Apa jadinya jika kau bertransmigrasi ke tubuh salah satu karakter sampingan di sebuah novel?
Hal inilah yang dirasakan oleh gadis bernama Melinda!
Mampukah ia mengubah karakter yang awalnya hanya dimanfaatkan menjadi seorang antagonis yang membalaskan dendam?
ataukah justru alur cerita pada novel tersebut tetap berjalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14| Pernikahan
Menurut informasi yang Elena dapat, kini warga desa bisa kembali tenang. Ia pun menatap pakaian yang akan dirinya kenakan untuk acara pernikahan Max nantinya.
"Nona, pokoknya anda harus tampil secantik mungkin. Saya juga sudah mengatakan pada tuan Xavier untuk berdandan setampan mungkin yah walaupun aslinya menang sangat tampan, sih!"
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanyanya sembari berjalan mengelilingi pakaian itu.
"Tidak nona. Gaun ini adalah yang terbaik, anda harus mengenakannya."
Malas berdebat dengan Frieda, Elena hanya mengangguk saja.
Hari yang dinanti bagi semua orang telah tiba, Elena yang dijemput oleh Xavier pun tengah berada di dalam kereta kuda menuju kerajaan. Begitu tiba, Xavier turun lebih dulu hingga menarik perhatian banyak gadis bangsawan.
Bahkan tak sedikit yang memuji betapa tampannya dia. Elena turun saat mendapatkan uluran tangan dari Xavier dan menerimanya.
"Ah, jadi dia sudah ada kekasih."
"Padahal dia tipeku sekali."
"Sial, beruntung sekali gadis itu!"
Elena memyunggingnya senyuman saat semua kata-kata itu terlontar. Keduanya berjalan secara beriringan, memasuki ruangan utama.
Elena menatap lurus ke depan, tetapi tetap elegan, sementara Xavier dengan ekspresi datar andalannya.
"Tersenyumlah sedikit tuan Xavier, anda menakuti para gadis bangsawan yang mengagumi anda!" bisik Elena sembari membalas sapaan beberapa bangsawan.
"Anda juga jangan terlalu menebar senyuman nona Elena, hal itu bisa membuat seseorang cemburu!" balasnya tak mau kalah.
"Huh! Aku rasa pria itu sedang menggandeng tanganku."
Xavier tak membalas ucapan Elena ketika Lucas menghampiri keduanya.
"Kakak pikir kau tidak datang, acaranya akan dimulai sebentar lagi. Kau tidak ingin bertemu dengan Max sebelum dia menjadi suami orang?" tanya Lucas, dia hanya ingin agar adiknya benar-benar meninggalkan perasaan suka tersebut ditempat ini.
"Kakak, kau tenang saja. Aku hanya akan memberi selamat dan menikmati acara ini dengan Xavier."
Xavier menatap Lucas dan tersenyum.
"Baiklah. Xavier, tolong selalu awasi Elena. Saat ini banyak sekali bangsawan yang datang, aku hanya takut mereka melukai Elena tanpa sengaja!"
"Tenang saja, aku akan menjaga Elena dan tak membiarkan siapapun menyentuhnya!"
Seperti dugaan Elena, Lily nampak berlebihan dengan gaun pernikahannya. Keluarga kerajaan pun memasuki ruangan dan saat itu pula acara pernikahan dimulai.
Elena sengaja menarik Xavier untuk berada di tempat paling depan agar Max bisa melihatnya.
Elena sesekali tertawa saat Xavier mencoba bercanda dan berakhir gadis itu mencubit perut pria itu.
Acara pernikahan berjalan dengan lancar, kini Lily dan Max telah terikat oleh janji. Setelah menyatukan bibir keduanya, pada tamu undangan bertepuk tangan.
"Ck! Gaunnya bisa menunjukan seberapa norak dirinya!" batin Elena sembari tersenyum penuh arti.
