[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado Untuk Bima
Jumat siang sepulang sekolah, Papa menjemput Mayang. Bima berpapasan dengan mereka di gerbang, melambaikan tangan dan kembali melaju dengan motor trailnya.
Papa sudah berjanji akan mengantarkan Mayang ke kota. Di sana mungkin tak selengkap toko yang ia jumpai di Jakarta. Tapi semenjak sore itu, ia menghubungi semua toko kamera yang paling lengkap barang dan stoknya. Meminta yang terbaik untuk disiapkan dan akan diambil pada Jum'at siang. Hal yang mudah bagi Haris. Apapun yang terbaik untuk Mayang. Sudah biasa ia lakukan semenjak mereka kembali ke Jakarta.
Pemilik toko itu mengeluarkan pesanan Papa Mayang. Diletakannya satu persatu alat keluaran terbaru itu di atas etalase display. Mayang menatap Papanya tak percaya, senang sekaligus terkejut. Papanya pura-pura tak melihat, hanya tersenyum tipis. Mayang menggandeng lengan Papanya. "Makasih, Pa," bisiknya.
"Ini kameranya. Ini lensa-lensanya. Ini tripod, ada stabilizer juga. Nah, ini microphone. Memory card ada beberapa, tinggal pilih," pemilik toko itu menjelaskan satu-persatu barang.
"Ini kartu garansinya dan kuitansi, silakan ditandatangani."
Papa Mayang mengurusnya, sementara Mayang mengagumi hadiah barunya. Pemilik toko menjelaskan dengan singkat. Mayang bilang nanti temannya sudah paham cara pakainya. Ia berpikir, Mas Bima sudah jago mengoperasikannya.
Besok makan malam di rumah Bima, Mayang ingin memberinya hadiah. Papanya mengajaknya mengunjungi toko tak jauh dari situ.
"Apa yang Bima suka?" Papanya bertanya.
Mayang tak yakin, ia menyusuri rak-rak mini figure itu begitu saja. Setahunya Mas Bima tidak terlalu suka. Action figure? Ah enggak. Ia melewatkan rak itu kembali. Lalu perhatiannya tertuju pada mini figure motor trail. "Kayak motornya Mas Bima", Mayang berseru dalam hati.
Mayang memberi isyarat pada Papanya. Papanya mendekat. Mayang menunjuk miniatur motor trail itu. Papanya mengangguk setuju.
Sepanjang perjalanan pulang seperti biasa, Papanya memutar lagu-lagu favorit Mamanya di mobil. Mayang bersenandung riang. Di tangannya sebuah kotak hadiah terbungkus manis.
***
Sore itu seseorang mengetuk pintu rumah Mayang. Bukan Mbok Jum yang datang. Mayang sedikit terkejut. Namanya Pak Agus. Begitulah ia memperkenalkan diri.
"Kata Bapak, saya diminta kesini Non," katanya setalah Mayang mempersilahkannya duduk di kursi tamu teras luar.
"Ooh, panggil Mayang aja, Pak."
"Wah, saya nggak enak, Non."
"Yaudah, Mbak Mayang aja mungkin Pak?" Mayang merasa sungkan sendiri. Ia sudah terbiasa dipanggil Mbak oleh Mbok Jum. Tak berapa lama kemudian Papanya pulang.
Mereka berbincang. Mayang mengeluarkan dua cangkir berisi teh manis.
"Pak Agus udah lama bisa nyetir mobil? Bapak punya SIM?"
Pak Agus mengangguk cepat. "Ya, udah sekitar 3 tahun, Pak. Biasa bawa mobil pickup, buat ngangkut sayuran ke kota. Saya berangkat malam, pulang menjelang subuh. Biasa ke pasar induk dekat Kabupaten sana, Pak," jelasnya.
"Yaudah, hari Minggu besok coba antar saya dulu ke Pabrik ya, Pak."
Mereka lalu mengobrol sebentar, lalu Pak Agus pamit pulang.
Mayang keluar membereskan bekas gelas minum tamu. Papanya memintanya duduk.
