WARNING!!! AREA 18+
follow Ig 👉 dindin_812
Malik Mahardika seorang asisten berumur dua puluh enam tahun. Mendapat tugas dari majikannya untuk menemui seorang Hacker. Namun, siapa sangka Malik malah jatuh cinta pada Hacker yang baru saja berumur lima belas tahun bernama Susan Linch.
Kata orang, cinta tidak memandang umur, waktu dan tempat. Begitulah yang dialami oleh pemuda itu.
"Ma, kamu tahu 'kan aku umur berapa? Bagaimana bisa kamu suka dengan gadis kecil seperti 'ku?" Susan hanya ingin tahu alasan sebenarnya.
"Memangnya kita harus memandang umur seseorang untuk suka dan menyayangi. Bagiku asal kamu menerima, maka tidak perduli kamu umur berapa. Bahkan jika disuruh nunggu kamu dewasa pun aku bersedia," jawab Malik yang benar-benar terdengar gila, sepertinya pemuda ini sudah terkena virus cinta akut yang tidak bisa diobati.
"Kalau begitu, aku beri kamu kesempatan. Jika kamu bisa menungguku lima tahun lagi, aku akan bersedia jadi kekasihmu," ucap Susan kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah lain karena malu menatap Malik.
penasaran? baca selengkapnya di sini saja.
Picture from pinterest editing by din din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Pelakor
Susan merasa heran ketika melihat mobil Rafa ada di halaman rumahnya. "Tumben dia ke sini," batin Susan.
Susan langsung masuk dan mendapati Rafa sedang duduk bersama Livia. Begitu ia mendekat, tampak air muka yang berbeda di wajah Livia, ibunya Susan.
"Baru balik?" tanya Livia pada putrinya itu.
"Iya," jawabnya merasa sedikit aneh.
"Kalian ngobrol aja, Mamah mau ke dapur," ucap Livia lantas meninggalkan keduanya.
Susan menatap punggung Livia berlalu, kemudian ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Rafa. Pemuda itu tampak menatap Susan yang terlihat lebih senang dari hari biasanya.
"Tumben ke sini, ada apa?" tanya Susan langsung seraya menyomot kue yang ada di meja kemudian memasukannya ke mulut.
"Aku tadi lihat kamu," jawab Rafa yang membuat Susan hampir tersedak.
Susan melotot pada rafa, ia kemudian menoleh ke arah belakang. Gadis itu berdiri kemudian menarik tangan Rafa untuk bicara di luar.
"Lihat apa?" tanya Susan ketika mereka sudah berada di luar.
"Lihat kamu sama pria itu, Kamu nggak ada hubungan dengan pria yang terlihat seperti om-om itu, 'kan!" Rafa menatap tidak senang dengan hubungan antara Susan dan Malik karena mereka terlihat begitu dekat.
Susan mencebik kesal, bagaimana bisa Rafa mengatakan kalau Malik itu om-om. "Memangnya kenapa? Toh kami nggak aneh-aneh," ujar Susan mengiyakan karena ia kesal dengan kata yang keluar dari mulut Rafa.
Rafa terkejut mendengar pengakuan Susan, tidak menyangka jika tebakannya benar. Sejak Susan pergi terburu-buru ketika mereka di kedai eskrim, Rafa memang sudah curiga. Sebagai pemuda yang menyukai gadis itu, tentu saja ia tidak akan terima jika gadis yang ia sukai ternyata bersama pria yang umurnya terlampau jauh dengan gadis itu.
"San, kamu tuh sadar nggak, sih! Lihat umur kalian, sekali lihat saja aku sudah tahu kalau umurnya mungkin hampir menginjak tiga puluhan. Memangnya kamu tahu dia sudah berkeluarga atau tidak! Bagaimana jika iya? Kamu mau dibilang pelakor, hah!" Rafa menentang hubungan antara Susan dan Malik.
Susan menatap tidak senang lagi dengan tuduhan yang diucapkan Rafa, ia menatap tajam pemuda yang berdiri di hadapannya itu, meski apa yang diutarakan oleh pemuda itu masuk akal. Tapi mungkin Rafa tidak mengetahui satu hal, Susan adalah peretas, ia bisa melihat apa yang ingin ia lihat, serta mengetahui apa yang ingin ia ketahui.
"Hubunganku, hanya aku yang berhak menentukan. Kamu tidak berhak menilai seseorang hanya dengan satu sudut pandang. Jika kamu tidak suka dengan hubunganku dengannya, maka abaikaan saja dan jangan pernah memperdulikannya," tandas Susan yang tidak mengerti kenapa Rafa harus mencampuri urusannya.
"Oke, aku memang tidak berhak! Bagaimana jika orang tuamu tahu, apa mereka setuju?" tanya Rafa yang masih tidak menyerah untuk membuat Susan berubah pikiran dengan hubungan yang dia jalani.
