Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.
Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.
"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"
Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....
(MASIH DALAM TAHAP REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
"Tas lo ketinggalan di mobil gue. Tiga hari gue bolak balik ke tempat lo kerja tapi lo nya gak ada."
"Iya gue izin dua hari buat nemenin Bundanya temen gue yang masih berduka. Hari ketiganya emang hari libur gue."
"Kirain pindah kerja lagi ... Oh ya, gue turut berduka cita ya atas kepergian pacar lo."
"Tau dari mana lo, dia pacar gue?"
"Kan lo pernah update story whatsapp." Tara menganggukan kepalanya pelan, wajahnya berubah mendung saat Vano mengingatkan kembali akan kenangannya dimalam ia jadian dengan Amir diatas bianglala.
Beberapa hari ini Tara berusaha untuk tegar dan ikhlas atas kepergian Amir tapi Vano kini mengingatkannya kembali.
"Em, ayo gue anter pulang." Tara hanya menganggukan kepalanya kembali, kenangan kebersamaannya bersama Amir dan yang lain kini kembali berputar dikepalanya.
Merasa ada yang berubah dari raut wajah Tara, Vano sadar jika perkataannya barusan adalah penyebabnya. Selama diperjalanan Vano berfikir bagaimana cara memecah keheningan. Hingga tanpa sadar tercetuslah kalimat berikut.
"Selama motor lo belum balik, gue anter lo kerja ya."
Perkataan Vano berhasil menyita kesadaran Tara. Tara mendongakkan kepalanya sedikit kesamping guna melihat wajah pengendara didepannya.
Vano dapat melihat Tara yang memandanginya dari samping kiri.
"Em, gue ngerasa bersalah aja. Seharusnya gue anter tas lo kerumah lo aja, tapi ... gue lupa rumah lo. Ya, gue lupa." Vano menyengir kuda ditatap intens oleh Tara.
Tidak ada sahutan dari Tara hingga tak terasa motor yang dikendarai Vano telah tiba didepan rumah Tara. Tara turun dari motor memasang wajah sinis kearah Vano. "Kalo mau bohong itu, difikir baik-baik."
Tara berlalu meninggalkan Vano yang masih mencerna perkataannya. Baru beberapa langkah, Tara memutar tubuhnya menatap Vano tajam. "Buat tawaran lo tadi ... Lupain aja, gue bisa naik ojek." Lalu melanjutkan kembali langkahnya tanpa berpamitan ataupun berterimakasih pada pria yang masih diatas motornya itu. "Lupa ya lupa, tapi udah nyampe sini aja tanpa petunjuk arah," gerutu Tara.
Keesokan pagi, Vano terlihat berada didepan jalan rumah Tara. Sudah setengah jam ia duduk diatas motornya itu, tapi yang ditunggu tidak nongol juga.
Tepat pukul tujuh, seorang gadis manis seusia Deska terlit keluar dari rumah yang ditinggali Tara. Dengan kantuk yang telah ditahannya sedari tadi, ia mendekati gadis manis itu.
"Hey ... Tunggu."
Gadis itu menatap Vano yang berlari kearahnya. "Kamu adiknya Tara ya?" tanya Vano setelah berada dihadapan gadis itu.
Gadis itu mengangguk tanpa suara. "Kenalin nama Kakak, Vano. Temennya Kakak kamu." Vano menjulurkan tangannya dan dibalas gadis itu.
"Aku kemala panggil Mala aja Kak, adik bungsu Kak Tara. Ada apa ya, Kak?"
"Kakak kamu udah berangkat kerja?"
"Masih tidur tuh, shift siang kayaknya." Vano terbengong mendengar jawaban gadis manis bernama Kemala itu.
"Sial, sia-sia dong gue!" batin Vano.
Vano menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa bertanya tentang jam kerja Tara semalam.
"Em, jam berapa biasa dia berangkat, Mal?"
"Entah." Mala mengedikkan bahunya. "Biasanya sebelum dzuhur dia mandi, trus abis sholat langsung make up," sambungnya kemudia.
Vano kembali menggaruk kepala kemudian mengusap tengkuknya.
"Sorry nih, Mal. Dzuhur itu apa ya? Dan ... Sholatnya jam berapa?" Mala tercengang mendengar pertanyaan Vano.
"Nih orang gak pernah sholat apa?" batin Mala.
