Yogyakarta selalu menjadi saksi hubungan percintaan seorang gadis bernama Clara Audra.
Perbedaan keyakinan, restu orangtua, dan perselingkuhan mewarnai perjalanan cintanya.
Kini hatinya tertambat pada sahabatnya sendiri, seorang arsitek tampan bernama Daniel Ararya.
Namun, masa lalu Ararya yang selalu hadir di tengah hubungan mereka, membuat Clara menaruh keraguan dengan apa yang telah ia jalani selama ini.
Gagalnya rencana pernikahan Ayu (sahabat perempuannya) karena sebuah perselingkuhan, juga menjadikan Clara semakin ragu untuk melangkah maju di detik-detik menuju pernikahannya dengan Ararya.
Akankah Ararya mampu meyakinkan hati Clara untuk sepenuhnya menerima dirinya menjadi pasangan hidup?
Ataukah Ararya akan kembali kepada masa lalunya dan menorehkan luka yang sama pada hati seorang Clara Audra?
Kisah ini diangkat berdasarkan dari beberapa kisah nyata serta dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon margaretha.chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan Rasa dan Surprise ! (2)
Mobil Pajero Sport putih yang membawa sepasang sahabat yang sebentar lagi mungkin akan berubah statusnya itu, sudah memasuki halaman rumah dengan bergaya klasik modern dan artistik.
Rumah itu memang tampak indah dan elegan. Bapaknya Arya memang pantas kalau menyandang sebagai arsitektur ternama.
Rumah Arya
"Sore bi..bapak ibu mana?" sapa Arya ke asisten rumah tangganya.
"Di belakang mas, baru santai-santai." ucap Bi Narti.
Arya berjalan memasuki rumahnya, menuju ke bagian halaman belakang yang tampak asri. Clara berjalan di belakangnya, sambil selalu tersenyum. Sudah lama Clara tidak menginjakkan kakinya di sini. Mungkin ya sekitar satu setengah tahun yang lalu, pasalnya ia tak akan mungkin ke rumah Arya, kalau empunya rumah tidak pulang ke Indonesia.
"Pak..bu..ada Clara lho.." sapa Arya kepada bapak ibunya.
"Wehh..Clara..lha kok tambah cantik kamu..sini sini duduk sini.." sambut ibunya Arya.
"Sore bapak.."
"Sore ibu..sehat?" salamnya sambil mencium tangan kedua orangtua Arya bergantian.
"Puji Tuhan...bugar selalu..hahaha.." jawab bapaknya Arya sambil tertawa.
"Aku mandi dulu ya, pliket semua ini. Tunggu bentar ya Ra.."ucapnya ke Clara.
"Pak..bu..jangan dinakalin lho Clara nya.."ucapnya kepada bapak ibunya, sambil berlalu menuju kamarnya.
"Wooo..cah gemblung.."sahut bapaknya Arya.
Clara duduk di samping ibunya Arya, wanita itu masih tampak sangat cantik di usianya yang sudah menginjak di angka 5, kelihatan sekali beliau selalu menjaga dan merawat badannya.
Pantas saja anaknya bisa ganteng-ganteng begitu, kalau ibu dan bapaknya aja juga seperti itu. Banyu, adik Arya sebenarnya juga tidak kalah gantengnya dengan Arya, tapi ia sedikit lebih pendiam dari Arya, sedikit aja sih tapi.
"Mbak,ini minumannya saya taruh sini ya.."ucap bi Narti, sambil menaruh gelas yang berisi orange juice, lalu beranjak kembali ke dapur.
"Iya makasih bi.."ucap Clara sambil tersenyum.
Nggak tahu kenapa, Clara yang biasanya gampang membaur dengan siapa saja tanpa batas umur, kali ini ia lebih terlihat pendiam. Entah kenapa kali ini rasanya dag dig dug, padahal ia sudah berkali-kali bertemu dengan orangtua Arya, mungkin karena sekarang Arya adalah orang spesial yang singgah di hatinya.
"Diminum lho Ra, sama ini dimakan. Bapak sama ibu kalau sore, pas weekend ya begini aja, anak-anaknya udah pada ngeluyur sendiri-sendiri." ucap ibunya Arya sambil memakan edamame.
"Ra..gimana bapak ibu sehat?" ucap ibunya Arya lagi.
"Puji Tuhan sehat bu..ini bapak ibu lagi di Surabaya, ada kerjaan sama acara keluarga. Makanya tadi Clara nganter ke bandara, sekalian jemput Arya." jelas Clara kepada wanita di sampingnya itu.
"Oh gitu sampai kapan..? lha terus kamu di rumah segede itu sendirian?" orangtua Arya mengerti kalau asisten rumah tangga Clara adalah asisten yang pulang pergi.
