Kisah pilu dari seorang gadis yang mengalami korban pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Laila ayyatul Husna 16 tahun kelas 1 SMA yang harus berhenti sekolah karena kejadian memilukan tersebut, dia di siksa agar di sebuah saung di tengah-tengah kebun oleh pamannya sendiri, berhubungan dia bisa selamat dan kesucian nya masih selamat berkat seorang pria yaitu Yusuf Nur Syaikh 34 tahun yang sudah memiliki istri yaitu Siti Maryam
Akankah Laila bisa keluar dari rasa trauma dan syok atas kejadian tersebut, atau malah dia melakukan hal nekad karena malu. Yuk simak ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Umi Laila salah paham
Hari menyenangkan bersama orang tua berakhir, sudah waktunya Laila, Yusuf dan Zaenab pulang. Bu Jamilah dan pak Abdul menatap kepergian ketiganya yang semakin jauh meninggalkan rumah mereka.
” Laila hamil Bu?" tanya pak Abdul.
” Kata Laila enggak” jawab Bu Jamilah dan pak Abdul terlihat kecewa.
****
Hari ini, Laila sedang berada di dapur pesantren membantu santriwati dan bi Ipah memasak. Laila berkeringat dan kelelahan, dia tidak habis pikir dengan bi Ipah yang setiap hari memasak dengan porsi banyak untuk para santri, walaupun banyak yang membantunya tetap saja bi Ipah yang paling lelah.
” Bi Ipah sudah lama tinggal di pesantren dan mengurus urusan dapur?” Laila bertanya dan mengambil alih pisau dari tangan bi Ipah. Dan menggantikan bi Ipah memotong tomat, bi Ipah tersenyum dan mengusap pucuk kepala Laila.
” Apapun ujiannya, kamu harus kuat neng. Kamu masih muda, keputusan kamu menerima aa bukanlah hal mudah. Kalau ada yang ngomong aneh-aneh, jangan di dengerin. Cuekin aja" imbuh bi Ipah yang diam-diam tahu apa saja yang sering di katakan para santri dan kesalahpahaman yang terjadi antara Laila dan Yusuf. Laila hanya mengangguk dan para santriwati lain mendengarkan bi Ipah berbicara. Laila tidak berani mengatakan apapun karena dia dan bi Ipah sedang tidak berdua.
" Umi Laila mau ikut ke kebun?" ajak santriwati dan Laila mengangguk, dia ikut bersama dua santriwati untuk pergi ke kebun. Mencari sayuran yang dikatakan bi Ipah tadi.
Laila dan kedua santriwati yang baru dekat dengannya melangkah bersama, Yusuf dan Maryam juga sedang melangkah bersama membicarakan sesuatu.
” Kenapa Laila belum hamil juga? aku sudah tidak sabar ingin menggendong bayi” ucap Maryam dan Yusuf berhenti melangkah serta menatap istrinya itu.
” Aku mohon, berhenti membahas ini dulu” kata Yusuf lelah karena selalu itu yang ditanyakan Maryam. Jika Laila hamil dan melahirkan, Maryam tidak memiliki hak atas anak Laila.
” Kenapa?" Maryam menatap Yusuf dengan tatapan sendu, lalu melirik kanan-kiri.” Apa Abi dan Laila tidak pernah berhubungan?”
” Laila masih kecil, aku bersamanya dan menganggapnya seperti seorang adik
....” kata Yusuf dan Laila berhenti tersenyum saat mendengar ucapannya suaminya yang pelan tapi terdengar jelas di telinganya, Yusuf menoleh dan terkejut melihat Laila muncul dari belakang mesjid setelah dari dapur bersama dua santriwati.
” Ayo pergi" ajak satu santriwati kepada temannya, Laila menatap Yusuf dan Maryam bergantian.
” Assalamualaikum," kompak dua santriwati itu memberi salam dan berlari untuk segera pergi ke kebun. Laila hampir menangis tapi tawa kecilnya terdengar.
” Emmm maaf, aku benar-benar tidak mendengar apapun. Punten" Laila menundukkan kepalanya dan Yusuf menatapnya lekat." Assalamualaikum" Laila melangkah cepat meninggalkan Yusuf dan Maryam tapi tidak lama dia berlari dan Yusuf sedih karena Laila mendengar sepotong ucapannya, terlebih santriwati mendengarnya juga.
