Hatiku selalu dibuat deg-degan setiap ada cowok yang mendekatiku. Apakah ini tandanya aku mudah jatuh cinta?. Tidak, itu hanyalah ilusi sesaat bagi seorang introvert sepertiku.
Aku Inara Nuha, gadis pendiam yang tak pandai bergaul selama 2 tahun ini. Aku masih ingin mempertahankan rekor tersebut. Tapi, pada akhirnya aku yang di kelas 12 ini harus terlibat dengan dunia anak sekolah yang rumit seperti puzzle, yaitu cinta.
Jika kamu tidak mampu memahaminya sedikit saja maka kamu akan salah dan akan timbuh banyak salah paham. Padahal, Aku tidak ingin mempunyai beban pikiran yang seperti itu.
Cinta harus hadir di masa-masa akhir sekolahku. Kelas 12 yang seharusnya fokus belajar dan mementingkan kelulusan di depan mata harus aku bagi dengan problematika cinta yang datang tak terduga. Apakah aku bisa bahagia dengan ini? Bisakah aku menyelesaikannya?
Yuk, ikutin kisah aku. Semoga seru dan berkesan 😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu, mau ngapain?!
Matahari, mulai menaikkan levelnya hingga menyilaukan mata dan memusingkan kepala. Cahaya panasnya menembus ke jendela kelas tambahan D. Membuat para siswa mulai tidak fokus menyelesaikan tugas dari guru mereka.
"Baik anak-anak, satu minggu lagi tryout pertama akan datang. Tolong apa yang sudah guru ajarkan pada kalian, kalian pelajari ulang ya. Bapak harap, kalian bisa mengerjakan tryout dengan mudah dan mendapat hasil yang terbaik"
"Baik pak!", sahut seluruh siswa.
Beruntung kelas berakhir lebih awal. Setelah mengerjakan tugas dari guru, pembelajaranmu dinyatakan selesai. Nuha keluar dari kelas tambahannya dan ingin kembali ke kelasnya menemui ketiga sahabatnya.
"Nuha, tunggu!"
Nuha pun menoleh, dia langsung kaget tangannya dipegang Naru. "Na- Na- Naru, A- Ada apa?"
"Kok kamu langsung pergi sih?"
"E- Emangnya kenapa?"
"Iya gakpapa sih, tapi kan"
Ziya datang menyela perbuatan Naru, "Hei Naru, kamu kenapa pegang-pegang tangan Nuha? Mau modus ya?!"
"Eh? Maaf, gak sengaja"
Nuha memiringkan kepalanya lagi karena bingung dengan maksud Naru, sedangkan Naru langsung berlalu begitu saja. Naru pun tersenyum tanpa sepengatahuannya.
Nuha berjalan keluar kelas, dia tidak tahu kalau Naru masih menunggunya di luar. Seketika Naru menarik Nuha ke dinding kelas, "dug"
"Na- Naru, kamu mau ngapain?!"
Nuha bersandar di dinding dan Naru ada di hadapannya. Naru mengunci pergerakan Nuha dengan kedua tangannya ia tahan di dinding.
Hati Nuha mulai berdebar-debar lagi. Pipinya memerah, berat rasanya menghindari grogi dan malu-malu menghadapi cowok itu. "Ada apa Naru?"
"Nuha, Apa aku terkesan buruk di mata kakakmu?"
"Eh?"
"Soalnya, setiap kakakmu melihatku, dia terlihat serius dan menyimpan kekesalan yang amat dalam"
"Itu.. Hehe, gimana ya?", balas Nuha memalingkan mukanya karena tidak ingin menanggapinya secara serius.
Naru menatapnya sejenak. Melihat si DOI tidak bisa memberikan jawabannya, dia pun menghela nafas.
"Tapi gakpapa lah. Aku akan berusaha sendiri", balas Naru. Lalu dia melepas Nuha dari penjara kedua tangannya.
"Beru-saha? Untuk apa?"
"Untuk dapar persetujuan dari kakakmu donk."
"He?!"
Naru tertawa dan memberikan senyuman, "Udah Nuha, gak usah dipikirin. Aku kan cowok. Tadi, aku cuma merajuk saja kok. Maaf yah."
"Maaf ya Naru", hanya itu yang bisa Nuha katakan.
"Jangan minta maaf, santai aja Nuha. Ya udah, balik dulu gih. Nanti dicariin BFF kamu lagi."
"Iya" Nuha berjalan meninggalkan Naru, sesekali ia melihat ke arah Naru. Sesekali ia melihatnya lagi dan Naru masih saja tersenyum.
Naru semakin hari semakin terlihat tampan. Dan Nuha masih bingung harus bersikap bagaimana. Ia masih merasa seperti anak kecil yang tidak bisa bersikap dewasa menghadapi perkembangan kehidupan anak sekolah, apalagi anak Sekolah Menengah Akhir.
"Kamu itu bahagia gak sih suka sama Naru? Lagipula, diakan juga suka sama kamu. Kok kamu bingung?" tanya Hawa menyelidik.
"Aku bingung mau jawab apa"
"Gak ada salahnya kan mencoba."
"Me- mencoba? Mencoba apa?"
"Pacaran donk." Saran Hawa dengan enteng.
"Eng- enggak ah. Aku gak mau ngecewain kakak. Lagipula, pacaran itu gak semudah itu, Hawa."
