NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

Malam makin larut saat Farah tiba di rumah. Setelah mengunci pintu pagar dan menyapa ibunya sekilas di ruang keluarga, cewek itu langsung melangkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.

Ceklek.

Pintu kamar terkunci rapat. Farah melempar tasnya asal ke atas kursi belajar, lalu menjatuhkan tubuhnya terlentang di atas kasur. Kamarnya yang mendadak hening terasa terlalu pekat untuk menampung isi kepalanya yang makin acak-acakan.

Farah menatap langit-langit kamar yang redup. Kalimat Jasver di depan gedung bimbel tadi masih terngiang-ngiang jelas di telinganya.

“Aery dari awal nyamannya sama Bumi dan Bumi selalu tau apa yang Aery butuhin. Cowok kayak gue... pantesnya cuma jadi penonton.”

Farah memiringkan tubuhnya, memeluk guling erat-erat. Nadanya Jasver yang pasrah dan raut wajahnya yang kehilangan binar konyol tadi sore membuat dada Farah sesak.

"Bego banget sih lo, Ver..." bisik Farah pelan pada kegelapan kamar. Tangannya meremas kain guling. "Kenapa lo harus semenderita itu cuma demi cewek yang bahkan ngga pernah ngelirik lo?"

Dan yang paling bikin perih adalah posisinya sendiri. Selama ini, Farah selalu memposisikan dirinya sebagai partner-in-crime yang tomboy, cewek yang asyik diajak berantem, dan tidak pernah baper. Tapi malam ini, benteng pertahanan yang dia bangun bertahun-tahun rasanya runtuh begitu aja.

Tanpa bisa ditahan lagi, air mata Farah menetes, membasahi bantalnya.

Ia buru-buru mengusap pipinya kasar dengan lengan baju. Farah bangkit duduk di tepi kasur, menyambar ponsel dari dalam tas. Layar ponselnya menyala, menampilkan obrolan grup mereka. Di sana ada Ren yang masih sempat mengeluh soal Fisika dan Aery yang membalas dengan stiker lucu. Tapi nama Jasver sama sekali tidak terlihat. Cowok itu pasti sedang menarik diri di kamarnya yang sepi.

Farah menggeser layarnya, membuka ruang chat pribadinya dengan Jasver. Jemarinya sempat membeku lama di atas keyboard. Ada dorongan besar dalam dirinya untuk mengetik apa yang sebenarnya dia rasakan.

Ver, jangan pernah ngerasa diri lo ngga cukup. Lo itu berharga dengan cara lo sendiri. Dan kalau Aery ngga bisa liat itu... ada gue disini yang dari dulu selalu merhatiin lo.

Tapi Farah langsung menghapus kalimat itu sampai bersih. Keraguan dan ketakutan akan merusak pertemanan mereka menahannya kuat-kuat.

​Sebagai gantinya, Farah menarik napas panjang, menelan rasa sesaknya, lalu mengetik pesan lain yang jauh lebih aman.

Farah: Oi bego, besok jangan lupa bangun pagi. Kalau lo dateng terlambat pas PTS Fisika, gue beneran bakal tendang lo dari lantai dua.

​Beberapa menit berlalu tanpa balasan. Farah menghembuskan napas pelan, meletakkan ponselnya diatas nakas, lalu berbaring menatap jendela luar yang mulai diguyur gerimis tipis.

​♧♧♧

Pagi harinya, suasana SMA Astra Nova mendadak dipenuhi ketegangan khas hari ujian. Murid-murid kelas X sibuk hilir mudik membawa catatan kecil, komat-kamit mengeluhkan rumus Fisika yang rasanya tidak masuk di akal.

Di depan Ruang 08, Jasver berdiri bersandar di dinding koridor. Lingkar hitam samar tercetak di bawah matanya, tanda cowok itu hampir tidak tidur semalaman. Ponsel di genggamannya menunjukkan pesan dari Farah tadi malam yang baru sempat ia baca pagi ini.

Jasver menyunggingkan senyum tipis, jari jempolnya bergerak mengetik balasan singkat.

