NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13 - Lantai Eksekutif

Hari pertama Ratna di Wijaya Group dimulai dengan tangannya yang dingin.

Gedung kaca di SCBD itu menjulang seperti sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan ia masuki sebagai pekerja. Lobi luas, lantai mengilap, orang-orang berjalan cepat dengan kartu akses tergantung di leher.

Ratna memegang tasnya erat.

Ia memakai blus navy, celana bahan longgar, dan kerudung abu-abu. Sederhana, tapi rapi. Sepatu barunya terasa masih kaku.

Hanif menunggunya di lobi.

"Selamat pagi, Bu Ratna."

"Pagi, Pak Hanif."

"Tidak perlu panggil Pak. Di kantor, cukup Mas Hanif kalau Ibu nyaman."

Ratna tersenyum canggung.

"Saya coba."

Mereka naik lift khusus ke lantai eksekutif. Saat pintu terbuka, beberapa pasang mata langsung menoleh. Ratna tahu tatapan seperti itu. Tatapan yang mengukur. Menebak. Menghakimi sebelum bertanya.

Seorang perempuan muda di meja resepsionis eksekutif berdiri.

"Mas Hanif, ini..."

"Bu Ratna. Mulai hari ini membantu administrasi lantai eksekutif."

Perempuan itu tersenyum, tapi matanya bergerak cepat dari ujung kerudung Ratna sampai sepatu.

"Oh. Baik."

Ratna pura-pura tidak melihat.

Hanif memperkenalkan beberapa orang. Dita dari sekretariat. Oka dari legal liaison. Rendi dari operasional. Ratna menghafal nama mereka sambil menahan gugup.

Meja kerjanya tidak besar, tapi bersih. Ada komputer, telepon internal, laci, dan tumpukan arsip yang harus diberi kode.

"Hari ini Ibu pelajari alur dulu," kata Hanif. "Jangan sungkan bertanya."

Ratna mengangguk.

Begitu Hanif pergi, Dita mendekat sambil membawa beberapa map.

"Bu Ratna sebelumnya kerja di mana?"

"Di rumah sakit. Jaga pasien. Sebelumnya pernah bantu usaha keluarga."

"Oh."

Satu kata itu panjang.

Ratna tahu artinya.

Oh, bukan orang kantor.

Oh, pantas.

Oh, kenapa bisa masuk sini?

Dita meletakkan map.

"Ini arsip undangan, kontrak ringan, jadwal rapat kecil. Biasanya kami pakai sistem kode. Agak rumit. Kalau bingung, nanti tanya saja."

"Baik."

Ratna membuka map pertama. Ia membaca pelan, mencatat pola kode, melihat tanggal, nama divisi, dan status dokumen. Pekerjaan itu tidak mudah, tapi juga tidak asing. Selama puluhan tahun ia mengatur tagihan rumah, jadwal dokter Mama Sulastri, jadwal les Bima, stok dapur, cicilan, dan catatan belanja. Bedanya, di sini semua ditulis dengan kop perusahaan.

Satu jam kemudian, Rendi datang tergesa.

"Dita, file vendor untuk meeting Pak Arga mana? Yang logistik Makassar."

Dita mengerutkan dahi.

"Bukannya di folder operasional?"

"Tidak ada. Pak Arga minta sepuluh menit lagi."

Suasana kecil di meja sekretariat langsung panik.

Ratna mendengar kata vendor. Logistik. Makassar.

Ia melihat tumpukan map yang baru diserahkan padanya. Salah satu map punya kode yang tanggalnya salah tulis. Bukan Makassar, tapi MKS. Di catatan pojok ada nama vendor.

"Mas Rendi," panggil Ratna pelan.

Rendi menoleh, tampak tidak sabar.

"Iya, Bu?"

"Mungkin ini."

Ia menyerahkan map itu.

Rendi membuka cepat. Wajahnya langsung berubah.

"Ini dia. Kok bisa di sini?"

Ratna menunjuk kode.

"Tanggalnya tertukar. Harusnya 07-09, tapi tertulis 09-07. Kalau disusun manual, masuk ke undangan September."

Dita mendekat dan melihat.

"Oh iya..."

Rendi menatap Ratna.

"Terima kasih, Bu. Saya hampir mati."

Ratna tersenyum kecil.

"Jangan mati di kantor. Repot urus laporannya."

Rendi tertawa spontan.

Dita juga tersenyum, kali ini lebih tulus.

Kabar kecil itu rupanya cepat menyebar. Menjelang siang, Ratna mendengar dua staf berbisik dekat pantry.

"Itu yang baru, kan? Umurnya kayak tanteku."

"Tapi tadi nemu file Pak Arga."

"Katanya orang dekat Bu Laras."

"Pantas bisa masuk."

Ratna berhenti di depan dispenser.

Kata-kata itu tidak sejahat hinaan Mama Sulastri, tapi tetap menusuk.

Ia mengambil air, lalu berbalik.

Dua staf itu langsung pura-pura sibuk.

Ratna menatap mereka.

"Kalau mau tanya, tanya langsung. Saya memang sudah lima puluh. Saya memang kenal Bu Laras. Tapi hari ini saya bekerja. Jadi kalau ada dokumen salah kode, boleh serahkan ke saya. Kalau hanya mau membahas usia, sebaiknya saat jam istirahat saja."

Keduanya pucat.

"Maaf, Bu."

Ratna mengangguk dan kembali ke meja.

