NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Hujan membuat Jakarta macet lebih parah dari biasanya.

Kirana pulang terlambat, basah di bagian ujung celana, dengan kepala berat setelah seharian uji menu. Menu wellness berhasil masuk tahap percobaan, tapi keberhasilan itu datang bersama daftar tugas baru: standardisasi resep, perhitungan bahan, training staf, dan komentar Bowo yang tidak berhenti seperti nyamuk.

Di depan kontrakan, Laras sudah menunggu.

Ia duduk di teras sempit, memeluk tas, wajahnya kosong.

Kirana langsung mempercepat langkah. "Ras?"

Laras mengangkat wajah. Matanya merah.

"Dia bayar lagi lima juta."

"Itu bagus."

"Tapi dia juga mengirim pesan ke kantorku."

Darah Kirana terasa dingin.

"Apa?"

"Dia bilang aku memeras dia. HR memanggilku tadi. Aku menjelaskan, tapi mereka bilang urusan pribadi jangan dibawa ke kerja. Aku malu sekali, Ki."

Kirana membuka pintu kontrakan dan menarik Laras masuk.

Raka belum pulang.

Laras duduk di tikar. "Aku ingin berhenti kerja."

"Jangan."

"Aku capek."

"Aku tahu."

"Aku capek kelihatan kuat."

Kirana duduk di depannya. "Kalau hari ini kamu tidak kuat, tidak apa-apa. Tapi jangan beri Danu hadiah berupa hidupmu yang hancur."

Laras menangis tanpa suara.

Kirana memeluknya.

Beberapa menit kemudian, Raka datang. Ia langsung berhenti ketika melihat Laras menangis.

"Saya keluar?"

Laras menggeleng sambil mengusap pipi. "Tidak apa-apa, Mas. Aku cuma numpang hancur sebentar."

Raka menatap Kirana.

Kirana menjelaskan singkat. Raka mendengar, lalu mengambil ponsel.

"Kita balas lewat pengacara. Jangan langsung."

"Aku tidak punya uang untuk pengacara," kata Laras.

"Maya belum meminta biaya."

"Tapi..."

"Anggap saja bantuan awal. Nanti kalau kamu sudah tenang, baru pikirkan."

Laras menatap Raka. "Mas Raka sebenarnya kerja apa?"

Kirana langsung menoleh pada Raka. Ada sedikit tantangan di matanya.

Raka menjawab, "Sementara membantu orang kantor."

Laras berkedip.

"Jawabannya kok seperti orang yang sedang menghindari pajak."

Kirana tertawa. Raka menghela napas.

Tangisan Laras sedikit mereda.

Malam itu mereka makan nasi telur bertiga. Ruangan makin sempit, tapi Kirana tidak keberatan. Laras tidur di kamar bersama Kirana, sementara Raka tetap di ruang depan.

Sekitar pukul sebelas, ponsel Kirana berbunyi.

Nomor Hotel Wijaya.

Ia mengangkat.

"Kirana, maaf mengganggu," suara Pak Dimas terdengar panik. "Kamu bisa ke hotel sekarang?"

"Ada apa, Pak?"

"Ada tamu VIP minta menu wellness. Chef Arman mendadak sakit perut, staf lain belum siap. Pak Bima ada di sini dengan tamu penting."

Kirana menutup mata.

Raka sudah duduk di ruang depan. "Apa?"

"Hotel."

"Saya antar."

"Pakai apa?"

"Mobil teman."

Kirana menatapnya.

"Jangan mulai," kata Raka.

"Aku belum bicara."

"Matamu sudah."

Laras ikut bangun dan memaksa ikut karena tidak mau sendirian di kontrakan. Akhirnya mereka bertiga keluar ke jalan besar. Sebuah mobil hitam sudah menunggu.

Kirana berhenti.

"Ini mobil teman?"

"Iya."

Sopir membuka pintu dan menyapa, "Selamat malam, Pak."

Kirana menatap Raka.

Raka berkata cepat, "Dia sopir teman saya."

Laras berbisik, "Temannya niat banget."

Kirana masuk dengan kecurigaan yang makin menumpuk.

Di Hotel Wijaya, situasi dapur kacau. Tamu penting di lounge private meminta menu hangat yang tidak terlalu berat. Bima memang ada di sana, tetapi bersama beberapa orang asing dan Pak Surya. Kirana langsung berganti seragam dan masuk dapur.

Laras menunggu di area staf bersama Raka.

Masalah muncul saat Laras hendak ke toilet.

Di koridor belakang, ia bertemu Danu.

Entah bagaimana laki-laki itu tahu ia ada di hotel. Mungkin ia mengikuti, mungkin ia mendapat informasi dari seseorang di acara lounge. Wajahnya basah karena hujan, matanya marah.

"Kamu pikir bisa mempermalukan aku pakai pengacara?"

Laras mundur. "Danu, jangan di sini."

"Kamu yang mulai."

Ia menarik lengan Laras. Laras berusaha melepaskan diri. Raka yang baru keluar dari ruang tunggu melihat itu.

"Lepaskan."

Danu menoleh. "Lagi-lagi kamu?"

"Lepaskan tangannya."

"Ini urusan kami."

"Dia bilang tidak."

Danu mendorong Laras ke belakang dan maju. "Kamu pikir karena badanmu tinggi aku takut?"

Raka tidak bergerak.

"Saya pikir karena ada CCTV, kamu seharusnya lebih pintar."

