Sejak dihianati oleh Ayah dan Kekasihnya. Justin tidak percaya lagi pada sesuatu yang dinamakan cinta. Justin menganggap bila cinta adalah hal yang tabuh dan memuakkan. Menganggap semua wanita itu sama saja, penghianat dan tidak bisa di percaya. Namun pertemuan singkatnya dengan seorang gadis di sebuah bar yang akhirnya merubah pandangannya tentang cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 "Jeritan Hati Jia"
"Sebaiknya kita kembali ke dalam, angin di sini cukup kencang." Saran Justin namun di balas gelenggan oleh Jia.
"Bisakah kita di sini sebentar lagi? Aku masih ingin menikmati udara di sini." Ucapnya.
Melihat sorot mata Jia yang penuh permohonan membuat Justin menghela nafas panjang."Tidak lebih dari sepuluh menit." Jia menarik sudut bibirnya dan mengangguk.
"Kau membenci mantan kekasihmu?" Jia yang awalnya hanya menatap lurus kedepan menoleh seketika dan menatap Justin penuh tanda tanya. "Brian Qin, dia adalah mantan kekasihmu kan?"
"Justin-ssi, bisakah kita masuk sekarang? Tiba-tiba saja aku-"
"Mencoba menghindar." Justin menyela cepat kalimat Jia. "Aku tidak bermaksud untuk mengungkit luka lamamu, hanya saja aku ingin tau jika baji*gan itu adalah kakakku." Ujar Justin seraya menatap mutiara hazel Jia.
Gadis itu menundukkan wajahnya dan tersenyum simpul. "Aku sudah tau. Di saat kau dan, Xion, menolongku malam itu kau menyebutkan nama dan margamu. Dari situ aku menyimpulkan jika kalian berdua itu bersaudara karna, Brian, pernah bilang jika dia memiliki seorang kakak perempuan dan adik laki-laki yang seorang brandalan," ujar Jia panjang lebar.
"Kau tidak merasa marah atau pun benci padaku padahal aku ini adalah adik dari laki-laki yang sudah mencampakkan dan menghancurkan hidupmu?"
"Untuk apa? Kalian memang bersaudara tapi bagaimana pun kau tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kami."
Kali ini Justin tidak memberikan respon lagi, pemuda itu bangkit dari duduknya dan menatap Jia. "Kita masuk, ini sudah lebih dari sepuluh menit." JIa mendesah berat dengan terpaksa menganggukkan kepala dan menuruti ucapan Justin.
"Baiklah."
.
Baru saja Jia mencoba untuk tidur, tiba-tiba saja pintu ruang inapnya terbuka dan menampilkan dua sosok laki-laki dan wanita setengah baya memasuki ruang inapnya. Gadis itu bangkit dari posisi berbaringnya dan menatap mereka tidak suka . Mau apa kau datang ke sini?"
"Jaga bicaramu, Min Jia. Beginilah caramu berbicara pada yang lebih tua? Bagaimana pun juga dia itu Ayahmu. Hormati dia sedikit saja."
"Memangnya siapa yang memintamu untuk bicara, Song Terra." Sinis Jia pada wanita ibu tirinya. Tampak gadis itu menyeka air matanya. "Siapa yang memintamu untuk datang, pergilah karna aku tidak butuh belas kasihanmu." Jia membuang nuka dan menatap ke arah lain.
"Dokter, Kim, yang menghubungi Ayah. Dia memberitau Ayah kalau kau masuk rumah sakit. Itulah kenapa Ayah datang kemari. Jia, kemana saja kau tiga tahun ini? Ayah mencarimu dan kenapa kau tidak pulang sama sekali?"
"Benarkah?" Jia menatap sang ayah dengan senyum meremehkan, rasanya dia ingin tertawa mendengar ucapan dari pria paruh baya itu. "Drama apa lagi ini Tuan, Min, yang terhormat? Bukankah Anda sendiri yang menginginkan aku pergi dari rumah."
"Jaga bicaramu, Min Jia!!"
"Diamlah, Song Terra." Sergah Jia cepat.
"Fikirkan bagaimana perasaan Ayah, Nak. Kau membuat Ayah cemas, jadi tolong mengertilah."
"Mengerti? Kenapa harus selalu anak yang mengerti orang tuanya?" sahut Justin menimpali.
Entah kenapa Justin merasa geram saat ayah Jia meminta pengertian dari putrinya. Pemuda itu bangkit dari posisinya kemudian menghampiri Tuan Qin dengan tatapan dinginnya. "Jika Anda meminta dia untuk mengerti perasaan Anda, lalu bagaimana dengan perasaannya? Apa Anda bisa memahaminya juga? Jika kedatangan kalian hanya untuk menambah beban baginya, sebaiknya kalian pergi. Dia harus istirahat."
"Siapa kau anak muda? Berani-beraninya kau berbicara seperti itu pada suamiku, apa kau tidak tau siapa dia?" tanya Terra seraya menatap Justin tajam.