” Abi tidak pernah berhubungan dengan Laila? lalu apa gunanya menikah. Apa gunanya selalu bertemu dengan Laila, apa Laila tidak memberikan hak Abi sebagai seorang suami?” Maryam marah atas apa yang baru dia ketahui, Yusuf menyapu sekeliling dan takut ada yang mendengar ucapan Maryam.
” Diam Maryam" tegas Yusuf.
” Aku sudah tidak tahan, aku semakin tua aku ingin memiliki anak. Aku akan mencarikan gadis lain yang bisa melayani Abi" tegas Maryam dan Yusuf mengernyit heran.
” Terus saja, meminta ku ini dan itu tanpa menghargai suami ibu ini. Aku harus patuh, iya kan? aku memilih Laila karena yakin, jangan melakukan ini lagi" tegas Yusuf dan mengajak Maryam untuk pulang.
Setelah mengantar Maryam pulang, Yusuf pergi untuk melihat Laila yang salah paham padanya. Dia ketuk berulang kali pintu rumah Laila tapi tidak ada tanda-tanda Laila ada di rumah.
” Assalamualaikum” salam Yusuf dan menarik gagang pintu, lalu dia masuk dan mencari Laila tapi Laila tidak ada.
” Laila?" panggil Yusuf sambil mengetuk pintu kamar mandi tapi tidak terdengar suara apapun.
Laila berada di bangunan tempat tinggal para santriwati, dia menangis di atas balkon sambil mendekap kedua lututnya. Yusuf tidak akan berani datang ke tempat tinggal santriwati, biarkan saja dia mencarinya. Atau mungkin juga Yusuf tidak sama sekali perduli padanya.
” Umi Laila” panggil ustadzah Yanti dan Laila mengangkat kepalanya.” Umi kenapa? ayo" ajak Yanti dan Laila terus menatapnya.
” Sebagian santriwati sedang mengaji, ayo sebelum semuanya pulang" ajak Yanti kembali dan Laila akhirnya bangkit lalu ikut bersamanya.
Ustadzah Yanti mengajak Laila kerumahnya, keduanya melangkah bersama lewat belakang pesantren. Namun saat akan masuk melewati pagar rumah Yanti, ternyata Yusuf ada di sana bersama Badrun terlihat tegang karena Yusuf meminta bantuan kepada sahabatnya itu untuk mencari kemana Laila pergi, maksudnya keluar pesantren.
” Itu Laila" kata Badrun dan Yusuf berdiri lalu menatap istrinya lekat.
” Assalamualaikum” ucap Yanti.
” Waalaikumsalam”
” Ayo pulang” ajak Yusuf kepada Laila, dan Laila tidak mungkin menolak di hadapan Yanti dan Badrun
” Ustadzah, ustadz kami pulang assalamualaikum” ucap Laila berpamitan.
” Waalaikumsalam” Badrun& Yanti.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Laila diam dan Yusuf terus menoleh melirik Laila.
” Pulang yuk, Abi jelasin semuanya sekarang juga” ajak Yusuf dan Laila melangkah cepat mendahului nya. Yusuf panik dan berlari cepat takut-takut Laila mengunci pintu agar dia tidak bisa masuk seperti beberapa waktu yang lalu.
Laila masuk dan akan menutup pintu tapi telat, Yusuf sudah mendorong pintu dan masuk lalu mengunci pintu.
” Nanti malam bukan jatah Laila, sekarang sudah sore mending Abi ke rumah ibu Maryam” pinta Laila dan melangkah untuk pergi dan Yusuf mengikutinya.
” Abi mau ngomong sebentar”
” Laila mau mandi" kata Laila seraya membuka pintu lemari dan Yusuf mendorong pintu lemari sampai tertutup rapat kembali.” Abi" Laila berbalik dan terkejut dengan wajah suaminya yang hampir dia tabrak dengan bibirnya.
” Bicara yuk sama Abi" ajak Yusuf.
