Raisa Maheswari, gadis muda belia yang memiliki kecantikan di atas rata-rata. Kulitnya putih langsat dengan dengan lesung pipit dan rambut coklat keemasan. Sangat sempurna untuk ukuran seorang wanita.
Namun nasibnya berbanding terbalik dengan kecantikan nya. Terlahir dari keluarga kaya dan terpandang, namun dirinya sangat menderita.
Sejak ayahnya meninggal, dan ibu nya menikah lagi, hidup Raisa seperti di neraka. Ayah tiri yang kejam dan suka bermain judi, hingga menghabiskan harta keluarganya.
Kakak perempuan satu-satunya sudah di nikahkan dengan keluarga kaya sebagai penebus hutang.
Nasib yang sama mungkin juga akan di alami oleh Raisa. Namun dia bukan wanita lemah seperti kakaknya. Dia akan memperjuangkan hidup nya, bukan hanya sebagai gadis penebus hutang.
Lika-liku asmara Raisa akan di kemas secara apik, sehingga membuat pembaca terhanyut di dalam ceritanya. Bagaimana kisah cinta Raisa selanjutnya??.
Apakah dia harus pasrah atau kah akan melawan kekejaman ayah tirinya itu??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annasya Fayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14.
Romy menangis mendengar penjelasan dari ayahnya. Sejak lama dia tak pernah melihat ayahnya bersiaplah terbuka seperti ini. Keduanya tumbuh dengan neneknya setelah Resty meninggal. Ayahnya pun terkesan cuek dan angkuh. Tak disangka kalau ternyata ayahnya juga memperhatikan dirinya.
David mendekati Romy dan memeluknya. Dia semakin terisak di dada ayahnya. Raisa bisa melihat ego David runtuh seketika di hadapan putranya. Di dekatnya, Roby menahan tangis memegangi jemari Raisa. Anak itu cukup peka dengan membiarkan ayahnya dan Romy saling mengungkapkan kasih sayang. Raisa yang melihatnya, langsung merangkul Roby dengan erat.
Suasana di ruangan tersebut kini berubah menjadi lebih hangat. Seorang ayah yang selama bertahun-tahun mengabaikan kedua putranya, kini tak malu menunjukkan sifat aslinya. Dia ternyata sangat rapuh dan juga sangat menyayangi putranya. Raisa bersyukur bisa merubah sifat suaminya sedikit demi sedikit.
Selama mas penyembuhan, David sendiri yang mengurus Romy. Dia bahkan rela tidak berangkat ke kantor demi menemani putranya
Kadang kala Raisa juga ikut menyuapi dan ngobrol dengan Romy, seperti saat ini.
"Terimakasih Raisa, karena mu ayah sudah banyak berubah sekarang".
"Aku senang, akhirnya kesalahpahaman di antara kalian sudah di selesaikan".
"Ayah jadi makin perhatian sekarang".
"Tidak seperti dulu, sering marah-marah dan berkata kasar".
"Rupanya ada baiknya juga kau menjadi istri ayah".
"Kau tidak seperti yang mereka ceritakan".
"Memangnya, apa yang mereka ceritakan??".
"Mereka bilang kalau ibu tiri itu kejam Raisa".
"Dan menurut mu??".
"Mereka salah,,,karena kau sangat baik pada kami".
"Boleh kan aku memelukmu Raisa??".
Raisa tersenyum lebar sambil memeluk Romy. Rupanya mereka hanya butuh kasih sayang dan perhatian. Kasihan masa kecil mereka. Raisa bisa membayangkan, tumbuh tanpa cinta kedua orang tuanya.
"Kau curang Romy,, semua orang menyayangi mu sekarang".
"Sedangkan aku, tiap hari harus mengerjakan tugas mu di sekolah".
"Aku juga ingin di peluk oleh mu Raisa".
"Aku lelah sekali menghadapi ini sendirian".
"Kemari lah Robby, kami menunggu mu".
Roby menghampiri Romy dan Raisa. Ketiga
nya berpelukan erat.Perasaan damai dan nyaman yang hanya bisa di berikan oleh Raisa kepada kedua anak David. Kali ini mereka sudah benar-benar menerima Raisa untuk menjadi pendamping ayah nya.
Sore ini Romy sudah keluar dari kamarnya. Dia terlihat sudah membaik. Hilda senang sekali melihat keadaan cucunya. Mereka sudah bisa berkumpul kembali di meja makan.
"Romy, setelah sembuh nanti, jangan ulangi perbuatan mu".
"Usahakan untuk bicara terlebih dahulu pada ayah kalau ada masalah".
"Aku mengerti ayah".
"Aku tidak akan mengulanginya lagi".
"Sudah David, biarkan anak-anak mu makan dengan tenang".
Sesaat setelah acara makan malam selesai, David dan Raisa masih berbincang-bincang di dalam kamarnya.
"Terimakasih banyak sayang,, kau mengurus Romy dengan baik".
"Aku memang harus seperti itu bukan??".
"Mereka merindukan sosok ibu".
"Aku tahu,,, sudah lama sekali.......".
"Resty sama sekali tak menginginkan kehadiran si kembar".
"Ibunya sendiri pun membenci mereka".
"Untung ada mama yang mau merawat mereka berdua".
