Bercerita tentang seorang perempuan yang membuat janji kepada dua orang sahabatnya. Janji itu cukup tidak masuk akal dan mereka membuat penjanjian itu di umur yang masih kecil. Akankah janji itu terus berjalan hingga mereka beranjak dewasa? atau justru mereka melupakan semua dan menjadikan perjanjian itu tak berkisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fifizulfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Malam
Sore ini jalanan kota terlihat membekaskan banyak genangan air. Pepohonan juga ikut menitihkan sisa-sisa tetesan hujan yang membuat kesan sejuk bagi orang saat melewatinya. Kendaraan lalu lalang juga ikut menghiasi jalanan, hingga kemacetan terjadi sekarang ini. Suara klakson terdengar saling bersahutan tanpa henti.
Akan tetapi mobil merah dengan dua orang di dalamnya sangat menikmati pemandangan yang ada. Seorang cowok yang mengemudikan terlihat telaten mengatasi kemacetan lalu lintas. Sedangkan gadis di sampingnya sangat antusias memandangi keadaan di sekitarnya.
Banyak anak-anak jalanan yang memanfaatkan kemacetan sebagai sarana mereka berjualan dan mengemis. gadis itu sempat tertawa kecil saat melihat seorang anak kecil meminta uang pada pengemudi motor, dan si pengemudi motor membalasnya dengan memarahi, hingga berakhir cek-cok lantaran anak kecil itu tak mau kalah.
“Huft! Akhirnya bebas juga.” Suara lantang dari Ardan membuat Kayla mengalihkan pandangannya.
“Sebenarnya, kita mau kemana sih, Ar?” tanya Kayla baru sadar sedari tadi Ardan terus melajukan mobilnya tanpa ia tahu akan di bawa kemana.
“Tunggu aja.” Ardan tersenyum sekilas ke arah Kayla membuat gadis itu tidak berkedip melihat lesung pipi yang selalu mampu menghipnotis matanya.
Beberapa menit kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti pada sebuah pasar malam yang cukup ramai pendatang, terlebih pula tidak jauh dari sana tersuguhkan pantai yang membentang luas, yang mungkin membuat daya tarik tersendiri untuk menghampiri pasar malam.
Bagi Kayla Ardan memang laki-laki super aneh, hari kencan pertama Ardan membawanya ke perpustakaan kota, dan yang kedua sekarang ini, Ardan membawanya ke sebuah pameran yang ramai orang. Mana mungkin mereka bisa romantis-romantisan di dalam keramaian.
“Wuah ... rame banget ya, Ar.” Kayla masih berhenti di luar pameran, matanya masih menikmati keramaian di depannya dengan langit yang semakin menggelap, itu berarti pasar malam yang sesungguhnya akan di mulai.
“Pameran di sini juga diadakan satu tahun sekali, jadi sekali ada, pasti rame,” jelas Ardan pada Kayla.
“Kamu sering ke sini?”
“Dua kali ini, ayo!” Ardan segera menarik tangan mungil itu untuk masuk ke dalam, dan sekali lagi Kayla dibuat kagum, bukan hanya orang yang menjual makanan atau pun barang-barang, namun begitu banyaknya permainan yang ada.
Pertama masuk kedua orang itu langsung terpikat oleh seorang ibu penjual kaca mata, mereka saling memilih dan mencobanya satu persatu. Hingga Kayla menemukan kaca mata besar dengan bentuk love. Ia memasangkannya pada Ardan. Oh, Tuhan dia sangat lucu, batin Kayla, ia semakin tergelak melihat ekspresi Ardan yang berlagak cemberut.
“Udah? Seneng gitu?” tanya Ardan dengan datar menatap Kayla yang masih menertawakannya. Kayla pun langsung diam menahan tawanya. ‘Haish!’ Ardan sangat jengkel, melepas kaca mata menjijikkan itu dan menaruh pada tempatnya.
“Pakai ini kalau gitu, trus kita foto,” pinta Kayla menyerahkan kaca mata pilihannya dengan bentukan sama seperti yang ia pakai.