” Abi sebentar lagi ashar, Abi bersiap yuk ke mesjid” Laila melangkah setelah berbicara tapi Yusuf menahan dengan tangan berurat timbulnya itu. Kedua mata Laila membulat dan suaminya terus menatapnya.
” Umi mendengar semuanya tadi apa cuma sepotong?"
” Apanya?" pura-pura tidak tahu. Yusuf tersenyum dan Laila menarik ujung hijab nya untuk menutupi bibirnya yang juga ingin tersenyum padahal sudah tertutup cadar.
” Umi kemana? abi nyariin umi kemana-mana tadi” Yusuf khawatir Laila meninggalkan nya.
” Laila ke tempat santriwati” jujur.
” Kenapa tidak langsung pulang?"
” Emangnya ada larangan untuk kesana?”
” Ya enggak, kan urusannya beda lagi sekarang. Umi salah paham, umi nangis kan?” Yusuf meraba sekilas cadar istrinya yang basah dan Laila menepisnya tangannya pelan.
” Enggak"
” Abi gak enak, Abi benar-benar merasa bersalah kalau umi nangis terus. Umi nangis, Abi merasa gagal jadi seorang suami. Ayo bicara baik-baik, bukan seperti yang umi dengar tadi. Bukan begitu maksud Abi" Yusuf berusaha menjelaskan dan Laila malah mengedipkan matanya berulang kali karena berada di antara dua lengan dan di hadapannya suaminya. Menatapnya sendu.” Ngapain kayak begitu?” Yusuf juga jadinya tersenyum.
” Abi mundur sedikit, ini terlalu dekat bi” Laila mundur padahal punggungnya sudah menempel di pintu lemari.
” Kalau Abi makin dekat gimana?" goda Yusuf dan Laila menunduk dan keluar dari bawah lengan suaminya yang menghalanginya sedari tadi, Yusuf tertawa kecil dan dia harus segera pergi mungkin nanti malam Laila akan mau mendengarkan nya.
****
Keesokan paginya, setelah mengaji seperti santriwati dan santri dan yang lain. Laila keluar dari musholla beriringan dengan santriwati yang lain dan mengingat-ingat apa saja kesalahannya dalam menghafal Al-Qur'an yang dia setorkan kepada Salamah.
” Umi Laila” panggil Nurul.
” Eh iya, ada apa?"
” Umi Laila pernah mondok di mana sebelumnya?"
” Hah?" Laila bingung.” Aku gak pernah mondok, cuma aa Rizky yang mondok di sini”
” Kenapa umi Laila enggak mondok atuh?"
” Biaya mesantren dan sekolah kan enggak sedikit, mesantren bekalnya ini itunya begitu juga dengan sekolah. Yang penting aa Rizky aja dulu aku mah gak apa-apa gak mesantren juga, bisa belajar di rumah ya walaupun gak bisa kayak di pesantren hehe" Laila tersenyum lebar.
” Ah iya sih bener, aku juga Alhamdulillah bisa mesantren bekalnya dari teteh aku yang kerja sama bapak sama ibu juga di rumah. Tapi umi Laila hafalannya lancar ya”
” Lancar dari mana Nurul, banyak yang salahnya, teh Salamah gak pegel apa ya melotot terus sama aku” Laila menggeleng kepala, ciri khas Salamah selama santriwati salah dalam hafalan dia selalu melotot atau mengomel.
” Kan tetep aja banyakan aku yang salahnya, umi"
” Kita belajar sama-sama ya Nurul” Laila tersenyum dan Nurul mengangguk, keduanya berpisah dan Laila berhenti melangkah saat Iqbal menghadang jalannya.
” Punten" Laila ingin segera pergi tapi Iqbal terus mengulanginya.
( Punten/Permisi)
” Umi Laila mau cokelat? aku baru beli dari idoma*** kemarin, di terima ya umi” menyodorkan cokelat Silverqueen yang dia beli khusus untuk Laila.
” Maaf kang, saya mau pulang mau nyuci ke sungai. Jangan terlalu dekat dengan santriwati, gak enak di lihatnya” Laila melangkah dan Iqbal tetap menahannya.
” Umi Laila menolak? sombong sekali" cibir Iqbal.
Prat... Iqbal terkejut saat wajahnya di lempar kain sorban oleh Yusuf.
