Sejak Tuhan menitipkan sebuah janin dalam rahim seorang ibu. Sejak itu pula Tuhan telah menuliskan TAKDIRnya.
Hidupnya, masa depannya, kisah cintanya, jodohnya, bahkan sampai bagaimana cara dia meninggal.
Itu semua sudah tertulis indah dan sempurna di langit.
Pun, begitu dengan kisah cinta Daniel dan Ayara. Kisah cinta mereka tidak berjalan dengan mulus. Takdir membawanya ke dalam masalah-masalah yang pelik tak berujung.
Akankah keduanya bisa bertahan, sampai bahagia itu datang?
Atau justru mereka menyerah, dan membiarkan takdir mengambil alih semuanya?
Ikuti kisah selengkapnya!
A story'by Myhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu selera
"Pa," panggil Ayara.
Lelaki yang sedang fokus menatap layar tab di pangkuannya itu menoleh, menatap putrinya yang datang dengan seorang pria di sampingnya.
"Ini, Arjun, dia sengaja datang ingi bertemu Papa," jelas Ayara yang menyadari gurat tanda tanda tanya di raut muka papanya.
"Selamat malam, Om. Saya Daniel, maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu santai anda," ucap Daniel seraya menghampiri lelaki yang akan menjadi mertuanya tersebut. Daniel meminta tangan pak Riza-papa Ayara untuk mencium tangannya.
"Daniel?" tanya Pak Riza tidak faham, sebab putrinya mengatakan bahwa nama pacarnya adalah Arjun.
Daniel mengangguk pelan, "Daniel Arjun," ralatnya.
"Oh, iya, Daniel. Mari, silahkan duduk." Pak Riza menyambut kedatangan Daniel dengan ramah.
Ia membenarkan duduknya, seraya melepaskan kacamata dan menyimpan tab di atas meja. Sementara Ayara pamit kebelakang hendak memanggil sang mama serta membuatkan minum.
"Saya kira kamu tidak akan datang secepat ini?" ucap Pak Riza dengan senyum tipisnya.
Pasalnya baru kemarin ia meminta pada Ayara supaya mengajak Daniel datang, yang awalnya ia kira lelaki itu tidak akan berani memenuhi permintaannya karena menurut cerita Ayara dia masih terikat oleh sang kakak.
"Saya sangat mencintai Ayara, Om, bagaimana mungkin saya akan melewatkan kesempatan berharga ini," jawab Daniel mantap.
Dalam hatinya ia juga merasa tidak enak karena sudah berani datang melamar Ayara pada orang tuanya tanpa izin keluarganya, Daniel hanya takut kesempatan untuk memiliki Ayara akan hilang jika ia tidak segera mengikatnya.
Pak Riza tersenyum lebar mendengar jawaban Daniel. Dari raut wajahnya, Daniel tidak terlihat gugup saat berhadapan dengannya. Sepertinya pemuda itu sangat pandai menguasai hatinya, dari cara bicaranya yang sopan serta pembawaan yang tenang menambah nilai plus di mata pak Riza.
"Lalu bagaimana dengan kakakmu? Bukannya kamu masih mempunyai kakak yang belum menikah?" tanya Pak Riza lagi.
Daniel tersenyum canggung, "Benar, tetapi dia akan segera melamar gadis pilihan papa minggu depan."
Kali ini pak Riza yang mengangguk mendengar jawaban Daniel, "kamu sudah siap menikah setelah kakakmu menikah nanti, karena saya dan istri saya harus pindah kek Australia untuk mengurus pekerjaan di sana mungkin sampai tiga atau empat tahun," ucap Pak Riza, tatapannya semakin serius pada pemuda yang duduk di hadapannya.
"Misalkan diizinkan oleh orang tua saya, hari ini pun saya siap menikahi Ayara," jawab Daniel tak kalah serius.
"Hahaha.. ternyata kamu bisa bercanda juga." Pak Riza tertawa mendengar jawaban Daniel yang menurutnya lucu.
"Saya serius, Om," ucap Daniel menghentikan tawa di bibir lelaki setengah baya itu.
Pak Riza mencondongkan tubuhnya, dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut ia menatap tajam pemuda itu.
"Memang kamu punya apa sehingga berani menikahi anak saya hari ini?" tanyanya.
"Saya punya cinta yang tidak akan pernah bisa diberikan lelaki manapun untuk gadisnya." Daniel ikut mencondongkan badan, dengan posisi yang sama mereka seperti sedang perang dingin.
"Serius banget sih," kata Bu Elma-Mama Ayara.
Pak Riza dan Daniel merubah posisi duduk mereka menjadi santai seperti tadi, mereka sama-sama menghela napas sejenak.
Bu Elma menaruh beberapa camilan di atas meja diikuti Ayara yang ikut meletakkan dua cangkir kopi di hadapan dua pria tercintanya, gadis itu melirik Daniel dalam diam.
Bu Elma ikut duduk di samping suaminya, sementara Ayara memilih duduk bersama Daniel. Kedua wanita itu sama-sama menyodorkan cangkir kopi pada lelakinya masing-masing.
"Sepertinya selera kita sama, Nak Daniel. Mungkin kita akan menjadi mertua dan menantu yang cocok," ucap Pak Riza yang sedang memegang cangkir kopi, membuat Daniel yang hampir meminum kopinya mendadak urung. Keningnya mengernyit bingung, begitu pula dengan Ayara.
Mereka berdua saling pandang sejenak untuk mencerna ucapan dari pak Riza barusan, bahkan bu Elma pun tak kalah bingung.
Pak Riza yang menjadi sorotan semua orang, dengan santainya ia meletakan cangkir kopi kembali diatas meja. Seolah tidak ada yang salah sama sekali pada perkataannya tadi.
"Saya merestui hubungan kalian, segeralah menikah," ucapnya.
Bersambung..
Cianjur-11-Juni-2021