Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06. Secercah Cahaya di Meja Makan
Keesokan paginya, cahaya matahari yang cerah sudah membanjiri kamar melalui celah tirai jendela.
Alden terbangun dengan kondisi tubuh yang terasa sedikit lebih segar dibanding malam sebelumnya.
Meski nyeri tumpul di bagian kanan perutnya masih sesekali terasa, setidaknya rasa pusing yang sempat menyerangnya di bandara kemarin sudah hilang sepenuhnya.
Ia perlahan bangkit dari tempat tidur, lalu merentangkan kedua tangannya hati-hati agar otot-otot tubuhnya yang kaku terasa lebih ringan.
Senyum kecil tanpa sadar terbit di wajahnya. Ia merasa benar-benar tidur di tempat yang bisa disebut rumah.
Pagi yang indah. Dan mungkin saja, pikir Alden lirih dalam hati, ini adalah salah satu dari sedikit pagi indah yang masih tersisa untuknya.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian rapi berupa kemeja biru muda yang membuat wajahnya terlihat lebih segar, Alden akhirnya keluar dari kamar.
Begitu membuka pintu, aroma masakan yang harum langsung tercium bahkan hingga ke lantai dua.
Wangi makanan hangat dari dapur membuat perutnya yang sejak tadi kosong ikut bereaksi, berbunyi pelan menandakan rasa lapar yang mulai datang.
Alden tersenyum kecil, lalu berjalan perlahan menuruni tangga.
Langkahnya sengaja diperlambat agar tubuhnya tidak terlalu cepat kelelahan.
Ia sadar betul, kondisinya sekarang tidak lagi sekuat dulu. Sedikit aktivitas saja terkadang sudah cukup membuat tubuhnya kehilangan tenaga.
Saat kakinya baru saja menapak di lantai dasar, Bi Inah sudah muncul dari arah dapur dengan wajah cerah penuh semangat.
Sepertinya wanita itu memang bangun jauh lebih pagi dibanding penghuni rumah lainnya.
"Wah, Mas Alden sudah bangun rupanya. Selamat pagi, Mas!" sapa Bi Inah riang sambil mengelap kedua tangannya pada celemek yang dikenakan.
"Selamat pagi, Bi," balas Alden sambil tersenyum hangat.
"Tidurnya nyenyak, kan, semalam? Subuh tadi hujannya lumayan deras. Udara pagi ini jadi enak sekali."
Alden mengangguk kecil.
"Nyenyak banget, Bi. Kasurnya empuk, kamarnya juga adem. Jauh beda sama kasur di flat Alden di Perth."
Bi Inah terkekeh.
"Memangnya kenapa dengan kasurnya?"
Alden ikut tertawa kecil.
"Kerasnya kayak papan, Bi. Kalau tidur terlalu lama, yang istirahat badan atau kasurnya Alden juga nggak tahu."
Bi Inah langsung tertawa mendengar jawaban itu.
"Ya ampun, Mas Alden bisa saja."
Melihat Bi Inah tertawa, Alden ikut tersenyum.
Namun tak lama kemudian, kening Bi Inah berkerut pelan.
"Eh, ngomong-ngomong plet itu apa, Mas?"
Alden terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.
"Maksud Alden flat, Bi. Itu rumah kontrakan, semacam apartemen."
"Oh..." Bi Inah mengangguk-angguk, meski raut wajahnya masih terlihat bingung.
"Bibi mana ngerti istilah begitu. Flet, flet pula." Ia terkekeh pelan, menggelengkan kepala sendiri.
"Lucu-lucu saja bahasa anak zaman sekarang."
Alden hanya tertawa kecil.
"Ayo, Mas Alden duduk dulu di meja makan. Bapak sama Ibu sudah menunggu dari tadi," lanjut Bi Inah sambil berbalik menuju dapur dengan langkah cepat.
"Katanya mau sarapan bareng Mas Alden yang akhirnya sudah pulang ini."
Alden mengangguk pelan, lalu berjalan menuju ruang makan.
Benar saja, Pak Armanto dan Ranti sudah duduk di sana dengan piring yang sebagian terisi makanan hangat.
Begitu melihat Alden datang, wajah keduanya langsung berubah cerah seketika.
Tatapan mereka penuh rasa lega dan bahagia, seolah kehadiran Alden pagi itu menjadi cahaya yang kembali menghidupkan rumah tersebut.
“Selamat pagi, Mas Alden!” sapa Ranti lebih dulu dengan senyum lebar.
Namun di balik itu, kekhawatiran tetap tampak jelas di matanya.
“Tidurnya bagaimana semalam? Nyenyak, kan?” tanyanya cepat penuh perhatian.
“Ada yang sakit atau kurang nyaman? Kalau ada apa-apa, sedikit saja, langsung bilang ke Ibu, ya.”
“Selamat pagi, Bu… Pa. Alden tidur nyenyak, kok. Bangun-bangun badan rasanya jauh lebih ringan,” jawab Alden sambil menarik kursi di sebelah kanan Ranti, tempat duduk yang dulu selalu ia pakai sejak kecil.
“Jangan terlalu khawatir terus, Bu. Nanti Ibu yang malah sakit sendiri.”
Ranti tersenyum tipis, sementara Pak Armanto perlahan menuangkan air hangat ke dalam gelas putranya.
“Ibu memang nggak bisa berhenti khawatir,” ucap Pak Armanto lembut.
“Bagi Papa dan Ibu, kamu ada di rumah ini saja sudah cukup membuat kami tenang.”
Pagi itu, meja makan dipenuhi berbagai hidangan bergizi yang disiapkan khusus untuk Alden. Bubur ayam hangat dengan suwiran daging melimpah, telur rebus, roti gandum panggang, potongan buah segar yang tertata rapi, hingga susu hangat dengan madu di sampingnya.
Ranti benar-benar memperhatikan setiap asupan makanan Alden. Semua dipilih dengan hati-hati, seolah setiap sendok makanan harus memberi manfaat bagi tubuhnya.
Alden makan dengan perlahan namun lahap, sesekali menanggapi pertanyaan ringan dari ayah dan ibu tirinya sambil tersenyum kecil.
Suasana pagi itu terasa hangat dan damai, dipenuhi percakapan sederhana yang jujur dan tanpa beban.
Untuk sesaat, Alden berharap waktu bisa berhenti di momen seperti ini.
Momen yang selama ini hanya hadir lewat panggilan video dan suara di telepon, kini benar-benar ada di hadapannya.
Setelah sarapan selesai, ia sempat membantu membereskan meja makan, meski Bi Inah beberapa kali langsung mencegahnya.
“Mas Alden duduk saja, biar Bibi yang bereskan,” protes Bi Inah sambil buru-buru mengambil piring dari tangannya.
Alden hanya tertawa kecil.
“Sesekali biar Alden bantu, Bi. Jangan karena baru pulang terus diperlakukan seperti tamu.”
Candaan ringan itu membuat suasana semakin hangat, bahkan Bi Inah ikut tersenyum sambil menggeleng pelan.
Sembilan tahun di Perth membuatnya sudah terbiasa melakukan hampir segalanya sendiri, dari hal kecil seperti memasak makanan sederhana, mencuci pakaian, hingga mengatur ritme hidupnya tanpa bergantung pada siapa pun. Kebiasaan itu masih melekat, seolah sudah menjadi bagian dari dirinya yang sulit hilang meski kini ia sudah kembali ke rumah yang penuh orang yang peduli padanya.
bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