"Iya sih, kamu bener. Seperti prolog awalmu kan Nuha. Melibatkan diri dengan orang lain aja itu sangat merepotkan, apalagi harus punya pacar. Kamu pasti juga enggak serius akan merelakan zona nyamanmu itu kan?" Jelas Hawa.
"Tentu saja. Ini sungguh perasaannya yang merepotkan. Tapi, jujur.. Jujur Hawa.."
"Jujur apa?"
"Jujur, aku sekarang menjadi lebih bahagia. Hidupku seperti dipenuhi kegembiraan. Hatiku rasanya selalu berbunga-bunga."
"Iya, semoga seperti itu terus ya Nuha, perasaanmu selalu bahagia dan jauh dari rasa kesepian", Hawa menyetujui kejujuran perasaan Nuha.
Nuha, Asa, Fani dan Sifa kembali bertemu di depan kelas 12F Multimedia. Tidak disangka, Asa, Fani dan Sifa juga mengalami kepusingan akibat tugas di kelas tambahannya masing-masing dan teriknya panas sang matahari.
"Gila! Hari ini panas bener. Bahkan aku sampe gak bisa fokus ngerjain tugas dari guru", keluh Sifa terus menggerutu, diikuti Asa.
Fani yang mendapat ranking kedua saja mengeluh kesusahan mengerjakan soalnya, "Iya, aku juga merasa kesusahan ngerjainnya".
Nuha dan ketiga sahabatnya pun menghela nafas panjang di kursi teras kelasnya. Menghela nafas, menghela nafas sampai beberapa kali.
Muha dan temannya melewati mereka. Teman Muha berhenti berjalan tepat di hadapan Nuha dan ketiga sahabatnya. Ia terpaku kepada seorang gadis yang duduk diantara mereka. Seorang gadis berambut pendek, terlihat judes tapi Manis baginya.
Nuha dan Muha saling melempar tatapan petir satu sama lain. Ketiga sahabatnya mulai bingung.
"Ha-halo kak Muha" Sapa ketiga sahabat Nuha.
"Ka-kak Muha bawa te-teman ya?" Sifa mencoba mencairkan suasana.
"Hai, aku temannya Muha. Kenalin, aku Yuki, panggil aja Kak Yuki", balas Yuki. Dia langsung menawarkan tangan pertamanya kepada Asa.
Yuki, Sayuki Malik. Pria tampan berkulit putih seputih salju dengan rambutnya yang pirang. Berkaca mata bulat dan sangat ramah. Sahabat Muha yang sama-sama telah menyelesaikan skripsinya. Dialah yang ikut mengajar di kelas bersama Muha.
Asa hanya cuek tidak membalasnya. Sifa langsung menyosor seperti bebek. Ia menerima langsung tangan Yuki dan menjabatnya dengan perasaan gembira.
"Aku, aku Sifa kak."
"Mulai deh. Playgirlnya beraksi" sindir Asa.
Sifa hanya terkikik sendiri.
Kak Yuki membalas jabat tangan Sifa namun menatap ramah ke arah Asa.
Asa mengernyitkan dahinya sedikit curiga tapi ia mengabaikannya. Ia memang anti cowok dan anti cinta. Mana mungkin Yuki bakalan naksir padanya.
Sifa pun langsung menyadarinya kalau Yuki bakalan naksir Asa. Tapi ia mencoba menguji keduanya dengan sedikit mengganggu mereka. Sifa mulai memikirkan rencana-rencana liciknya.
Mencoba untuk bisa tenang menjalani kehidupan sekolah memang tidak semudah itu. Setiap hari sekolah bukan berarti setiap hari hanya akan monoton menuntut ilmu, belajar dan bertemu teman.
Akan ada saatnya sebuah takdir yang mencoba usil untuk mengubah perjalanan itu. Dan kebanyakan akan takdir itu adalah melibatkan diri terhadap orang lain.
Tentu saja hubungan dengan orang-orang itu akan menimbulkan banyak hal baru yang tidak terduga. Entah itu masalah ataupun anugrah.
Anak sekolah juga harus bisa menghadapi kehidupannya yang berkaitan dengan diluar harapannya. Ada pertemanan, persahabatan, cinta, permusuhan, persaingan dan toleransi.
Anak-anak yang mudah bergaul akan santai-santai saja menjalani hubungan pertemanan itu. Permusuhan dan perdebatan sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka.
Namun, anak-anak yang lebih memilih diam dan menikmati zona nyamannya sendiri akan merasa kesulitan jika suatu saat mereka harus dihadapkan dengan sebuah hubungan dan konflik pertemanan.
Saling mendukung satu sama lain itu sangatlah penting. Jadi, milikilah sahabat. Tak peduli kalian memiliki kepribadian yang bagaimana. Tetap saja, MILIKILAH SAHABAT.
\\😚// \\😆// \\😭//
\\😚// \\😆// \\😭//
\\😚// \\😆// \\😭//
\\😚// \\😆// \\😭//
\\😚// \\😆// \\😭//
\\😚// \\😆// \\😭//
\\😚// \\😆// \\😭//
\\😚// \\😆// \\😭//
\\😚// \\😆// \\😭//
\\😚// \\😆// \\😭//
\\😚// \\😆//
ceritanya ringan dn cukup menghibur. thanks author