Senja, seorang perempuan yang mencari kebenaran atas apa yang terjadi dalam keluarganya.
Ayah dan adiknya meninggal di hari yang sama, sedangkan Ibunya selama 3 tahun tidak dapat mengenalinya karena hilang ingatan.
Selain mencari siapa penyebab kehancuran keluarganya, Senja dihadapkan dengan kisah cinta yang mewajibkan dia harus memilih antara dokter Sandi atau pengusaha Rama Permana.
Apakah Senja akan menemukan orang yang menyebabkan Ayah dan adiknya meninggal?
Dan siapakah cinta sejati Senja??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Venny 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mereka berubah
Pagi ini ku membuka mata dengan hati yang damai, aku akan menjalani hari-hariku dengan indah. Semoga cobaan yang datang dan pergi ini menjadi pelajaran yang berarti untuk kehidupanku di masa depan.
"Selamat pagi semua," sapaku pada tante Gita yang sedang membuat sarapan untuk kami.
"Pagi sayang, gimana tidurnya?"
"Nyenyak dong tante."
" Yaudah, ini bantu tante siapin meja buat sarapan."
"Oke siap!"
"Oh iya tante katanya Rio ke bandung ya?"
"Iya, tapi katanya sore juga udah pulang"
"Oh gitu ya, ngomong-ngomong om sama Rama belum bangun tante? kok sepi banget di rumah"
"Mereka lagi lari keliling komplek, udah ada 1 minggu mereka olahraga lari katanya biar badannya tetap fit," jelas tante Gita.
"Kirain aku Rama belum bangun,"
"Semalam, kalian ngobrol di balkon sampai jam berapa?" tanya tante Gita.
"Ada mungkin sampai jam 2 malam," jawabku.
"Ngobrolin apa sih, sampai begadang gitu?"
"Biasalah tante obrolan anak muda," ucapku sambil tertawa.
"Assalamualaikum, Ma minta air putih ya," pinta om Raja sekembalinya beliau dari olahraga lari.
"Iya Pah sebentar. Kamu terusin ini ya, tante ke depan dulu."
"Iya tante."
Tiba-tiba Rama mengagetkanku dari belakang.
"Woy!" teriak dia persis di depan telingaku.
"Copot duh copot, ih Ramaaaa!" kesalku, karena telor ceplok buatanku jatoh ke lantai gara-gara keisengan Rama.
"Wah wah wah, dimarahin Mama ni pasti," ledek Rama.
"Ini kan kerjaan kamu juga, tanggung jawab dong," sambil ku berusaha membereskan telur yang berantakan di lantai.
"Aku gak ngapa-ngapain coba, aku kan cuma nyapa kamu aja."
"Ada apa ini?" tanya tante Gita.
"Ini Ma Senja, jatohin telur ceplok ke lantai. Marahin Ma marahin!" ucap Rama.
"Bener kamu jatohin telurnya?" tanya tante Gita.
"Maaf tante, ini juga karena ulahnya Rama," jawabku.
"Ulahnya Rama?" tanya tante heran.
"Dia ngagetin aku sih tante," jawabku.
"Aduh bohong Ma itu, aku cuma nyapa Senja aja masa iya dikagetin," bantah Rama.
"Lah masa nyapanya itu di deket telinga banget tante sambil teriak, kan aku kaget." ucapku.
"Udah-udah kalian berantem aja, cepet siap-siap buat sarapan." perintah tante Gita.
"Yaudah aku mandi dulu ya!" ucapku dan Rama berbarengan.
"Duh, Mama kok makin seneng ya sama perjodohan ini, karena kalian makin kompak." ujar tante Gita.
Aku dan Rama sama-sama pasang muka malas dan pergi meninggalkan dapur menuju kamar masing-masing.
Setelah rapih, aku segera bergegas keluar kamar. Ternyata aku lupa, hari ini aku ada meeting dengan calon pengantin untuk membicarakan tentang pesanan gaun pengantinnya.
"Tante, aku permisi ke butik dulu ya. Aku lupa hari ini aku ada meeting penting."
"Enggak-enggak, kamu harus sarapan dulu" ujar tante Gita.
"Tapi tante aku gak ada waktu lagi nih."
"Udah deh makan dulu, nanti aku anterin kamu ke butik, kan mobil kamu masih di bengkel lagian aku juga ada meeting dekat butik kamu." ucap Rama.
"Tuh kan, udah cepet sarapan dulu sekarang, sedikit aja." paksa tante Gita.
