NovelToon NovelToon
‎The Return Of The Phoenix And Princess Of The Dawn

‎The Return Of The Phoenix And Princess Of The Dawn

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MUSTIKA DEWI

‎"Dulu Ku tulis takdirmu untuk menderita, sekarang malah..aku yang harus bertarung nyawa merubah takdir itu." ‎ ‎Ling Xie seorang penulis novel kolosal, tidak sengaja terjebak ke dalam cerita novelnya sendiri. Ia terbangun ke dalam cerita nya sendiri. Ia terkejut mendapati dirinya terbangun dari tidur, dan masuk ke dalam tubuh putri Jin Ling Xie. Seorang protagonis, yang ia ciptakan untuk hidup sengsara, seorang putri yang terbuang, dan di fitnah sebagai wanita murahan, oleh Putri Li Mei Feng seorang putri palsu dari kerajaan Feng Ling. ‎ ‎Di dunia yang kejam ini, ia harus bertahan hidup dengan bantuan Sistem. Misinya sungguh berat dan tidak main-main. Ia harus mengembalikan takdir putri yang terbuang itu, untuk merebut posisi putri mahkota Kerajaan Feng Ling yang asli, dari tangan Li Mei Feng si putri palsu itu. Serta merebut kembali jodoh sejatinya yaitu seorang pangeran Zhong Yang. Dan membersihkan nama baik Ibu kandung nya, Selir Agung Ling Mei Rong dari fitnahan Yan Shi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUSTIKA DEWI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Takdir, Janji Pertemuan & Rahasia Di Gerbang Istana

     Angin malam berhembus lembut menyapu jalan setapak dan pepohonan yang berada di sepanjang jalan setapak itu. Kuda tunggangan Pangeran Zhong Yang berwarna hitam legam itu melangkah perlahan, dan gagah. Di atas pelana, Ling Xie duduk menyamping dengan anggun, tubuh nya sedikit condong, namun tetap tegas. Sementara itu, Pangeran Zhong Yang duduk di belakang nya, melingkarkan lengannya dengan santai di pinggang gadis itu.

"Maaf, Yang Mulia. Hamba merasa tidak pantas untuk berteman dengan Yang Mulia Pangeran. Putri Li Mei Feng lebih baik dan setara dengan Status Pangeran," ucap Ling Xie dengan nada lembut dan sopan.

"Tapi..ada sesuatu yang sulit aku ungkapkan. Ini berkaitan erat dengan aura PHOENIX EMAS milik mu, dan aura NAGA EMAS milik ku." bisik Pangeran di telinga nya.

   Seketika wajah Ling Xie menjadi pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang serasa ingin copot. Ia pernah menuliskan alur cerita novel ini. Alurnya sangat menyedihkan. Pangeran Zhong Yang dan Ling Xie saling mencintai, namun mereka di pisahkan oleh Takdir yang salah, dan kematian yang menyedihkan. Ini disebabkan obsesi cinta putri Li Mei Feng si putri palsu yang berlebih-lebihan. Putri Li Mei Feng sangat mencintai Pangeran Zhong Yang dari kerajaan Shen Long. Tetapi cinta itu bertepuk sebelah tangan. Pangeran Zhong Yang sama sekali tidak mencintai Putri Li Mei Feng

"Takdir Phoenix emas dan Naga emas? Ya, aku pernah menuliskan kisah ini. Sekarang, aku merasakan takdir itu memang benar-benar terjadi. Dan aku sendiri yang akan mengalami nya. Ya, aku akan rubah takdir itu." gumam nya pelan dengan suara nyaris tak terdengar.

  Ia merasakan seperti terhimpit, di satu sisi, ia penulis novel itu. Dan di satu sisi lain nya, ia adalah tokoh utama dalam novel itu. Ia harus merubah takdir Ling Xie si gadis pemilik aura Phoenix emas itu.

"Siapakah gerangan namamu, Nona?" tanya Pangeran Zhong Yang saat mereka menunggang kuda bersama. Pertanyaan itu seketika memecah lamunan Ling Xie, membuatnya terkejut.

"Eh... Nama hamba Ling Xie, Yang Mulia," jawabnya pelan sambil mengelus dadanya perlahan untuk menenangkan jantungnya yang berdebar.

"Nama yang indah," puji Pangeran Zhong Yang lembut.

    Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya mereka tiba di hadapan gerbang utama Kerajaan Feng Ling.

"Akhirnya sampai juga," gumam Ling Xie dengan nada lega.

    Pangeran Zhong Yang perlahan turun dari punggung kuda, lalu mengulurkan tangannya dengan sopan untuk membantu Ling Xie turun.

"Mari, izinkan aku menolong mu turun," ucapnya pelan.

   Ling Xie menyambut uluran tangan itu. Namun dalam sekejap, sang Pangeran justru menggendongnya turun dengan hati-hati. Saat itulah, mata mereka saling bertemu dan terkunci sejenak seolah ada percakapan batin yang terjalin di antara keduanya.

"Astaga... Ini kedua kalinya aku menatap mata Yang Mulia. Aduh, sungguh tampan luar biasa," batin Ling Xie berteriak kagum. Di balik cadar putihnya, tersungging senyum manis yang tak disadarinya."

   Segera ia tersadar dan buru-buru menenangkan diri. "Aduh, maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba terlalu lancang... Mohon maafkan hamba," ucapnya gugup sambil memaksakan diri melepaskan diri dari gendongan itu.

"Tenanglah, tidak apa-apa. Aku hanya memastikan mu turun dengan selamat," jawab Pangeran Zhong Yang dengan nada yang tetap tenang dan lembut.