"Iya, sampai selasa mungkin bu." Clara mengangguk.
"Tidur sini aja, nanti ibu yang bilang ke ibu kamu. Tuh banyak kamar kosong, daripada sendirian di rumah." Ibunya Arya menawarkan apa yang persis Arya tawarkan.
Tiba-tiba muncul suara dari arah di belakangnya..
"Arya udah bilang bu, tapi nggak tau tuh anaknya mau apa nggak. Daripada Arya temenin di sana, mendingan di sini kan..rame.." sahut Arya yang sudah berganti pakaian dengan celana ripped jeans dan sweater broken white.
"Lha ya jelas..kalau kamu nginep di sana, kamu mesti mikirin yang iya-iya terus..koyo bapak ra tau enom wae (kayak bapak nggak pernah muda aja).." ledek bapaknya Arya yang disambut tawa seisi ruangan itu. Bapaknya Arya juga tampak masih tampan di usia senjanya, pasti dulu saat masih muda juga seperti anaknya, idola para wanita.
"Husshhh..bapak iki lho.."ucap ibunya, sambil menyenggol pundak suaminya.
"Yaudah, pokoknya nanti kalau mau tidur sini atau butuh bantuan, bilang aja sama Arya ya. Santai aja di sini, anggep aja kayak rumah sendiri, anggep aja ini juga bapak ibu kamu." imbuh ibunya Arya sambil merangkul pundak Clara.
"Lha kan emang nanti juga bakalan jadi bapak ibunya Clara juga.." lirik Arya sambil tersenyum, yang disambut anggukan dari ibunya. Seketika wajah Clara langsung memerah, tersenyum malu.
"Yaudah..kita keluar dulu ya.. Oia, Clara ulang tahun lho ini.."ucap Arya sambil bangkit dari kursinya.
"Waaa...selamat ulang tahun ya cah ayu..sehat selalu..selalu diberkati Tuhan.."ucap ibunya Arya.
"Dan cepat dihalalkan sama lelaki yang katanya sayang banget sama kamu.."imbuh bapaknya sambil melirik ke arah Arya.
"Amiiinnnn" ibunya langsung mengamini dan disambut senyuman oleh Clara.
"Apaan sih? Nyindir? Sabar donk pak, bilang aja pengen cepet punya mantu." lirik Arya ke arah bapaknya yang berdiri di sampingnya.
"Udah aahh..kita pamit.." ucap Arya sambil menggandeng Clara pergi, hingga Clara tidak sempat mencium tangan kedua orangtuanya. Clara langsung membungkukan badan sebagai pengganti salaman.
..........
Rumah Clara
Clara sudah selesai membersihkan dirinya dan ia langsung turun ke bawah. Arya yang sedari tadi menunggunya sambil bermain gitar di ruang tamu yang nampak luas, bersih, dan tertata rapi.
Arya
Saat Clara sudah duduk di sebelahnya. Ia menatap gadis cantik itu.
"Nyanyi bareng yukk, lama kita nggak duet." ajakan Clara itu malah ditolak oleh Arya.
"Ssstthh..no..it's my turn.." ucapnya sambil menutup bibir Clara dengan telunjuknya.
Gitar pun mulai mengeluarkan nada yang indah, Arya memang jagonya untuk masalah alat musik petik itu dan tentu suaranya pun tak kalah indahnya.
🎶Hari ini saat bahagia untukmu
Bertambah satu tahun usiamu
Ku nyanyikan sebuah lagu
Agar istimewa harimu
Happy birthday to you (Happy birthday)
Happy birthday to you (Happy birthday)
Happy birthday to you, oh🎶
~Ten 2 Five - Happy Biryhday~
Ia pun selesai menyenandungkan lagu itu sambil menatap Clara lebih dalam
"Selamat ulang tahun sayang, panjang umur, sehat selalu, selalu diberkati Tuhan, dan selalu berada di sampingku selamanya ya..i love you.." ucapnya pelan dengan tatapan mata yang mendalam, lalu mengecup kening Clara.
"Aminn...aminn..aminn..Makasih ya.." Clara langsung menghambur ke pelukannya.
"Kamu kok nggak minta kado sih?" tanya Arya sambil melepaskan pelukannya.
Clara mengernyitkan dahinya. Memang ia tidak pernah meminta kado apapun di setiap ulangtahunnya. Bahkan kepada orangtuanya sendiri.
"Aku punya lho kado buat kamu, tapi cium dulu.." ucapnya seraya menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya.
"Iisshhh maksa..aku kan nggak minta.." ucap Clara dengan nada sok.
"Lhoo..emang aku itu sukanya yang serba maksa-memaksa kok.."
timpal Arya tidak mau kalah.
