Setelah kedua orang tuanya wafat akibat insiden kecelakaan pesawat, Anya diasuh oleh mantan asisten rumah tangga mereka.
Meski hidup dalam kesederhanaan, Anya tetap merasa bahagia bersama keluarga barunya, hingga tiba-tiba sahabat baik sang ayah datang mencari gadis itu.
Guna membalas budi akan kebaikan keluarganya dahulu, serta pengorbanan yang pernah Anya lakukan pada putra sulungnya, Maxim berencana menikahkan Anya dengan sang putra yang notabene adalah cinta pertamanya.
Akankah Anya mampu menjalani kehidupan pernikahannya dengan bahagia? Terlebih ketika mengetahui fakta bahwa sang suami ternyata berperangai kasar dan telah memiliki seorang kekasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Mantan kekasih semasa sekolah
"Awww!" Anya mengaduh kesakitan karena untuk ketiga kalinya dagu gadis itu membentur meja makan.
Malam ini Anya tengah menunggu kepulangan Axton seraya menahan kantuk. Semenjak kemarahan Callista waktu itu, Axton jadi jarang sekali pulang ke rumah. Kalau pun pulang, pria itu akan lebih memilih tidur di sofa ruang televisi dari pada di kamar bersamanya.
Anya bangkit dari tempat duduknya guna melihat jam yang sudah menunjukkan pukul satu pagi.
"Sepertinya dia tidak pulang lagi," gumam Anya. Tak ingin berlama-lama menunggu, Anya bersiap naik ke kamar untuk tidur. Namun, suara gaduh tiba-tiba terdengar dari pintu depan.
"Kak!" tegur Anya pada Axton yang tengah membuka sepatunya asal-asalan. Gadis itu menghampiri Axton kemudian mencium tangannya.
"Pergi!" hardik Axton sembari menghentak tangan Anya kasar. Pria itu rupanya sedang mabuk.
Anya berinisiatif merangkul Axton dan memapahnya menuju ke kamar. Gadis itu tidak menghiraukan segala sumpah serapah yang terlontar dari mulut sang Suami.
Dengan susah payah Anya membawa Axton dan menidurkannya di atas ranjang, lalu membuka kaos kaki yang tidak sempat Axton buka, dan mengambil baskom berisi air hangat untuk membasuhnya.
Anya yang memang tidak berniat macam-macam tanpa ragu membuka kancing kemeja Axton satu persatu. Gadis itu tertegun sejenak, tatkala mendapati bekas sayatan yang berada di perut Axton.
Matanya berkaca-kaca. Dirabanya sayatan tersebut dengan sangat pelan dan penuh kehati-hatian.
Mengingat bagaimana Axton masih bisa bernafas hingga saat ini, tentu membuat hati Anya benar-benar sangat bahagia.
Akan tetapi, seolah menyadari sesuatu, raut wajah Anya tiba-tiba berubah.
Axton tidak boleh merokok dan minum alkohol!
"Apa Ian tidak tahu kondisi Axton?" gumam Anya. Sepertinya Anya harus bicara dengan Ian ketika bertemu nanti.
Anya segera membersihkan wajah Axton dan juga tubuhnya. Tidak lupa ia juga menggulung celana Axton sebatas betis untuk membasuh kaki pria itu. Setelah selesai Anya mengambil kaos bersih dari lemari Axton dan memakaikannya.
Mata Anya masih sibuk memandangi Axton yang kini tertidur pulas. Sesekali dengan gemas Anya menyentuh sedikit bulu mata lentik milik Axton.
Puas memainkan bulu mata pria itu, Anya memilih pergi dari sana. Ia akan tidur di fitting room malam ini demi menghindari kemurkaan sang suami pagi harinya.
Begitu Anya hendak melangkah, tiba-tiba seseorang menangkap pergelangannya, dan menarik gadis itu hingga terjerembab di atas ranjang.
Anya sontak terbelalak saat mengetahui Axton kini membelit tubuhnya seperti guling, dengan mata terpejam.
Mungkinkah Axton sedang mengigau?
Dirasa sudah nyaman, Axton kembali melemaskan tubuhnya dan tidur. Anya tidak bisa memberontak, sebab sedikit saja menggerakan tubuhnya, Axton akan langsung mengeratkan pelukan.
...*****...
Waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi, dan Anya sudah terbangun sejak tadi. Namun, gadis itu tidak bisa beranjak dari sana karena kaki Axton membelit kakinya.
Anya dapat merasakan embusan napas Axton. Jantungnya benar-benar berdegup kencang.
Anya mengumpat dalam hati, berharap suara degupannya tidak terdengar sampai ke telinga pria berhati dingin itu.
Untuk sementara Anya memilih menikmati momen langka tersebut. Biarlah ia dicap mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Disaat-saat itu, Anya akan menggoda sang suami dengan menyentuh wajah tampannya.
Nyaris seluruh bagian dari wajah Axton sudah disentuh Anya, terkecuali bibir tipis pria itu.
