Menjadi Single Daddy tak pernah terbayangkan oleh Adrian Malvero. Karena memang dia belum pernah menikah, ataupun memiliki anak.
Hanya saja, dia terpaksa menerima gelar itu untuk menggantikan orang tua bayi mungil yang baru saja berumur satu tahun. Bayi itu adalah anak kakanya, yang meninggal bersama istrinya saat mengalami kecelakaan tunggal.
Dari kecelakaan itu, hanya anak mereka yang selamat, dan keluarga dari istri kakaknya juga menolak kehadiran bayi tak berdosa itu. Apakah Adrian mampu merawat seorang bayi, atau malah menyerah dan mencarikan orang tua adopsi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SD - 13. Kesedihan Abiyan
"Apakah aku anak, Haram?" tanya Abiyan dengan mimik muka yang sangat sedih. Entah kenapa pikiran itu yang selalu ada di otaknya, saat mendengar penuturan Andre.
Abiyan gak bisa terima jika dirinya benar anak Haram, atau orang tuanya sudah berpisah. Abiyan gak mau menjadi anak brokenhome, apalagi teman Abiyan juga ada yang memiliki keluarga brokenhome. Hidup temanya gak pernah tenang, dan selalu menangis.
Seketika air mata Abiyan langsung menetes. Abiyan sungguh menolak jika itu benar-benar terjadi, Abiyan ingin orang tuanya bersatu kembali.
"Abi, jangan nangis. Nanti Tante cari cara sama Om, agar mereka bisa bikin adek. Tapi jangan berpikiran yang jelek dulu, barangkali mereka sedang bertengkar atau apa," ucap Ica sambil memangku Abiyan.
Abiyan tak menjawab, dia langsung menyembunyikan wajahnya di leher Ica. Abiyan terus saja menangis, hingga suara itu terdengar menyayat hati.
Ica memandang Andre. Ica memberikan isyarat apa yang harus mereka lakukan saat ini, karena jujur saja dia juga bingung harus bagaimana saat ini.
"Emm, Abi mau mereka bersatu gak?" Abiyan yang mendengar ucapan Andre langsung melepaskan pelukannya pada Ica.
Abiyan langsung mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Andre. Abiyan ingin orang tuanya utuh, tidak berpisah seperti biasanya.
"Abiyan kalau tidur bertiga, atau sendirian?"
"Sendiri, Om."
Andre pun menghembuskan napas sangat kasar. Setelah itu Andre mengacak-acak rambut Abiyan, karena melihat kepolosan di mata Abiyan.
"Coba nanti kalau kamu pulang, bilang sama mereka kamu minta tidur bertiga. Kamu bisa melihat dia sana, bagaimana gelagat mereka. Canggung atau tidak, jika tidak mereka baik-baik saja, tapi jika mereka canggung berarti mereka gak pernah ada hubungan." Andre berusaha menjelaskan apa yang harus Abiyan lakukan.
Seketika Abiyan memikirkan apa yang di maksud Andre. Setelah beberapa menit, Abiyan baru paham. Jika dirinya harus melihat orang tuanya baik-baik saja, atau sedang marahan.
"Kalau gitu aku mau pulang sekarang saja, Om. Aku mau tidur bertiga sekarang saja, gak mau nunggu nanti. Abiyan mau liat expresi mereka seperti apa, tapi jika mereka benar-benar sudah berpisah aku harus apa?" tanya Abiyan yang kembali murung.
"Maka tugas kamu menyatukan mereka. Ingat Abi, jangan mudah menyerah jika kamu ingin mendapatkan sesuatu. Kejar, dan berusahalah meraih itu semua. Sekali coba gagal, maka coba lagi. Gak perlu takut untuk gagal, karena manusia di ciptakan gak ada yang sempurna kecuali Allah," balas Andre sedikit memberi semangat pada Abiyan.
Abiyan masih menatap sedih, tapi dia juga berpikir ucapan Andre ada benarnya. Semua gak akan terwujud jika kita gak mau berusaha, jadi Abiyan langsung mengangguk untuk mengiyakan ucapan Andre.
Setelah semua selesai, Abiyan minta di antar pulang. Abiyan mau mendekatkan orang tuanya hari ini juga, gak mau menunggu besok atau nanti, Abiyan ingin cepat memiliki adek, dan cara satu-satunya harus membuat mereka berdekatan terlebih dahulu.
***
Adrian masuk kedalam rumah dengan perasaan yang sangat emosi. Jiwanya terasa sangat sakit, melihat Sekar pergi ke hotel dengan laki-laki lain. Adrian tak terima, sungguh dirinya tak terima Sekar di jamah orang lain.
Brakkk!