"Jadi Papa rencananya mau nyari sopir buat antar jemput Mayang ke sekolah. Papa bingung. Mulai Senin depan ada teknisi khusus yang datang dari Brunei untuk mengatur ruang produksi dan mesin-mesin. Sekitar sebulan mungkin kalau pekerjaan selesai sesuai jadwal. Ya, Papa pengin bisa selesai secepatnya, tapi kondisi lapangan kan tidak menentu. Papa lumayan menyita waktu hampir 2 jam bolak-balik jemput Mayang pulang sekolah. Jarak pabrik sama sekolah lumayan juga. Mayang nggak apa-apa, kan?"
Mayang tak pernah mempermasalahkan itu sedari dulu. Tapi Papanya sendiri yang bersikeras harus mengantar dan menjemputnya sendiri. Ia begitu khawatir meninggalkan putri kesayangannya bersama orang asing.
"Nanti hari Minggu Papa coba minta antar sendiri dulu deh ke Pabrik. Semoga cocok ya. Susah banget nyari sopir di sini, nggak kayak di Jakarta," ada nada kekawatiran dalam kata-kata Papanya. Mayang tahu betul. Papanya tak mudah percaya pada siapapun.
Sore itu juga sebuah mobil baru datang. Chevrolet Trailblazer keluaran terbaru berwarna putih terparkir di garasi. Kata Papanya mobil itu rekomendasi temannya. Cocok untuk medan daerah ini yang berbukit-bukit dan menanjak jalannya. Warnanya putih, warna favorit Mayang.
"Emang nggak bisa ya sopirnya pakai mobil Papa aja terus nanti balik lagi ke Pabrik?"
"Nanti repot. Lebih nyaman ini juga kayaknya. Bagus kan, Mayang suka? Coba lihat interiornya. Ayo coba lihat dalamnya," Papa Mayang terdengar antusias. Mayang mengikutinya.
"Mayang pengin bisa nyetir mobil sendiri," Mayang mencoba kursi penumpang di jok barisan depan dan memaju-mundurkannya. Terasa nyaman. Ia rebahkan sedikit sandarannya.
"Nanti ya, Papa takut. Kalau Mayang udah punya KTP nanti Papa ajarin nyetir," Papanya tertawa.
"Papa takut nanti Mayang kemana-mana sendiri, nggak butuh Papa antar lagi," imbuhnya.
"Mas Bima bisa nyetir mobil sendiri. Keren ya, Pa."
"Nanti Mayang juga bisa. Kan Bima udah cukup umur. Udah boleh punya SIM juga."
Mayang jadi ingat pacar Kak Alex, cewek itu keren juga bisa bawa mobil sendiri. Mayang tertawa geli dengan ingatannya sendiri. Dulu ia begitu kecewa dan ingin cepat dewasa. Kak Alex, apa kabarnya sekarang?
***
Mayang Dan Papanya berangkat dari rumah selepas jam 7 malam. Mereka mengenakan jaket tebal. Tentu saja udara di tempat ini bisa membuat orang menggigil kalau malam tiba. Nanti katanya mereka akan membuat api unggun di samping rumah. Mereka akan berkemah kecil-kecilan. Membuat tenda mini di samping api unggun. Membakar jagung dan juga ikan dan ayam kampung. Bima mengirim whatsaap foto tenda itu sedari sore. Mayang semakin tak sabar. Katanya dia sama Om Wira yang bikin. Om Wira datang bersama dua temannya.
Hari ini hari spesial Bima. Dan juga Mama...
Mayang dan Papanya tak lupa melakukan hal yang biasa mereka lakukan setiap tahun begitu tanggal itu tiba.
Sekeranjang mawar putih mereka taburkan di bawah pohon kapuk samping rumah.
Papa menaruh bangku kayu di situ. Mereka berdua mengobrol sambil menikmati angin dan sesekali melihat kapuk-kapuk yang pecah beterbangan di udara.
"Mama pasti senang sekarang. Karena Papa udah melakukan hal yang seharusnya Papa lakukan sejak dulu," Pria itu membuka suara. Ada nada rindu dalam kata-katanya.
"Mayang juga berdoa buat Papa. Mayang nggak pengin Papa sedih terus dan menghukum diri dalam rasa sesal. Mayang maafin Papa, tanpa Papa minta maaf. Mayang sayang Papa. Masa lalu ya sudahlah biarkan berlalu. Sekarang ada Mayang, ada Papa. Kita semua saling sayang."
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