Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Edgar merengkuh bahu kedua putranya, lalu memperkenalkan mereka kepada sang ayah. "Pah, ini cucu-cucunya Papah... Rayyan dan Zayyan."
"Cucuku, kemari lah! Akhirnya Kakek bisa melihat kalian untuk kedua kalinya!" ujar Tuan Fernando penuh emosi seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Tanpa ragu, Rayyan dan Zayyan langsung berhambur ke pelukan sang kakek. Edgar yang menyaksikan momen tersebut meneteskan air mata bahagianya.
"Melihat kalian, penyakit Kakek pasti segera sembuh. Kalian adalah obatnya Kakek! Kakek ingin melihat kalian tumbuh dewasa sebagai pewaris Ganendra Group!" tutur Tuan Fernando bersemangat.
Rayyan dan Zayyan tersenyum senang.
"Kek, aku masih merasa ini semua adalah mimpi. Bisa tidak Kakek cubit aku?" pinta Rayyan polos.
"Iya Kek, aku juga! Coba Kakek cubit!" sambung Zayyan.
Tuan Fernando dengan gemas mencubit kedua pipi cucunya yang menggemaskan itu.
"Awww... sakit juga! Berarti kita tidak sedang bermimpi, Zayyan!" ujar Rayyan kembali tersenyum bahagia.
Demi mengamankan si kembar dari sorotan puluhan wartawan di luar dan ancaman para musuh bisnisnya termasuk kejanggalan kepergian Paman David ke luar negeri yang diduga untuk melarikan diri dari kejaran hukum, Edgar mengambil langkah cepat.
"Hary, katakan kepada para investor bahwa saya kurang enak badan dan tidak bisa menemui mereka lagi. Bilang kita akan bahas masalah proyek ini minggu depan. Dan untuk Asisten Dani, tolong secepatnya para wartawan itu pergi dari sini. Saya tidak ingin informasi soal putraku diketahui oleh mereka. Untuk sementara waktu, aku ingin merahasiakan dulu keberadaan mereka," perintah Edgar tegas.
"Baik, Tuan!" jawab Hary dan Dani serempak sebelum bergegas melaksanakan tugas.
Kini, si kembar duduk berdampingan di sisi kanan dan kiri Edgar. Edgar mulai mengikis jarak dengan menanyakan kehidupan mereka selama tinggal di desa. Si kembar bercerita polos tentang perjuangan Aruni membesarkan mereka, bantuan Bik Sumi dan Larasati, hingga sosok Paman Rama dan Tante Rena.
Saat mendengar nama Rena, Edgar teringat sesuatu. " Bukankah Rena itu sahabat ibumu? Lantas siapa itu Paman Rama?" tanya Edgar penasaran.
Rayyan menceritakan bahwa Paman Rama adalah seorang perwira polisi intel yang kerap menangani kasus-kasus besar. Edgar mendadak terdiam, lalu menarik kesimpulan di dalam hatinya.
‘Oh... jadi Aruni selama ini disembunyikan oleh Rama dan Rena? Pantas saja aku tidak bisa menemukannya, rupanya polisi itu telah mengganti identitas Aruni.’
Tak lama kemudian, hidangan mewah tertata apik di meja makan. Perut si kembar yang keroncongan membuat mereka makan dengan sangat lahap. Edgar menatap kedua putranya dengan dada sesak.
‘Maafkan Ayah, Nak... Pasti selama tujuh tahun ini kalian dan ibumu sangat menderita. Aku berjanji akan membayar setiap penderitaan kalian dengan kebahagiaan,’ batin Edgar teriris.
Menjelang sore, si kembar terburu-buru pamit pulang karena takut dimarahi Aruni. Edgar pun bersikeras mengantar mereka secara diam-diam.
"Ayah, antarnya jangan sampai ketahuan Bunda, ya. Lagian tempat usaha laundry Bunda dekat kok dari sini. Untuk sementara waktu, rahasiakan dulu soal pertemuan kita... Bunda pasti belum siap ketemu sama Ayah," pesan Rayyan bijak.
Edgar mengangguk setuju. Ia mengenakan masker untuk menutupi separuh wajahnya, lalu berjalan mengawal si kembar dari jarak aman hingga mendekati ruko laundry. Begitu si kembar makin dekat ke ruko, Edgar bersembunyi di balik batang pohon mahoni yang rindang.
"Ya sudah, sampai ketemu besok ya, Ayah!" bisik Zayyan seraya melambaikan tangan dari jauh. Rayyan ikut memberikan salam perpisahan seraya melangkah mantap.
