Nia seorang gadis yang baru lulus sekolah mengalami "kecelakaan" hingga mengakibatkan dia mengandung anak yang tak pernah ia harapkan.
Kekasih yang menodainya tanpa berdosa meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Menimbulkan kekecewaan dan frustasi hingga ingin menggugurkan kandungannya.
Namun akhirnya, Nia dipertemukan orang-orang baik yang menyayanginya. Bahkan, seseorang merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossa Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Hari di Hari Senin
Udara sejuk pagi ini kalah dengan kepulan asap kendaraan yang semakin menyeruak di sepanjang jalan. Motor dan mobil saling mendahului tak ada yang mau mengalah membuat kemacetan semakin tak teratasi.
Seorang wanita di dalam taksi terus melirik jam yang tertera di lengan kirinya dengan wajah penuh kecemasan, khawatir jika hari ini telat masuk kerja. Pasalnya, setelah dua hari ia tidak masuk, ini merupakan hari penentuan kerjanya karena akan bertemu dengan dokter yang merupakan pemilik klinik tersebut.
"Pak, tidak bisa lebih cepat lagi?" tanyanya seraya menepuk-nepuk pundak Pak Supir.
"Lihat aja, Neng, jalanan macet mana bisa menambah kecepatan," jawab Pak Supir.
"Ya, udah, Pak, saya turun di sini aja!"
"Tarif ongkosnyanya gimana?"
"Saya bayar utuh. Gak papa, selebihnya buat Bapak."
"Terima kasih banyak, Neng."
Dengan setengah berlari Nia menyusuri trotoar, jika terus saja duduk di mobil entah sampai kapan jalanan akan lenggang. Sesekali menengok ke arah jalan berharap ada ojek yang bisa ia tumpangi. Namun nihil, tak ada satu pun ojek yang berlalu di tempatnya saat ini.
Sudah hampir lima belas menit Nia menyusuri jalanan, keringat mulai membasahi pelipisnya. Jarak tempuhnya masih lumayan jauh, sedangkan waktu hanya tersisa lima menit lagi. Mungkin akan sampai tepat waktu jika ditempuh dengan kendaraan.
Tiba-tiba seseorang berhenti menyusulnya, dengan menggunakan motor Ninja, helm full face dan jaket kulit berwarna hitam. Nia melongo tampak heran dengan seorang pria yang berhenti tepat di sampingnya.
"Maaf, Teh, tau alamat ini?" tanya pria itu setelah membuka helmnya seraya menyodorkan secarik kertas pada Nia.
Nia membaca alamat tersebut, rupanya alamat ini merupakan alamat klinik tempat ia bekerja.
"Oh, kebetulan saya juga akan kesana," jawab Nia dengan ramah.
"Oh, kalau gitu sekalian aja, Teh, ikut naik motor saya," imbuh pria itu menawarkan dengan sopan khas orang sunda.
"Memangnya boleh?"
"Ya, boleh atuh, Teh. 'Kan kita searah?!"
Tak menunggu aba-aba lagi Nia menaiki tumpangan tersebut, membuat pria yang menawarkan itu tersenyum gemas melihat tingkahnya.
Sebetulnya Nia ragu menerima tawaran tersebut karena mereka belum saling kenal, namun keadaan mendesaknya.
"Maaf ini teh arahnya kemana, Teh?" tanya pria itu sebelum ia menyalakan motornya.
"Lu-lurus aja!" jawab Nia terbata, malu karena sudah menaiki motor tanpa terlebih dahulu memberi tahu arahnya.
Tak ada percakapan sepanjang jalan, lima menit kemudian mereka sampai.
***
"Niaaa!" teriak Tari saat melihat Nia memasuki klinik lewat pintu belakang.
"Eh, Mbak. Aku telat gak, ya?" tanya Nia cemas.
"Ya, mestinya kamu sudah telat. Tapi, untung dokter Tama belum datang, biasanya sih dia tepat waktu. Hari ini kamu beruntung!"
Nia menarik nafas perlahan, sejenak ia menenangkan degup jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Mbak, kenapa aku harus menghadap dokter sekarang? Padahal sebelumnya belum bertemu jadi deg-degan. Bukannya aku training dulu selama dua minggu baru diberi keputusan?"
"Gak tau juga sih. Kemarin tiba-tiba aja dia minta aku buat ngasih tau kamu kalau dia mau ketemu dan langsung ngasih keputusan gitu."
"Oh, iya, ini surat lamarannya aku kasih ke dia?"
"Eh, gak usah. Sini simpan di aku aja!"