"Penting ya untuk aku mengetahui siapa suamimu itu?" ucap Justin meremehkan. "Hanya satu yang aku tau dari dia, dia hanyalah sosok Yyah yang tidak memiliki hati nurani. Jika kedatangan kalian hanya untuk memperkeruh keadaan saja, sebaiknya kalian berdua pergi dari sini. Jia harus istirahat."
"Kau!!"
"KELUAR." Teriak Jia membuat dua orang itu menoleh seketika. "AKU BILANG KELUAR, KENAPA KALIAN MASIH DI SINI? KELUAR KALIAN BERDUA."
"Jia, Ayah?"
"AKU BILANG KELUAR."
"Sebaiknya kalian keluar, kedatangan kalian hanya memperburuk keadaannya saja." Justin membukakan pintu untuk tuan Min dan Song Terra. Wanita itu menatap Justin tidak suka. "Silahkan."
"Sialan kau anak muda. Sayang, sebaiknya kita pergi dari sini."
Justin menutup kembali pintu ruang inap Jia dan menghampiri gadis itu yang tengah menundukkan wajahnya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya memastikan. Jia mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan menatap Justin dengan sendu.
"Kenapa hidupku begitu menyedihkan, Justin-ssi? Aku... hiks... aku...," Jia tidak melanjutkan ucapannya dan malah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Justin yang merasa prihatin dengan keadaan gadis itu menarik bahu Jia dan membawanya kedalam pelukkannya. Tidak ada sepatah kata pun yang yang keluar dari bibir Justin maupun Jia, hanya isakan pilunya yang memecah dalam keningnya suasana.
Justin membiarkan gadis itu terisak pilu dalam pelukkannya, bahkan Justin tidak peduli jika air mata Jia akan mengotori long vestnya. Mendengar isakan pilu gadis itu membuat hati Justin terasa seperti di remas. Justin menutup kedua matanya mencoba merasakan kesakitan yang Jia rasakan.
Brakkkk!!!
"Nunna, kami datang."
"Omo??"
Nyaris saja Leo, Xion dan Sean terkena serangan jantung dadakan melihat Justin memeluk Jia dngan Erat. Sedangkan Thomas dan Felix mengulum senyum misteriusnya. Sehun yang memang tidak tau apa-apa hanya bisa menatap mereka penuh kebingungan. "Hyung, ada apa dengan kalian bertiga? Kenapa wajah kalian tiba-tiba saja pucat seperti itu? Dan kalian berdua, apa pagi ini kalian salah minum obat?" tanya Sehun sambil menatap kelimanya penuh kebingungan.
Felix menghampiri Sehun dan merangkul bahunya. "Tunggu saja Hyung karna tidak lama lagi akan ada sebuah pertunjukkan yang sangat menyenangkan jadi bersabarlah." Ujarnya seraya melirik ketiga hyungnya "Bukankah begitu Hyung."
Glukk!!
Sudah payah mereka bertiga menelan salivanya. Sepertinya keputusan mereka untuk ikut taruhan adalah keputusan yang salah karna melihat sikap Justin pada Jia tidak akan menutup kemungkinan jika mereka akan saling jatuh cinta. Justin terutama.
Jia menyeka air matanya dan melepaskan pelukkan Justin. Dia sungguh merasa tidak enak dan malu pada teman-teman Justin karna apa yang baru saja mereka berdua lakukan.
"Nunna, lihatlah kami bawakan banyak sekali makanan untukmu. Kau harus makan yang banyak supaya cepat sembuh," seru Sehun sambil mengeluarkan banyak sekali makanan yang ia beli dalam perjalanan tadi.
"Astaga, banyak sekali. Bagaimana kita bisa menghabiskan semua makanan-makanan ini?" ucap Leo penuh kebingungan.
"Lalu dari mana kalian bertiga memiliki uang sebanyak itu untuk membeli semua makanan-makanan ini?" tanya Sean penasaran. Tiba-tiba dia memiliki sebuah firasat buruk.
Felix nyengir kuda kemudian menunjukkan sebuah golden card pada Sean dan membuat kedua mata pria itu membelalak saling kagetnya. "Dari sini." ucapnya tanpa dosa.
"Apa?" Sean memekik keras. "DOLARKU!! Yaakk!! Bocah setan, apa yang kalian kalukan pada dolar-dolarku? Dan berhenti menyusahkan hidupku." Amuk Sean marah. Mata Felix, Thomas dan Sehun membelalak melihat Suho yang berancang-ancang untuk mengejarnya. "Kemari kalian biar aku beri pelajaran kalian bertiga karna sudah berani menghabiskan dolar-dolarku."
"Huuuaaaa!! Maniak dolar memgamuk dan mengejar kita, Hyung. Siapa pun help." Teriak Felix di tengah langkahnya."
"Yakkk!! Bocah setan, jangan kabur kalian berdua."
.
.
BERSAMBUNG.
aku kira walaupun Jia meninggal.
setidaknya bayinya bisa disela dan menemani Justin di sisa hidupnya. walaupun Justin tidak akan pernah menikah lagi.
hadeeh
keren banget ceritanya thor👍🏻🥰
Justin knp setiap ketemu Jia pasti lg butuh pertolongan.... ckckck...
semangattsss....