Susan yang awalnya ingin mengabaikan Rafa, kini berbalik kembali. Ia sampai menarik dan mencengkeran sisi depan kaos Rafa, membuat pemuda itu terkejut.
"Kau! Kau sudah menceritakannya sama Mamah, hah!" geram Susan yang sampai membuat giginya bergemeretak menahan rasa kesal karena ia tidak mungkin berteriak sehingga membuat Livia atau pelayan rumahnya terkejut.
"Iya," kata Rafa tanpa rasa penyesalan.
Susan melepas cengkeramannya dengan sedikit kasar, lantas menatap benci pada pemuda itu. "Mulai sekarang, aku tidak bisa menganggapmu temanku lagi, jangan pernah mencampuri urusanku lagi!"
Susan hendak berbalik tapi Rafa langsung menarik pergelangan tangan gadis itu, membuat langkah Susan terhenti.
"Tidak bisakah kau menyukai pemuda yang seumuran denganmu, setidaknya yang tidak terpaut jauh denganmu serta statusnya jelas," ujar Rafa.
"Aku sudah bilang, jangan pernah campuri urusanku!" bentak Susan mencoba melepas tangan Rafa dari pergelangannya.
"Aku suka kamu," ungkap Rafa meski ia tahu jika terlambat.
Susan terkesiap, ia sampai terdiam menatap pemuda yang sudah ia kenal lama itu. "Tapi aku menyukai dia, jauh sebelum kita seakrab ini." Susan menarik paksa tangannya, kemudian ia langsung masuk ke rumah.
Rafa mengepalkan tangannya, kata 'Jauh sebelum kita seakrab ini' terngiang di telinganya, membuat pemuda itu berpikir jika Susan memang menjalin hubungan dengan pria yang ia lihat sudah sangat lama. Rafa melihat bagaimana Susan tersenyum juga pria itu tersenyum bahkan ia harus menyaksikan ketika Malik menggendong Susan keluar dari restoran seafood.
-
-
Susan langsung masuk ke kamar, melempar tas ranselnya serampangan lantas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan sedikit kasar. Susan menatap langit-langit kamarnya, masih tidak menyangka jika Rafa mencampuri urusan hubungannya hingga sampai memberitahukannya pada Livia. Sekarang ia harus berpikir bagaimana menjawab pertanyaan ibunya terutam jika ayahnya tahu. Mau mengelak pun sepertinya tidak akan bisa.
Kini Susan mengunci dirinya di kamar, ia butuh waktu untuk menyiapkan jawaban jika kedua orangtuanya menanyakan tentang dirinya yang menjalin hubungan dengan pria yang umurnya terpaut begitu jauh dengan dirinya.
"Rafa! Aku sudah menganggapku teman baikku, kenapa malah seperti ini padaku? Aku membencimu!"
Ingin rasanya dia menangis, tapi buat apa? Tidak akan merubah apa yang sudah terjadi. Cepat atau lambat dia juga harus memberitahukan hubungannya dengan Malik kepada kedua orangtuanya, tapi ia tidak menyangka jika akan secepat ini mengingat jika mereka baaru saja meresmikan hubungan itu.
-
-
Livia terlihat mondar-mandir di kamarnya, mengetahui jika putrinya memiliki hubungan dengan pria dewasa yang bahkan umurnya lebih tua dari sang kakak, membuat wanita dua anak itu terlihat gusar dan khawatir.
Juan baru saja pulang, ia bingung kenapa istrinya itu terlihat gusar. "Ada apa?" tanya Juan yang langsung menghapiri istrinya.
Melihat Juan sudah pulang, Livia langsung mengajak suaminya itu duduk. Ia benar-benar cemas dan bingung, bahkan Livia sampai menarik napas kemudian mengembuskannya berulang kali.
"Kamu tahu putrimu punya pacar?" tanya Livia mengawali pembicaraan.
"Lalu? Bukankah wajar jika umur segitu pacaran," jawabnya enteng seraya melepas dasi yang ia kenakan. "Memangnya kamu nggak ingat kita mulai pacaran umur berapa, hah?" tanya Juan seraya mencubit pelan hidung istrinya.
"Ish ... serius sayang! Rafa bilang pacar Susan itu-." Livia menjeda ucapannya ketika melihat Juan menatapnya serius.
"Pacarnya sudah dewasa!" Juan melanjutkan ucapan istrinya.
Livia mengernyitkan dahi, berpikir kenapa suaminya itu bisa menebak dengan benar.
"Kamu sudah tahu?" tanya Livia menerka.
"Sudah," jawab Juan, "Aku mau mandi dulu, nanti aku jelaskan," imbuhnya seraya mengusap pucuk kepala istrinya yang masih kebingungan kemudian pergi ke kamar mandi.
_
_
_
_
Jangan lupa bantu like komen ya terima kasih 🙏🤗