” Umi Laila bukan gadis yang bisa kamu goda Iqbal" tegas Yusuf merasa lelah dan pusing dengan tingkah laku putra sahabatnya itu.” Assalamualaikum"
Yusuf membawa istrinya pergi dan Laila terlihat berpikir keras, apa Iqbal yang selalu mengirimkannya surat?
” Umi" panggil Yusuf.
” Iya Abi, kenapa?" spontan Laila menjawab.
” Umi Laila harus menjaga sikap"
" Kenapa Abi marah sama Laila, Laila berusaha menghindar tapi dianya yang nahan Laila. Emang ya, Laila selalu salah di mata Abi” Laila kesal dan pergi meninggalkan Yusuf yang memperhatikan kepergian Laila. Semalam, Laila bahkan tidak mau bertemu Yusuf apalagi berbicara.
” Astaghfirullah hal adzim” Yusuf menggeleng kepala dan Badrun terlihat menunggunya, untuk membicarakan sesuatu yang penting.
#
Sepulang dari sungai, Laila melangkah sambil menggendong ember di pinggangnya. Laila berpapasan dengan Ainun yang menahannya.
” Umi Laila jangan sombong lagi, semua orang tahu kalau umi Laila hanya di anggap adik oleh ustadz Yusuf”
Laila hanya diam dan Ainun kebingungan.
” Umi Laila kenapa diam? malu ya?”
Laila masih tidak menjawab. Dan meleos pergi meninggalkan Ainun, Ainun berbalik menatap kepergian Laila. Tidak biasanya Laila seperti itu.
” Tumben umi Laila gak debat sama kamu" seru santriwati yang lain.
” Teu rame ah, cicing wae umi na ge”
( Gak seru ah, umi nya diem terus)
Ainun merasa tidak percaya Laila tidak meladeninya.
****
Siang hari di lapangan memanah. Imron kebingungan melihat Laila berlatih sendirian, sudah satu jam padahal cuaca sangat panas. Laila berulang kali gagal dan ingin sekali mematahkan anak panahnya.
” Abi Yusuf tidak mencintaiku, Abi Yusuf hanya menganggap ku adik hiks...” Laila tiba-tiba duduk di atas rumput dan menangis.
” Pantas saja Abi Yusuf tidak mau memiliki anak denganku, dia memang hanya kasihan padaku. Aku buruk rupa, jangankan pria tampan seperti Abi Yusuf pria pas-pasan seperti Rojali saja tidak mungkin mau sama aku” kata Laila dan kembali bangkit lalu mencoba kembali mengarahkan anak panahnya.
” Astagfirullah hal adzim" seorang pria meringis saat terkena anak panah dari Laila di tangannya.
” Ya Allah, aduh.." Laila berlari memburu pria itu.
” Aa maaf, punten pisan teu sengaja a. Maaf a” Laila merasa bersalah dan untungnya tidak terlalu dalam.
” Hati-hati neng lain kali, papan nya di sana kenapa memanah nya ke arah lain. Kalau anak kecil yang kena bagaimana?” mengomel.
” Iya a punten pisan" Laila merasa bersalah dan merasa ngilu saat pria tersebut memberikan anaknya.” Nuhun”
" A Rizky" panggil Laila.
” Naon?” teriak Rizky.
( Naon/apa)
” Kadieu heula, iyeu tengali Laila salah sasaran a”
( Kesini dulu, sini lihat Laila salah sasaran)
Wajah panik dan berkeringat Laila terlihat jelas di balik cadarnya, Rizky berlari dan melihat ustadz Raihan terpanah oleh Laila.
” Ustadz punten, ini teh adik saya. Gak sengaja, ayo biar saya obati" ajak Rizky dan menatap tajam adiknya yang sudah melakukan kesalahan itu.
” Enya wios teu nanaon”
( Iya, enggak apa-apa). Tatapan Raihan begitu dalam kepada Laila, walaupun sekilas dan dia pergi bersama Rizky.a Laila memukul kepalanya sendiri, entah kenapa dia tidak konsen melakukan apapun.
***
Di rumah Maryam, Yusuf sedang berbaring dengan Maryam yang menyenderkan kepalanya di dadanya.
