NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:176.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.

Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 - Tak Ada Yang Sempurna

Tania menggendong Davin dengan hati-hati, seolah-olah bayi kecil itu adalah sesuatu yang sangat rapuh dan berharga. Gerakannya perlahan, penuh kehati-hatian. Naomi memperhatikan dari samping, ada sedikit rasa tegang di hatinya.

Namun beberapa detik kemudian, ekspresi Tania berubah. Wajahnya yang semula ragu, kini tampak lebih lembut.

“Dia... menggemaskan sekali ya,” gumam Tania pelan sambil menatap wajah Davin.

Naomi tersenyum tipis. “Iya, Bu.”

Davin bergerak sedikit dalam gendongan Tania. Bibir kecilnya terbuka, mengeluarkan suara lirih seperti menguap. Tania langsung refleks mengayunkan tubuhnya perlahan, seperti seorang nenek yang sudah terbiasa.

“Lucu...” katanya tanpa sadar.

Naomi sedikit terkejut. Tidak semua orang bisa langsung melihat sisi itu dari Davin. Banyak yang lebih dulu melihat “kekurangannya”.

Tania menatap wajah bayi itu lebih lama. Ada sesuatu yang berubah dalam tatapannya. Bukan lagi sekadar rasa penasaran, tapi mulai muncul rasa sayang.

“Umurnya berapa?” tanya Tania.

“Baru satu bulan lebih, Bu,” jawab Naomi.

Tania mengangguk pelan. “Masih kecil sekali...”

Ia menghela napas panjang, lalu tiba-tiba berkata, “Aku sudah lama ingin gendong cucu seperti ini.”

Naomi menoleh.

“Putraku itu...” lanjut Tania, sedikit menghela napas lagi. “Nggak mau menikah.”

Nada suaranya berubah, sedikit kesal tapi juga pasrah.

Naomi tersenyum kecil. “Mungkin belum menemukan yang cocok, Bu.”

“Alasannya itu terus!” sahut Tania cepat. “Katanya sibuk, katanya belum siap, katanya nanti saja. Nanti kapan? Umurnya sudah bukan anak muda lagi!”

Naomi menahan senyum. Cara Tania mengeluh terasa begitu familiar. Seperti banyak ibu lain di luar sana.

“Saya yakin nanti akan ada waktunya, Bu,” jawab Naomi pelan.

Tania mendengus kecil. “Aku sampai capek ngomong.”

Namun meski begitu, tangannya tetap mengayun pelan Davin. Bahkan kini dia sesekali tersenyum kecil melihat wajah bayi itu.

“Kalau dia punya anak...” gumam Tania. “Mungkin aku sudah tidak kesepian seperti ini.”

Naomi menatapnya. Ada kesepian di balik kata-kata itu.

“Kalau Ibu mau...” kata Naomi pelan, sedikit ragu tapi tulus. “Anggap saja Davin seperti cucu sendiri.”

Tania langsung menoleh. Matanya sedikit membesar. “Boleh?” tanyanya.

Naomi mengangguk, tersenyum kecil. “Tentu saja, Bu.”

Wajah Tania langsung berubah cerah. “Ah, kamu ini...” katanya, nada suaranya melembut. Ia kembali menatap Davin dengan penuh kasih.

Namun beberapa detik kemudian, Naomi tanpa sadar berkata sesuatu. “Walaupun... dia seperti ini...” ucapnya lirih. “Apakah Ibu nggak keberatan punya cucu yang...”

Ia berhenti sebentar. “...cacat seperti Davin?”

Kalimat itu baru saja keluar ketika Naomi langsung merasa ada yang salah. Tania yang semula tersenyum, tiba-tiba mengerutkan kening. Wajahnya berubah tegas.

“Jangan bilang begitu!" katanya tajam.

Naomi langsung terdiam.

“Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna,” lanjut Tania, suaranya tegas tapi tidak kasar. “Semua orang punya kekurangan. Cuma bentuknya saja yang berbeda.”

Naomi menunduk.

“Dan satu lagi,” tambah Tania, menatapnya dalam-dalam. “Jangan pernah menyebut anakmu cacat!”