"Kakak non muslim," ujarnya kikuk saat melihat raut kebingungan Mala. Sedangkan gadis itu hanya ber oh ria mengerti.
Setelah mendapatkan jam keberangkatan Tara dari Kemala. Vano pulang kerumah untuk melanjutkan tidurnya yang sempat transit, setelah pukul dua belas siang Vano membersihkan diri lalu bergegas kembali ke kediaman Tara.
Lama Vano menunggu, hingga hampir satu jam kemudian Tara terlihat keluar dari rumahnya dengan tas ransel dibalik punggung dan mata yang fokus pada ponsel ditangan kanannya.
Vano menebak jika Tara saat ini sedang memesan ojek online. Tanpa membuang waktu, Vano mendekati Tara dengan helm yang telah stand by diatas tangki bensin motor.
"Hai, Tar." Sapa Vano tepat dihadapan Tara.
"Ngapain lo."
"Ayok, nanti lo telat lagi."
"Gak, makasih!" Tara memfokuskan pandangannya pada ponsel genggamnya.
Melihat Tara yang mengacuhkannya selama beberapa menit, Vano turun dari motornya lalu menarik paksa ponsel ditangan Tara.
Vano meletakkan ponsel Tara dalam saku celana jens pendeknya. Ia mengabaikan Tara yang berteriak kecil meminta ponselnya. Vano menaiki kembali motornya telah bersiap, ia menaik turunkan alisnya pada Tara yang berwajah masam.
Tak mau membuat keributan yang akan mengakibatkan keluarganya keluar rumah, dengan sangat terpaksa Tara menerima bantuan sukarela Vano yang ingin mengantarnya kerja.
Vano tersenyum tipis saat tangan Tara berada diatas kedua bahunya. Sepanjang perjalanan tak ada satupun yang membuka suara hingga mereka tiba di tempat tujuan.
"Ponsel gue." Tara menadahkan telapak tangannya.
"Selama motor lo belum balik, gue anter jemput lo sebagai tanda maaf gue ya, Tar."
"Ponsel gue." Tak menghiraukan seruan Vano, Tara mengarahkan tangannya kedepan muka Vano.
"Iya dulu." Begitupun Vano yang masih kekeh dengan tawarannya.
Tara terus meminta ponselnya tanpa menghiraukan sedikitpun ucapan Vano. Namun Vano tak mau kalah, ia melakukan hal yang sama dengan apa yang Tara lakukan.
Dengan terpaksa Tara mengiyakan tawaran Vano karena para rekan kerjanya terus mengamati mereka dari dalam toko.
"Tapi mulai besok lo masuk pagi ya, Tar. Gue kerja jam sepuluh jadi kalo lo masuk siang gue gak bisa nganter lo kecuali minggu."
"Lo kira ini mini market punya nenek gue bisa ngatur jam kerja sesuka hati!" ketus Tara.
"Yaudah kalo gak mau." Vano memutar kemudi motornya bersiap akan pergi bersama ponsel Tara yang masih disakunya.
"Vanoo, iiih iya gue masuk pagi. Puas lo! Sini balikin ponsel gue." Raut kesal tercetak jelas diwajah ayu Tara.
"Oke, nanti sore gue kesini lagi. Awas lo nipu gue."
"Kalo mau nganter gue pake motor matic aja bis gak sih? Pegel nih kaki gue nyangga tubuh gue biar gak merosot terus" Vano terkekeh lalu mengiyakan. Ia menyerahkan ponsel Tara lalu segera pulang kerumah karena cuaca sedang panas-panasnya.
Tara memasuki toko dengan wajah ditekuk, ia melakukan finger lalu masuk kedalam gudang tanpa menyahuti seruan para rekan kerjanya atas apa yang terjadi didepan area toko tadi bersama Vano.
Tara bingung apakah bisa menukar shift selama satu minggu. Dan alhamdulillah, teman-temannya mau diajak kerja sama asalkan di minggu selanjutnya Tara full siang.
Selama satu minggu Tara selalu diantar jemput oleh Vano saat bekerja. Awalnya Tara sempat kesal setiap saat Vano menjemputnya, namun sisi lain dari seorang Devano dapat membuatnya merasa nyaman.
