NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Alasan Dibaliknya

Anqi dan Eric menaiki mobil dan berangkat menuju kantor polisi tempat remaja itu ditahan.

Di Kantor Kepolisian

 Sesampainya di sana, anak tersebut sudah dibawa masuk ke ruang interogasi. Saat ditanyai, ia hanya menjawab dengan tegas, “Pria itu memang pantas mati! Dia orang yang kejam dan jahat!” ucapnya dengan nada meninggi kepada petugas.

Sementara itu, Eric dan Anqi masuk ke dalam kantor polisi dan menemui salah satu petugas yang bertugas. Mereka memperkenalkan diri, “Kami dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak. Kami ingin ikut menangani dan memantau perkembangan kasus ini.”

Belum sempat petugas itu menjawab, tiba-tiba datang seorang polisi wanita dari arah belakang. Ia berwajah manis, namun dingin. Wanita itu menghampiri mereka dan bertanya kepada rekannya, “Mereka siapa?”

Rekannya menjawab, “Mereka dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak.”

Polisi wanita itu tersenyum sinis dan berkata, “Sejak kapan lembaga seperti ini turun langsung kelapangan?” Ia menatap Anqi dan Eric dengan pandangan meremehkan, lalu melanjutkan, “Ini urusan kepolisian. Sebaiknya kalian kembali saja. Nanti jika ada hal yang perlu disampaikan, kami akan memberitahu.” Ia berbicara seolah ingin mengusir mereka.

Anqi tidak terima dengan sikap itu. “Jika polisi bertindak terlalu lambat, kami berhak turun tangan. Saya ingin bertemu dengan anak itu dan mendengar sendiri apa yang sebenarnya terjadi,” ucapnya tegas.

Wanita itu menjadi marah. Ia mendekat dan melihat tanda pengenal yang tergantung di leher Anqi, lalu membacanya, “Oh, namamu Yu Anqi dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak. Baiklah, saya akan ingat nama itu. Dan siapa kamu berani-beraninya menilai kerja kepolisian? Jika kamu tidak memahami prosedur hukum, sebaiknya diam saja,” bentaknya.

Anqi membalas dengan tenang namun penuh ketegasan. Ia mendekatkan wajahnya ke wanita itu, kemudian melihat nama yang tertera di tanda pengenalnya, Yan Yi Han. “Saya juga akan mengingat namamu, Yan Yi Han,” ucapnya. Saat hendak berbalik pergi, ia berhenti sejenak dan menambahkan, “Jika ingin saya diam, biarkan hukum negara yang menentukan.” Setelah itu, ia menarik tangan Eric untuk pergi.

Namun, tepat saat mereka akan melangkah keluar, Kepala Kepolisian tiba-tiba muncul dan memanggil, “Tunggu sebentar!” Suaranya terdengar jelas, menghentikan langkah Anqi dan Eric.

Kepala polisi itu pun menghampiri mereka. Eric segera memperkenalkan diri, “Nama saya Eric Tan, dan ini rekan saya, Yu Anqi. Kami datang dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak.”

“Baiklah, saya mengerti,” jawab kepala polisi itu sambil menjabat tangan Eric. “Saya Chen Wu, kepala kepolisian di sini.”

Saat Yan Yi Han hendak pergi meninggalkan tempat itu, Chen Wu memanggilnya, “Yi Han!”

“Siap, Pak!” jawabnya cepat.

“Jagalah ucapan dan sikapmu. Jangan bertindak sembarangan,” tegas Chen Wu.

“Baik, siap, Pak.” Yi Han menjawab sambil menunduk, lalu berbalik pergi dengan raut wajah yang terlihat kesal.

Melihat kepergiannya, Anqi tidak bisa menahan diri dan sedikit mengumpat.

“Apa yang kamu katakan?” tanya Chen Wu menatapnya.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Anqi singkat.

Mereka kemudian menjelaskan maksud kedatangan mereka. “Kami ingin membantu menyelidiki kasus penusukan yang terjadi tadi. Kami ingin mengetahui secara jelas apa yang mendorong anak tersebut melakukan perbuatan itu,” ucap Eric.

Chen Wu mengangguk mengerti, lalu memberikan izin. “Baiklah, saya izinkan kalian bertemu dengan dia, tapi hanya satu orang saja yang boleh masuk ke ruang interogasi.”

Anqi kemudian menoleh ke Eric dan meminta, “Bolehkah Aku yang berbicara dengannya?”

Eric mengangguk setuju. “Silakan, aku percaya padamu.”

Ruang Interogasi

 Saat hendak melangkah masuk ke ruang interogasi, Anqi menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu membuka pintu dan masuk perlahan. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan anak laki-laki itu. Remaja itu hanya menunduk dalam, tidak berani menatap ke depan, seolah tenggelam dalam perasaan bercampur aduk antara amarah dan ketakutan.

