Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.
Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.
Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.
Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Beberapa jam kemudian..
Rumah minimalis bercat krem di blok C-4 itu tampak sunyi. Gorden-gordennya tertutup rapat, seolah penghuninya sedang mengisolasi diri dari dunia luar.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depan pagar. Tiga pemuda turun dari sana.
Azka memimpin di depan, mengenakan kemeja kasual namun tetap memancarkan aura dokter yang berwibawa. Di belakangnya, Annas berjalan dengan wajah kaku, matanya menyapu sekeliling halaman rumah itu dengan waspada. Sedangkan Fadhil mengekor paling belakang, kali ini tanpa celotehan atau candaan. Wajah cerianya hilang sejak tadi siang.
Ting Tong!
Azka menekan bel pagar.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan mata sembab dan khimar sedikit berantakan keluar. Itu Bu Rina, ibunda Sarah.
"Dokter Azka?" sapa Bu Rina dengan suara parau, sedikit terkejut melihat dokter yang merawat anaknya ada di depan rumah. "Ada apa, Dok? Apa ada kabar buruk soal hasil lab Sarah?"
"Assalamualaikum, selamat sore, Bu Rina. Maaf kami datang mendadak," ucap Azka dengan sopan. "Boleh kami bicara sebentar? Ada hal penting mengenai kondisi Sarah yang tidak bisa saya sampaikan lewat telepon."
Wajah Bu Rina langsung pucat. Tanpa banyak tanya, beliau membukakan pagar. "Wa'alaikumussalam.. Silakan masuk, Dok. Mari."
Mereka akhirnya duduk di ruang tamu yang rapi namun terasa suram. Di dinding, terpajang foto-foto Sarah yang tersenyum ceria, sangat kontras dengan kondisi gadis itu sekarang yang terbaring lemah di rumah sakit.
"Jadi begini, Bu," Azka memulai, mencondongkan tubuhnya sedikit. "Hasil toksikologi Sarah sudah keluar. Kami menemukan adanya kandungan zat berbahaya dalam darahnya. Arsenik."
Bu Rina langsung menutup mulutnya. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "A-arsenik? Racun? Tapi bagaimana bisa? Sarah anak rumahan, Dok. Dia jarang jajan sembarangan..."
"Itulah kenapa kami di sini, Bu," sela Annas tiba-tiba.
Bu Rina menoleh ke arah Annas. "Kamu... Ketua OSIS itu, kan? Annas?"
Pemuda itu mengangguk sopan. "Benar, Bu. Saya Annas, dan ini Fadhil, wakil saya. Kami teman Sarah di OSIS."
Annas tidak berbasa-basi. Dia menatap Bu Rina lurus, tatapan matanya tajam seolah sedang menggali kebenaran.
"Bu, saya mau tanya soal keseharian Sarah akhir-akhir ini. Sebelum dia pingsan di sekolah, apa ada hal ganjil yang Ibu perhatikan?"
Bu Rina mengusap air matanya dengan tisu, tampak berpikir keras. "Nggak ada yang aneh, Nak Annas. Sarah cuma sering ngeluh sakit perut. Saya kira maag biasa karena dia sering telat makan kalau lagi ngurusin proker sekolah."
"Coba ingat-ingat lagi, Bu," desak Annas, nadanya sedikit menekan namun tetap sopan. "Bukan soal sakit fisiknya. Tapi sikapnya. Apa dia pernah kelihatan cemas? Takut? Atau mungkin... dia pernah terima paket atau tamu yang mencurigakan?"
Bu Rina terdiam. Matanya menerawang, mencoba memutar ulang memori minggu-minggu terakhir. Ruang tamu itu hening, hanya terdengar detak jam dinding yang monoton.
Tiba-tiba, mata Bu Rina membelalak. Tangannya meremas tisu di pangkuannya tanpa sadar.
"Ada..."
Fadhil menahan napas. Azka dan Annas saling bertukar pandang.
"Ada satu kejadian," lanjut Bu Rina, kini menatap Annas dengan sorot mata ketakutan. "Tepat setelah pemilihan pengurus inti OSIS selesai. Hari itu Sarah pulang sekolah sore banget, padahal biasanya jam empat sudah di rumah."
"Dia kenapa, Bu?" pancing Annas.
"Dia pulang dengan wajah pucat pasi, Nak. Bibirnya gemetar. Waktu saya tanya kenapa, dia nggak mau jawab. Dia langsung lari ke kamarnya, ngunci pintu, dan nggak mau keluar sampai besok paginya."
Annas mengepalkan tangannya di atas lutut. "Dia nggak bilang apa-apa sama sekali?"
"Dia cuma bilang..." Bu Rina menelan ludah, air matanya menetes lagi. "Dia bilang, 'Bu, kalau ada orang sekolah yang nanya atau nitip sesuatu buat Sarah, bilang Sarah nggak ada ya. Sarah takut.'"
"Takut sama siapa, Bu?"
-BERSAMBUNG