Kianara Shernon Abraham
Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.
Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.
Update 2-3 kali dalam seminggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Ruang kerja itu tenang seperti biasa, tapi kali ini terasa lebih berat.
Kianara duduk di depan meja, selembar kertas terbuka di hadapannya. Ujung penanya bergerak pelan, tidak menulis kalimat, melainkan menarik garis demi garis yang saling terhubung. Ia berhenti sejenak, lalu menuliskan satu nama di bagian awal.
Arcelio.
Garis tipis ditarik darinya, seharusnya lurus menuju satu titik lain. Namun tangannya tertahan. Ada keraguan kecil yang membuat garis itu sedikit melenceng.
Kianara menghela napas pelan. “Seharusnya… dari sini,” gumamnya lirih.
Di sisi lain kertas, ia menambahkan nama lain.
Elira.
Tatapannya menajam sedikit. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana semuanya seharusnya berjalan—siapa yang bertemu lebih dulu, bagaimana hubungan itu terbentuk perlahan.
Namun yang ia lihat hari ini… berbeda.
Pena kembali bergerak. Ia menarik garis dari Elira, tapi bukan menuju Arcelio seperti yang ia ingat. Garis itu justru mengarah ke nama lain yang ia tuliskan beberapa saat kemudian.
Cyril.
Kali ini tangannya tidak ragu. Garis itu terbentuk cepat, seolah mengikuti sesuatu yang memang sudah terjadi. Dan itu yang membuatnya diam.
“…terbalik,” bisiknya hampir tak terdengar.
Kianara menatap kertas itu lebih lama. Ia tidak sedang menebak. Ia tahu ini bukan sekadar kemungkinan—ini sudah terjadi di depan matanya sendiri.
Urutannya berubah. Dan perubahan sekecil itu saja… sudah cukup untuk menggeser banyak hal.
Ia kembali menambahkan garis lain, menghubungkan Arcelio ke dua nama tersebut. Namun jalurnya terasa lebih panjang. Lebih lambat. Seolah ia selalu datang setelah sesuatu terjadi lebih dulu.
Perasaan tidak nyaman mulai muncul. Bukan karena ia tidak mengerti. Tapi karena ia terlalu mengerti.
“Kalau seperti ini…” gumamnya pelan, suaranya mulai melemah, “…akhirnya juga tidak akan sama.”
Tangannya berhenti di atas kertas.
Perlahan, ia melingkari satu nama.
Elira.
Ujung pena menekan sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Tidak ada alasan yang benar-benar jelas.
Namun, instingnya mengatakan satu hal. Perubahan ini… berpusat di sana.
Kianara bersandar perlahan, matanya masih terpaku pada kertas itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya mencoba memahami.
Ia mulai bersiap.
...******...
Malam itu lebih tenang dari biasanya. Lampu di kamar Arcelio redup, hanya menyisakan cahaya hangat yang lembut. Kianara duduk di sisi ranjang, tangannya mengusap pelan rambut putranya yang bersandar di lengannya.
Arcelio diam, Tidak seperti biasanya. Biasanya, ia akan langsung bercerita—tentang hal kecil sekalipun. Namun malam ini, ia hanya tersenyum kecil.
“…hari ini menyenangkan?” tanya Kianara pelan.
Arcelio mengangguk. “Iya…”
“Bermain dengan Cyril juga?”
“Iya…” Jawabannya pendek.
Kianara memperhatikan wajahnya. “Ada yang ingin kau ceritakan?” tanyanya lagi, lebih lembut.
Arcelio menggeleng cepat. “Ti-tidak ada…”
Namun tangannya tanpa sadar mencengkeram sedikit ujung selimut.
Kianara tidak langsung menekan. Ia hanya mengusap pelan kepalanya. “Kalau tidak ingin cerita, tidak apa-apa,” ucapnya tenang. “Tapi ibu akan tetap mendengarkan… kapan pun kau mau.”
Hening sejenak.
Arcelio terdiam. Senyumnya perlahan memudar.
“…ibu…”
“Hmm?”
Kilat ragu sejenak menghampiri nya. “…aku… aneh ya?”
Kianara sedikit menunduk agar sejajar dengannya. “Kenapa berpikir begitu?”