Sekarang sesi mengucapkan selamat, Elena menahan tangan Xavier dan mengajaknya untuk mengucapkan selamat pada keduanya.
"Ayo kita berikan selamat pada pengantin baru."
Xavier hanya mengangguk dan pasrah saat Elena menarik tangannya. Tiba giliran keduanya, Max tertegun melihat penampilan Elena yang benar-benar cantik.
Elena menunjukan senyum termanisnya, berusaha membuat Lily panas.
"Max, selamat atas pernikahanmu. Semoga Tuhan selalu memberi umur panjang atas pernikahan kalian. Jangn lupa untuk segera memberikanku keponakan, jangan sakiti Lily."
Max tergagap ketika akan membalas ucapan Elena, sementara Lily sudah terbakar di sana.
"T-terima k-kasih Elena ... "
Elena menyentuh sedikit tangan Max dan berlalu menuju Lily. Dia lantas memeluk gadis tersebut dsb berbisik sesuatu.
"Selamat atas pernikahanmu sayang, aku harap kau tidak lupa siapa dirimu sebenarnya. Tanpa aku, kau tidak akan mungkin bisa berdiri sekarang."
Lily mendengar itu langsung berubah ekspresinya menjadi tak enak.
"Kau tahu ... Aku suka sekali melihat seseorang yang bersenang-senang lalu menderita kemudian. Aku harap Max tidak akan pernah tahu kebusukanmu!"
Lily lantas mendorong tubuh Elena dengan kuat hingga gadis itu tersungkur ke belakang dan terguling. Tempat keduanya berdiri lumayan tinggi hingga kepalanya membentu lantai dan berdarah hingga mengakibatkan Elena pingsan.
Semua yang berada di sana terkejut, termasuk Xavier. Dia kemudian ingin menggendong Elena, sayangnya Max lebih dulu turun dan menggendong tubuh mungil itu.
Lily ketakutan setengah mati, dia sebenarnya tak berniat mendorong Elena hingga terjatuh seperti tadi, sungguh.
Ia pun menjadi topik hangat di kalangan bangsawan, Lucas lantas menerobos kerumunan dan meminta penjelasan pada Lily, sementara kedua orang tuanya telah mengikuti ke mana Max membawa Elena termasuk Xavier.
"Apa yang kau perbuat pada adikku? Apa itu balasan atas apa yang sudah kau dapatkan?"
Semuanya tak mengerti dengan ucapan Lucas termasuk raja dan ratu.
"K-ka Lucas ak-"
"Adikku sudah menganggapmu sebagai saudara perempuannya dan kau tega mendorongnya? Atau kau perlu kuberi tahu pada dunia tentang rahasiamu, ha?" bentak Lucas kesal. Dia menatap nyalang pada Lily yang gemetar ketakutan.
"Beruntung Elena selalu melindungimu kalau tidak ... Bicara denganmu hanya akan membuang tenaga saja!"
Lucas lantas berlari meninggalkan ruangan utama dengan banyaknya pertanyaan dibenak para bangsawan.
Ratu nampak tersenyum, saat berbicara dengan Elena tadi, gadis itu sempat mengedipkan mata dan ratu langsung mengerti.
"Gadis itu ... Elena, aktingmu sungguh menakjubkan." Ratu membatin sembari berdiri untuk menenangkan para tamu undangan.
"Maaf telah membuat kalian tidak nyaman, silahkan nikmati kudapan yang telah disiapkan, pengantin baru kita mungkin sedikit shock jadi berikan mereka waktu. Saya akan memanggil pangeran Max agar pengantin perempuan tidak kesepian."
Lily pun duduk dengan wajah pucat, ini semua hanyalah akting Elena, dia yakin. Jelas bahwa dia hanya ingin gadis tersebut menjauh darinya, tetapi tak menyangka bahwa Elena sampai terjatuh seperti tadi.
"Bukan salahku! Dia pasti merencanakan sesuatu, Elena pasti menjebakku. Pasti! Lihat saja, akan kupastikan dia menerima balasan akibat hinaan ini!"
