NovelToon NovelToon
The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Petualangan / TimeTravel / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Chicklit / Tamat
Popularitas:142.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Pipit_vie

Devita Bina Dheandita, gadis biasa yang berusia tujuh belas tahun, tiba-tiba terbangun di tubuh Sirena Stylanie Asthropel, seorang Putri yang terasing di Kerajaan Willamette. Sirena adalah tokoh antagonis dinovel yang berjudul Hiraeth. Parahnya, Devita terbangun di tubuh Sirena saat hendak dieksekusi mati, ending dari novel Hiraeth. Tidak ada alur yang bisa dia ubah agar dirinya tak dihukum mati.

Akhirnya Devita yang berada di tubuh Sirena itu terbebas dari hukuman mati. Disinilah perjuangannya untuk bertahan hidup serta mencari tahu alasan dia masuk ke tubuh Sirena. Hidup Devita sebagai Sirena rumit tatkala semua orang menyalahkan dirinya atas bangkitnya Raja Iblis Canopus karena simbol mawar hitam di keningnya yang merupakan simbol kutukan. Kutukan yang membuat dirinya menjadi target sang Raja Iblis. Dirinya dipaksa untuk menemukan Zifgrid, sang pengendali untuk mengendalikan Iblis Canopus yang terus membuat kekacauan di Vulcan, nama dunia yang dihuni oleh Sirena.

Semuanya semakin rumit bagi Sirena tatkala dia menerima surat lamaran dari seorang Pangeran dari Kekaisaran Alioth yang dia anggap 'psikopat ganteng'.

Mampukah Devita menjalani kehidupannya sebagai Sirena? Mampukah dia meraih impiannya juga impian Sirena untuk bisa menemukan arti kebahagiaan?

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Curahan Hati Sirena

...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...

...         Selamat Membaca...

...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...

'Sirena ...'

Sirena membuka matanya. Dia terkejut kala melihat sekeliling yang dipenuhi kegelapan.

'Sirena ...'

Suara desisan yang terdengar dalam itu kembali terdengar di telinganya. Sirena celingak-celinguk mencari tahu siapa yang memanggilnya. Dia bangkit dari tidurnya, lalu diam berdiri dengan keringat dingin.

'Senyum yang hancur ... Mata yang lelah ... Aku bisa merasakan dukamu.'

Sesaat Sirena merasakan hawa dingin, lalu liontin kalung steorra berpendar dua kali hingga hawa dingin yang menyerang tubuhnya seketika hilang berganti rasa hangat kembali.

'Sebut namaku, teriakkan dari jauh ... Jangan khawatir, kan ku beri segala yang kau inginkan. Syaratnya ...

Sebut namaku, teriakkan dari jauh ...

Ambrogio Agafya ...

Dan kau akan aman dalam kendaliku,'

Tiba-tiba ada sepasang tangan yang menutup kedua telinga Sirena.

"Sstt ... Jangan dengar jangan terperdaya ... Devita, waraskan pikiranmu."

Seseorang bersuara lembut itu menyebutkan nama aslinya. Orang yang mengetahui nama aslinya hanyalah Sirena asli.

Devita menoleh ke belakang, dan benar. Sirena asli tengah tersenyum hangat ke arahnya.

"Sirena ..." Devita memeluk Sirena erat sembari meneteskan air matanya, "Akhirnya kita ketemu lagi,"

Sirena membalas pelukan Devita begitu erat, "Bagaimana harimu? Apa kau kelelahan menjadi diriku?"

Devita melepas pelukannya, "Iya! Gue kelelahan ngehadapin kehidupan lo yang terlalu ruwet!"

Sirena mengusap kepala Devita sekilas, "Maaf. Tapi bisakah kau tetap bertahan? Setidaknya ragaku tak lagi merasa kesepian setelah kau isi. Aku bisa merasakannya."

Devita mengangguk sekilas, dia memandang Sirena yang keadaannya masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu, "Lo baik-baik aja kan? Selama ini lo dimana?"