Jasver: Tenang aja, gue udah di sekolah dari subuh wkwk. Doain otak gue gak berasap pas nemu soal Fisika.

Belum sempat meletakkan ponselnya kembali ke saku, langkah kaki yang akrab terdengar mendatangi koridor. Farah berjalan bersama Aery dari arah tangga. Farah mengenakan jaket parasitnya seperti biasa, sementara Aery tampak rapi dan fokus membolak-balik buku catatan kecilnya.

"Pagi, Ver," sapa Aery manis saat melewati Jasver. "Udah siap tempur sama Fisika?"

Jasver tersentak pelan, refleks memamerkan cengiran konyolnya yang paling ampuh. "Pagi, Ry! Siap dong, siap pasrah maksudnya hahah!"

Aery terkekeh pelan sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam ruang ujiannya sendiri.

Sementara itu, Farah sempat menahan langkahnya sebentar di depan Jasver. Matanya memindai wajah Jasver yang kelihatan lelah. Ada rasa khawatir yang tertahan di sorot mata Farah, tapi cewek tomboy itu buru-buru menutupinya dengan dengusan pelan.

"Muka lo kayak zombie, Ver," tegur Farah pelan. "Begadang lo?"

"Yee... orang pinter mah belajarnya night owl, Far," sahut Jasver asal sambil terkekeh garing.

Farah menghembuskan napas pelan, lalu menepuk bahu Jasver agak keras. Sebuah kontak fisik kasual yang biasa ia lakukan untuk menutupi degupan jantungnya sendiri. "Kerjain yang bisa dulu. Jangan kebanyakan ngelamun."

"Siap, Kanjeng Ratu," balas Jasver.

Ujian PTS Fisika berlangsung selama sembilan puluh menit yang menyiksa. Di dalam kelas, suara ketukan pensil dan desah napas frustrasi bersahut-sahutan.

Jasver menatap lembar soal nomor dua puluh empat–soal bab Hukum Gravitasi Newton yang semalam sempat dibahas di kertas rangkuman buatan Bumi. Di kepala Jasver, rumus itu sebenarnya agak kabur, tapi ia berusaha keras mengingat-ingat.

Tanpa sadar, mata Jasver melirik ke luar jendela kelas yang membatasi koridor. Di sana, Bumi baru saja keluar lebih awal dari ruang ujiannya, berjalan tenang sambil membawa papan ujian. Dari arah berlawanan, Aery yang rupanya juga sudah selesai lebih cepat, tampak keluar dari Ruang 04.

Melalui kaca jendela yang transparan, Jasver bisa melihat bagaimana Aery tersenyum lebar menghampiri Bumi. Keduanya berdiri di bawah naungan koridor luar, berbincang pelan penuh kehangatan yang seolah-olah mengisolasi mereka dari keributan di sekitarnya.

Jasver tertegun. Pensil di genggamannya tertahan di atas lembar jawaban.

Mereka emang cocok banget, batin Jasver perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang getir. Rasa perih itu masih ada, tapi Jasver mulai belajar menelannya pelan-pelan.

Ketika bel tanda ujian berakhir akhirnya berbunyi nyaring, riuh suara murid-murid seketika memecah keheningan. Jasver dengan cepat mengumpulkan lembar jawabannya ke depan, berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun tepat di ambang pintu kelas, Farah sudah menunggunya. Cewek itu tidak memarahi atau mengejeknya seperti biasa. Farah hanya berdiri di sana, menatap Jasver dengan pandangan hangat dan tulus.

Jasver yang baru saja melintasi ambang pintu sempat menghentikan langkahnya. Ia agak canggung mendapati Farah menunggunya dengan tatapan setenang itu. Tanpa omelan, tanpa pukulan di bahu, dan tanpa ejekan soal mukanya yang mirip zombie.

"Lah, Far? Lo ngga langsung ke kantin sama Ren?" tanya Jasver, berusaha mengembalikan cengiran konyolnya seperti biasa. "Tuh si Ren udah teriak-teriak kayak orgil."

Farah tak membalas candaan itu. Ia hanya menggeleng pelan, lalu menyodorkan satu kantong plastik berisi es teh manis yang sudah berembun dingin ke dada Jasver.