"Ya udah deh tante, aku sarapan dulu." jawabku.
Rama tuh gitu, kadang nyebelin kadang baik banget. Dia itu jail juga, pernah waktu itu kopinya Rio dia kasih garem, ampe Rio muntah-muntah keasinan. Tapi pas Rio ada masalah, yang tahu dan bantuin pertama kali itu ya Rama.
"Kamu udah beres sarapannya? tunggu di luar ya aku mau ambil kunci mobil dulu di kamar." perintah Rama padaku.
"Oh iya."
"Nanti malam kamu nginap lagi ya!" ucap tante Gita padaku.
"Makasih Tante, tapi aku kasihan sama Mbok Sumi di rumah gak ada temennya, lain kali aja ya tante. Sekali lagi makasih ya tante, udah aku repotin."
"Kamu gak ngerepotin kok, jangan lupa main lagi ke rumah ya."
"Iya tante pasti, aku pamit kerja dulu ya tante." pamitku pada tante.
"Mah aku pergi dulu ya," pamit Rama.
"Assalamualaikum." ucapku dan Rama bersamaan.
"Kamu bener ada meeting juga deket butik aku?" tanyaku pada Rama.
"Iya kenapa?"
"Aku takut kamu cuma alasan aja meeting biar bisa nganterin aku."
"Apa, alasan? ya ini karena kebetulan tempat meetingku deket banget sama butik kamu jadi ga ada salahnya dong aku nawarin ajakan ini ke kamu."
"Oke kalau begitu, oh iya aku boleh dengerin lagu di mobil kamu?"
"Boleh pilih aja lagunya"
Aku sibuk memilih lagu yang akan aku dengarkan. Dan mataku menangkap sebuah judul If you're not the one miliknya Daniel bedingfield. Tanpa pikir panjang aku memilih lagu itu untuk menemani perjalananku dengan seorang pria yang ku kira jauh dari kata romantis.
" Kamu suka lagu ini?" tanya Rama.
"Ini sih lagu kebangsaan aku."
"Indonesia Raya kali ah."
"Ku kira, cuma aku yang suka lagu ini, ternyata kamu juga suka ya. tanyaku lagi.
"Banyak kali yang suka lagu ini."
"Iya juga sih," lirihku.
"Gimana butik kamu, sukses?" tanyanya.
"Alhamdulillah, kemarin sebenarnya ada masalah sih, pabrik yang biasa aku pesan kain itu kebakaran dan semuanya habis terbakar beserta pesanan punyaku juga kebakar"
"Terus produksi baju-baju kamu gimana dong?"
"Untungnya si pemilik pabrik punya gudang untuk penyimpanan sebagian besar kain pesanan, punyaku juga 50% pesanan aman di dalam gudang dan kemarin udah masuk kantor produksi butik aku"
"Syukur deh, tapi kamu rugi juga dong"
"Iya, tapi kerugian yang aku dapet gak ada apa-apanya dibanding kerugian yang punya pabrik. Aku masih bersyukur sih cuma 50%, itu pun aku hanya baru masuk uang muka aja."
"Terus, udah dapet pabrik baru belum?"
"Nah itu dia masalahnya, butik perlu kain buat pesanan customer, tapi aku belum dapet pabrik yang produksi kain yang sama kayak kain yang aku pake di butik"
"Aku punya kenalan pabrik kain tapi ini di Bandung sih, ya siapa tau aja disana ada kain yang kamu butuhin, nanti aku kirim kontaknya ke kamu ya, kasih tahu aja kamu temen aku, namanya Rahman nanti aku kirim ke kamu ya"
"Aaahh kamu baik banget sih, makasih ya Ram, oke sebagai balasannya aku traktir kamu kopi sama cemilannya"
"Oke baik."
Setibanya aku di butik ternyara Laras lagi nungguin aku di depan butik.
"Oke sampai, disini kan butik kamu?"
"Yes, kamu mampir gak?"
"Ja, Senja, cepetan gawat nih," tiba-tiba Laras menghampiri dengan wajah cemasnya.
"Ada apa sih Laras?"
"Desainnya ja desainnya ilang di laptopku"
"Desain apa?"
"Desain pesanan gaun pengantin yang sebentar lagi kita meeting." jawab Laras tergesa.
"Oh itu, tenang aja aku udah simpan di laptopku."
Fiuuuhhh " lega aku" ucap Laras.