Selang beberapa menit dokter Tama datang menuju ruangannya dan seorang pria mengekorinya.
'Ya, ampun, aku sampai lupa sama pria itu. Tiba-tiba saja aku turun dan lari ke sini saking takut telat,' gumam Nia seraya menepuk jidat.
Tari mengamati pria itu dari jauh. Wajahnya memancarkan rasa kekaguman dengan mata yang berbinar-binar seperti orang yang menemukan sekotak harta karun.
"Nia, liat deh! Kayaknya kita bakal punya dokter muda," ucap Tari dengan wajah berseri-seri seraya menunjuk seseorang.
"Dokter?" Nia kaget melihat pria itu yang ditunjuk Tari.
"Iya! Kemarin dokter Tama sempet bilang klinik kita akan kedatangan dokter baru spesialis anak. Mungkin karena akhir-akhir ini kita banyak dikunjungi anak-anak. Sedangkan dokter Tama bagian orang dewasa dan lansia."
Nia menanggapi obrolan Tari dengan anggukan, ia masih merasa bersalah jika yang tadi memboncengnya adalah seorang dokter di klinik ini.
"Gak nyangka ternyata yang dimaksud itu dokter muda, ganteng pula, masih single gak ya?" Tari terus berujar sambil menyunggingkan senyuman.
Kemudian dokter Tama keluar dari ruangan bersama pria tadi menghampiri Tari juga Nia yang berada di ruang farmasi.
"Nah, kenalin ini dokter baru kita, namanya dokter Raka," ucap dokter Tama memperkenalkan.
"Salam kenal, saya dokter Raka, semoga kita bisa bekerja sama." Seulas senyuman menghiasi wajah pria tersebut seraya memperkenalkan diri.
Tari dan Nia mengangguk dan membalas senyuman. Nia menunduk tak berani menatap pria di depannya, sedangkan Tari terus menatapnya lekat.
"Mari dokter Raka saya perkenalkan dengan yang lainnya," ajak dokter Tama.
"Eeemmm, maaf dokter biar dengan saya saja, bukankah ada yang perlu dokter bicarakan juga dengan Nia, bagian pendaftaran kita," imbuh Tari menghentikan langkah mereka.
"Oh, iya, saya hampir lupa. Dokter Raka akan diantar keponakan saya, namanya Tari dia sebagai apoteker di sini," ucap dokter Tama pada Raka.
Raka mengangguk lalu mengikuti Tari yang siap membimbingnya, sedangkan Nia mengekori dokter Tama ke ruangannya.
"Silahkan duduk!" Dokter Tama mempersilahkan Nia.
"Aku sudah tau banyak mengenai kamu dari Tari. Ya, karena kami memang sangat membutuhkan karyawan bagian pendaftaran maka kamu saya terima tanpa perlu training dulu, semoga kamu bisa bekerja dengan baik." Tanpa ba-bi-bu dokter Tama mengutarakan maksudnya.
Sebetulnya ada alasan lain yang membuat dokter Tama menarima Nia dengan mudah, namun alasan tersebut tak perlu diutarakannya.
Mata Nia berbinar-binar tak percaya jika yang akan diutarakan dokter Tama adalah keputusan diterimanya dia sebagai karyawan di sini.
"Baik, Dok. Saya akan bekerja keras dan bersungguh-sungguh," jawab Nia penuh semangat.
"Silahkan kamu kembali bekerja!" ujar dokter Tama.
Nia menuju ruang pendaftaran lalu membalikan gantungan open/close pertanda klinik mulai beroperasi.
Hari ini klinik banyak dikunjungi pasien terutama balita serta lansia. Setelah tiga jam berlalu, berangsur-angsur pasien mulai berkurang. Beberapa pasien masih duduk menunggu antrian pengambilan obat.
Nia masih sibuk membereskan data serta laporan kunjungan pasien hari ini, tiba-tiba terdengar bisikan ibu-ibu yang sedang mengantri menunggu giliran menggema memenuhi ruangan membuatnya menghentikan aktifitas.
"Dokter baru itu ganteng, ya, Bu," ucap salah ssorang.
"Iya, kalau gini sih jadi betah lama-lama di sini juga," jawab yang lainnya sambil cekikikan.
Nia berdehem seraya menegur bisikan ibu-ibu itu. Serentak mereka menoleh dengan mata mendelik memandang Nia bersamaan.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Thanks for reading
Jangan lupa tinggalkan komentar ya agar aku tetap semangat nulisnya😘
crt bagus tulisan dn tata bahas bagus 👍