” Laila marah sama Abi?”
” Kalau ibu Maryam di posisi Laila, marah tidak?”
Maryam terdiam..
” Menurut Abi neng Jahrotunnisa bagaimana?” meminta pendapat, atas seorang santriwati senior yang cantik dan terkenal baik. Yusuf langsung bergerak dan Maryam menjauh.
” Astaghfirullah hal adzim, ibu istighfar yuk. Sampai kapan mau meminta ku menikah?” Yusuf sedang stres karena Laila terus menghindarinya ditambah permintaan Maryam untuk yang kedua kalinya meminta dia menikah lagi.
” Aku tidak akan sanggup” Yusuf bangkit dan meraih pecinya di atas meja.
” Abi bisa mengenal dulu Jahro seperti apa”
” Cukup!" suara Yusuf meninggi dan kedua mata Maryam berkaca-kaca." Tolong, cukup. Jangan lagi ibu berbicara seperti itu. Aku capek, ibu harus paham tidak semua yang ibu mau bisa aku berikan” suara Yusuf begitu berat dan Maryam menundukkan kepalanya.
” Assalamualaikum”
” Waalaikumsalam"
Yusuf pergi untuk menemui Laila, dia tidak mau kesalahpahaman berlarut-larut.
Sementara Laila sedang berada di kebun bersama santriwati yang lain.
” Jangan kesana" kata Laila saat melihat Wawat pergi ke tempat yang cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Wawat tidak mendengarnya dan Laila berlari untuk menghentikan Wawat supaya tidak terlalu jauh. Tubuh Laila berkeringat, wajahnya merah dan tangannya menggigil hebat tidak kuasa dia melihat bangunan kecil yaitu saung dimana tragedi itu terjadi, Laila tidak menyangka bahwa dia terlalu jauh sampai bisa melihat saung yang menjadi tempat wajahnya di rusak, kesuciannya hampir di renggut oleh pamannya sendiri.
” Umi kenapa?" tegur Wawat dan Husna.
” Umi” Husna menepuk bahu Laila dan Laila berjongkok menangis sejadi-jadinya sambil menutup kedua telinganya.
” Umi kenapa? umi. Tuh kan aku bilang jangan jauh-jauh sampai kemari, mungkin umi kesambet” Husna kesal kepada Wawat.
” Aduh gimana dong, tolong" Wawat berteriak dan Husna mencoba menenangkan Laila.
” Ampun tolong..." Hanya itu yang Laila ucapkan di sela tangisan dan jeritannya.
” Tolong hiks...” Husna menangis dan Wawat juga menangis tidak paham apa yang terjadi kepada Laila." Umi istighfar umi, umi” Husna terus berusaha menyadarkan Laila dan memeluk Laila.
Laila pingsan tidak sadarkan diri, Wawat dan Husna semakin panik.
” Wawat kamu pergi dan bilang sama aa, aku disini jagain umi ayo cepat Wawat kalah ngajedog sia teh” Husna kesal padahal Wawat juga syok atas apa yang dia lihat sekarang.
( Ngajedog/diam bingung)
Wawat berlari tergesa-gesa untuk segera memberi tahu Yusuf. Dan Yusuf juga sedang mencari istrinya.
” Asila, aam kemari" pinta Yusuf saat melihat kedua santriwati yang biasa bermain dengan Laila.
” Ada apa a?"
” Kalian lihat umi Laila?"
" Tadi sama Wawat sama Husna juga ke kebun a, udah lama dan gak balik-balik" kata Asila. Dan Yusuf takut Laila terlalu jauh dan melihat saung itu, Yusuf berlari untuk menyusul Laila.
” Boa umi kumaha onam aam, Wawat sama Husna bakal kena masalah"
(Jangan-jangan umi kenapa-kenapa, Wawat dan Husna bakal kena masalah)Asila berbisik.
” Nya teuing atuh ah, hayu urang ngilu nyusul we" ajak Aam.
( Ya enggak tahu, hayu kita ikut nyusul aja”
tp y di novel ini memang yg salah si karakter Maryam ini
padahal bacanya dah berkali-kali masih ajha 😘😘😘😘