Danu melirik kamera di sudut lorong. Gerakannya melambat, tapi amarahnya belum turun.

Ia mengambil kunci mobil dari saku dan dengan sengaja menggores pintu mobil hitam yang terparkir di area drop-off staf, mobil yang tadi membawa Raka.

Suara gesekan itu membuat Laras menutup mulut.

Raka menatap goresan panjang di pintu mobil.

Danu tersenyum gelap. "Suruh temanmu bayar pakai uang pengacara."

Ia pergi sebelum keamanan datang.

Raka tidak mengejar.

Laras gemetar. "Mas, maaf. Ini gara-gara aku."

Raka melihat goresan mobil itu, lalu menghela napas.

"Bukan mobil saya."

"Tapi..."

"Tenang."

Kirana keluar dari dapur setelah menu selesai dikirim. Wajahnya sedikit lega, sampai melihat Laras menangis dan pintu mobil hitam tergores.

"Apa yang terjadi?"

Laras menjelaskan dengan suara putus-putus.

Kirana menatap Raka. "Mobil temanmu?"

"Iya."

"Berapa biaya perbaikannya?"

Raka tidak menjawab.

Karena ia tahu angka sebenarnya akan membuat Kirana pingsan.

Bima datang dari arah lobby. Ia melihat goresan itu, lalu melihat Raka. Dalam sepersekian detik ia memahami situasi.

"Pak..."

Raka menatapnya.

Bima mengubah panggilan. "Mas Raka, tidak apa-apa. Nanti saya urus."

Kirana menangkap jeda itu.

Pak?

Ia menatap Bima.

Bima tersenyum profesional. "Maksud saya, Pak Raka sebagai pihak yang tadi meminjam mobil."

Alasan itu buruk.

Bahkan Laras yang sedang panik pun tampak ragu.

Kirana tidak mengejar saat itu. "Pak Bima, saya yang minta maaf. Teman saya punya masalah, dan mobil ini jadi kena imbas. Tolong hitung biaya perbaikannya. Saya akan bertanggung jawab."

Raka langsung berkata, "Tidak perlu."

"Perlu."

"Kirana."

"Aku tidak mau utang budi yang tidak jelas."

Bima menatap Raka, menunggu arahan.

Raka menahan napas. "Bima, buat perkiraan yang wajar."

Bima memahami kata wajar berarti jangan membuat Kirana curiga sekaligus jangan terlalu kecil sampai terasa palsu.

"Baik. Mungkin sekitar delapan juta untuk detailing dan cat panel."

Laras hampir menangis lagi. "Delapan juta?"

Kirana juga pucat, tapi ia mengangguk.

"Saya akan cicil."

Raka menatapnya. "Kamu tidak perlu..."

"Raka, diam."

Bima pura-pura melihat goresan agar tidak tersenyum.

Kirana menatap Bima. "Boleh dibuat perjanjian cicilan?"

"Boleh."

"Potong dari gaji saya?"

"Jangan," kata Raka.

Kirana menatapnya tajam.

Bima cepat berkata, "Tidak perlu potong gaji. Kita buat cicilan ringan saja. Misalnya lima ratus ribu per bulan."

Kirana menghitung dalam kepala. Berat, tapi mungkin.

"Baik."

Raka menatap Bima seperti ingin memecatnya.

Bima menatap lantai.

Malam itu mereka pulang dengan taksi biasa, bukan mobil hitam. Laras terus meminta maaf sampai Kirana memaksanya diam.

Di kaca jendela taksi, Kirana melihat bayangan wajahnya sendiri. Ia tampak lebih tua dari pagi tadi. Bukan karena umur, melainkan karena satu lagi tagihan hidup tiba-tiba duduk di pangkuannya tanpa permisi.

Di kontrakan, Kirana duduk di lantai dan membuka catatan keuangan. Angka-angka kecil itu seperti mengejeknya.

Sewa.

Makan.

Transport.

Cicilan mobil.

Raka duduk di depannya. "Saya bisa bayar."

"Dengan uang siapa?"

"Uang saya."

"Dari mana?"

"Kerja."

"Yang belum jelas itu?"

Raka diam.

Kirana menatap catatan lagi. "Aku yang bilang pada Bima akan bertanggung jawab. Jadi aku bayar."

"Kamu tidak harus menanggung semua."

"Aku sudah terlalu sering dipaksa menanggung kesalahan orang. Bedanya kali ini aku memilih sendiri."

"Itu tidak membuatnya lebih ringan."

"Tapi membuatku tetap punya harga diri."

Raka tidak bisa membantah.

Kirana menutup buku catatan. "Besok aku akan tanya Hotel Wijaya apakah ada shift tambahan."

"Kirana."

"Apa?"

"Jangan jual dirimu pada kelelahan."

Kalimat itu membuatnya berhenti.

Ia menatap Raka. Matanya tiba-tiba panas.

"Kalau aku tidak lelah, aku tidak makan."

Raka menggenggam tangannya.

Gerakan itu spontan. Hangat. Membuat Kirana membeku.

"Mulai sekarang," kata Raka pelan, "kita cari jalan yang tidak membuatmu hancur."

Kirana melihat tangan mereka.

Ia ingin menarik diri.

Tapi untuk beberapa detik, ia membiarkan tangannya berada di sana.

Di luar, hujan turun lagi.

Dan di tempat lain, Bima menerima pesan dari Raka.

Cari Danu. Tapi jangan sentuh dulu. Biarkan dia berpikir goresan delapan juta itu masalah terbesarnya.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!