Sirena tersenyum, "Aku berada di dalam kalung steorra yang sama persis seperti yang kita kenakan."

Devita kaget, "Jadi selama ini, lo ada dideket gue dong? Terus gimana caranya gue ketemu lo lagi? Terus gimana ceritanya lo ada di dalem kalung steorra?"

"Pertanyaanmu terlalu banyak!" Sirena mendengus, "Aku tidak tahu kenapa bisa terjebak di dalam kalung steorra, yang jelas sebuah suara memberitahuku aku ada dimana."

"Terus, ini dimana? Sumpah gelap banget! Untung aja kalung steorra milik kita bersinar terang, jadi keliatan deh muka cantik gue haha ..."

"Ini alam bawah sadar milik kita, Devita. Dan perlu aku ingatkan padamu, bila suara tadi kembali mengganggumu, tolong tutup telingamu. Dan pesanku, jaga kalung steorra, jangan sampai hilang!" Sirena memegang liontin kalung yang dipakai Devita.

"Devita ... Kau tahu? Kalung steorra ternyata masih ada satu lagi dan dimiliki seseorang. Aku berada di dalam kalung steorra itu. Bantu aku keluar dari kalung steorra itu, maka aku akan membantumu mencari petunjuk tentang Zifgrid. Aku juga harus memastikan sesuatu, ada beberapa hal yang harus kucari tahu."

Devita berpikir sejenak, "Apa yang lo cari? Gue sendiri juga mau memastikan sesuatu, tentang dunia lo ini."

"Maka dari itu, bila aku keluar dari kalung steorra kita bisa memastikan sesuatu itu bersama-sama. Aku juga hanya bisa bertemu denganmu bila kondisi ragaku melemah."

Devita menatap Sirena, "Tapi lo ... Benar-benar masih hidup kan, Sirena?"

Sirena mengangguk, "Ya, aku masih hidup. Suara halus yang memberitahuku kalau aku masih hidup."

Devita bernafas lega mendengar itu, "Tapi Devita, apa kau tahu juga? Di dalam kalung steorra yang kutempati, ada beberapa alat musik yang dulu sangat ingin kumainkan. Tapi aku terlalu bodoh, aku tak bisa memainkannya." Sirena berucap sendu.

"Alat musik?"

Sirena mengangguk, "Ya, ada piano, biola, juga gitar. Dahulunya, ibunda pandai memainkan alat musik itu. Melihat ibunda, aku ingin pandai bermain alat musik juga menyanyi."

"Gue bisa wujudin keinginan lo. Gue bisa main alat musik, tapi suara gue nggak terlalu bagus buat nyanyi. Tapi setelah gue jadi lo, gue tahu suara lo bagus banget kalo dibuat nyanyi." Devita mengusap bahu Sirena, "Tapi Sirena, tolong lo juga usaha buat kembali temuin gue, ya? Gue harap saat kita kembali ketemu, kabar baik yang gue denger."

Sirena mengangguk mantap, "Pasti! Aku pun akan berusaha untuk bisa keluar sendiri dari kalung steorra setelah kau menemukan kalung steorra yang aku tempati."

Tak lama, sinar biru kalung steorra yang semula terang kini meredup. Sirena melihat wajah Devita yang terlihat manis dan mirip dengannya, "Sebelum kita benar-benar berpisah, aku ingin memberitahumu, Devita. Akhir-akhir ini, aku mendengar suara seorang laki-laki yang menyebut namamu."

"Benarkah? Nyebut nama gue kayak gimana?"

"~Devita ... Jangan pergi jauh ...~  Itu yang diucapkan oleh suara itu. Ehm, kalau begitu, sampai jumpa lagi, Devita, kau harus tetap berhati-hati. Jaga dirimu baik-baik. Semoga saja ingatanku membantumu,"

Devita mengangguk, Devita menarik Sirena dalam pelukannya. Hanya sebentar saja. Lalu mereka berdua pun berpisah.

...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...