Setelah itu mereka mulai berpose wajah dengan Kayla yang membawa Kamera, wajah mereka terlihat remang-remang lantaran langit sore sudah menggelap, mungkin hanya bantuan gemerlap lampu warna-warni yang membantu memancarkan wajah lucu keduannya.
Mereka berfoto sebanyak mungkin dengan gaya yang berbeda-beda. Sampai pose terakhir Ardan berdiri di belakang Kayla meletakkan dagunya di atas kepala mungil itu, memasang ekspresi cool-nya. Sedangkan gadis itu menunjukkan wajah lucu menggemaskan.
Kayla terlihat tersenyum melihat foto terakhirnya itu, tanpa pikir panjang ia mengposting pada instagram, tanpa memberinya caption. Baru satu detik postingan itu terkirim ke publik, tapi ribuan komentar telah memenuhi notif instagram. Tapi Kayla menghiraukannya, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan melanjutkan aktivitas bersama Ardan.
Satu demi satu permainan dan makanan mulai dirasakan oleh Kayla dan Ardan, rasanya tidak ada lelah di dalam diri keduanya. Sampai mereka tak sadar sekarang telah pukul 20.00. Ardan memutuskan untuk berjalan ke arah pantai dan mengistirahatkan tubuhnya pada ayunan kecil yang terletak pada pesisir yang langsung berhadapan dengan indahnya pantai malam.
...
‘Inget sahabatnya mbak’ setelah mengetik itu di kolom komentar Daniel segera mengklik tanda kirim. Daniel sangat geram melihat postingan yang tidak sengaja mangkir di wallnya. Untung sekarang Daniel berada di rumah sakit, jadi sewaktu-waktu ia darah tinggi tidak perlu repot-repot.
Daniel yang semula duduk di samping brankar pindah berjalan ke arah Bundanya yang duduk di sofa, melemparkan ponselnya asal, dan menghempaskan bokongnya dengan kasar.
“Kamu tuh kenapa sih, Dan? Udah gak butuh Hp apa?” tanya Nita yang keheranan melihat tingkah anaknya.
“Lihat tuh, Bun. Kelakuan anak ceweknya Bunda.”
Nita yang mendengar itu mengambil ponsel Daniel yang tergeletak di bawah lantai. Sekarang ia tau kenapa Daniel bisa sampai kesal seperti itu. “Ouh ... jadi putra tampannya, Bunda. Lagi cemburu! Merasa tersaingi nih?” ledek Nita tertawa melihat wajah jengkel anaknya.
“Apaan cemburu? Enggak lah! Gak enak aja dilihat, Bun. Temannya sakit di sini dia malah enak-enakan di sana!” elak Daniel
“Ya itu, salah kamu sendiri, siapa suruh sembunyi-sembunyi. Sekarang aja nyalahin Kayla.” Daniel diam tak menjawab ocehan bunda yang malah menyalahkannya. “Eh, tapi cakepan ini loh, Dan. Dari pada kamu!”
“Bunda! Akh! Tau lah,” geram Daniel beranjak, berniat keluar dari kamar rawat, Tapi saat ia berjalan melewati brankar, matanya langsung terbelalak melihat Dami yang ...
“BUNDA! BUNDA DAMI, BUN,” teriak Daniel tiba-tiba. Nita pun langsung berdiri dan ikut terperanjat.
“Daniel! Daniel panggil dokter, Dan,” suruh Nita, ia menggengam erat jari jemari Dami sambil satu tangannya terus memencet tombol darurat yang tertempel di tembok. Nita tidak bisa berpikir normal, kenapa bisa tiba-tiba Dami mengalami kejang dengan napas yang terpenggal-penggal.
Daniel pun tanpa menjawab langsung segera berlari keluar, tapi gerakan pintu membuatnya terhenti. Dokter Hendra dan tiga suster di belakangannya langsung bergerak cepat, salah satu suster menyeret Nita begitupun dirinya untuk keluar.
Nita terus menangis sesegukan di pelukan putrannya, entah kenapa disaat seperti ini Daniel malah berpikir ada yang aneh dengan Bundanya ini. Bagaimana tidak? Nita sangat histeris dan terlihat kebingungan mengkhawatirkan Dami.
