PROLOG
Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.
Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.
Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.
Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama di Dunia Baru
"Tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita datang sebagai sahabat. Ada yang awalnya hanya orang asing, tetapi waktu perlahan mengubah semuanya."
Hari itu merupakan hari pertama kegiatan orientasi sekolah. Sejak melangkahkan kaki melewati gerbang SMP Cendekia Nusantara, suasananya terasa jauh berbeda dibandingkan hari sebelumnya. Jika kemarin kami hanya datang untuk mendengarkan pembagian kelas sementara, pagi itu seluruh siswa baru langsung diarahkan menuju ruang kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan orientasi selama tiga hari ke depan. Di sepanjang koridor sekolah tampak siswa-siswa baru berjalan sambil membawa tas di punggung mereka. Ada yang berjalan dengan penuh percaya diri, ada pula yang hanya menundukkan kepala sambil sesekali melihat ke kanan dan kiri karena masih merasa asing dengan lingkungan sekolah yang begitu luas.
Aku menarik napas pelan sebelum akhirnya melangkah menuju Ruang Empat. Pintu kelas masih terbuka lebar dan beberapa siswa sudah duduk di bangku masing-masing. Begitu memasuki ruangan itu, pandanganku langsung berkeliling memperhatikan setiap wajah yang ada di sana. Hampir semuanya belum pernah kulihat sebelumnya. Hanya beberapa orang saja yang kukenal karena berasal dari sekolah dasar yang sama, tetapi kami juga tidak terlalu dekat karena selama SD tidak pernah berada di kelas yang sama. Itulah sebabnya aku tetap merasa seperti orang baru yang harus memulai semuanya dari awal.
Aku memilih duduk di bangku bagian tengah sambil meletakkan tas perlahan di atas meja. Suasana kelas terasa begitu sunyi. Tidak banyak percakapan yang terdengar. Sebagian besar siswa hanya duduk diam sambil memainkan ujung buku tulis, merapikan seragam, atau sekadar memandangi teman-teman di sekelilingnya. Sesekali ada yang saling tersenyum ketika tanpa sengaja bertatapan, tetapi setelah itu kembali menundukkan kepala karena belum berani memulai percakapan.
Aku pun tidak jauh berbeda. Tanganku beberapa kali memainkan resleting tas hanya untuk mengurangi rasa gugup. Di dalam hati aku bertanya-tanya, apakah nanti aku bisa mendapatkan teman baru? Apakah aku akan merasa nyaman belajar di kelas ini? Berbagai pertanyaan terus memenuhi pikiranku hingga tanpa sadar aku menghela napas pelan.
Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki dari arah luar kelas. Pintu yang sejak tadi terbuka perlahan didorong, lalu beberapa kakak OSIS memasuki ruangan dengan senyum ramah di wajah mereka.
Mereka mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan atribut OSIS yang terpasang rapi. Kehadiran mereka langsung membuat seluruh siswa memusatkan perhatian ke depan kelas.
Salah seorang kakak yang berdiri paling depan tersenyum hangat sebelum mulai berbicara.
"Selamat pagi, adik-adik."
"Selamat pagi, Kak," jawab kami hampir bersamaan.
"Perkenalkan, kami dari OSIS. Selamat datang di SMP Cendekia Nusantara. Hari ini adalah hari pertama kalian mengikuti kegiatan orientasi sekolah. Selama tiga hari ke depan kami akan mendampingi kalian untuk mengenal lingkungan sekolah, tata tertib, serta berbagai kegiatan yang ada di sini. Jadi Kakak berharap adik-adik bisa mengikuti semuanya dengan semangat dan saling bekerja sama."
Cara berbicara kakak itu terdengar santai sehingga suasana kelas yang semula tegang mulai terasa lebih nyaman.
"Oh ya," lanjutnya sambil tersenyum, "sebelum memulai kegiatan, kami ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu."
Ia melangkah satu langkah ke depan.
"Perkenalkan, nama Kakak Arga."
"Halo, Kak Arga..." jawab kami serempak.
Aku ikut menyapa bersama teman-teman yang lain. Setelah itu satu per satu kakak OSIS lainnya memperkenalkan diri hingga seluruh anggota selesai menyebutkan nama mereka. Masing-masing memiliki cara berbicara yang berbeda. Ada yang terdengar tegas, ada yang lucu, bahkan ada yang membuat seluruh kelas tertawa karena sesekali menyelipkan candaan.