Kalimat itu terasa seperti tamparan. Tapi bukan yang menyakitkan. Justru yang menyadarkan.

“Dia anakmu. Dia anugerah,” lanjut Tania. “Kamu harus jadi orang pertama yang menerima dia sepenuhnya.”

Mata Naomi langsung berkaca-kaca. “Iya... Bu...” jawabnya pelan.

Tania menghela napas, lalu kembali melunak. “Kalau ibunya saja tidak yakin, bagaimana orang lain mau melihat dia dengan baik?”

Naomi mengangguk pelan. Ia merasa tersentuh. “Terima kasih, Bu...” ungkapnya.

Sejak hari itu, hubungan Naomi dan Tania berubah. Tidak lagi sekadar antara pekerja dan klien. Ada kedekatan yang tumbuh perlahan.

Setiap kali Naomi datang, Tania kadang menyempatkan diri muncul. Tidak selalu lama. Kadang hanya sekadar melihat Davin, menggendong sebentar, atau menanyakan kabar.

“Sudah minum susu belum?”

“Berat badannya naik?”

“Dia sudah lebih tenang ya sekarang?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana, tapi penuh perhatian. Naomi pun merasa lebih nyaman. Ada satu tempat di mana dia tidak merasa dihakimi.

Hari-hari berlalu. Naomi mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Meski tetap melelahkan, tubuhnya perlahan beradaptasi. Tangannya tidak lagi sekaku dulu. Langkahnya lebih stabil meski membawa beban. Davin juga mulai lebih tenang. Seolah ikut memahami perjuangan ibunya.

Suatu pagi, Naomi kembali menerima jadwal dari Bu Fitri. Alamat yang sama. Apartemen milik Tania. Namun kali ini ada catatan tambahan.

“Tidak ada orang di rumah. Langsung masuk saja.”

Naomi sudah tahu password pintunya. Ia mengangguk kecil saat membaca pesan itu.

“Baik, Bu.”

Seperti biasa, ia menyiapkan semuanya. Menggendong Davin, membawa perlengkapan, lalu berangkat.

Perjalanan terasa biasa. Tidak ada hal yang mencolok. Namun entah kenapa, hari itu Naomi merasa sedikit lebih ringan. Sesampainya di apartemen, dia langsung menuju pintu unit. Mengetik password.

Beep.

Pintu terbuka. Naomi masuk perlahan. “Permisi...” ucapnya refleks, meski tahu tidak ada orang.

Apartemen itu terasa sunyi. Tidak ada suara televisi. Tidak ada langkah kaki.

Naomi langsung mulai bekerja. Meletakkan Davin di kereta kecilnya, memastikan posisinya nyaman.

“Sebentar ya, Nak...” bisiknya lembut. Ia mulai dari ruang tamu. Menyapu, mengelap, merapikan. Gerakannya kini lebih teratur. Lebih efisien. Sesekali dia melirik ke arah Davin. Bayi itu tampak tenang.

Setelah selesai di ruang tamu, Naomi lanjut ke dapur. Lalu kamar mandi.

Waktu berjalan tanpa terasa. Hingga akhirnya, dia menuju kamar utama. Pintu kamar itu sedikit tertutup. Naomi mengetuk pelan.

Tok tok.

Tidak ada jawaban. “Permisi...” katanya lagi.

Tetap tidak ada suara. Naomi berpikir mungkin memang tidak ada siapa-siapa. Ia membuka pintu perlahan. Saat itulah langkahnya langsung terhenti.

Di atas tempat tidur, seorang pria tertidur. Naomi membeku.

“Eh?” gumamnya pelan. Jantungnya langsung berdegup kencang.

Pria itu tertidur telentang, satu tangan di atas kepala. Wajahnya tenang, rambutnya sedikit berantakan. Selimut hanya menutupi setengah tubuhnya.

Naomi panik. “Ya Tuhan... ada orang...” cicitnya. Dia mundur selangkah, hampir saja menutup pintu kembali. Tapi sudah terlambat. Sedikit suara dari langkahnya membuat pria itu bergerak.

Alisnya mengerut. Matanya perlahan terbuka. Dalam beberapa detik, pandangan mereka bertemu.