Anqi kemudian mengeluarkan alat perekam suara dari sakunya dan mulai menghidupkannya, lalu meletakkannya di meja, ia memperkenalkan diri dengan nada lembut namun tegas. “Perkenalkan, namaku Yu Anqi. Aku Dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak. Kalau boleh aku tahu siapa namamu?” tanyanya pelan, berusaha menciptakan suasana yang tidak menakutkan.

Namun, anak itu tetap diam membisu, tidak memberikan jawaban sedikit pun. Melihat reaksi itu, Anqi kembali menghela napas pelan, lalu melanjutkan pembicaraannya dengan nada yang lebih serius namun tetap penuh perhatian.

“Sebenarnya, aku ingin tahu alasan di balik semua tindakan yang kamu lakukan itu. Coba ceritakan kepadaku, kenapa kamu mencoba menghabisi nyawa ayahmu sendiri?” tanya Anqi sambil mencondongkan tubuh sedikit ke depan, mencoba mendekatkan diri.

Mendengar kata “ayah”, anak itu tiba-tiba mengangkat wajahnya dengan mata yang memerah menahan amarah. “Jangan pernah menyebut orang jahat itu sebagai ayahku!” bentaknya dengan suara bergetar. “Dia bukan ayahku! Dia pantas mati, dia tidak layak hidup di dunia ini! Setiap hari yang dia lakukan hanya berjudi, mabuk, dan meminta uang. Sementara ibuku yang harus bekerja keras siang malam demi membiayai hidup kami. Aku sangat membencinya! Seumur hidupku, aku tidak akan pernah memaafkan perbuatannya!”

Air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia menatap mata Anqi dengan pandangan yang penuh kepedihan dan kelelahan, seolah sudah menanggung beban itu terlalu lama.

Anqi menarik napas panjang, lalu berbicara dengan nada yang lebih lembut dan menenangkan. “Dengarkan aku, jangan takut. Aku ada di sini untuk membantumu dan ibumu agar bisa terlepas dari pria jahat itu. Tenang saja, meskipun dia masih hidup, dia pasti akan bertanggungjawab atas perbuatannya dan akan menerima hukuman yang pantas ia terima,” ucap Anqi berusaha meyakinkannya.

Namun, anak itu hanya tersenyum getir sambil menggelengkan kepala. “Aku tidak percaya lagi. Aku sudah terlalu sering mendengar janji bahwa suatu hari nanti kami akan bebas dari rasa takut ini, tapi kenyataannya tidak ada yang pernah berubah,” jawabnya dengan nada putus asa.

Ia kemudian menunduk kembali, suaranya terdengar lebih lirih namun penuh emosi. “Kakak tahu? Setiap kali ibuku menyuruhku pergi ke sekolah, hatiku tidak pernah tenang. Aku selalu takut pria itu pulang dalam keadaan marah dan memukuli ibuku lagi. Aku takut membayangkan apa yang akan terjadi jika aku tidak ada di rumah. Aku sangat takut… aku tidak bisa belajar dengan tenang,” teriaknya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Melihat penderitaan yang dirasakan anak itu, Anqi bangkit dari duduknya dan mendekat, lalu memeluknya dengan lembut untuk memberikan ketenangan. Setelah beberapa saat, ia melepaskan pelukan itu dan memegang kedua bahu anak itu, menatap matanya dengan pandangan yang tegas dan penuh keyakinan. “Dengarkan baik-baik. Aku pastikan, mulai hari ini, kamu dan ibumu akan baik-baik saja. Kalian akan hidup dengan aman dan tenang. Mengerti?” ucapnya mantap.

Setelah mengatakan itu, Anqi melepaskan genggamannya dan berbalik badan, lalu berjalan keluar dari ruang interogasi dengan langkah yang mantap.

Di balik kaca tembus pandang ruang interogasi, Eric berdiri menyaksikan seluruh percakapan yang berlangsung di dalam dengan perhatian penuh. Ia dapat melihat jelas ekspresi wajah Anqi dan remaja itu, serta merasakan betapa beratnya pembicaraan yang mereka lakukan. Beberapa saat kemudian, pintu ruang interogasi terbuka dan Anqi keluar dengan langkah yang tenang namun terlihat membawa beban emosi dari apa yang baru saja didengarnya.

Eric segera menghampirinya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu sekaligus perhatian. “Bagaimana? Apakah anak itu sudah mau bercerita dan menjelaskan alasannya?” tanyanya dengan nada lembut.

Anqi mengangguk perlahan, lalu menghela napas panjang seolah melepaskan ketegangan yang menumpuk di dadanya. “Ia sudah menceritakan semuanya,” jawabnya singkat namun terdengar serius.

Eric pun terlihat tersenyum ramah sambil menepuk-nepuk kepala Anqi dengan lembut. Anqi awalnya tampak terkejut, namun kemudian tersenyum manis.

"Kerja bagus, ayo kabari mereka". Ucap Eric.

Mereka pun berjalan berdampingan menuju ruangan lain untuk menemui Kepala Polisi Chen Wu, untuk menyampaikan keterangan yang telah didapatkan dan membahas langkah selanjutnya yang akan diambil dalam kasus tersebut.

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!