"Hamba sudah memberinya obat penurun demam, semoga Tuan Putri Sirena lekas membaik." Sentrasenda, lelaki itu kembali bertemu dengan Sirena setelah beberapa hari tak bertemu. Namun Sentrasenda kembali bertemu untuk mengobati Sirena, padahal Sentrasenda ingin sekali melihat Sirena ketika sehat.

"Elanus, tidakkah kau penasaran tentang alasan perubahan adikmu?"

Elanus memandang Sirakusa dengan pandangan bingung, "Mungkin saja dia memang ingin berubah," gumamnya.

"Apa ini salah satu rencana adikmu untuk merebut Pangeran Putra Mahkota Elephas? Sangat mengherankan dia berubah secepat ini." Sirakusa memandang Sirena yang masih terlelap.

Elanus memasang wajah berpikir, sedangkan Sentrasenda hanya diam menyimak pembicaraan.

"Daripada soal itu, aku lebih penasaran tentang sinar biru yang menyelimuti tubuhnya tadi. Aku bisa merasakan sebuah kekuatan sihir yang besar dan nyaman sekaligus!"

Sirakusa mengernyitkan keningnya, selama dia menjalani hidup sebagai Efarish dan menjadi pengajar sihir di akademi, dia tak pernah mendengar sekalipun sihir yang bersinar biru. Umumnya, sihir yang dimiliki setiap orang berwarna hijau, putih, merah, hitam. Lalu dalam buku ramalan, juga tak pernah dijelaskan tentang sihir yang bersinar biru.

"Saat aku mengobatinya di Kekaisaran yang lalu, tubuh adikmu juga diselimuti sinar biru. Entah berasal darimana sinar biru itu. Apa itu sihir murni milik Sirena?" Sirakusa memandang Elanus ingin tahu.

"Tidak mungkin!" Elanus sontak menyanggahnya, "Aku mengenal Sirena sejak kecil. Saat Sirena diajak Ayahanda menemui Hester di Hypatia Kekaisaran, Hester berkata bahwa Sirena tak memiliki sihir murni. Aku bahkan masih ingat jelas saat itu Sirena menangis karena tak memiliki sihir seperti Nervilia." **( Hester \= Semacam pendeta, Hypatia \= Tempat ibadah seperti kuil )

"Ehm," deheman seseorang membuat Sirakusa juga Elanus menoleh ke sumber suara.

Elephas memasuki kamar Sirena, ketiga orang itu lantas memberi salam hormat untuk Elephas.

"Bagaimana kondisinya?"

"Sejauh ini, keadaan Putri Sirena sudah mulai membaik. Dua hari lalu, suhu tubuhnya begitu panas, beruntung hari ini panasnya turun." Elephas menganggukkan kepalanya sekali mendengar penjelasan Sirakusa.

Elephas memandang Sirakusa dan Elanus bergantian, lalu tatapannya terpaku pada Sirakusa, "Sirakusa, ku dengar dua hari lalu tepat sebelum kau dipanggil kemari, kau tengah berada di desa Osaka yang baru saja diserang oleh monster, apa itu benar?"

Sirakusa mengangguk, "Ya, itu benar. Saat itu aku tengah berkunjung untuk menemui seseorang. Lalu saat tengah hari, tiba-tiba langit yang semula cerah menjadi mendung. Saat itu pula muncul monster-monster dari dalam hutan. Mereka menghancurkan  rumah-rumah juga membunuh beberapa orang."

"Monster muncul dari dalam hutan? Bukankah selama ini tidak ada monster? Setahuku hutan di dekat desa Osaka adalah hutan yang aman, aku sering melewati hutan itu." Elanus ikut berbicara.

"Em ... Hamba p-pernah mendengar, bahwa setiap hutan dihuni oleh monster. H-hanya saja, monster itu bangkit bila dikendalikan oleh sihir pengendali." Sentrasenda tak bisa untuk tak ikut berbincang.

"Kau benar. Para monster itu memang dikendalikan. Yang bisa mengendalikan para monster adalah sang Raja iblis, Ambrigio Agafya." Sirakusa memandang Sentrasenda sebentar, lalu beralih memandang Sirena yang tertidur, "Simbol mawar hitam di kening Putri Sirena bisa menjadi sebuah pertanda."