"Nih," ucap Farah singkat.

Jasver membelalakkan mata, menatap kantong es teh itu bergantian dengan muka Farah. "Buat gue? Tumben banget lo ngasih, Far? Ada racunnya ngga nih?"

"Banyak bacot lo, tinggal minum aja," sungut Farah, walau kali ini galaknya terasa sangat tipis, seperti hanya penutup untuk rasa canggungnya sendiri. "Gue tau otak lo mendidih ngerjain Fisika tadi. Minum, biar ngga pingsan di koridor."

Jasver tertawa pelan. Ia menerima es teh itu dan langsung menusuk sedotannya, menenggak cairan dingin itu dengan cepat. Rasa manis yang menjalar di tenggorokannya mendadak terasa begitu menyegarkan, sedikit mengurangi rasa penat dan sesak yang mengendap di dadanya sejak semalam.

"Makasih ya, Mba Karate," gumam Jasver tulus. Kali ini, suaranya terdengar lebih pelan dan lembut dari biasanya.

Farah menyandarkan punggungnya di pembatas koridor, menyilangkan tangan di dada sambil menatap lapangan sekolah yang mulai dipenuhi anak-anak kelas lain. Udara siang pasca-PTS terasa agak panas, tapi angin sepoi-sepoi sempat mengibarkan ujung rambut Farah yang terikat asal.

"Ver," panggil Farah tanpa menoleh.

"Yup?" Jasver menyedot sisa-sisa es tehnya sampai berbunyi sret-sret.

"Nanti sore anak-anak mau nongkrong di warung pecel lele yang kemarin gara-gara besok libur. Lo ikut, kan?"

Jasver sempat terdiam. Di kepalanya, ia langsung membayangkan kalau Aery dan Bumi pasti akan ikut juga. Mengingat bagaimana dekatnya mereka di koridor tadi siang, Jasver tidak yakin hatinya sudah siap untuk kembali berpura-pura jadi penonton yang paling heboh.

"Gue... agak capek deh kayaknya, Far," elak Jasver halus, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Mau langsung tidur aja di rumah."

Farah memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Jasver. Sorot matanya tajam, namun kali ini bukan tajam karena marah, melainkan karena ia begitu mengenal cowok di depannya.

"Lo bukan capek ngerjain Fisika, Ver," potong Farah tegas namun pelan. "Lo capek lari dari diri lo sendiri."

Jasver membeku. Tangannya yang memegang kantong es teh mendadak kaku.

"Kalau lo terus-terusan mengurung diri tiap kali liat mereka berdua, lo bakal terus ngerasa kalah," lanjut Farah. Suaranya terdengar sangat tenang, tapi penuh penekanan. "Ikut aja. Ada gue, ada Ren. Lo ngga sendirian."

Jasver menatap Farah. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Jasver benar-benar memperhatikan cewek di depannya itu.

Selama ini, Jasver selalu menganggap Farah sebagai "salah satu dari anak cowok". Cewek galak yang jago karate, yang selalu siap menyikutnya kalau ia berbuat konyol. Tapi siang ini, Jasver melihat ketulusan yang luar biasa di mata Farah. Ada rasa aman yang tak disadari Jasver selama ini selalu hadir setiap kali Farah berada di dekatnya.

Jasver perlahan tersenyum. Bukan senyum konyol yang dipaksakan, melainkan senyum tipis yang jujur.

"Galak amat sih lo, pantes ngga ada cowok yang berani deketin," goda Jasver pelan, berusaha mencairkan suasana. Tapi kemudian ia mengangguk. "Yaudah iya, gue ikut. Tapi es teh yang ini free ya!"

"Enak aja! Bayarlah!" semprot Farah refleks, meski bibirnya tak bisa menahan senyuman lega.

Di ujung koridor, Ren berteriak heboh sambil melambaikan tangan mengajak ke kantin, sementara Aery dan Bumi tampak berjalan beriringan di belakangnya. Namun kali ini, saat Jasver melirik ke arah Aery, rasa perih itu tak lagi sepekat kemarin. Karena di sampingnya, ada Farah yang selalu berdiri di sisinya, siap menopang Jasver kapanpun cowok itu mulai kehilangan pijakan.