"Mana sini laptop kamu, aku mau siapin"
"Mati aku." ucapku sambil tepok jidat sendiri.
"Kenapa lagi?"
"Laptopku ketinggalan di mobil, dan mobil aku di bengkel." kesal dan ingin menangis rasanya hatiku.
"Maaf, ada masalah?" tanya Rama yang mungkin dari tadi dia melihat aku dan Laras tak karuan.
"Enggak apa-apa kok Ram. Oh iya, kamu ada meeting kan? takutnya kamu telat, yaudah hati-hati di jalan." timpalku dengan mendorong badan Rama untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Yaudah aku pergi dulu ya, permisi"
"Oh ya, hati-hati ya makasih"
Aku masuk ke dalam butik bersama Laras yang mulai bingung dengan keadaan desain pesanan gaun yang hilang. Padahal sang calon pengantin sudah menyetujui akan memakai desain itu, bahkan sudah memberikan 25% untuk uang muka, dan rencananya hari ini mereka calon pengantin akan melakukan pemilihan bahan.
"Yaudah kita ke bengkel aja sekarang cari laptop kamu" ujar Laras.
"Masalahnya, aku gak tau bengkel mana ras"
"Terus mobil kamu siapa yang masukin bengkel?"
"Rama" singkatku.
"Aduh dodol, tadi ada Rama kenapa kamu usir coba?"
"Aku terlalu banyak ngerepotin dia ras, lagian dia juga ada meeting"
"Ya kamu tinggal tanya aja alamat bengkelnya dimana"
"Eh iya juga ya, trus kalau ada alamatnya apa meetingnya bakal keburu?"
"Meetingnya jam 11, ini baru jam jam 9, udah cepet tanyain"
"Iya, iya"
Tuk .. tuk .. tuk
"Masuk" perintahku.
"Mbak, ada tamu di luar" terang Nia.
"Siapa?" tanyaku.
"Anaknya tante Gita mbak."
"Apa Rama dateng kesini?" Laras menduga-duga.
"Oke."
Dan benar saja, Rama datang ke butik. Dia menungguku di kursi dekat kasir.
"Rama, ngapain kamu disini?"
"Ini aku mau ngasih ini ke kamu." sambil menyerahkan sebuah kantong kepadaku.
"Ini laptop aku kan?"
"Iya, barusan aku ke bengkel dan aku bawa laptop punyamu"
"Bukannya kamu meeting?"
"Oh itu, iya meeting aku diundur jadi besok. Tadi aku gak sengaja denger obrolan kamu sama Laras di depan yang ngomongin laptop kamu di dalam mobil, yaudah aku bawa aja lagian bengkelnya deket kok dari butik." terangnya.
"Yaampun aku berhutang budi banget sama kamu, apa nih yang harus aku lakuin buat ngebalasnya?"
"Nanti malam kalau kamu bisa, aku tunggu di cafe Serayu ya jam 7,"
"Tapi aku yang traktir ya."
"Lebih bagus sih gitu."
"Oke aku akan datang."
"Yaudah aku pergi ke kantor dulu ya kalau begitu."
"Iya, makasih ya sekali lagi."
"Santai aja, yuk bye!" dia pergi sambil melambaikan tangannya.
Aku tersenyum sambil menatap Rama yang pergi ke luar dari butik.
"Hei!" Laras mengagetkanku.
"Kaget tau."
"Lah kamu bengong liatin Rama keluar."
"Siapa yang bengong sih" lirihku sanbil kembali ke ruang kerjaku.
"Apa jangan-jangan, kamu suka ya sama Rama?"
"Enggak ih masa iya aku suka"
"Udah jujur aja"
"Udah ah sana aku mau beresin fail desain buat meeting sebentar lagi"
"Cie cie, wajahnya udah kayak udang rebus tuh merah banget" ledek Laras.
"Keluar gak? aku cubit ya nih" sambil siap-siap mau nyubit Laras.
"Cie Senja jatuh cinta nih" ledeknya lagi sembari keluar dari ruang kerjaku.
"Apa iya wajahku merah banget?" lirihku sambil mengambil kaca dan melihat wajahku.
Tiba-tiba gawaiku berdering.
"Halo, Senja kamu baik-baik aja kan?" ucap dokter Sandi di sebrang telpon.
"Baik kok mas, emang kenapa?"
"Aku kangen, hari ini jadi ketemu kan?"
"Jam berapa mas?"
"Jam 7 aja gimana?"