Jantung Anya semakin berdegup kencang, kala ujung jarinya dengan kurang ajar menyentuh bibir tipis sang suami.
Anya yang ketagihan dengan tekstur lembut bibir Axton, segera menggeser kepalanya agar semakin mendekat. Jari lentiknya berusaha menekan lebih dalam bibir itu dan ....
"X, pemotretan sebentar lagi da ... ups, sorry!"
"AWW! SHIT!" Suara Axton yang mengaduh kesakitan akibat didorong kasar oleh Anya menggelegar memenuhi ruangan apartemen mereka.
Anya panik setengah mati saat mendapati Ian membuka pintu tanpa mengetuk. Ia yakin Ian melihatnya tengah menjahili Axton.
"I ... ini ti ... tidak seperti yang kau lihat!" pekik Anya frustasi. Matanya kemudian menoleh pada Axton yang tengah memelototinya penuh amarah.
Ian meringis canggung. Pria itu lupa, Anya kini ikut menghuni kamar apartemen Axton.
"It' oke, aku akan menunggu di bawah!" kata Ian cepat sembari menggaruk lehernya.
Anya buru-buru membantu Axton bangkit dari lantai sembari meminta maaf.
"Gadis sial! Kalau mau membunuhku bukan begini caranya!" umpat Axton sambil melepaskan tangan Anya kasar dan pergi menuju kamar mandi.
Anya menggigit bibirnya, rasa ingin menangis dan malu bercampur menjadi satu.
Setelah insiden menghebohkan itu selesai, mereka kini telah duduk di meja makan untuk sarapan. Kebetulan Ian dengan sukarela membuatkan roti bakar untuk mereka.
Delia yang baru saja datang langsung dihadiahi tiga set pakaian yang akan Axton pakai di lokasi syuting pada Delia.
Axton sendiri sudah mengetahui perihal kerjasama antara Anya dan Delia soal kegiatannya sehari-hari, dan kini Anya mengambil alih keperluan Axton di rumah.
Setelah selesai sarapan mereka pun pamit pergi. Delia keluar rumah lebih dulu lalu disusul Axton. Namun, saat Ian hendak ikut keluar, Anya tiba-tiba menarik pelan lengan kemeja pria itu.
"Ada apa Anya?" tanya Ian penasaran. "Kalau menyangkut insiden pagi tadi, aku benar-benar minta maaf, aku lupa ji–"
"Bukan itu!" potong Anya buru-buru. Wajahnya kembali merah padam setiap mengingat kejadian itu.
Ian mengernyitkan dahinya. "Lalu?"
"Apa kau tahu kondisi X? Kau tahu, kan, dia tidak boleh merokok dan minum alkohol?" tanya Anya dengan nada tak sabaran.
Ian melemaskan otot wajahnya. "Ahh, tentu saja aku tahu. Dia memang tidak merokok, tapi untuk minum sudah berkali-kali aku melarangnya."
Anya terdiam, tampak tidak puas dengan jawaban pria itu.
Melihat hal tersebut, Ian kembali melanjutkan perkataannya. "X sebenarnya tidak kuat minum banyak. Ia hanya mampu meminum dua shot glass saja. Jadi, kalau kau mengkhawatirkan X, tenang saja, aku selalu rutin memeriksakan kondisi kesehatan X setiap bulan."
Anya bernapas lega. Gadis itu meminta Ian untuk lebih ketat menjaga Axton dan memperhatikan pola makan pria itu.
Ian berjanji akan melakukannya. "Kau istri yang baik Anya, X benar-benar bodoh telah menyia-nyiakan istri sebaik dirimu."
Setelah melontarkan pujian tersebut, Ian menepuk bahu Anya sekali dan pamit pergi.
Anya tersenyum mendengarnya. Setidaknya ia ingin dikenang seperti itu, setelah mereka berdua bercerai nanti.
...*****...
Anya baru pulang dari pasar swalayan guna berbelanja bahan makanan. Dengan susah payah gadis itu berhasil menenteng lima kantong belanjaannya seorang diri.
Anya mengusap peluh yang mengalir di dahinya. Selangkah lagi ia akan sampai. Ia hanya perlu menjejakkan kaki dalam lift saja.
Ting!
Pintu lift terbuka, Anya menunduk untuk mengangkat barang-barang belanjaan tersebut, sembari meminta tolong pada orang di dalamnya agar sudi menahan pintu lift sejenak.
Satu buah jeruk menggelinding ke dalam lift dan berhenti di ujung sepatu seorang pria. Pria itu lantas mengambil jeruk tersebut lalu keluar dari lift. Tanpa bicara, ia langsung mengambil tiga buah kantung belanjaan Anya.
"Terima kasih," ucap Anya sembari menoleh ke arah si pria. Mata mereka sontak terbelalak, saat saling bertatap muka.
"Mas Daffa?"
"Loh, Savanna?"
Semangatt terus berkarya nya 💪💪💪💪