"Terima kasih banyak atas tumpangan dan kebaikan Yang Mulia," ucap Ling Xie sambil membungkukkan badannya dengan hormat.

Ia pun berbalik dan mulai melangkah menuju gerbang istana.

"Tunggu!"

Tiba-tiba, tangan rampingnya ditarik kuat oleh sang Pangeran. Tubuhnya terhempas berputar, dan dalam sekejap mata, ia sudah jatuh tepat di dalam pelukan hangat dan kokoh Pangeran Zhong Yang.

"Izinkan aku berteman denganmu, Nona Ling Xie," ucap Pangeran Zhong Yang dengan lembut, suaranya rendah namun tegas, seolah tak ingin menolak lagi.

"Baiklah, Yang Mulia. Mulai hari ini, kita akan berteman," sahut Ling Xie sambil tersenyum lembut, perlahan melepaskan diri dari dekapan sang Pangeran.

"Bisakah kau memanggilku Kakak? Sapaanmu tadi terlalu formal untukku," pinta Pangeran Zhong Yang dengan nada yang lembut dan penuh kehangatan.

"Baiklah, Yang Mulia. Eh... Ka..Kakak Zhong..." sahut Ling Xie dengan tergagap, lalu buru-buru menutup mulutnya dengan tangan kecilnya karena salah mengucapkan sapaan itu. Wajahnya perlahan memerah malu.

"Bisakah kita bertemu besok sore di tepi danau?" pinta Pangeran Zhong Yang dengan lembut, matanya menatap penuh harap.

 Ling Xie terdiam sejenak, matanya berbinar lembut. Ia mengangguk pelan dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.

"Baiklah, Kak. Aku akan datang besok sore," jawabnya ringan dan tulus.

  Dalam hati, ia sudah membayangkan dirinya mengenakan hanfu putih berhias hijau, serasi dengan tusuk konde berwarna hijau muda berbentuk daun yang akan menghiasi rambutnya nanti.

"Sampai jumpa besok, Kak. Terima kasih banyak atas tumpangannya," ucap Ling Xie dengan senyum cerah, matanya berbinar penuh harapan menatap sang Pangeran.

 Ling Xie pun melangkah menuju gerbang utama Istana Kerajaan Feng Ling. Namun, langkahnya terhenti saat dihadang oleh dua orang penjaga gerbang.

"Bukalah pintu gerbang ini. Aku adalah Nona Ling Xie, tabib bercadar putih, dan hendak kembali ke Paviliun Tamu Agung. Aku juga membawa sejumlah ramuan dan obat-obatan," ucapnya dengan tenang namun tegas, meminta agar gerbang segera dibukakan.

"Ah, ternyata Nona Tabib. Silakan masuk, Nona. Mohon maaf atas penghalangan tadi," sahut kedua penjaga dengan hormat, lalu segera membukakan jalan.

  Ling Xie pun tiba di depan pintu kamarnya di Paviliun Tamu Agung. Ia menyentuh daun pintu itu, lalu mengetuknya pelan.

Tok... tok... tok...

"Dayang Bai Zhi... ini aku, Ling Xie. Bukalah pintunya," panggilnya dari balik pintu. Tak lama kemudian, Dayang Bai Zhi pun membukakan pintu.

Tiba-tiba, datanglah dua orang pemuda berpakaian mewah nan gagah, ciri khas bangsawan Kerajaan Feng Ling. Mereka adalah Pangeran Jin Ling Jian dan Pangeran Jin Lim Jian, sesungguhnya kakak kandung Ling Xie sendiri, namun saat ini mereka hanya mengenal diri sebagai kakak dari Putri Li Mei Feng. Di belakang mereka, mengikuti sejumlah pengawal dan pengikut setia.

"Hai, Nona Ling Xie. Kabarnya kau yang membawa Selir Agung Ling Mei Rong ke Paviliun Tamu Agung? Siapa yang memberimu izin bertindak semena-mena?" tegur Pangeran Jin Lim Jian dengan nada tegas.

Ling Xie segera berlutut di hadapan kedua pangeran itu.

"Mohon maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba sama sekali tidak bermaksud lancang. Hamba hanya berniat membantu menyembuhkan penyakit beliau dan khawatir dengan kondisi Selir Agung. Ampuni hamba," ucapnya dengan nada memohon.

Namun, Pangeran Jin Ling Jian, sang pangeran pertama segera maju, meraih bahu Ling Xie, dan membantunya berdiri.

"Bangunlah, Nona Ling Xie. Tidak perlu berlutut demikian. Aku mengerti niat baikmu. Kau diizinkan merawat dan mengobati Selir Agung," ucapnya lembut namun berwibawa.

"Benarkah ucapan Yang Mulia?" tanya Ling Xie dengan mata yang berbinar, senyum manis tersembunyi di balik cadar putihnya.

"Kakak Ling, seharusnya Kakak tidak membiarkannya begitu saja. Ia telah bertindak tanpa izin," protes Pangeran Jin Lim Jian kepada kakaknya.

Pangeran Jin Ling Jian mengangguk tenang. "Sudah, Nona Tabib. Kembalilah merawat Selir Agung. Nanti aku akan datang lagi untuk menanyakan perkembangan kesehatannya apakah ada perbaikan atau belum."

1
MUSTIKA DEWI
iya, terima kasih banyak ya.🙏
MUSTIKA DEWI
Maaf, ya. terima kasih banyak sudah koreksi, maklum lah. banyak yg kurang nya🙏
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kak koreksi lebih sopan panggil ibu suri aja dari pada nyonya 🙏🙏🙏🙏
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
hai kak mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!