Di depan pintu ruko, sosok Aruni muncul sambil berkacak pinggang, langsung menyambut kedua putranya dengan omelan hangat karena pulang terlambat.
Dari balik pohon mahoni, Edgar mengintip bayangan wanita yang selama tujuh tahun ini memenuhi ruang rindunya. Wajah cantik itu masih sama, hanya kini terpancar ketegaran seorang ibu. Seketika jantung Edgar berdegup kencang, rona merah tipis mengaliri pipinya.
‘Aruni... akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Maafkan aku... Karena ulahku malam itu, kau harus menderita seperti ini. Terima kasih sudah melahirkan dan merawat darah dagingku. Tunggu aku... Saat waktunya tiba, kita akan berkumpul menjadi keluarga yang bahagia, dan aku akan secepatnya menikahi mu, menjadikanmu istriku selamanya.’
*
*
Hari-hari berikutnya berjalan penuh rahasia di Desa Sukomakmur. Edgar yang memutuskan menetap lebih lama di vilanya, hampir setiap sore menghabiskan waktu bersama Rayyan dan Zayyan secara diam-diam. Si kembar dengan cerdik selalu punya alasan untuk kabur sejenak setelah membantu usaha laundry Aruni, hanya demi memeluk sang ayah dan mendengarkan cerita-cerita hebat dari sang kakek, Tuan Fernando.
Hingga pada suatu sore, langit Sukomakmur mendadak mendung tebal. Angin dingin berembus kencang menandakan hujan deras akan segera turun. Di ruko laundry, Aruni panik melihat tumpukan pakaian milik pelanggan resort yang masih terpajang di jemuran luar.
"Laras! Bantu aku angkat jemuran, sebentar lagi hujan turun!" seru Aruni panik sambil berlari ke halaman depan.
"Iya, Runi! Aku ambil keranjang dulu!" sahut Laras dari dalam.
Sementara itu, Edgar yang sedang berjalan pelan di seberang jalan dengan mengenakan mantel dan topi kain bermaksud mengawasi ruko dari jauh, ia melihat kepanikan Aruni. Tanpa memikirkan penyamarannya lagi, dorongan untuk membantu wanita yang dicintainya mengalahkan segalanya.
Edgar berlari menyeberang jalan dan langsung menyambar tiang jemuran portabel milik Aruni.
"Mari saya bantu!" ucap Edgar dengan suara berat.
Aruni yang kaget mendadak mendongak. "Eh, tidak usah Pak, terima kasih."
Kalimat Aruni terhenti seketika. Hujan lokal mendadak turun menumpahkan butiran air yang deras. Di bawah guyuran hujan yang mulai membasahi bumi, angin kencang menerbangkan topi yang dikenakan Edgar.
Dan akhirnya mata mereka bertemu.
Waktu seolah berhenti berputar. Tatapan mata sipit yang sangat dihafalnya, tatapan milik pria di malam kelam tujuh tahun yang lalu, kini berada tepat di depan wajahnya. Sosok Edgar Ganendra berdiri nyata, menatapnya dengan binar mata yang dipenuhi kerinduan berkedalaman luar biasa.
"T... tuan Edgar?" bisik Aruni tercekat. Suaranya tenggelam di antara gemuruh suara hujan. Wajahnya seketika pucat pasi, matanya membelalak penuh rasa terkejut dan ketakutan yang menjalar hebat.
"Aruni..." panggil Edgar lembut. Pria itu menyentuh jemari Aruni yang gemetar memegang keranjang pakaian. "Akhirnya... aku menemukanmu."
Bukannya terharu, Aruni justru mundur beberapa langkah dengan napas memburu. Bayangan masa lalu, ketakutan akan status sosial mereka, serta rasa cemas atas keselamatan si kembar membuat pertahanannya runtuh seketika.
"Tidak! Jangan mendekat!" teriak Aruni panik. Ia melepaskan keranjang pakaian begitu saja dan berlari masuk ke dalam ruko, lalu membanting pintu rapat-rapat.
"Aruni! Dengarkan aku dulu, Aruni!" panggil Edgar panik seraya menggedor pintu ruko dari luar, tubuhnya kini basah kuyup disiram hujan.
Di dalam ruko, Aruni terduduk menyandar di balik pintu sambil menangis sesenggukan. Larasati yang kaget melihat kepanikan Aruni segera menghampiri, sementara Rayyan dan Zayyan yang baru keluar dari kamar mandi hanya bisa saling pandang.
Rayyan menatap pintu dengan dada berdesir. Ia tahu, saat yang paling ditakuti sekaligus ditunggu-tunggu oleh keluarga kecil mereka... akhirnya telah tiba.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..