Hai...
salam kenal dari saya, penghuni baru Noveltoon.
Saya coba up karya saya, semoga bisa menghibur.
Cerita tentang dua pria yang bersahabat dan mencintai satu gadis yang sama, namun akhirnya salah satu dari mereka harus mengalah demi sahabatnya.
Wanita itu adalah Azizah yang dari pertama sudah menyukai Gibran namun cinta mereka gagal bersemi, dan kedua lelaki tampan itu adalah Gibran dan Gery, mereka telah bersahabat sedari kecil karena ayah mereka bekerja pada satu bidang yang sama yaitu pejabat pemerintahan dikotanya.
Gibranpun harus merelakan Azizah untuk Gery, namun ternyata sifat Gery yang playboy masih saja melekat padanya meskipun ia sudah memperistri Azizah yang pernah Gibran cintai.
Lalu bagaimana cerita selanjutnya?
check it out gaesss....
happy reading....😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Srie Moelyanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebersamaan yang indah
Azizah yang sedang berlari dari kekalutan masalah, membuatnya khilaf sampai kedua bibir tersebut bertemu hingga saling mengecap dengan lembut, menikmati desiran yang selama ini hilang dari sisi hati Azizah juga Gibran.
dor..dor..dor..
Suara pintu digedor dari luar.
" Gibran, buka pintunya!"
Suara Gery membuat kedua insan yang sedang menikmati dosa itu terkejut.
" itu suara Gery."
Gibran seolah meminta saran pada Azizah sebelum ia membukakan pintu untuk Gery.
" bilang, Zizah gak ada disini."
Azizah langsung masuk kekamar tidur Gibran, menutup pintu kamar dan bersembunyi didalam lemari pakaian Gibran.
Gibran menghela napas panjang, bersiap menghadapi Gery yang sepertinya akan menanyakan keberadaan Azizah.
Ceklek,
suara pintu terbuka.
" Mana Azizah?"
Gery langsung menyenggol Gibran yang berada didepan pintu dan menerobos masuk kerumah Gibran.
Gery mengedarkan pandangannya kesetiap sudut rumah Gibran, tak terkecuali kamar yang terdapat Azizah didalamnya.
" sudah puas? apa perlu aku bantu mencarikan istrimu?"
Nada Gibran seolah menyentil kekalutan Gery, namun Gery tak menggubris perkataan Gibran.
Pencariannya tak membuahkan hasil, ia langsung melengos keluar rumah Gibran tanpa berpamitan atau sekedar basa basi busuk pada sahabatnya itu.
Gibran pun mengikuti Gery sampai ia benar-benar keluar dari halaman rumahnya dan segera mengunci pintu pagar rumahnya, melanjutkan langkahnya kedalam rumah dan mengunci pintu.
" Za, keluarlah. Gery sudah pergi."
Gibran mengedarkan matanya kedalam kamar, ia hanya berpikir, dimana Azizah bersembunyi, sampai Gery tak menemukannya.
Setelah mendengar perkataan Gibran, Azizah pun keluar dari lemari pakaian Gibran dengan rambut acak-acakan dan wajah bersimbah keringat karena kepanasan.
Melihat Azizah keluar dari lemarinya, Gibran terkekeh melihat keadaan Azizah yang menurutnya lucu dan menggemaskan.
" Mas Gery udah pergi?"
Azizah celingukan, berjalan mengendap-ngendap kearah Gibran yang berada didepan pintu kamar.
Gibran melangkahkan kakinya kearah tempat tidur dan duduk di atasnya.
" sini, duduk."
Gibran menepuk tempat tidur disebelah yang ia duduki.
Azizah mengikuti perintah Gibran untuk duduk sampingnya.
" Mau sampai kapan kamu lari dari Gery?"
Gibran hanya menyilangkan kedua tangannya diatas dada bidangnya.
Azizah hanya menggeleng pelan, ia masih bingung dengan keputusan yang ia ambil, bercerai dengan Gery.
" Zizah sudah meminta cerai sama Mas Gery, Kak."
Azizah hanya memainkan ujung baju yang ia pilin-pilin.
" Za, apapun keputusanmu, semoga yang terbaik buat kamu dan Satria, putramu... Dan, apakah kamu sudah memikirkannya matang-matang?"
Gibran meraih kedua tangan Azizah dan menggenggamnya.
" Zizah udah yakin, Kak. Zizah udah capek, mempertahankan pernikahan ini, sama saja mempertahankan masalah dalam hidup Zizah, Zizah udah capek, Kak."
Tangis Azizah kembali pecah, Gibran menarik kepala Azizah untuk bersandar pada dada bidangnya dan mengelus ujung kepala wanita yang ia cintai.
" Sebaiknya kau bicarakan dengan Gery baik-baik. Aku akan selalu ada dibelakangmu."
Azizah berusaha mengusap air mata yang sedari tadi mengalir bak sungai yang habis terguyur hujan lebat.
" Azizah cuma bingung, Kak. setelah Ziza bercerai dengan Mas Gery, Zizah gak punya siapa-siapa lagi Kak."
" aku akan selalu ada buat kamu, Za."
Gibran mengambil jarak antara keduanya dan mengusap air mata Azizah yang masih deras.
" makasih ya, Kak."