Dari ujung koridor, Arga ternyata berdiri bersama Hanif. Entah sejak kapan.

Ratna baru sadar ketika Hanif menahan senyum.

Arga tidak berkata apa-apa. Ia hanya masuk ke ruangannya.

Namun lima menit kemudian, telepon internal Ratna berbunyi.

"Bu Ratna, masuk sebentar."

Suara Arga.

Ratna berdiri, merapikan kerudung, lalu masuk ke ruang CEO. Ruangan itu luas, tapi tidak ramai. Meja besar, rak buku, pemandangan kota.

Arga berdiri dekat jendela.

"Bagaimana hari pertama?"

"Masih belajar."

"Ada yang mengganggu?"

Ratna teringat bisikan pantry. Ia bisa mengadu. Tapi ia tidak ingin setiap luka kecil diselesaikan Arga.

"Tidak ada yang tidak bisa saya jawab."

Arga menatapnya beberapa detik.

"Saya dengar."

Ratna menunduk sedikit.

"Maaf kalau membuat suasana tidak enak."

"Tidak. Saya lebih suka orang yang menjawab langsung daripada menyimpan dendam."

Ratna tidak tahu harus berkata apa.

Arga menyerahkan satu dokumen.

"Tolong cek daftar undangan gala amal minggu depan. Ada beberapa nama yang perlu dipastikan penulisannya."

Ratna menerima.

"Baik."

Saat ia hendak keluar, Arga berkata lagi, "Bu Ratna."

"Ya, Pak?"

"Kalau orang mempertanyakan umur Ibu, biarkan mereka. Yang penting pekerjaan Ibu tidak memberi mereka alasan."

Ratna menatapnya.

Itu bukan pujian. Bukan hiburan.

Tapi Ratna justru menyukainya.

"Saya mengerti."

Ia keluar dari ruangan dengan dokumen di tangan.

Di meja, Dita menunggunya.

"Bu, kalau tidak keberatan, nanti ajari aku cara Ibu cek kode tadi? Aku suka kelewat bagian tanggal."

Ratna tersenyum.

"Boleh."

Hari pertama belum selesai.

Namun Ratna sudah tahu, kantor ini tidak akan mudah.

Tapi tidak seperti rumah Hendra, di sini jika ia bekerja dengan baik, setidaknya ada kemungkinan orang melihat hasilnya.

Menjelang pulang, Dita menyerahkan satu kotak kecil.

"Bu, ini kartu akses sementara. Besok sudah bisa pakai sendiri. Maaf kalau tadi aku agak... kaku."

Ratna menerima kartu itu.

"Tidak apa-apa. Orang baru memang sering membuat orang lama bertanya-tanya."

Dita tersenyum malu.

"Aku cuma tidak menyangka Bu Laras memilih orang luar. Biasanya lantai ini ketat."

"Saya juga tidak menyangka dipilih."

"Tapi tadi Ibu cepat sekali menemukan file."

Ratna memandang kartu akses di tangannya. Benda kecil itu terasa simbolis. Dulu ia bahkan tidak punya kunci atas banyak hal dalam hidupnya sendiri. Sertifikat rumah dipegang Hendra. Keputusan keluarga dipegang Mama Sulastri. Jadwalnya dipegang kebutuhan semua orang.

Sekarang ia punya kartu untuk masuk ke tempat kerjanya.

Kecil.

Tapi miliknya.

Saat turun lift, Ratna menyimpan kartu itu di dompet dengan hati-hati, berdampingan dengan buku nikah yang salinannya kini menjadi dokumen perkara.

Satu kartu membuka pintu baru.

Satu dokumen menutup pintu lama.

Di luar gedung, Ratna sempat berhenti di trotoar. Karyawan lain berjalan cepat menuju parkiran atau halte. Tidak ada yang memperhatikannya secara khusus.

Aneh, pikirnya. Di rumah lama, setiap gerakannya diawasi karena semua orang menunggu sesuatu darinya. Di sini, ia hanya satu dari banyak orang yang pulang kerja.

Kebebasan kadang bukan sorak-sorai.

Kadang hanya menjadi orang biasa.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari nomor kantor.

Dita: "Bu, besok aku datang lebih pagi. Boleh belajar sistem arsip sama Ibu?"

Ratna tersenyum.

"Boleh. Tapi saya juga masih belajar."

Dita membalas, "Kalau begitu kita belajar bareng."

Ratna memasukkan ponsel ke tas.

Hari pertama tidak membuatnya langsung hebat.

Tapi cukup membuatnya ingin datang lagi besok.

Di apartemen kecilnya malam itu, Ratna menempelkan kartu akses sementara di dekat meja rias. Ia tahu besok kartu itu harus masuk tas, tapi malam ini ia ingin melihatnya.

Ia membuka buku catatan baru dan menulis nama-nama orang kantor: Dita, Rendi, Oka, Hanif, Pak Arga. Di samping nama mereka, ia menulis hal kecil yang harus diingat. Dita suka panik kalau file hilang. Rendi suka bercanda saat gugup. Hanif bicara seperlunya tapi memperhatikan detail.

Lalu ia berhenti pada nama Arga.

Ratna tidak tahu harus menulis apa.

Akhirnya ia menulis: "Dingin, tapi tidak merendahkan."

Ia menatap kalimat itu lama, lalu menutup buku.

Itu sudah cukup untuk hari pertama.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!