"Maaf mas, jam 7 malam ini aku udah ada janji ketemu sama Rama"
"Kamu selingkuh dari aku?"
"Enggak mas, aku bisa jelasin semuanya"
Tiba-tiba sambungan telpon terputus, dan aku tidak bisa menghubungi dokter Sandi. Ada yang aneh sama dokter Sandi, jelas-jelas semalam aku beberapa kali menghubunginya bahkan aku mengirim pesan kalau aku terjebak hujan dengan keadaan mobil mogok di tengah jalan, tapi barusan dia gak nanya apa-apa sama aku. Sudahlah aku biarkan saja dulu dokter Sandi meredakan amarahnya, baru nanti aku akan menghubunginya lagi.
Meeting pun selesai dengan hasil akhir yang baik, calon pengantin sangat suka dengan desain baju pengantin yang aku buat. Sore ini aku pergi ke rumah sakit dengan Laras untuk menjenguk ibu.
"Ja, jadikan kita ke rumah sakit?" tanya Laras.
"Sekarang aja yuk, keburu malam nanti soalnya aku ada acara nanti jam 7"
"Kencan?"
"Bukan"
"Apa dong?"
"Kepo!"
"Sama siapa?"
"Rama."
"Tuh kan kencan,"
"Bukan ih"
"Ya terus apa dong?"
"Ya gak apa-apa."
"Kamu selingkuh ya dari Sandi?"
"Bodo amat ah, terserah."
"Beneran?"
"Ayok ah pergi, ngoceh mulu. Pake mobil kamu ya ras."
"Jawab dulu dong kamu selingkuh?"
"Laraaaassss!" ucapku sambil berlari mengejar Laras menuju mobilnya.
Diperjalanan aku curhat ke Laras, kalau dokter Sandi itu marah karena aku akan pergi sama Rama malam ini.
"Ya jelaslah dia marah, dia kan pacar kamu ya masa kamu pergi sama cowok lain." tegas Laras.
"Ya kan Rama itu temen aku, gak ada lah selingkuh-selingkuhan,"
"Eh namanya cowok pergi sama cewek yang umurnya udah mateng kayak kita ini tuh sekarang bukan masalah temen-temen lagi, itu udah menjurus ke suatu hubungan yang lebih serius." jelas Laras.
"Rama juga tau kan kalau aku pacarnya Sandi, masa iya dia mau nembak aku?"
"Berharap ditembak Rama ya kamu?"
"Enggak ih apaan,"
"Yaudah nanti di rumah sakit kamu ketemu aja sama Sandi, kamu jelasin alasan kamu mau ketemu sama Rama, kalau dia udah bantuin kamu,"
"Semoga mas Sandi masih di rumah sakit ya"
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung bertemu ibu di kamarnya. Seperti biasa, ibu hanya tersenyum melihatku. Kali ini wajah ibu segar sekali, katanya hari ini beliau makan banyak dan mulai mengikuti senam yang diadakan setiap pagi dan sore di rumah sakit.
"Ras, aku titip ibu ya, aku mau ke bagian administrasi dulu terus aku mau ketemu mas Sandi ya."
"Siap, biar aku yang jaga."
Aku menuju bagian administrasi untuk membayar biaya perawatan ibu. Setelah selesai, aku bertemu dokter Sandi sedang berjalan menuju ruangan dokter bersama seorang perempuan yang aku gak tau itu siapa, tapi mungkin dia salah satu dokter disini karena dia memakai jas putih khas dokter sama seperti yang dokter Sandi kenakan.
"Dokter Sandi!" panggilku.
"Senja," ucap dokter Sandi dengan heran.
"Apa bisa aku bicara sebentar dengan dokter?"
"Iya, kita bicara di ruangan ya" ujar dokter Sandi.
"Dokter Raisa, saya permisi dulu sebentar ya, nanti kita lanjutkan setelah urusan saya beres" ucapnya pada dokter perempuan itu.
"Baik silahkan dokter" jawab dokter itu yang ternyata bernama Raisa.
"Saya permisi." dan dokter Sandi berlalu menuju ruangan dokter bersamaku.
Dan kami pun masuk ke ruangan dokter Sandi.
"Senja, ngapain kamu disini?"
"Aku lagi jenguk ibu sama Laras. Mas, kamu gak marah sama aku kan?"