"Pertanda? Apa maksudmu?"

"Dua hari lalu, saat siang hari, kening Sirena bersinar merah, bukan?" Elephas dan Elanus mengangguk, "Tepat saat itu, langit yang cerah seketika mendung, bukan?" Mereka berdua kembali mengangguk. Sirakusa menjentikkan jemarinya.

Ctak

"Itulah maksudku. Simbol mawar hitam di kening Putri Sirena menjadi sebuah pertanda akan adanya kejadian yang berkaitan dengan Raja iblis, salah satunya adalah serangan monster. Tetapi, dengan munculnya sinar merah itu membuat tenaga Putri Sirena terkuras dan jatuh sakit seperti sekarang." Jelas Sirakusa.

'Oh begitu ya? Pantes aja! Raja iblis sialan! Berani-beraninya buat ulah dan gue kena imbasnya juga!' Sirena, wanita itu sudah sadar sejak tadi. Hanya saja dia memilih terpejam setelah tahu bahwa ada perbincangan yang menarik.

"Tetapi itu juga pertanda buruk untuk Putri Sirena. Bagaimanapun simbol itu muncul karena ada kaitannya dengan Raja iblis. Putri Sirena bisa saja kehilangan kendali atas dirinya." Lanjut Sirakusa.

Krughhh ~

Sirena merutuki cacing-cacing diperutnya yang berdemo keras meminta makan. Hal itu tentu membuatnya ketahuan kalau dia sudah sadar.

Sedangkan ke empat lelaki itu langsung memandang ke arah Sirena setelah mendengar bunyi kelaparan itu.

Sirakusa menyeringai, "Elanus, bisakah aku membuat adikmu tertidur lebih lama lagi? Aku hanya tak ingin kau terlalu mengkhawatirkan orang sepertinya yang suka berpura-pura."

'Kampret! Sirakusa ngajak ribut mulu sama gue! Awas aja lo, Sirakusa kampret!'

Sirena membuka matanya, raut wajah kesal langsung dia tujukan pada Sirakusa yang memandangnya sembari menyeringai.

"Siapa orang yang kau bilang suka berpura-pura, HAH?" Sirena menunjuk wajah Sirakusa dengan kesal.

Sirakusa tertawa pelan, "Tentu saja, Anda, Tuan Putri Sirena ... Bukankah Anda sudah tahu bahwa Pangeran Putra Mahkota Elephas menjengukmu? Lalu Anda berpura-pura masih tak sadarkan diri, siapa yang tahu?"

Sirena membulatkan matanya mendengar tuduhan itu. Sirena bahkan refleks terduduk, "APA MAKSUDMU, SIRAKUSA SIALAN! AKU?"

"Kau sengaja menarik perhatian Pangeran Putra Mahkota Elephas," balas Sirakusa santai.

'WOILAH KUAMPRET TENAN!'

Hidung Sirena kembang kempis saat ini, "Heh, dengar ya, Tuan Efarish Sirakusa Kartago yang terhormat ... DENGAR!"

"ARGHH RAMBUTKU, ASTAGA! PUTRI, LEPASKAN RAMBUTKU!"

"ASTAGA SIRENA!"

Ya, Sirena menjambak rambut Sirakusa dengan kuat, "AKU ADALAH SIRENA! Akan mengejar apa yang pantas dikejar, dan melupakan apa yang pantas dilupakan. Salah satu halnya adalah ... DIA!" Sirena menunjuk Elephas, "AKU SUDAH MELUPAKAN ELEPHAS DALAM HIDUPKU!"

Elephas dan Elanus masih berusaha melepas tangan Sirena dari rambut Sirakusa. Beruntung Elanus berhasil, dia kini memeluk Sirena dari samping sembari menahan kedua tangan Sirena.

"LEPASKAN AKU, KAK EL! AKU HARUS MEMBERI PELAJARAN UNTUK TAI KUDA INI!" Sirena masih dipenuhi emosi.

