NovelToon NovelToon
Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Si Kecil yang Terbuang

Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.

Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.

Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?

Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Bayangan Masa Lalu

Malam itu, rumah keluarga Prasetya diselimuti keheningan. Damar masih duduk di ruang kerjanya sambil menatap foto Aluna yang diberikan Surya. Semakin lama ia memandang wajah gadis itu, semakin kuat perasaan yang selama ini berusaha ia kubur.

Tok... tok...

"Mas, boleh masuk?" suara Selena terdengar dari balik pintu.

"Masuk."

Selena melangkah masuk sambil membawa secangkir teh hangat. Ia meletakkannya di atas meja, lalu duduk di hadapan suaminya.

"Akhir-akhir ini kamu sering terlihat murung. Apa ada masalah di perusahaan?"

Damar menggeleng pelan.

"Bukan urusan perusahaan."

"Lalu?"

Damar terdiam. Ia ingin mengatakan semuanya, tetapi belum memiliki keberanian.

"Belum saatnya."

Selena tidak memaksa. Ia hanya mengangguk lalu keluar dari ruangan. Namun, rasa penasaran mulai memenuhi pikirannya.

Keesokan paginya, Aluna tidak pergi ke sekolah seperti biasa. Ia memilih mengantar Ratih ke puskesmas untuk kontrol kesehatan.

Dokter memeriksa kondisi Ratih dengan teliti.

"Tekanan darah Ibu masih cukup tinggi. Jangan terlalu lelah bekerja."

Ratih tersenyum tipis.

"Saya akan berusaha."

Sepulang dari puskesmas, Aluna terlihat lebih banyak diam.

"Nek."

"Iya?"

"Kalau Nenek sakit, Aluna tidak tahu harus bagaimana."

Ratih mengusap pipi cucunya.

"Nenek tidak akan pergi meninggalkanmu secepat itu."

"Tapi Aluna takut."

"Kamu harus percaya bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing."

Ucapan itu membuat mata Aluna berkaca-kaca.

Sementara itu, Arsen dan Rangga kembali menelusuri petunjuk yang mereka temukan di rumah tua.

"Pak, saya berhasil menemukan nama pemilik rumah."

"Siapa?"

"Seorang pria bernama Bima."

"Bima?"

"Ia pernah bekerja sebagai sopir keluarga Prasetya sekitar delapan belas tahun yang lalu."

Arsen langsung teringat rekaman CCTV yang mereka lihat beberapa hari lalu.

"Jadi benar dugaan kita."

"Tapi keberadaannya sekarang tidak diketahui."

Arsen mengepalkan tangan.

"Cari dia. Apa pun caranya."

Di sekolah, Keisha mengetahui bahwa Aluna tidak masuk hari itu.

Ia justru merasa kesal.

"Kenapa dia tidak datang?"

Salah satu temannya menjawab, "Katanya mengantar neneknya berobat."

Keisha mendengus.

"Selalu saja mencari perhatian."

Namun, jauh di dalam hatinya, Keisha mulai merasa cemas.

Ia mendengar ayahnya beberapa kali menyebut nama Aluna saat berbicara melalui telepon.

"Siapa sebenarnya gadis itu?" gumamnya.

Sore hari, saat Aluna sedang menyiram tanaman di halaman rumah, sebuah mobil berhenti di depan pagar.

Arsen turun membawa beberapa kantong berisi buah dan obat.

"Bagaimana keadaan Nenek?"

"Sudah lebih baik."

Ratih keluar dari dalam rumah sambil tersenyum.

"Maaf terus merepotkanmu, Nak."

"Bukan merepotkan, Nek."

Mereka berbincang beberapa saat hingga Arsen tanpa sengaja melihat sebuah kotak kayu tua yang terjatuh saat Ratih hendak mengambil sesuatu.

Beberapa lembar kertas berserakan di lantai.

Salah satunya adalah foto bayi yang mengenakan kalung bulan sabit.

Arsen membeku.

Ratih dengan cepat mengambil foto itu dan memasukkannya kembali ke dalam kotak.

Wajahnya terlihat panik.

"Maaf..."

Arsen menatap Ratih dengan serius.

"Nek... apakah foto itu foto Aluna?"

Ratih tidak langsung menjawab.

Tangannya bergetar.

Akhirnya ia menghela napas panjang.

"Iya."

Arsen kembali bertanya dengan hati-hati.

"Apakah... Aluna benar-benar bukan cucu kandung Nenek?"

Ratih memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian, ia membuka mata yang sudah dipenuhi air mata.

"Dulu... delapan belas tahun yang lalu..."

Belum sempat Ratih melanjutkan ucapannya, suara deru mesin mobil terdengar dari depan rumah.

Sebuah mobil hitam berhenti mendadak.

Empat pria berpakaian gelap turun dengan langkah tergesa-gesa.

Salah seorang dari mereka memandang ke arah Aluna sambil berkata pelan,

"Akhirnya kami menemukan gadis itu."

Arsen langsung berdiri di depan Aluna dan Ratih.

Tatapannya berubah tajam.

"Apa tujuan kalian?"

Keempat pria itu saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka melangkah maju.

"Kami datang untuk membawa Aluna."

Ucapan itu membuat suasana mendadak mencekam.

Aluna menggenggam tangan Ratih erat, sementara Arsen mengepalkan tinjunya. Ia sadar, rahasia yang selama ini tersembunyi akhirnya mulai menarik orang-orang yang tidak diharapkan.

1
Adinda
mungkin victor simpanan istrinya damar bapak kandungnya Keisha
ժׁׅ݊ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊ꫀׁׅܻ݊݊ꪀ_݊ꪀꪱׁׅ꯱: Terima kasih sudah Like dan Komen ka🙏🙏🙏
total 1 replies
Adinda
semoga Aluna bertemu keluarga sebelah ibunya atau kakeknya
Adinda
Aku harapnya Aluna direbut oleh keluarga dari ibunya atau kakeknya yang Kaya biar ayah kandungnya Tau rasa dibenci oleh anaknya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!