“Bunda, udah. Dami enggak akan kenapa-napa kok! Bunda kenapa bisa khawatir banget sih.”
“Gimana gak khawatir, Dan! Dami tuh anak Bunda!”
“Hah?” Daniel terkejut dengan penuturan Bundanya yang seakan sangat menegaskan.
“Ma-maksud, Bunda. Dami kan udah Bunda anggap anak sendiri.”
“Yaudah, mending sekarang Bunda hubungi Tante Reni, atau enggak gitu Om Brata!”
“Akh ya, Brata.” Nita segera mengambil ponselnya, lantas segera menghubungi pria yang berstatus ayahnya Dami. “Daniel, kamu kabarin Kayla!”
“Ta-tapi kan, Bun-“
“DANIEL! Ikutin kata Bunda.”
...
Kayla duduk mengayunkan kakinya di atas pasir menunggu Ardan. Cowok itu bilang tidak akan pergi lama, tapi mana ini? sudah 20 menit tapi Ardan belum datang juga. Tiba-tiba seseorang mengalungkan tanggannya melingkar di leher Kayla, membawa dua es krim yang sekarang ada di depannya. Kayla mendongak dan mendapati Ardan tengah tersenyum padanya.
“Mau yang mana? Vanila atau cokelat?” tanya Ardan pada Kayla
“Emm. Vanila!”
“Baiklah, Vanila untuk Tuan Putri yang cantik.” Bukannya menyerahkan pada Kayla. Cowok itu malah mencolekkan pada hidung gadis itu.
“ARDAN!”
Ardan pun tertawa puas melepaskan lingkaran tangannya dan beralih duduk di samping Kayla. “Maaf, maaf. Sini aku bersihin, pegang dulu ini.”
Kayla menuruti menerima es krim itu, Ardan menangkup wajah Kayla dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya masih memegang es krim. Ibu jarinya mulai mengusap sisa es krim yang tertempel di hidung gadis itu dengan lembut, dan lagi-lagi Kayla selalu terpana dengan perlakuan Ardan.
Oh ayolah ini kenapa jantung rasanya mau lompat, batin Kayla.
Selesai Ardan membersihkan wajah Kayla, ia kembali duduk tegap, melingkarkan satu tangannya ke belakang tubuh Kayla, yang bisa di buat sandaran oleh gadis itu.
“Ardan,” panggil Kayla.
“Hm,” balasnya menoleh menatap Kayla.
“Kamu tuh asli anak kewarganegaraan Prancis?” tanya Kayla yang mulai penasaran, ia hanya tau dari teman-temannya bila Ardan adalah anak pindahan dari Negara Eropa yang berdarah Prancis.
“Bisa dibilang begitu. Ayah aku asli dari Prancis sedangkan Ibu aku asli Indonesia, dan saat aku umur 7 tahun, Ibu bawa aku ke Indonesia sampai sekarang ini, dan status aku masih kewarganegaraan Prancis.”
“Bisa gitu yah? Tapi kata temen-temen, kamu anak pindahan dari sekolah Prancis.”
“Kan katanya, aku pindahan sekolah dari SMA Malang kok. Trus jauh-jauh kesini sih nemenin mamah aku. Walaupun enggak bakal netap di sini kan sekolah tetap penting." jelas Ardan, tangannya yang masih melingkar di bahu Kayla mencoba menyelipkan anak rambut yang hampir menutupi wajah cantik itu.
"Berarti kamu nantinya akan balik kesana?" tanya Kayla yang penasaran.
"Iya mungkin setelah aku lulus SMA." Kayla hanya mangut-mangut mendengar jawaban Ardan dan dia mengalihkan pembicaraan lainnya
“Ar, kamu gak mau nyobain es krim aku?”
“Boleh,” Ardan mendekatkan wajahnya yang akan menerima suapan kayla, namun bukan suapan yang ia dapatkan melainkan balas dendam, es krim itu berakhir di pipinya.