Sirakusa merapikan rambutnya kembali sambil menatap tajam Sirena, "Siapa yang kau maksud tai kuda, hah?" Sikap formal yang digunakan Sirakusa kepada Sirena kini sudah hilang.

"KAU! SIRAKUSA TAI KUDA!"

Sirakusa memijit pelipisnya yang seketika terasa pening, "Sepertinya kau tengah kerasukan roh jahat, aku akan mengeluarkannya." Sirakusa mulai mendekati Sirena yang masih ditahan oleh Elanus.

"Sudahlah, Sirakusa. Sebaiknya kau diam! Aku kuwalahan menahannya saat ini!" Perintah Elenus pada temannya itu.

"Pangeran Elephas, bisakah kau membawa keluar Sirakusa?"

"Tentu saja." balas Elephas, Elephas beralih menatap Sirakusa yang seolah-olah tengah mengibarkan bendera perang dengan Sirena, "Sirakusa, sebaiknya kita keluar. Biarkan Sirena meredakan emosinya."

Sirakusa akhirnya pergi, meninggalkan Devita bersama Elanus. Setelah kepergian dua orang itu, Sentrasenda ikut pergi.

Krughh ~

Setalah lumayan tenang, perutnya kembali berbunyi. Sirena lantas meneguk minuman yang tersedia di nakas sebelah ranjang.

"Mau sekesal apapun, kau harus menahannya, Sirena ... Sirakusa bukanlah orang sepertiku yang akan mengerti dirimu." Elanus memandang dalam Sirena.

Tak

Sirena meletakkan gelas di atas nakas hingga berbunyi, kemudian Sirena membalas tatapan Elanus, "Bukan aku yang memulai, Kak. Kenapa harus selalu aku yang berada diposisi menahan? Aku selalu menahan diri, menahan emosi selama ini, tapi apa? Dengan seenaknya orang memperlakukanku hingga aku kehilangan kesabaran." Mata Sirena berkaca-kaca.

"Kak El tidak pernah tahu posisiku seperti apa dan bagaimana. Aku selalu terasing hanya karena aku anak selir dari rakyat biasa. Banyak orang menghina, aku tak pantas menjadi bagian keluarga kerajaan Willamette, bahkan Ayahanda sendiri turut memperlakukanku seperti itu. Kak El tidak pernah tahu bagaimana hancurnya hatiku ..." Sirena menangis.

Melihat Sirena menangis, Elanus langsung membawa Sirena ke dalam pelukannya, mengusap kepala Sirena dengan penuh kelembutan.

"Setelah hari dimana aku diputuskan bebas dari hukuman mati, aku benar-benar bersyukur akan kehidupan yang masih bisa kujalani saat ini. Maka dari itu, aku ingin berubah. Aku ingin mencari kebahagiaanku sendiri, bahkan sekalipun tanpa kalian."

"Jangan berkata seperti itu, Sirena! Aku tak suka mendengarnya!" Elanus mengurai pelukannya, tangannya berpindah memegang kedua pundak Sirena, "Dengar, sekarang kau memiliki aku. Aku selalu siap bila kau membutuhkan sesuatu. Jangan merasa sendiri."

Sirena mengangkat sudut bibirnya, "Kak El bahkan diam saja saat aku menginginkan nyawaku. Apa aku harus mempercayai Kak El?"

Seketika Elanus diam membisu, dia tertohok dengan ucapan Sirena. Sirena benar, dia masihlah seorang Pangeran yang pengecut, "Itu adalah kesalahan yang ingin selalu kuperbaiki. Kalau aku bisa, aku ingin memutar waktu, agar aku bisa menebus kesalahanku. Maafkan aku," sesal Elanus.

Sirena melepas tangan Elanus dari pundaknya, kemudian Sirena berbaring lalu membelakangi Elanus, "Waktu tak pernah bisa diputar kembali, Kak El, sedangkan ingatan selalu bisa diputar berkali-kali. But, thanks for all ... Now, you can go."