"Dan sekarang ada kau Raisa".
"Anak-anak menderita trauma masa lalu yang buruk, sayang".
"Makanya aku ingin mereka merasakan kasih sayang sebuah keluarga".
"Mungkin dengan begitu, mereka akan berubah menjadi lebih baik".
"Terserah kau saja Raisa,,".
"Sekarang,,, aku yang merindukan mu".
"Sejak Romy sakit, kau tak lagi memperdulikan aku".
"Kau terlalu berlebihan, David".
David merengkuh tubuh Raisa ke dalam pelukan nya. Dia mencium lembut bibir istrinya. Yang terjadi selanjutnya, sudah bisa di tebak. Malam yang panjang bagi keduanya.
Pagi-pagi sekali Raisa sudah bangun. Dia membersihkan seluruh rumah dan mengganti korden serta sprei yang sudah tampak kuno.
Hilda sampai marah-marah melihat menantunya mulai menguasai rumahnya.
"Sayang,, apa kau tidak kerja pagi ini".
"Hmm....kau ingin seperti itu??".
"Aku bisa menemani mu di kamar seharian kalau kau mau".
"Tidak,, aku hanya ingin meminta ijin pada mu".
"Apa yang ingin kau lakukan sepagi ini??".
"Aku ingin membersihkan loteng dan menyingkirkan barang-barang yang sudah tidak diperlukan lagi".
Sejenak David berpikir, karena barang-barang di loteng adalah milik Resty. Tapi, sejenak kemudian dia merasa kalau keputusan Raisa benar dengan melakukan itu. Setidaknya mengurangi trauma kepada kedua putranya.
"Ajak Romy bersama mu!!".
"Biar dia yang memutuskan barang mana yang akan di buang".
"Baiklah sayang,, terima kasih banyak".
Seperti anak kecil, Raisa berlari meninggalkan
David. Dia segera menemui Romy di kamarnya. Mereka harus segera mulai bekerja.
Saat David turun ke bawah untuk sarapan, Hilda mengatakan ketidak sukaan nya.
"Kau terlalu memanjakan istri mu dan menuruti semua permintaan nya".
"Lihat saja, sebentar lagi dia pasti menguasai rumah ini".
"Raisa tidak seperti itu ma".
"Lagi pula dia sangat memperhatikan keluarga ini".
"Jadi, aku memberinya kebebasan untuk melakukan apapun yang dia sukai".
"David, kendalikan istri mu, jangan sampai kejadian Resty terulang padanya".
"Aku tahu siapa Raisa ma,, biar aku yang mengurusnya".
"Mama tenang saja".
Hilda kembali masuk ke kamar. Dia kecewa karena David terlalu membela Raisa. Wanita itu sudah terlalu bebas di rumah ini. Seolah Hilda sudah tidak di perlukan lagi.
David menyelesaikan sarapan nya dan kemudian pergi ke kantor. Raisa segera menemui Romy. Dia masih belum bersekolah.
Jadi, Raisa memintanya untuk menemani ke loteng.
Tampaknya sudah lama sekali tidak ada yang naik ke atas loteng. Tangganya sebagian sudah rapuh dan berdebu di mana-mana.
Butuh perjuangan bagi keduanya untuk bisa sampai ke atas.
"Hati-hati Raisa,, tangganya sudah tidak layak untuk di naiki".
"Iya,, aku akan meminta ayah mu memperbaikinya nanti".
Setelah bersusah payah, keduanya akhirnya sampai di gudang. Tempat yang kotor dan berantakan. Banyak sekali barang-barang lama milik Resty ada di sana.Raisa pikir bisa sekaligus mencari informasi tentang ibu dari kedua anak tirinya tersebut.
Romy dan Raisa segera bergerak membereskan barang-barang yang sudah tidak layak untuk di buang. Sesaat matanya menatap bingkai foto lama. dia mengambilnya. Gambar wanita cantik dengan rambut hitam dan mata berwarna coklat terlihat di sana. Wanita itu terlihat cantik sekali.
"Romy,, apa ini ibu mu??".
"Ya,, kau benar sekali Raisa".
"Dia cantik sekali, kalian berdua mirip sekali
dengan nya".
Romy mengambil foto ibunya tersebut, lalu meletak kan nya kembali. Dia kemudian memungut kaos kaki kecil bekas miliknya.
Raisa juga menemukan perhiasan milik Resty masih tersimpan utuh di kotaknya.
"Kau boleh menyimpan barang-barang milik ibumu kalau kau menginginkan nya".
"Aku tidak ingin melakukan nya".
"Biar saja barang-barang nya ada di sini".
"Mama tak pernah menjadi bagian dari hidup kami, jadi kami juga tak ingin mengenangnya".
"Baiklah, aku tahu".
"Ku kira kita bisa sedikit mencari tahu petunjuk tentang siapa pembunuh ibu mu sebenarnya".
"Tapi rupanya disini kita tak menemukan apa-apa".
"Kalau begitu, kita turun saja Raisa".
Raisa mengangguk dan menyetujui usul dari Romi. Namun sesaat ada sesuatu yang menarik perhatian nya. Dia melihat sebuah buku catatan kecil di antara tumpukan barang-barang pribadi milik Resty.
...****************...