Tulisan saya ini pernah dimuat di KBM dengan pembaca lebih dari empat belas ribu orang. Kisah tentang perempuan yang melahirkan di rumah mertua dengan segala suka dukanya.
Konfliknya menarik, dikemas dengan bahasa yang baik dan visualisasi mendalam sehingga pembaca seolah-olah masuk dalam cerita dan merasakan emosi tokoh dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Listriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepas Bang Rafi
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_14
Bang Rafi berbaring di samping Marisa, matanya menatap lekat pada bayi mungil yang beberapa hari ini tidak dilihatnya. Setelah obrolan saat makan siang tadi, Bang Rafi jadi sedikit murung. Bapak dengan tegas melarang aku kembali ke rumah Ibu sebelum usia Marisa tiga bulan. Aku dan Bang Rafi tak bisa membantah.
"Ning, Ibu kangen sama Marisa," ucap Bang Rafi.
Aku yang sedang melipat baju menghentikan sejenak pekerjaanku, menghadapkan tubuh tepat di depan Bang Rafi.
"Darimana Abang tahu kalau Ibu kangen sama Marisa?"
"Belakangan ini Ibu selalu murung. Bolak-balik ke kamar kita cuman buat megangin barang-barang Marisa."
Aku menghela napas, aku tahu Ibu sangat sayang pada Marisa. Tapi, kenapa perasaan itu tak ada buat aku, menantunya?
"Aku belum siap kembali ke sana, Bang. Tolong maklumi itu. Sikap Ibu padaku masih belum berubah. Dia malah mencarikanmu istri baru," tuturku.
"Istri baru apa?" tanya Bang Rafi terkejut. Dia bangun dan duduk tegak.
Aku menceritakan prihal perempuan yang mengangkat teleponku. Bang Rafi terlihat berpikir.
"Sejak kamu pergi, ponsel Abang hilang, di rumah. Abang curiga disembunyikan Ibu, karena Ibu masih marah sama kamu. Tapi Abang nggak tega kalau memaksa Ibu mengembalikan ponsel itu," jelas Bang Rafi.
Aku kembali meraih tumpukan pakaian yang belum selesai kulipat, mengalihkan perhatian dari Bang Rafi. Jujur, aku kecewa. Kurasa Bang Rafi tidak benar-benar memperjuangkanku. Membiarkan aku di sini hampir seminggu tanpa kabar, adalah bukti bahwa cintanya tidak sebesar yang kukira.
"Ning belum mau pulang Bang, izinkan Ning di sini dulu," lirihku.
Bang Rafi tampak merenung dan beberapa kali menyugar rambut. "Baiklah, nanti Abang bilang sama Ibu. Tapi, jangan lama-lama ya, Ning. Abang nggak bisa jauh dari kalian." Bang Rafi mengecup kening Marisa, bayi itu mengerjapkan mata, melihat ayahnya beberapa saat, lalu kembali memejamkan mata.
Malam ini Bang Rafi menginap karena besok Minggu dia masih libur. Wening terpaksa mengungsi ke rumah Wa Yayah, karena tak kebagian kamar.
Di rumah ini, semua orang terbiasa bangun pagi. Sebelum subuh Mamah sudah mandi dan menjerang air untuk aku mandi. Kata Mamah, aku belum boleh mandi air dingin sebelum empat puluh hari pasca melahirkan. Kadang aku malu dengan perhatian Mamah yang begitu besar.
Aku membangunkan Bang Rafi saat adzan berkumandang. Bapak sudah bersiap dengan baju koko putih dan peci hitam yang mulai pudar warnanya.
"Bang, bangun ...." Aku mengguncang tubuh Bang Rafi.
Bang Rafi malah tengkurap. Aku mencoba membalikan tubuhnya tapi dia tetap bergeming, tak mau bangun. Aku menungguinya hingga iqomah terdengar dan memutuskan menyerah setelah suara Bapak kembali terdengar di dalam rumah.
Aku keluar dari kamar sambil membawa tumpukan pakaian kotor. "Simpan di sana, Ning. Biar adekmu nanti yang mencuci," perintah Mamah.
"Ning sudah sehat, Mah. Kasihan Ade," tukasku.
"Kamu belum pulih. Nanti kalau adikmu melahirkan, kamu yang gantian nyuci pakaian dia," ucap Mamah sambil tersenyum.
Aku mengangguk dan membalas senyumnya. Kami sadar tak memiliki banyak harta, tapi memiliki keluarga yang perhatian dan penyayang membuat kami selalu merasa kaya.
Pukul tujuh, Bang Rafi baru bangun. Bapak dan Mamah sudah berangkat ke sawah, Wening juga sedang menjemur pakaian di belakang rumah.