Elanus diam dalam keterkejutan, 'Sirena bisa berbicara bahasa bangsa Alphard? Bagaimana bisa? Sirena bahkan tidak masuk akademi.' Elanus lantas bangkit.

"Sekali lagi aku minta maaf, Sirena. Aku tahu aku bukan saudara yang baik." Elanus mengusap kepala Sirena. Setelahnya Elanus keluar dari kamar Sirena.

Setelah kepergian Elanus, Sirena sadar, pembicaraan tadi adalah pembicaraan yang menguras emosinya untuk pertama kali dihadapan Elanus, saudaranya. Biasanya Sirena lebih menjadi orang yang penurut mendengar setiap ucapan Elanus, hingga membuat Elanus senang dan menganggapnya sebagai adik. Untuk pertama kali, Sirena yang sekarang berjiwa Devita, mencurahkan isi hati terdalam milik Sirena asli yang selama ini dipendam hingga hampir membusuk. Curahan hati Sirena.

...•───────•°•❀•°•───────•...

Terimakasih sudah membaca.

Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)

Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?

1
Rana Syifa
aku suka ceritax author... cara penulisanx jg bagus... jd bisa d bedaiin yg lg ngomong langsung sama yg ngomong d hati....intix gk buat bingung,,tanda bacax jg tepat
makasih thor udh menghibur kami...tetap semangat untuk berkarya/Good//Good//Good//Heart//Heart//Heart//Heart/
Rana Syifa
kasian si raja iblis udh rela dia mau jadi manusia untuk sirena
Faizah Faizah
ini cerita fantasi paling keren yg pernah ku baca sejauh ini sih,,,,,
Sita Sit
kerennnn bgt ceritanya,aku sampai maraton dari semalam baca
Kagome01
perfect
Dede Mila
mulai
Kagome01
bagus banget ceritanya thor
cuma ada beberapa keadaan yg ga sinkron jadi membuat pembaca sedikit males untuk lanjut/mencari tahu lebih banyak. contohnya adalah ketika di satu pihak sedang darurat dan pihak lain meminta bantuan tapi masih terselip lelucon jadi rasa serius membaca puncak cerita jadi hilang.
terus fokus utama atau pemeran wanita utama lebih bagus memiliki cukup banyak andil pas puncak menegangkan dari cerita.
karna jika kelamaan itu menyebab emosi pembaca terkuras dan berakhir tidak tertarik untuk sekedar memberi like.
its real ya dari aku
terlepas dari itu aku suka ceritanya
slamat berkarya Author
untuk cerita ketiga sudah the best!
stay focus ya
Risya_cute
gue udah nebak lho klo itu Ayana 😁
Rina Setiana
Luar biasa
Rina Setiana
Lumayan
Riskiati Nurkafi
tanbahin extra part dunk kak irene sama sirakusa balik lagi ke vulcan gitu biar bisa kumpul sama yg lain
Gian Ganevan
bagus ih awal cerita udah diceritakan tokoh yg punya kekurangan, konsep awalnya bagus yaa.. ga selalu tokoh itu sempurna
Arisa Nandini
setahun skli yaa kk update nya
Arisa Nandini: ku kira gk update lgi smpe lupa aq jln crtanya
total 2 replies
lilyrose
up up up
lilyrose
marathon baca sampai episode ini, thanks thor ceritanya keren
awal baca sempet ga connect dengan alurnya ditambah nama tokoh yg panjang dan agak susah di eja 😁 tp aku tetap baca akhirnya nyambung juga🤭
good job thor🤗
pipit_vie: terimakasih, ajak temenmu mampir ceritaku yaaaa🥰
total 1 replies
pembaca novel
masih nyimak
Gigih Tyas
lanjut dong thor selalu nungguin kelanjutan ep ny ya
Anonim
lanjut dong thor sampe endig ditunggu pokoknya!
Ros Ita
Kren sumpah
Rana Syifa: suka banget ceritax thor
total 1 replies
Ros Ita
waduh siapah nih yang akan di pilih sirene
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!