Lily mencoba menenangkan diri, Max pun kembali dengan ratu. Wajahnya datar tak ada raut senyuman sama sekali. Lily paham, tetapi dia tak mau acara bahagianya ini dihancurkan oleh satu orang yang selalu ingin dia singkirkan.
"M-Max!" panggilnya sedikit gugup.
Tidak ada sahutan, Max hanya berfokus pada tamu undangan, sementara rahangnya telah mengeras.
Di sisi lain, Loretta menangis melihat dahi Elena yang telah diobati. Edward dengan sabar memeluk sang istri bermaksud ingin menenangkannya.
"Elena, ayo bangun. Kau terlalu baik untuk orang seperti Lily. Kakak pernah bilang padamu agat tidak perlu membantunya, lihat akibatnya! Dia bahkan tidak tahu diri dengan mendorongmu seperti tadi!" marah Lucas, Xavier sebenarnya tak mengerti maksud dari ucapan Lucas, tetapi menahan hati agar tak bertanya.
Bebera menit kemudian, Elena membuka matanya. Loretta lantas melepas pelukan Edward dan memeluk anaknya.
"Sayang, akhirnya kau bangun. Ibu sangat khawatir!"
Elena menoleh secara perlahan, tangannya pun bergerak untuk menghapus air mata ibunya.
"Aku tidak apa-apa ibu."
Edward sudah tidak tahan dan akhirnya berucap.
"Elena, kau harus tegas kali ini. Sudah berapa kali perempuan itu berusaha menyakitimu? Dia bahkan dengan terang-terangan mendorongmu seperti tadi. Bagaimana jika kau mengalami patah tulang?"
"Jatuh seperti tadi tidak akan patah tulang, dasar orang tua. Menjadi antagonis sedikit melelahkan tetapi menyenangkan."
"Aku tidak apa-apa ayah, padahal aku hanya ingin mencium pipi Lily dan mengucapkan selamat, tetapi dia dengan tega mendorongku!"
Elena mulai berakting, bahkan Xavier pun terkecoh.
"Elena, katakan padaku apakah perlu aku membereskan Lily hari ini juga?" tanya Xavier membuatnya menjadi pusat perhatian sekarang.
Elena lantas sedikit tertawa, bisa-bisa Xavier mendapatkan hukuman lebih berat karena membunuh istri dari pangeran kerajaan ini.
"Jangan gila Xavier!" balas Elena dengan mendelik ke arah pria itu hingga Xavier hanya diam.
"Istirahatlah dulu Elena, ibu akan menemaimu!"
"Nyonya, biar saya saja yang menemani Elena. Anda kembalilah, masalah akan semakin runyam ketika tidak ada yang kembali ke sana."
Ucapan Xavier benar, jadilah tersisa Xavier dan Elena di kamar tersebut. Saat akan bangun untuk duduk, pria itu lantas mencoba membantu.
"Hati-hati!" ucapnya membuat Elena keheranan.
"Hei Xavier?"
Xavier pun menoleh menatap wajah keheranan dari Elena.
"Ku pikir kau tidak terkecoh dengan aktingku!"
"Maksudnya?"
"Pfft-"
Belum saja Elena berucap, Xavier langsung mengubah ekspresi wajahnya. Gadis ini terlalu pintar berakting sampai-sampai Xavier tak tahu mana yang palsu dan asli.
"Aku kira kau tidak terkecoh!"
"Sial! Aktingmu semakin bagus saja."
"Eits, bicara apa kau barusan?" marah Elena saat pria itu mengucapkan kata 'sial'.
"Ti-tidak, aku tidak bicara apa-apa!" balasnya lantas menatap ke arah lain.
"Sekali lagi kau memaki, aku pastikan mulutmu bungkam selamanya!" ancam Elena membuat Xavier lantas menutupi mulutnya.
Bersambung...