Bahkan saat Tara libur pun pria itu selalu saja mendatangi rumahnya atau sekedar menelfon disiang hari. Sangat mengganggu waktu rebahan Tara, namun disisi lain ia juga menyukainya karena selain mengusir bosan, Vano juga salah satu penyemangat untuknya menjalani hari setelah kepergian sahabat terbaiknya, Amir. Bahkan perlahan Tara sudah bisa mengikhlaskan kepergian Amir meski sesekali jika teringat kenangan diatas bianglala malam itu membuat air mata Tara gugur.
Entah bagaimana pria itu melakukannya, Tara rasa Vano sejenis pria yang berpengalaman dalam menakhlukkan wanita.
Hari ini Tara ditemani Vano mengikuti sidang untuk menebus motornya, tak lupa jika yang membayar dendanya adalah Vano karena pria itu masih diliputi rasa bersalah atau sekedar modus, entahla.
Vano sengaja mengajak Tara naik kendaraan umum agar saat pulang nanti mereka bisa pulang bersama.
"Tar, nonton yuk," ajak Vano saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Ada film apa?"
"Gak tau, liat aja disana. Gimana? Kapan lagi coba kita bisa libur bareng gini!"
Tara mengiyakan saja, toh dia juga tidak ada kegiatan apapun lagi. Tara bukan tipe orang yang suka stay didalam rumah. Jika kerjaan diluar sana sudah selesai maka ia akan mencari rumah temannya yang bisa disinggahi. Biasanya kostan Rena menjadi tempat favoritenya untuk sekedar menumpang tidur, tapi Rena saat ini sedang sibuk mengurus kepindahannya keluar kota, dan minggu depan dia akan segera pindah.
Setelah tiba diantrian tiket bioskop, Tara dan Vano memilih film action. Lagi-lagi Tara teringat kali terakhir ia nonton bioskop bersama Amir. Tara berusaha melupakan Amir, ia tidak mau terus-terusan bersedih. Amir akan selalu menjadi sahabat terbaiknya dan seharusnya dia senang karena Amir sudah tidak akan lagi merasakan sakit ditubuhnya.
Kehadiran Vano yang sedikit gokil dapat membuat mood Tara menjadi baik lagi, Vano seolah mengerti perasaan yang ada dihati Tara.
"Perasaan, awal kita ketemu beberapa bulan lalu, lo itu sombongnya minta ampun banget deh. Kenapa sekarang bisa berubah secepet ini? lo itu berubah 330° tau gak."
"320°" Vano membenarkan.
"Iya sangkin banyaknya perubahan lo itu sampe kelewatan. Iiihhh, gue serius Devanoooo."
Vano hanya terkikik pelan mendengar pertanyaan Tara yang begitu penasaran akan sifatnya yang berubah dari sebelumnya.
Vano bisa berubah seperti ini, ia juga tak faham kenapa bisa. Tiba-tiba semuanya terjadi seiring berjalannya waktu tanpa ia rencanakan dan ia sadari.
"Sebernya Kak Vano gak sombong kok, Kak. Dia begitu karena menutupi kesedihannya setelah putus dengan pacarnya. Gak tau tuh apa penyebabnya sampai dia berubah jadi judes gitu ke semua wanita." Begitulah penuturan Deska saat ia menanyakan hal serupa seperti yang ia tanyakan pada Vano saat ini.
"Deska bilang lo galau karena diputusin pacar lo!" lanjut Tara saat melihat Vano hanya tertawa tak jelas.
Vano masih tak menanggapi rasa penasaran Tara sampai gadis itu memberengutkan wajahnya sebal.
Setelah film selesai, mereka melanjutkan langkahnya menuju restoran cepat saji yang berada didalam mall tersebut. Rasa lapar karena tak menyentuh makanan sedari sidang hingga selesai film membuat mereka berdua menghabiskan hidangan diatas meja resto dengan khidmat tanpa pembicaraan selama acara makan mereka selesai.
"Hheeeuugghh ... Alhamdulillah." Tara bersendawa didepan Vano tanpa rasa malu kemudian berucap syukur dengan suara pelan yang masih bisa Vano dengar.
"Sebenernya apa yang dikatakan Deska tidak sepenuhnya benar." Tara mendongakkan wajahnya menatap Vano yang berucap secara tiba-tiba.
******
Jangan lupa, Like, *Come**nt*, serta Vote nya ya..
Jazakamallah khair All..