasanya orang jatuh cinta? meskipun aku pernah mengalami hal ini namun entah kenapa aku seperti pertama kali merasakannya.
Aku yang senyum-senyum sendiri membuat rekan kerjaku menepuk pundakku dia bertanya ada apa? hal ini membuatku kesal padanya karena mengganggu kesenanganku.
"Ganggu aja." Tatapan tajam ku membuatnya terkekeh.
Tak berselang lama, datang pria dan wanita yang wajahnya nampak tidak asing bagiku. Ya itu adalah suami Melati dan mungkin wanita ini adalah simpanan maupun kekasihnya bisa juga istrinya, entahlah Melati juga tidak cerita.
"Dok tolong istri saya." Suami Melati nampak panik karena wanita yang ada di dekatnya nampak kesakitan.
Sebagai seorang Dokter tentu aku harus menolong orang meski sebenarnya aku enggan menolong mereka mengingat mereka telah menyakiti Melati.
Aku dan Rekanku menggiring Suami melati dan istrinya ke UGD, aku memeriksa perutnya.
Sama seperti Melati waktu itu, aku mengecek yang harus dicek.
"Saya masukkan obat, semoga janinnya tidak jatuh," kataku pada Suami Melati.
Dia nampak kaget apa dirinya tidak tau kalau wanitanya sedang hamil?
Seketika aku ingat Melati betapa hancur hatinya mengetahui istri suaminya hamil.
Entah mengapa ada manusia jahat seperti ini di dunia ini, apa kalian tidak sadar kalau karma itu nyata, apa yang kalian tanam itulah yang akan kalian panen.
Beberapa saat kemudian aku mengecek lagi, untunglah janinnya bisa diselamatkan.
"Untuk jaga-jaga istri anda dirawat inap dulu, supaya kami bisa memantau keadaannya." Suami Melati langsung menyanggupi dan meminta kelas VIP untuk ruang rawat inapnya.
Melihat kekhawatiran suami Melati pada istrinya membuat hatiku perih mungkin inilah yang dirasakan melati.
"Sungguh kasian kamu Melati," batinku dengan menatap mereka nanar.
Aku yang sangat lelah memutuskan untuk tidur di ruangan aku, paling nanti kalau ada pasien ada yang membangunkan aku.
Paginya aku ada jadwal praktek hingga aku memutuskan tidak pulang.
Seperti biasa aku berkeliling untuk memantau keadaan pasien termasuk Nyonya Reza.
Aku melihat Reza menunggui istrinya sungguh berbeda saat Melati sakit, Reza tidak peduli sama sekali bahkan anak mereka meninggal pun Reza tak peduli.
Di sisi lain aku sangat sedih melihat nasib Melati yang sangat memprihatinkan namun di sisi lain aku juga bahagia karena ketidakhadiran Reza di sisinya waktu itu aku bisa menungguinya bahkan menjadi pertimbangan Melati untuk menggugat Reza ke pengadilan.
"Apa yang dirasakan Ibu?" Aku tersenyum menatapnya, lalu mengecek infus, tekanan darah dan perutnya.
Istri Reza menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan dengan kata-kata sehingga membuat aku tak nyaman.
"Keliatannya baik-baik semua, saya pantau sampai besok jika sudah membaik anda boleh pulang." Dengan lembut aku menjelaskan pada istri Reza.
Reza menatapku dengan tatapan tak biasa.
"Bukankah anda dokter yang saat itu mengantar Melati pulang? tanyanya.
Aku tersenyum kemudian mengangguk.
Karena harus memantau pasien lain aku pamit undur diri pada mereka.
"Saya pamit dulu, jangan lupa obatnya diminum ya Bu." Aku dan perawat berjalan keluar kamar Nyonya Reza.
Melihat sikap mereka pada Melati, aku berjanji akan membahagiakan Melati dengan caraku.
Sehat dan semangat berkarya author...
Good job 😘😘