“Ouh, jadi ini bales dendam ceritanya.”
Kayla terkekeh mendengar ucapan Ardan, “Jadi kita satu sama!” balasnya.
“Ga ada yang namanya satu sama, sini!” Ardan menangkup bahu Kayla agar gadis itu tidak kabur, dan tangannya mulai mendekatkan es krim pada wajah Kayla. Jelas Kayla berontak dan mereka saling tertawa bersama.
“Ardan! Enggak! Aku gak mau.” Kayla terus memundurkan wajahnya, tangannya mencoba menyingkirkan tangan milik Ardan, tapi tetap jelas, kekuatannya tak sebanding dengan cowok itu.
Dengan mendadak mereka menghentikan gerakan tangan, saat tiba-tiba suara ponsel berdering memasuki indra pendengaran. Kayla membuang es krim ke tempat sampah yang berada di sampingnya dan segera membuka tas, mengambil ponsel.
Ada nama Daniel tertulis di ponselnya, ada rasa ragu saat Kayla ingin menolak telpon itu. Tapi sungguh Daniel selalu bisa mengganggunya di saat-saat seperti ini. Kayla memutuskan untuk menyeret tombol merah dan mematikan ponselnya.
“Kita pulang sekarang ya, Ar!”
“Siapa yang telpon, Bibi nyuruh pulang?” terka Ardan.
“Enggak, bukan Bibi kok.”
“Yaudahlah, ayok. Udah malam juga.”
Mereka pun berjalan keluar kembali melewati pasar malam yang masih ramai pengunjung. Semakin larut malam bukannya berkurang malah pengujung makin bertambah.
...
Mobil merah berhenti tepat di depan rumah Kayla. Dengan cepat Ardan keluar membukakan pintu samping. Tapi dilihatnya Kayla terus berkutik dengan sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuhnya.
“Kenapa Ay?”
“Gatau kenapa ini susah dibuka.”
Ardan menyundulkan kepalanya melihat sabuk pengaman yang masih terkunci di sana. “Sini aku bantuin, Maaf!” Ia mulai mendekatkan tubuhnya ke dalam, yang otomatis tubuh Kayla beringsut mundur tapi dengan begitu jarak mereka tetap dekat, hingga aroma maskulin dari rambut Ardan sangat tercium jelas olehnya.
Yang paling parah jantung Kayla berdetak tak karuan di dalam sana, semoga Ardan gak denger suara jantung aku, batin Kayla sangat berharap, lantaran tepat telinga milik Ardan ada di depan dadanya.
Merasa telah terlepas Ardan segera keluar dan disusul oleh Kayla. “Ardan, makasih ya untuk malam ini.”
“Kembali kasih, Cantik,” balas Ardan sambil menutup pintu mobil. “Ay,” panggil Ardan.
“Iya?”
“Suara jantung kamu keras banget, yah.”
“Hah?” Mata milik Kayla langsung mendelik. Apakah dia ketahuan?
Di lain sisi Ardan tergelak dengan wajah menggemaskan milik kayla. Ia mengacak rambut lurus itu dengan gemas. “Udah sana masuk!”
“Ah, ya. O-okey. Ak-aku, aku masuk dulu yah.”
Ardan semakin menahan tawa mendengar ucapan Kayla. Sedangkan Kayla sudah berlari duluan, saat merasa pipinya mulai memanas. Ia menutup pintu dengan keras dan menyenderkan tubuhnya di balik pintu.
“Oh my god! Aku bisa sakit jantung ya Tuhan,” ujar Kayla sambil memegang dadanya yang masih berdegub tak karuan.
Suara Bi Minah yang sedang berbicara dengan telepon rumah membuat Kayla melupakan jantungnya, dan sedikit mendekat memasang telinganya baik-baik.
“Astagfirullah! Den Dami drop! iya Den iya, sebentar lagi Bibi kesitu. Lagian non Ayla juga belum datang, jadi aman, Den.”
“Apa yang aman, Bi?”
Jgn lupa mampir dan dukung karya ku Thor! Rahsia dibalik tirai.😁
"Rahasia dibalik tirai" 😘