Setelah semua selesai memperkenalkan diri, Kak Arga kembali berdiri di depan kelas.
"Nah, sekarang giliran adik-adik. Supaya kita semua saling mengenal, nanti satu per satu berdiri lalu memperkenalkan nama, asal sekolah, dan hobi kalian."
Mendengar itu, suasana kelas kembali hening.
Beberapa teman terlihat saling berpandangan. Ada yang mulai tersenyum gugup, ada pula yang langsung menundukkan kepala. Aku sendiri hanya bisa menarik napas panjang sambil berharap namaku tidak dipanggil terlalu cepat.
Satu per satu teman mulai berdiri memperkenalkan diri. Setiap selesai memperkenalkan diri, seluruh isi kelas kompak menyambut dengan tepuk tangan dan ucapan salam. Perlahan suasana yang tadinya kaku mulai berubah menjadi lebih hangat.
Tidak lama kemudian tibalah giliranku.
Aku berdiri perlahan dari bangku. Jantungku berdegup cukup kencang. Rasanya seperti seluruh mata sedang memandang ke arahku. Aku mencoba tersenyum meskipun rasa gugup masih sangat terasa.
"Halo... nama saya Hitas Nursyah. Saya berasal dari SD Negeri Harapan Bangsa. Senang bisa berkenalan dengan teman-teman semua."
Begitu selesai berbicara, tepuk tangan langsung terdengar memenuhi ruangan.
"Halo, Hitas..." sapa teman-teman hampir bersamaan.
Aku tersenyum kecil lalu kembali duduk. Entah mengapa, setelah memperkenalkan diri, rasa gugup yang sejak tadi memenuhi dadaku perlahan menghilang. Aku mulai merasa sedikit lebih tenang.
Satu demi satu teman yang lain kembali memperkenalkan diri hingga akhirnya seluruh siswa selesai. Ruangan yang sejak tadi terasa sunyi kini berubah menjadi jauh lebih hidup. Tawa mulai terdengar di berbagai sudut kelas. Beberapa teman yang sebelumnya hanya saling memandang kini mulai berani mengobrol. Ada yang saling bertanya asal sekolah, ada yang membahas hobi, bahkan ada yang langsung bercanda seolah-olah sudah lama saling mengenal.
Melihat suasana kelas mulai akrab, Kak Arga bertepuk tangan pelan.
"Bagus... sekarang kita mulai permainan pertama."
Seketika seluruh kelas bersorak kecil.
Berbagai permainan pun dimulai. Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta bekerja sama menyelesaikan tantangan yang telah disiapkan oleh kakak-kakak OSIS. Ada permainan yang menguji kekompakan, ada pula permainan yang membuat kami harus saling menghafal nama teman dalam kelompok.
Berkali-kali gelak tawa memenuhi ruangan ketika ada teman yang salah menyebut nama atau melakukan gerakan yang lucu. Bahkan aku sendiri beberapa kali tertawa hingga perut terasa sakit.
Tanpa kusadari, anak-anak yang pagi tadi masih duduk diam kini mulai saling memanggil nama satu sama lain. Kami tidak lagi merasa secanggung sebelumnya. Permainan demi permainan benar-benar berhasil mencairkan suasana.
Saat jam istirahat tiba, beberapa teman mulai mengajakku mengobrol. Kami saling bertukar cerita tentang sekolah dasar masing-masing dan alasan memilih melanjutkan sekolah di sini. Aku yang semula merasa akan kesulitan beradaptasi perlahan mulai merasa nyaman berada di tengah mereka.
Hari pertama orientasi pun berlalu jauh lebih menyenangkan daripada yang kubayangkan. Ketika bel pulang berbunyi, aku meninggalkan kelas dengan perasaan yang berbeda. Pagi tadi aku datang dengan hati yang dipenuhi rasa gugup, tetapi sore itu aku pulang sambil membawa senyum. Meskipun belum mengenal semua teman sekelas, setidaknya aku tidak lagi merasa sendirian.
Aku belum tahu bahwa dua hari berikutnya akan menghadirkan pengalaman yang jauh lebih berkesan. Justru pada hari-hari itulah aku mulai mengenal lebih banyak teman, semakin menikmati setiap kegiatan orientasi, dan tanpa kusadari akan mengakhiri semuanya dengan sebuah kejutan yang membuatku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
...***...