Naomi membeku di tempat. Pria itu juga terdiam sejenak, seperti mencoba mencerna apa yang dia lihat. Seorang wanita asing. Berdiri di kamar. Membawa alat kebersihan. Beberapa detik hening yang terasa sangat panjang.

Naomi langsung panik. “Ma-maaf!” katanya cepat. “Saya kira tidak ada orang!”

Pria itu masih menatapnya. Belum sepenuhnya sadar.

Naomi langsung membalik badan. “Saya keluar dulu!” katanya gugup.

Namun sebelum dia benar-benar keluar, suara pria itu terdengar.

“Sebentar.”

Naomi berhenti. Perlahan ia menoleh.nPria itu sudah duduk di tempat tidur sekarang. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi wajahnya mulai jelas.

Dalam satu detik, Naomi kembali membeku. Wajah itu sangat familiar. Jantungnya langsung berdegup kencang.

“Itu...” bisiknya pelan.

Pria itu menatapnya lebih fokus sekarang. Lalu alisnya terangkat sedikit. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

“Sepertinya...” katanya santai, “kita pernah bertemu ya.”

1
Simba Berry
ceritakan saja pada ayahmu kejahatan mertua dan suamimu.itu bukan aib.zain tdk mau mempunyai anak cacat itu harus kamu beritahu.
Simba Berry
wanita lemah🤣🤣🤣
Anonim
MAMPUS
Anonim
naomi goblok banget masih aja lemah menghadapi zain…ingat naomi dl pas baru lahir mana ada zain ngakuin itu anaknya…
Dewi Yanti
akhirnya yg di nantikan 😃😃😃
Dewi Yanti
g sabar liat ratna kejang lihat menantu yg di banggakan nya sellingkuh sm suaminya sendiri 😁😁
ceuceu
ga sabar liat kahancuran ratna menyaksikan suaminya selingkuh dgn mantu kesayangan
ceuceu
karma instan zayn
ceuceu
zayn anak sendiri di buang,malah mau punya anak sm wanita murahan yg baru ketemu langsung tidur bareng
Sri Supriatin
Baru buka2 noveltoon nemu karyamu thor... Sy hadir... Sengaja cari yg tamat, jd bc marathon 🤭😍😍
Mama lilik Lilik
bagus ceritanya, terimakasih KK author 🙏
Sofiati
kyknya bisu deh klo ga tuli
Rommy Wasini Khumaidi
oke,tamat.trimakasih buat karyamu thor
Lee Mba Young
abyan tak di ambil kakek neneknya ya, kasian banget ya.
sprti nya ortu Naomi pun gk sayang ma cucu nya. pdhl cucu satu satu nya. berarti anggun yg gk punya hati terhadap anak kecil berasal Dr ortu nya.
biasa nya kakek nenek adlh Garda terdepan cucu. mereka lbih sayang cucu Drpd anak kan🤣. tp ortu anggun ke balik lbih sayang anggun Drpd abyan.
Firdaus Hamid
karya yg bagus dan syarat dengan nilai2 moral kehidupan yg layak untuk diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita...hidup pasti berputar dan selama kita dalam jalur yg benar insyaallah akan indah pada waktunya...amiin ya Allah... selamat buat penulis nya karya nya selanjutnya ditunggu ya bro
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
agak lain emang pengantin baru yg satu ini mp malah adu kentut 😭😭🤣🤣
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai, saatnya semua menerima konsekuensinya dan menjalani hidup dan mencoba introspeksi, supaya hidup kits terus diperbarui dan tetap jadi berkat
Ariany Sudjana
puji Tuhan, happy end, bagus ceritanya. congrats buat dokter Junie Dan dokter Naomi 😄🙏
Desau: folback kak biar hadiahnya bisa dikirim 😅
total 1 replies
W I 2 K
bukannya adu mekanik malah adu kentut... astoge.... pengantin baru macam mana ini bah..... 🤣🤣🤣
Ma Em
Naomi dgn Junie pengantin baru bkn melakukan malam pertama malah ngadu kentut , emang pasangan pengantin yg sangat langka , selamat untuk Naomi dan Junie semoga langgeng pernikahan nya selalu bahagia dan segera berikan adik untuk Davin .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!