"Udah tau aku kangen pengen ketemu, eh kamunya malah mau ketemuan sama cowok lain"
"Maaf ya mas, aku berhutang budi sama Rama soalnya kemarin malam dia nolongin aku yang kejebak di tengah jalan karena mobilku mogok, terus tadi pagi dia nolongin aku bawa laptopku yang ketinggalan di bengkel"
"Oh iya maaf ya sayang, kemarin malam aku udah tidur jadi aku gak tau kalau kamu ada masalah."
"Iya mas, gak apa-apa kok. Aku kesini juga mau ketemu kamu, soalnya aku juga kangen sama kamu"
"Kita atur ulang jadwal kencan kita ya nanti"
"Baik mas"
"Senja, aku ada rapat kedokteran jadi aku gak bisa nemenin kamu lama-lama disini, pasti dokter Raisa udah nungguin aku"
"Jadi kamu harus pergi?"
"Iya, maaf ya sayang" dia membelai rambutku.
"Yaudah aku kembali ke kamar ibu ya"
"Iya, nanti aku telpon kamu ya" ucapnya sambil keluar meninggalkanku.
Aku kembali ke kamar ibu, ternyata ibu sudah tidur. Kuputuskan untuk pulang, karena aku takut acaraku dengan Rama akan terlambat.
"Ras, pulang yuk" ajakku.
"Oke."
Setelah ku pamit pada ibu dan suster, aku segera pulang diantar Laras.
"Sandi masih marah?"
"Enggak, tapi sikapnya berubah, atau aku aja yang gak ngerti kalau dia sibuk."
"Emangnya kenapa dia?"
"Aku rasa beda aja, tadi dia cepet-cepet nyamperin dokter perempuan itu, padahal aku masih ada di dalam ruangannya."
"Udah jangan dipikirin, mungkin dia sibuk"
"Iya juga"
Jam 6 sore aku sampai di rumah, dan Laras langsung pergi menemui Joy tunangannya. Laras dan Joy, sudah bertunangan 2 tahun lalu, tapi mereka masih belum mau ke jenjang pernikahan.
Joy adalah kakak kelasku dan Laras waktu di SMA, dan dia sempat menyukai Jingga, tapi waktu itu Jingga tak merespon Joy karena Jingga tau kalau Laras menyukai Joy dari sejak mereka SMA.
Akhirnya 4 tahun lalu, Joy baru menyatakan cinta pada Laras, dan 2 tahun kemudian mereka tunangan. Sampai hari ini, mereka belum merencanakan sebuah pernikahan, karena mereka berdua menganggap hubungannya itu masih belum saling mengenal. Daripada nanti di tengah jalan mereka berpisah, akhirnya mereka memutuskan untuk menunda pernikahan mereka sampai mereka berdua benar-benar tau sifat masing-masing.
Jam menunjukan pukul 18.30, aku bergegas untuk segera pergi ke cafe Serayu untuk bertemu Rama. Aku memakai jeans dan t-shirt dipadu outer dengan panjang selutut, rambut ku biarkan tergerai, dan sedikit polesan lipbalm cherry di bibir. Kebetulan cafe Serayu tak begitu jauh dari rumahku, tepat jam 19.00 aku sampai di cafe itu, dan aku langsung bisa menemukan pria yang sedang menungguku di cafe tersebut, dia memakai jeans dan t-shirt polos, serta memakai jaket kulit warna hitam yang tersimpan di sebelah kursi yang ia tempati.
"Hai, aku gak telat dong" sapaku.
"Telat 1 menit, tapi gak apa-apa"
"Kamu dari tadi?"
"Baru nyampe 5 menit, oh iya ini kamu mau pesan apa?" ucapnya sambil menyerahkan buku menu padaku.
"Aku mau macchiato sama ontbijtkoek"
"Wah, kamu suka kue itu?"
"Iya, waktu SMP aku pernah dibawain sama tante aku yang tinggal di Belanda, dan sampai sekarang aku suka dan menemukan rasa yang pas seperti waktu yang tante aku kasih di cafe ini, makanya kalau aku ke cafe Serayu ini suka pesan kue itu" jelasku.
"Mas!" Rama melambaikan tangannya seraya memanggil pelayan cafe tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan itu.
"Saya mau pesan macchiato 1, expreso 1 dan ontbijtkoeknya 2"
"Ada lagi yang lain?"
"Cukup mas"
Sambil menunggu pesanan kami datang, kami disuguhi lagu yang tadi pagi kami dengar di mobil Rama, ya lagu Daniel Bedingfield.