Aku membuatkan kopi hitam kesukaan Bang Rafi dan menghidangkan di hadapannya.
"Abang bangunnya siang banget, malu sama Mamah sama Bapak."
"Inikan hari Minggu, Ning, mumpung libur. Kamu tahu sendiri kan, hari-hari biasa Abang sibuk kerja." Bang Rafi menyesap kopi yang masih mengepul.
"Kalau di rumah sendiri sih nggak masalah, ini kan lagi di rumah mertua, harusnya Abang bisa menyesuaikan diri," pintaku.
"Kamu aja nggak bisa kan menyesuaikan diri sama Ibu?" ketus Bang Rafi. Aku memilih diam, tak melanjutkan perdebatan, berdebat dengan Bang Rafi tak pernah bisa menang.
Sebenarnya aku bosan menjadi orang yang selalu mengalah. Biduk rumah tangga ini entah akan sampai di mana, karena nahkodanya tak pernah tahu arah.
Aku pikir, setelah memiliki anak sipat Bang Rafi akan berubah. Nyatanya tidak. Dia masih tetap saja egois dan tak dewasa. Lebih senang nongkrong dengan teman-temannya di waktu luang daripada membantu pekerjaanku di rumah, lebih banyak bicara daripada mendengarkan, dan lebih banyak menuntut darilada mengayomi.
Bang Rafi pergi ke kamar mandi yang berada di luar rumah setelah kopi di gelasnya hanya tinggal hampas. Aku menggendong Marisa yang terbangun dan memberinya ASI.
Selang beberapa saat, Bang Rafi masuk ke kamar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia merapikan pakaian dan mengambil tasnya.
"Abang mau ke mana?"
"Pulang," jawabnya singkat.
Aku kembali menghela napas, "Apa nggak nunggu Bapak sama Mamah dulu?"
"Nggak, nanti sore ada janji sama Rio mau main futsal." Bang Rafi menyisir rambutnya dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya. Ingin sekali aku menyisir rambutnya, kebiasaan yang telah lama tidak kulakukan.
"Jangan kotor-kotoran terus, Bang. Kasihan Ibu kalau harus nyuci pakaian kamu terus." Aku tahu dari dulu Bang Rafi tak pernah mencuci baju.
"Ibu nggak bakalan cape ko, sekarang kan ada Ratih, dia yang bantu-bantu di rumah," tutur Bang Rafi.
Dadaku panas, nyatanya Ibu dan Bang Rafi bisa mempekerjakan orang lain untuk membantu mereka.
"Kenapa kamu nggak nyari orang kerja saat dulu aku di rumah Ibu? Kamu memang nggak pernah menganggap aku istri kamu, kamu anggap aku pembantu!" hardikku.
Bang Rafi gelagapan, sadar nada bicaraku naik beberapa oktaf. Dia memeluk tubuhku. "Ibu yang meminta dia kerja Ning, bukan Abang. Ibu juga yang ngasih gaji. Abang nggak bisa ikut campur masalah itu." Bang Rafi mengusap kepalaku."Ayolah kita pulang, Ning. Abang juga nggak nyaman tinggal jauh dari kamu," lirih Bang Rafi.
Aku kembali dilanda dilema. Apa aku ikut pulang saja, toh sekarang ada yang bantu-bantu di rumah, aku nggak akan terlalu cape. Tapi, bagaimana kalau aku kembali Ibu malah memecat pegawai itu?
"Datanglah minggu depan Bang, biarkan Ning dan Marisa tenang dulu di sini. Ning juga akan bicara sama Mamah dan Bapak."
"Baiklah. Kami memang terlihat lebih segar di sini, Ning." ucap Bang Rafi.
Bang Rafi memberikan dua lembar uang berwarna merah, berjanji akan memberikan kabar setiap hari setelah mencatat nomor Wening di ponsel barunya.
Aku melepas Bang Rafi dengan perasaan tak menentu. Tak tahu harus berkata apa, saat nanti Mamah dan Bapak pulang nanti.
anakku sekarang lahiran aku bebasin makan segala macam yg bergizi.😁
sarapan jam 10, makan sore jam 3, setelah jam 5 sore udah gaboleh makan.
makan cuma boleh nasi + sayur rebus (hambar gak ada rasa sama sekali).
gak boleh tidur siang, pdhl mlm harus melek nemenin adik.
bb lgsg anjlok 13kg selama 40hari ikut mertua, mau pulang kerumah setelah 7 hari lahirnya dedek tidak boleh. harus nunggu 40hari.
40 hari yg menyiksa, setelah skrg dirumah aku paling anti kalau diajak kerumah mertua, gak mau lagi. kecuali kesana pagi terus sore pulang