Gibran mengacak ujung kepala Azizah disertai senyum tipis pada bibir seksinya.
" oia, Ziza laper, Kak. bukannya tadi Kakak nawarin sarapan ya?"
Azizah tampak malu-malu.
" iya, tadi aku udah masak mie rebus, tapi mungkin sudah mengembang sepuluh kali lipat."
Gibran mengingat mie rebus yang sedari tadi ia masak.
Azizah hanya tersenyum melihat wajah Gibran yang merengut karena mie instannya sudah melar alias mengembang kelamaan.
" ya udah, Zizah gantiin masakin Kakak."
Azizah bergegas menuju dapur rumah Gibran dan mulai mengambil bahan-bahan yang akan ia masak untuk sarapan pagi ini.
" Kak, ada nasi gak?"
Azizah menengok sekilas kearah Gibran yang sedang menjadi mandor didapur, sambil menyiapkan peralatan masaknya.
" hmm.. gak ada."
Gibran dengan wajah tampannya disertai senyum tipis yang manis.
" yah, gak jadi deh masak nasi gorengnya, ya udah Zizah masak nasi dulu deh. ganti menu. Mana berasnya?"
Azizah menatap kearah Gibran yang sedang menyenderkan badannya di lemari pendingin.
" tuh, disana!"
Gibran menunjuk kolongan meja masak yang tertutup.
Azizah menundukkan badannya dan membuka kolongan meja dapur yang seperti lemari kayu sebagai penutupnya. Ia pun mulai mengambil beberapa gelas beras untuk ia masak.
Ia mulai mencuci beras diatas washtafel, dan mulai memasukkannya kedalam magic com.
Sambil menunggu nasi matang, Azizah dengan terampil menyiapkan bahan makanan dan memotong-motong sayuran untuk dibuat tumis. Setelah selesai memotong, lalu ia segera mencuci sayuran.
Sambil menunggu sayurannya ditiriskan, ia mengiris bawang dan cabai untuk bumbu tumis sayurannya.
" Kak Ibam, suka pedes kan?"
Azizah bertanya sambil tetap mengiris bumbu.
" hhm.. suka, tapi jangan banyak-banyak cabe nya ya!"
Gibran tak henti memperhatikan Azizah yang sedang memasak.
" Ok!"
Azizah mengacungkan jempolnya.
" Aw.."
Azizah terkena pisau dapur, membuat Gibran langsung menghampirinya dan memegangi jari telunjuk Azizah yang mengeluarkan tetesan darah lalu menghisap darah yang menetes dari jari telunjuk Azizah dengan mulutnya dan meludahkan darah ke tong sampah.
" Hati-hati Za..."
Gibran tampak sangat panik melihat Azizah terluka walau sedikit.
Kembali tatapan mereka bertautan dan membuat desiran asmara yang semakin kuat antara mereka.
" udah, Kak. ga apa-apa, udah biasa kalo lagi iris mengiris suka gini."
Azizah melepaskan tangannya yang masih ada dalam genggaman Gibran.
" lain kali hati-hati ya. aku ambilkan plester dulu."
Gibran bergegas menuju ruang tengah yang disana terdapat kotak P3K.
Ia segera kembali dan membawa plester untuk Azizah.
Gibran pun memasangkan plester ke jari telunjuk Azizah dengan hati-hati.
" Masih sakit gak?"
Azizah menggelengkan kepalanya disertai senyum semanis madu.
" enggak, Kak. makasih ya. Zizah terusin lagi masaknya."
Azizah kembali meraih pisau dapur dan melanjutkan kegiatannya membuat bumbu.
" Aku tinggal sebentar ya. Kalau perlu bantuan panggil aku saja."
Gibran melangkah ke ruang tamu meninggalkan Azizah yang sedang berkutat dengan masakannya.
" okey"
setengah jam kemudian, masakanpun sudah selesai dan Azizah menatanya diatas meja makan.
" Kak, makanannya udah siap, ayo makan."
Azizah berteriak memanggil Gibran, namun Gibran tak menyahut sama sekali.
Beberapa menit kemudian, Azizah bergegas menuju ruang tengah memanggil Gibran untuk makan karena panggilannya tak mendapat sahutan dari Gibran.
Ashhh..
Ternyata Gibran sedang tertidur diatas Sofa ruang tamu.
" Kak, bangun. makan dulu."
Azizah menggoyangkan tubuh Gibran dengan lembut, namun Gibran tak bergeming
ia seolah sudah larut dalam mimpi.
" Kak, banguuun, makanan sudah siap. cepetan, nanti keburu dingin."
Azizah mencoba mengguncang tubuh Gibran lebih keras.
" hmm..."
Gibran hanya mendengus dan matanya masih sangat berat.
Berniat meninggalkan Gibran yang masih tertidur, Azizah hendak berdiri dan ternyata Gibran memegang tangan Azizah dan menahannya untuk tetap duduk disofa sebelah tubuhnya yang masih terbaring.
Azizah menoleh ke wajah Gibran yang tetap tampan walaupun baru bangun tidur.
Mata mereka bertemu dengan mesra, tatapan yang seolah mewakili perasaan mereka membuat mereka hanyut dalam indahnya tatapan hangat dari seorang yang saling mengasihi.