Arcelio menggigit bibirnya pelan. “…aku tidak tahu kenapa…” Jedanya. “…tapi aku jadi tidak nyaman.”
Kianara tidak bergerak. “Dengan siapa?” tanyanya pelan.
Arcelio menatapnya sebentar, lalu menunduk lagi.
“…Elila…”
Nama itu membuat tangan Kianara berhenti sesaat. Namun ekspresinya tetap tenang. “Tidak nyaman bagaimana?” tanyanya hati-hati.
Arcelio menggeleng kecil, frustrasi dengan dirinya sendiri. “…aku juga tidak tahu…” Ia menarik selimut sedikit lebih dekat. “…dia baik… dia bicala baik… tapi…” Kata-katanya terhenti.
“Tidak apa-apa,” bisik Kianara. “Pelan-pelan saja.”
Arcelio menghela napas kecil. “…aku melasa… sepelti halus diam.”
Kianara menajamkan fokusnya. “Diam?”
Arcelio mengangguk. “…kalau aku mau bicara… lasanya… tidak enak…”
Ia meremas tangannya sendiri.
“…sepelti… aku salah jika bicala…”
Hening.
Kianara tidak menyela.
Arcelio melanjutkan dengan suara lebih kecil. “…dan kalau dia lihat aku…” Jedanya. “…aku jadi ingin menjauh.” Kalimat itu keluar begitu saja. Jujur. Tanpa dibuat-buat.
Kianara menatapnya dalam. “Apakah dia melakukan sesuatu?” tanyanya.
Arcelio langsung menggeleng. “Tidak!”
Cepat.
Refleks.
“Dia tidak jahat…” lanjutnya pelan. “…hanya saja… aku tidak nyaman…”
Kianara kembali mengusap rambutnya. Gerakannya lebih pelan sekarang. Lebih dalam. “…perasaan seperti itu tidak salah,” ucapnya lembut.
Arcelio menatapnya ragu. “Be-benar?”
“Iya,” jawab Kianara. “Kau tidak harus menyukai semua orang.”
Arcelio terdiam. Seolah sedikit lega.“…tapi Cylil telihat senang,” gumamnya.
“Dan itu tidak apa-apa,” balas Kianara. “Perasaan orang bisa berbeda.”
Arcelio mengangguk pelan. Namun masih terlihat berpikir. “…ibu…”
“Ya?”
“…aku boleh… tidak dekat dengannya?” Pertanyaan itu polos. Namun penuh keraguan.
Kianara tersenyum tipis. “Tentu saja boleh.”
Arcelio menatapnya, seolah memastikan.
“Kalau itu membuatmu lebih nyaman,” lanjut Kianara,
“ibu akan mendukungmu.”
Wajah kecil itu akhirnya sedikit lebih santai. “telima kasih…”
Kianara mengusap pipinya pelan. “Sekarang tidur, hm?”
Arcelio mengangguk. “Iya…”
Matanya mulai terpejam perlahan.
Namun sebelum benar-benar tertidur, “ibu…”
“Hmm?”
“…aku lebih suka kalau hanya dengan ibu, ayah, dan Cylil…” Suaranya makin pelan. “…yang lain… aku tidak tahu…”
Kianara tidak menjawab. Hanya mengelus kepalanya hingga napas kecil itu berubah teratur. Arcelio tertidur.
Kamar kembali sunyi. Namun Kianara tidak langsung beranjak. Tatapannya tetap pada wajah anak itu. Tenang. Namun pikirannya tidak. “…bukan hanya aku,” gumamnya sangat pelan.
Ia menunduk sedikit. “…Arcelio juga merasakannya.”
Ingatan siang tadi kembali muncul.
Tatapan, Cara bicara, Urutan yang berubah.
Tangannya perlahan mengepal. “ini bukan kebetulan.”
Ia berdiri perlahan. Melirik sekali lagi ke arah Arcelio yang tertidur lelap.“lalu… apa sebenarnya yang terjadi?”
Tidak ada jawaban.
Namun untuk pertama kalinya, perasaan itu semakin jelas. Ada sesuatu yang bergerak.
Dan kali ini, bukan hanya dia yang menyadarinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...