"Hari ini udah 2 kali kita denger lagu ini" ucap Rama.
"Iya juga ya"
"Senja, gimana pabrik kain yang aku kasih tau?"
"Oh, aku belum menghubunginya soalnya tadi aku sibuk, terus aku kelupaan karena tadi aku pergi ke rumah sakit jenguk ibu."
"Gimana keadaan ibu?"
"Alhamdulillah baik, ibu mulai bisa berinteraksi dengan yang lain."
"Syukurlah"
Pesanan pun datang, dan kami pun menikmatinya ditemani lagu-lagu yang ternyata kami berdua sukai. Kami berbincang hingga pukul 22.00, bahkan makanan pun kami pesan kembali, untuk menemani obrolan kami berdua.
"Ram, udah malam nih, aku pulang ya"
"Yaudah aku anterin kamu pulang ya, tapi aku bawa motor gak apa-apa kan?"
"Gak ngerepotin?"
"Enggaklah, yaudah kamu tunggu di luar, aku ke kasir dulu"
"Rama, aku aja yang bayar kan aku udah janji"
"Gak apa-apa lain kali aja ya" ucapnya sambil berlalu menuju kasir.
Akupun diantar pulang oleh Rama, menggunakan motor. Suasana malam ini sangat dingin, aku sebenarnya tak biasa pergi menggunakan motor, tanganku memegang pinggiran jaket kulit Rama, namun tiba-tiba tanganku digenggam olehnya, dan tanganku dilingkarkan ke badannya.
"Tangan kamu dingin, kamu pegang kesini ya" ucapnya sambil melingkarkan kedua tanganku ke badannya.
Jantungku, aku gak tau dia merasakan atau tidak detak jantungku yang semakin berdegup. Sebenarnya aku risih, tapi nyaman mengalahkan segalanya.
15 menit berlalu, tanpa kata, tanpa candaan dan obrolan kami sampai di depan rumah. Dan aku langsung turun dari motor besarnya itu.
"Rama, makasih ya untuk hari ini" ujarku.
"Lain kali, kamu yang traktir aku"
"Iya pasti, aku masih punya utang janji kan sama kamu"
"Yaudah, aku pulang ya"
"Iya hati-hati ya"
"Oh iya, lain kali kalau aku ajak touring motoran kamu mau gak?"
"Pake motor?"
"Ya iyalah masa pake perahu."
"Aku pikir-pikir dulu ya."
"Oke deh, aku pulang yah, daahh"
"Bye." lirihku sambil melambaikan tanganku padanya.
Senyumku terkembang sempurna, entah mengapa hari ini aku merasa aku selalu memikirkan Rama. Mungkin sudah 2 hari ini aku selalu bertemu dia. Pesan di gawaiku berbunyi.
"Senja, apa kamu udah tidur?" tulis Rama.
Kenapa tiba-tiba Rama kirim pesan padaku.
"Belum, aku belum ngantuk." balasku.
"Besok kita ketemu ya." tulisnya lagi.
"Ada apa?" balasku.
"Aku cuma mau ngomongin soal mobil kamu sih."
"Oh iya, mau jam berapa?"
"Jam makan siang aja, sekalian kita makan siang ya."
"Baiklah, besok kamu kabarin aku lagi aja dimana tempatnya ya."
"Oke, kalau gitu kamu tidur ya, udah malam nih,"
"Oh, iya-iya aku tidur,"
"Gud nite Senja 😊 "
"Gud nite Rama."
Aku semakin tak karuan memikirkan sikap Rama yang berubah padaku. Padahal sebelumnya, Rama itu terkesan jutek padaku. Tapi hari ini dia berhasil membuat senyumku tak mereda.
Sebaliknya, mas Sandi malah lupa janji nelpon padaku. Aku tunggu sampai jam 11 malam pun tak ada panggilan darinya.
Kenapa mereka tiba-tiba berubah?
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘
Dapat salam dari "Blue Eyes" & "Jalan Cerita Cinta" ❤
slm dr wedding agreement
salam dari "wanita seribu luka"
Semangat update nya thor ✨
Salam dari Serendipity dan CEO’s Love Secret 💕
Jejak : CINTA SEORANG BOS MAFIA.
🤭🤭🤭
Semangat author
【Judul】
Perfect Mask
【Genre】
Comedy, Psychological, Romance, School Life, Teen.
【Note】
Aku akan sangat menghargai Kritik dan Sarannya