Adrian membanting pintu dengan sangat keras. Adrian gak perduli pintu itu akan rusak atau tidak, Adrian sangat marah, murka, panas, kesal, jadi satu.
"Ck! Waktu aku cium kamu marah, tapi kenapa dengan orang itu kamu mau Sekar! Apa aku terlalu jelek sampai kamu gak mau, tapi di lihat dari kaca, masih ganteng aku, kaya aku, tapi kamu kenapa milih dia?" tanya Adrian sambil berdiri di depan kaca.
Adrian bingung dengan perasaannya sendiri. Mulut Adrian selalu bilang tak mencintai Sekar, tapi saat Sekar dekat dengan orang, hatinya sangat sakit. Bahkan melebihi di tusuk oleh belati, yang sangat tajam.
"Aggghhh ... lama-lama bisa gila aku karena, Sekar. Bisa-bisanya dia membuat aku seperti ini, sedangkan dia enak-enakan di hotel bersama lelaki sialan itu!" Teriak Adrian sekali lagi.
Adrian benar-benar merasa depresi, hingga semua barang yang ada di kamarnya dia acak-acak sampai tak berbentuk. Adrian kesal, marah, cemburu, tapi tak mau mengakui semua itu.
Tok ... tok ... tok ....
Adrian pun langsung berhenti menonjok bantal guling saat mendengar pintu di ketuk. Adrian penasaran siapa yang berani mengganggu dirinya, di saat dia sedang emang jiwa.
"Siapa!" Teriak Adrian sangat keras, bahkan terdengar menggelegar.
"Daddy ini aku."
Seketika Adrian langsung melotot. Ternyata yang ada di luar sana adalah Abiyan, dan Adrian langsung bingung. Adrian gak mau sampai anaknya melihat kamar yang seperti kapal pecah itu, apalagi sampai melihat kemarahan Adrian.
"Tunggu sebentar, ya. Daddy masih ganti baju, kamu diam di situ sebentar."
"Iya Daddy."
Setelah itu Adrian langsung bergegas membersihkan apapun yang dia buat berantakan. Dengan gerak cepat, Adrian mengambil sprei baru. Karena sprei yang tadi tersiram oleh air sirup, jadi telihat basah.
Setelah selesai membereskan segalanya, Adrian menarik napas dengan sangat panjang. Adrian menetralisir jantungnya, dan langsung berjalan untuk membuka pintu itu.
Cklek!
"Daddy lama sekali, Abi nunggu daritadi di luar. Memang harus selama itu untuk ganti baju?" tanya Abiyan sangat kesal. Sedangkan Adrian langsung tersenyum, dan menggendong anaknya itu.
"Maafkan, Daddy. Oh ya, katanya kamu tinggal sama tante. Tapi kok sekarang ada di sini, sudah selesai kah ngambeknya?" tanya Adrian sambil mencubit gemas Abiyan.
"Gak jadi, Abiyan mau tidur di sini sama Daddy-Mommy. Oh ya, di luar ada tante Ica dan om Andre. Mereka yang mengantarkan Abi, sampai di sini," balas Abiyan yang masih tak bersahabat.
Hatinya masih sakit. Takut jika memang dirinya anak Haram, atau anak Brokenhome. Walaupun Abiyan sudah di nasehati Ica, tapi hatinya masih sakit seperti ditusuk sembilu.
"Wah, kalau gitu ayo keluar. Gak sopan ada tamu tapi di biarkan, ayo kita lihat." Abiyan hanya mengangguk untuk mengiyakan Adrian. Setelah itu, Adrian keluar dari kamar dengan menggendong Abiyan.
"Mommy mana, Dad?" tanya Abiyan sambil mengalungkan tangannya di leher Adrian.
Adrian merasa anaknya itu sedikit murung. Semua dapat di lihat dari prilaku Abiyan saat ini. Karena Abiyan akan selalu menyembunyikan wajahnya di leher seseorang, jika dirinya sedang sedih.
"Mommy sedang ada urusan, Sayang. Mungkin akan pulang besok pagi, kamu tumben tanya Mommy malam-malam?" tanya Adrian sangat hati-hati. Adrian curiga anaknya menyimpan satu rahasia tapi dia gak tau itu apa.
"Telefon Mommy sekarang. Abi mau tidur bertiga, pokoknya mau bertiga Malam ini." Seketika Adrian menghentikan langkah kakinya.
Adrian merasa aneh dengan Abiyan. Baru kali ini Abiyan meminta tidur bertiga, padahal dia hanya akan tidur dengan Sekar di kamarnya. Jika Abiyan sudah tidur, maka Sekar akan pergi.
"Tumben kamu minta tidur bertiga? Bisanya—"
"Cepat hubungin, Mommy!"
.
.
.
Happy Reading