♧♧♧

Suasana warung pecel lele "Lamongan Cak Slamet" yang terletak di sudut jalan tampak sudah mulai ramai menjelang malam. Tenda biru berukuran sedang itu memantulkan cahaya lampu petromak yang menggantung di tiangnya, berpadu dengan asap mengepul dari wajan penggorengan yang menebarkan aroma gurih bawang putih dan sambal terasi.

Ren yang baru datang langsung merebut kursi kosong di sebelah pojok, mengibaskan tangannya karena gerah. "Wah, gila! Ini warung penyelamat hidup banget pas tanggal tua kayak gini. Mantap, Far, pilihan lo gak pernah salah!"

"Emang dasar perut gentong lo aja yang gampang laper, Ren," balas Farah santai, sambil menaruh tas selempangnya di kursi.

Jasver duduk di samping Farah. Sepanjang perjalanan tadi, Jasver sempat merasa canggung membayangkan apakah ia akan canggung melihat Aery dan Bumi yang biasanya selalu terlihat serasi. Namun, berkat obrolan di koridor tadi siang dan kehadiran Farah yang duduk tepat di sisinya, dada Jasver terasa jauh lebih longgar. Rasa sesak itu perlahan menguap, tergantikan oleh rasa lapar yang mendesak.

"Pak! Pesan lele dua, ayam satu, bebeknya dua, es teh manis empat, sama es jeruk satu!" seru Jasver lantang kepada sang pemilik warung yang sedang sibuk memotong kol.

"Siap, Mas Ganteng!" balas sang penjual ramah.

Bumi yang duduk di seberang Jasver tersenyum kecil melihat antusiasme temannya itu. "Tadi siang katanya capek mau langsung tidur, Ver. Kok sekarang malah paling semangat pesannya?"

"Capek mah urusan nanti, Bum. Kalau urusan perut sama traktirannya Farah, tenaga gue langsung full battery lagi," jawab Jasver cengengesan, melirik Farah sekilas.

"Dih, siapa bilang gue mau traktir lo?!" protes Farah cepat, walau tangannya langsung menyikut pelan lengan Jasver. "Tadi kan perjanjiannya lo ganti duit gue buat beli es teh lo!"

"Eh, mana ada! Lo kan bilang 'es teh yang ini free ya', ya berarti gue ngga perlu ganti duit lo dong!" bela Jasver tidak mau kalah, memancing tawa renyah dari Ren dan Aery.

Aery yang duduk di sebelah Bumi ikut tersenyum tipis menyaksikan perdebatan kecil itu. Tak lama kemudian, pesanan datang mengepul di atas meja. Piring-piring berisi lele goreng garing, bebek goreng, ayam goreng, lalapan segar, sambal terasi yang pedasnya menggigit, serta nasi hangat tersaji rapi.

"Sebelum makan, mari kita berdoa sesuai keyakinan masing-masing... tapi ingat, jangan rebutan lele bagian kepala gue!" canda Ren yang langsung memimpin doa dengan gaya konyol.

"Hush, yang bener!" seru Farah menoyor kepala Ren pelan.

Suasana makan malam pun berlangsung dengan riuh rendah penuh canda tawa. Di sela-sela suapan sambalnya, Jasver sempat mencuri pandang ke arah Aery dan Bumi yang sedang berbagi porsi tahu goreng.

Jasver melirik ke samping. Farah sedang sibuk memeras jeruk nipis di atas sambalnya dengan ekspresi serius. Sadar sedang diperhatikan, Farah menoleh dengan alis terangkat.

"Napa lo liat-liat? Mau minta sambel gue?" tantang Farah galak.

Jasver tersenyum lebar, senyum paling tulus yang ia tunjukkan hari itu. "Engga. Cuma bersyukur aja punya temen sebangsat dan segalak lo, Far."

"Sialan, muji apa ngajak ribut lo?!" sungut Farah, meski semburat merah tipis tanpa sadar terpatri di pipinya yang terkena temaram lampu warung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!