"Pakai ini ya, tapi sorry..aku bukan mau jadiin kamu pacar aku..maaf ya.."ucap Arya sambil membuka kotak hitam kecil yang berisi cincin dengan satu berlian yang cukup mencolok, lalu memasangkannya di jari manis kiri Clara.
Clara mematung melihat kado dari Arya, ia tak menyangka akan mendapatkan ini. Tapi tunggu sebentar, Arya mengatakan kalau ia tidak akan menjadikan Clara pacarnya. Maksudnya apa?
Clara langsung mengernyitkan dahinya.
"Nggak apa-apa banget nih kalau nggak dijadiin pacar?" tanyanya sambil tersenyum tipis ke arahnya. Arya yang melihat perubahan ekspresi muka Clara, dari yang awalnya bahagia langsung berubah menjadi datar dan kaku, namun Arya masih tetap berusaha menahan tawanya.
"Ya kalau kamu cuma nganggep aku nggak lebih dari sahabat juga nggak apa-apa , kan itu hak kamu." ucap Clara dengan nada sedikit tercekat menahan tangisnya agar tidak tumpah.
Senyumnya langsung mengembang,
"Lain kali kalau mau dikasih perasaan itu bilang, kalau sayang itu bilang, jangan ditahan-tahan. Siapa bilang cewek nggak boleh menyatakan perasaannya duluan. Bagiku it's okay kalau mereka menunjukkan perasaannya, asalkan tidak murahan." jelas Arya sambil menggenggam tangannya.
Clara hanya mampu menundukkan wajahnya dan menjaga air matanya tidak jatuh.
"Lihat aku donk sayang..aku kan lagi ngomong.." ia mengangkat wajah Clara dengan jarinya, agar bisa menatap matanya.
"Aku mau kamu jadi istri aku nantinya, jadi sekarang kamu bukan pacar aku, tapi calon istri aku." ucap Arya dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya. Seketika Clara langsung mengecup bibir Arya dengan cepat.
"Ehhh..main cium aja." Arya sok menggerutu, padahal ia sangat bahagia, akhirnya sahabatnya selama 5 tahun ini, berhasil ia dapatkan, dan tak akan pernah ia lepaskan lagi.
Wajahnya mulai mendekat ke wajah Clara, suara deru nafas pun mulai saling berpadu.
Bibirnya mulai menyentuh dan menghisap bibir manis yang selalu ia pandangi selama ini. Namun Arya tiba-tiba melepaskan sentuhan yang mampu menumpahkan rasa rindunya selama ini.
"Kenapa?"tanya Clara pelan dengan nafas yang sedikit masih menderu, ketika ia melihat Andre mengamati setiap sudut ruangan itu.
"Di sini nggak ada cctv kan?" pertanyaan Arya seketika langsung membuyarkan adrenalin yang sudah dipacunya.
"Kalau di dalem sih aman, tapi kalau di luar banyak.." ucap Clara sambil tertawa pelan. Setelah selesai menjawab pertanyaan Arya, ia langsung memulai menyatukan wajah mereka kembali.
Arya langsung merespon gairah itu, semakin lama mereka semakin panas dan menuntut. Clara sudah mengalungkan tangannya di leher Arya. Dan salah satu tangan Arya pun menekan tengkuk Clara, agar ia bisa semakin lebih dalam menikmati apa yang selama ini ia inginkan.
Arya melepaskan ciumannya sejenak untuk bisa saling menghirup udara segar, sambil berbisik "Aku kangen banget..tapi jagain aku ya, biar nggak kebablasan.." ucapnya sambil tersenyum dengan suaranya yang sudah berubah menjadi berat, dan tatapan sayu. Lalu ia kembali menyatukan wajah mereka, sekarang dengan posisinya yang berada di sofa Arya sudah mulai berada di atas tubuh Clara ciumannya mulai turun ke leher putih itu. Clara mulai meyisir kasar dan sedikit menjambak rambut Arya. Ia berusaha untuk tidak hanyut dalam buaian itu. Ia masih berusaha mengendalikan permainan itu
"Yang..udah..udah ya..".Arya pun sadar dan akhirnya melepaskan bibirnya itu.
"Maaf ya..makasih.." Arya mengecup pipi Clara. Namun mereka masih belum mau melepaskan pelukan itu.
"Surprise..!!! Happy birthday Cla....."
......................
suka dech
sakha putra
reno-teman sakha
ardhana- kkak angkat Clara
narendra
arya
akeh e 😅
siapa ituuuuu,,,,,
jreng jreng jreeeeeeeeengggggggg😜😜😁😁
gooodds
gue suka gaya lo mas bro arya😜