Aphrodite Guinandra, tidak pernah membayangkan akan berada di posisi sulit seperti ini, sebelumnya. Ayahnya meninggal, keluarganya terlibat hutang, terancam di jodohkan, tiba-tiba hamil, dan yang paling parah di tinggal oleh kekasihnya yang menikah dengan wanita lain tepat di hadapannya.
Dunianya hancur saat ia mengalami semua kemalangan itu. Seakan tidak pernah ada kata cukup, Dewi Fortuna seakan enggan berpihak padanya. Aphrodite kembali di timpa masalah. Tengat waktu pembayaran hutangnya sudah habis, ia yang terdesak karena tidak ingin di usir. Akhirnya memutuskan untuk menerima syarat agar semua hutangnya lunas.
Menikah dengan pria yang tidak di cintainya. Akankah kehidupan nya harmonis? Dan, bagaimana jadinya jika pria yang menikahinya itu tahu kalau ia tengah mengandung?
Ikuti selengkapnya di "Twins Genius: Two CEO"
Story & Illustration by: Bintang Hamal
🚫Warning🚫
Hanya cerita fiktif belaka! Semua kejadian, tokoh, dan tempat hanya karangan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Hamal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twins 14 - I really love her
"Apakah ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" Antonio mendongak menatap putra semata wayangnya.
Frans sama sekali tak beranjak dari tempatnya.
"Aku hanya ingin meminta satu hal pada papa." Frans memberanikan diri untuk berbicara.
Antonio mendongak, ia melipat kedua tangannya di atas meja. Untuk pertama kalinya, seorang Fransisco meminta sesuatu darinya.
"Ini adalah pertama kalinya papa mendengar kau meminta sesuatu dari papa," ujarnya. Senyuman terbit di wajah lelaki itu. Seumur hidupnya, bahkan sampai usianya yang beranjak dewasa seperti ini, Fransisco tidak pernah meminta apa-apa. Bahkan ketika ia akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan ibu kandungnya, Frans sama sekali tak pernah memaksanya untuk kembali bersama ibunya.
"Katakan, apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya meminta agar papa tidak terlalu kasar pada Aphrodite," gumam Frans dengan kepala tertunduk. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ayahnya detik berikutnya.
"Apa?" Antonio speechless. Ia mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan Frans. "Tapi, memangnya kenapa? Kau menyukai gadis itu?"
Fransisco mengangguk pelan. "Seperti yang papa tahu, aku sudah menyukainya sejak lama, dan aku tidak ingin melihatnya terluka atau di sakiti oleh orang lain."
"Kau masih menyukainya sampai sekarang?"
"Ya."
"Heh, pantas saja selama ini papa tidak pernah melihatmu bersama dengan gadis lain. Jadi, kau masih berharap pada gadis itu?" Antonio menunjukkan senyum miring.
"Aku benar-benar mencintainya, dan itu sebabnya aku tidak pernah jalan dengan gadis manapun. Karena aku ingin berjuang untuk mendapatkan hatinya." Frans baru berani menatap kedua iris mata ayahnya.
"Dengar, Frans. Masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik daripada Aphrodite. Kenapa kau ingin bersamanya? Lagipula apa yang menarik darinya? Okay, papa akui dia memang cantik. Tapi, itu saja tidak cukup. Aphrodite itu adalah gadis miskin yang bahkan tidak memiliki apa-apa. Papa tidak ingin kau kesusahan karena hidup dengannya."
"Tapi Aphrodite jatuh miskin karena ayahnya dulu memiliki banyak utang perusahaan yang menyebabkan ia jatuh miskin, selain itu dia juga memiliki utang pada papa. Satu-satunya yang membuat dia hidup sengsara seperti ini adalah karena ayahnya."
"Ya, mungkin kau benar. Tapi tetap saja, dia tidak layak untukmu. Carilah gadis lain, dan lupakan dia. Kau ini tampan dan kaya, memangnya gadis mana yang akan menolakmu? Apalagi kau adalah putra tunggal sekaligus pewaris dari keluarga Shankara, siapapun akan berjuang untuk mendapatkan hatimu. Jadi berhenti berharap padanya."
Frans diam tanpa suara, Antonio sama sekali tak mengerti dengan perasaannya.
...*...
"Aku benar-benar minta maaf karena sudah merepotkanmu." Aphrodite memandangi Jenia. Ia merasa tidak enak karena sudah merepotkan sahabatnya dengan membawa seluruh anggota keluarganya untuk menginap di tempatnya.
"Tidak perlu meminta maaf, aku justru senang bisa kalian. Rumah ini jadi terasa lebih ramai, dan itu membuatku lebih baik. Setiap hari, biasanya aku hanya sendirian dengan rasa bosan karena tidak ada yang bisa aku ajak bicara. Tapi sekarang ada yang bisa aku ajak bicara, terlebih yang paling membuatku senang adalah karena mulai hari ini, aku tidak akan berpisah denganmu. Kita bisa berangkat bekerja bersama dan pulang bersama." Jenia menghampiri Aphrodite dan memeluknya erat, rasa senangnya tak bisa ia bendung.
Aphrodite terdiam sambil mengulum senyum. Jenia benar-benar sahabat terbaiknya.
...***...
Halo, Binbin di sini!
guys untuk sementara waktu aku nggak up novel ini dulu, ya. maaf banget🙏 aku mau fokus revisi dulu sampe bagian 123/ sampai akhir bab yang sekarang aku up. dan ini versi revisinya juga bakalan bertahap karena kerjaanku sendiri banyak. terutama dalam hal revisi, jadi maaf klo ceritanya ke delay 🙏😭
semoga aja nggak terlalu lama, supaya aku bisa lanjutin kisahnya si Aphrodite lagi😭