WARNING 18++
Kisah ini tentang Anya Safanya, Apakah Ia pantas disebut gadis malang karena dipaksa menikah dengan Tuan Muda Deva Rafka Utama?
Apakah mereka akan bahagia dengan pernikahannya? walaupun tanpa berlandaskan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WEENA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 13
Yuk cus.. dilanjut!
*** Di dalam mobil menuju perjalanan kembali ke hotel.
Anya tetap menangis sambil melihat kearah luar kaca mobil, Deva merasa kasihan dan sedih melihat keadaan Anya.
"Sekali lagi aku minta maaf" Ujar Deva meminta maaf untuk yang kesekian kalinya, namun Anya hanya bisa terdiam dan terus menangis.
"Maafkan aku, karena aku.. kontrak kerja kalian putus Tuan" ujar Anya sambil sesegukan.
"Jangan khawatir kan itu, keputusanku untuk mengakhiri kontrak ini sudah matang! dia memang benar-benar biadab!" kata Deva geram mengingat wajah Pak Ibra.
**** Hotel
"Kalian sudah datang? kenapa cepat sekali?" ujar Reno yang ternyata masih berada ditempat parkir hotel
Reno melirik Anya yang terlihat sangat sedih dengan mata sembabnya "Nya.. kenapa?" ujarnya perhatian.
Deva mengendus sinis "sudahlah antarkan dia dulu kekamarnya"
Mereka bertiga menuju kekamar masing-masing, Anya berjalan lebih dulu sedangkan Reno yang masih penasaran mulai bertanya-tanya dengan Deva.
"Loe abis marahin dia?"
"Tega banget sih loe"
"Awas ya sampe Tuan Rafka tau! habis loe"
Deva memutar bola matanya kesal dan menatap Reno "Kau bisa diam tidak?, tolong jangan memperuyam keadaan! aku tidak melakukan hal apapun kepadanya! ini karena si brengsek Ibra! si tua bangka yang tak tau diri!"
Reno mulai mengerti apa yang sudah terjadi dan menghampiri Anya yang hendak masuk kekamarnya "Kau ingin sesuatu? Aku akan membelikan mu es krim, agar moodmu bisa kembali lagi"
"Tidak perlu.. aku hanya ingin sendiri" ujar Anya dan langsung menutup pintu kamarnya.
Reno menghentikan Deva yang juga ingin masuk kekamarnya "Ehhhh tunggu tunggu... kau ini kaku sekali ya! tunanganmu sedang sedih dan kau hanya berdiam diri saja! ayo lakukan sesuatu" bujuknya.
"Kau tak dengar.. dia hanya ingin sendiri dulu kan? biarkan dia istirahat" ujar Deva.
"Hufttt kampret! aku beri tahu kamu sekarang... ketika wanita sedih, Ia hanya perlu di hibur, dibelikan sesuatu, diberikan perhatian, jangan ditinggalkan" ujar Reno.
"Akhhh Aku lelah... dia itu berbeda, mungkin sebentar lagi dia sudah tak sedih lagi!" elak Deva.
"Ya sudah! biarkan aku yang membelikan es krim dan masuk ke kamar nya, siapa tau... aku tiba-tiba khilaf, dan..." canda Reno.
"Kurang ajar... baik-baiklah!" desis Deva.
"Sekarang aku yakin, bahwa Deva sebenarnya sudah mencintai Anya" batin Reno dengan senyuman manisnya melihat Deva pergi untuk membeli es krim.
Tok
Tok
Tok
Tok
"Cil.."
"Eh Tuan, ada apa?" Anya membuka pintu dan melihat Deva sedang membawa 2 es krim.
"Ini untukmu" ujar Deva.
"Tidak Tuan.. aku tidak terlalu menyukai es krim" tolak Anya.
"Lalu apa yang kau suka?" tanya Deva
"Kau suka ini?" kata Reno tiba-tiba muncul disebelah Deva membawa 1 bungkus coklat.
"Ahhh iya.. Ini untukku?" ujar Anya senang.
"Iya.. tentu saja, makan lah" balas Reno dengan senyuman.
Deva melirik kearah Reno dengan kesal "Shit!!! kenapa Ia tadi menyuruhku membelikan Anya es krim! jika Ia tahu kesukaan Anya adalah coklat! dasar penjilat!" batinnya.
"Terimakasih Reno" ujar Anya mengambil coklat itu dari tangan Reno dengan senyuman manisnya.
"Lalu es krim ini?" tanya Deva melirik kearah 2 es krim nya.
"Untukku saja Haha.." ujar Reno meraih es krim itu.
Deva membiarkan es krim itu untuk Reno dan melihat kearah Anya yang terlihat senang setelah mendapatkan coklat dari Reno "Kau sudah tak sedih lagi?"
"Tidak.. berkat coklat ini.." ujar Anya jujur. "Reno.. terimakasih ya, sudah perhatian kepadaku, bahkan kau tetap mengingat hal favoritku" lanjutnya lagi.
"Sudah tugasku" balas Reno melirik kearah Deva yang mulai terpancing amarahnya.
Deva mengumpat didalam dirinya..
Shit!
"Adegan romantis apalagi yang harus kusaksikan ini!"
"Apa iya! aku terlalu kurang perhatian, sehingga tak tahu apa yang disukai oleh Anya?"
"sudahlah.. apa peduliku!"
"Aku kembali beristirahat ya..selamat malam" ujar Anya dan langsung menutup pintu kamarnya lagi.
Reno cepat-cepat pergi meninggalkan Deva sendirian agar tidak terkena marah lagi..
Deva masuk kedalam kamarnya dan merebahkan badannya
"Sejauh ini.. apakah Anya masih menganggapku buruk?"
"Apa aku terlalu kaku bagi dia?"
"Baiklah! mulai sekarang aku akan mencoba menjadi Deva si lelaki tampan yang perhatian! aku tidak ingin Anya berpaling dariku dan memilih Reno si tengil itu!"
..........
Deva hendak mengirimkan pesan untuk Anya
"Selamat malam Anya, tidur yang nyenyak dan mimpi indah ya.." ketiknya
Anya melihat ponselnya dan menatap notifikasi pesan itu "siapa nih?" katanya binggung "bales gak ya hmmm" lanjutnya "jangan deh.. gue kan harus jaga perasaannya si kampret! mending gue tidur aja, mumpung lagi di bali besok mau ke pantai ahhh" pikirnya dan langsung mematikan ponselnya.
Deva menunggu balasan pesan dari Anya dengan terus melihat ponselnya "Kok lama banget sih.. masa iya udah tidur sih?" gumamnya "atau kouta/pulsanya habis?" lanjutnya "udah deh lanjut tidur aja" pikirnya dan langsung mematikan ponselnya juga.
🆙🆙🆙🆙 gengss terimakasih sudah baca novel ini..
jangan lupa di like, comment dan vote aku ya!!!👋👋🌹🌹